✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Fitnah dan Ego yang Membakar
"Teruslah bersikap kasar, arogan, dan tunjukkan keangkuhan tokohmu, Baskara. Semakin kamu mencoba mengurungnya dengan cara kasarmu yang dominan itu, maka akan semakin cepat Azira berjalan berlari ke pelukanku untuk mencari perlindungan."
Gavin mematikan layar tabletnya dengan satu sentuhan jari, membuat kabin mobil mewah itu kembali menjadi gelap gulita. Logika sakit dan terobsesinya sudah merancang langkah bidak catur berikutnya dengan sangat kejam.
Dia tahu persis bahwa kondisi mental dan emosi Azira saat ini sedang berada di titik terlemah dan paling rapuh setelah menerima tamparan fisik dari Papahnya.
Gavin mengambil ponsel khusus dengan enkripsi rahasia miliknya, lalu jemarinya mulai mengetik sebuah pesan singkat dengan untaian kata-kata manis namun penuh manipulasi psikologis yang telah ia susun dengan matang.
Pesan itu siap dikirimkan ke nomor ponsel rahasia milik Azira keesokan harinya, sebuah pesan beracun yang dirancang khusus untuk menghancurkan sisa-sisa kepercayaan Azira pada Baskara dari dalam secara perlahan.
Bagi Gavin Manzies, drama perebutan wilayah ini baru saja resmi dimulai, dan dia tidak akan pernah berhenti melangkah sebelum sang CEO berlutut di tanah kehilangan seluruh takhta dan wanita miliknya.
...****************...
Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah gorden kamar tamu apartemen Farhan terasa begitu menyengat dan menusuk di kelopak mata Azira.
Ia melenguh pelan, mencoba menggerakkan wajahnya untuk menghalau silau. Namun, rasa kaku dan denyutan nyeri yang luar biasa hebat di pipi kirinya seketika merenggut paksa ketenangannya, membuat kesadarannya pulih total dalam sekejap mata.
Azira bangkit berdiri dengan perlahan. Tubuhnya terasa begitu lemas, remuk, dan tak bertenaga. Ia melangkah gontai dengan kaki telanjang menuju cermin wastafel di dalam kamar mandi kamar tamu.
Begitu matanya menatap pantulan dirinya di cermin, dada Azira mendadak sesak luar biasa, seolah pasokan udara di sekitarnya menguap habis. Lebam keunguan yang membengkak itu kini terlihat semakin jelas dan mengerikan di kulit pipinya yang putih bersih, berpadu dengan luka robek di sudut bibirnya yang telah mengering kehitaman.
Pemandangan fisik itu bagai sebuah mesin waktu kejam yang melemparnya kembali pada kilasan memori traumatis tadi malam—suara bentakan Papah yang menggelegar, kilat mata penuh kedengkian dari Tante Shafira, senyum licik Sendy, dan ayunan tangan keras yang mendarat di wajahnya, meruntuhkan sisa-sisa harga diri terakhirnya sebagai seorang anak perempuan.
Air mata Azira kembali menggenang hangat, meluncur perlahan melewati permukaan kulit pipinya yang lebam dan berdenyut perih. Namun, di tengah rasa sakit itu, sebuah niat tulus muncul di benaknya.
Ia tidak ingin terus terpuruk. Azira sangat ingin membalas budi atas kebaikan Farhan yang telah menyelamatkannya semalam. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membulatkan tekad untuk menyiapkan sarapan pagi bagi mereka berdua.
Azira buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar kamar menuju dapur.
Namun, begitu ia menginjakkan kaki di area dapur, langkahnya terhenti. Aroma harum mentega cair dan bawang putih yang ditumis sudah menguar memenuhi ruangan.
Di sana, membelakangi Azira, Farhan sudah berdiri dengan celemek kain, sibuk mengocok telur dan membolak-balikkan masakan di atas wajan dengan cekatan.
Azira terpaku di ambang pintu, hatinya mendadak terenyuh menyaksikan pemandangan hangat tersebut. Pria itu sudah terjaga lebih dulu demi mengurusnya.
"Farhan..." panggil Azira lirih, suaranya agak serak.
Farhan menoleh dengan cepat, lalu menyunggingkan senyum hangat yang langsung menenangkan hati Azira. "Eh, Zira? Sudah bangun? Maaf, ya, apa suara wajannya terlalu berisik sampai membuatmu terbangun?"
"Nggak, bukan karena itu kok," Azira menggeleng pelan, lalu melangkah mendekat ke arah meja konter dapur.
"Kenapa kamu malah repot-repot masak? Padahal aku keluar kamar sengaja mau menyiapkan sarapan buat kita, hitung-hitung sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah mengizinkanku menginap semalam."
Mendengar hal itu, Farhan langsung menggelengkan kepala dan menepis lembut keinginan Azira dengan lambaian tangannya.
"Sama sekali tidak boleh. Kamu itu statusnya doubel di sini, Zira. Kamu tamu sekaligus pasienku saat ini. Tugas pasien itu istirahat total sampai pulih, bukan malah repot melayani tuan rumah di dapur."
"Tapi aku sudah merasa mendingan, Farhan. Aku nggak enak kalau cuma berdiam diri," potong Azira bersikeras, tidak mau mengalah begitu saja.
Ia mengambil sebilah pisau dan talenan yang menganggur di dekatnya. "Pokoknya aku harus bantu. Minimal beri aku tugas ringan, oke?"
Farhan menghela napas pasrah melihat kilat keras kepala yang familier di mata Azira, lalu terkekeh pelan. "Baiklah, Dokter tidak boleh mendebat kemauan pasien yang keras kepala. Kalau begitu, tolong bantu aku memotong sosis dan daun bawang ini saja. Bisa?"
"Tentu saja bisa," sahut Azira dengan senyum kecil yang mulai terbit di bibirnya.
Kehangatan instan seketika menjalar dan menyelimuti dapur kecil itu. Sembari bahu-membahu meracik sarapan, perlahan-lahan semua masalah pelik, bayang-bayang ketakutan, dan trauma mendalam yang mengurung benak Azira seolah menguap tanpa bekas.
Mereka memasak dengan begitu bahagia. Farhan sesekali melontarkan lelucon renyah tentang betapa berantakannya potongan sayur pertamanya dulu saat kuliah, membuat Azira tak bisa menahan tawa ringannya hingga sesaat melupakan denyut nyeri di pipinya.
Farhan juga dengan sigap selalu menjaga posisi Azira agar tetap aman dari cipratan minyak panas, memperlakukannya dengan penuh kelembutan yang tulus.
Setelah matang, mereka memindahkan makanan ke meja makan bundar di sudut ruangan.
Sesi sarapan bersama itu pun berlanjut dalam suasana yang sangat intim dan menenangkan. Tidak ada obrolan berat mengenai konflik keluarga ataupun ancaman luar.
Mereka hanya menikmati hidangan sederhana namun lezat itu sambil saling bertukar cerita masa lalu yang menyenangkan, ditemani sorot matahari pagi yang kini terasa hangat meraba ruangan, bukan lagi menyengat.
Bagi Azira, momen kebersamaan ini adalah kedamaian paling berharga yang sempat hilang dari hidupnya.
Namun, kedamaian itu perlahan menemui batasnya ketika sarapan selesai dan Azira kembali melangkah masuk ke dalam kamar tamu. Di tengah kesunyian kamar yang kembali melingkupinya, sebuah getaran panjang yang intens dari ponsel di atas nakas mendadak memecah keheningan ruangan.
Azira melangkah mendekat dengan ragu. Ditengah debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat, dia menyalakan layar gawai tersebut.
Untaian kalimat manipulatif yang diketik oleh Gavin Manzies dengan kejam di dalam kegelapan kabin mobil mewahnya semalam kini telah terpampang nyata di layar, mulai meracuni pikiran Azira tanpa ampun:
“Zira... ini aku, Gavin. Maaf jika aku lancang menghubungimu menggunakan nomor baru ini. Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata semalaman karena memikirkan bagaimana keadaanmu setelah sang CEO arogan itu membawamu pergi secara paksa dari parkiran bawah tanah kantor.
Hatiku benar-benar hancur, Zira. Aku tahu aku tidak punya hak untuk mencampuri hidupmu saat ini, aku tahu aku hanyalah teman masa kecilmu yang miskin, yatim piatu, dantak punya kuasa apa-apa di kota besar ini untuk bersaing dengan para konglomerat. Tapi melihatmu ditarik sekasar itu semalam membuatku merasa menjadi pria paling tidak berguna di dunia karena gagal melindungimu.
Namun, ada satu hal yang membuat jiwaku jauh lebih hancur pagi ini, Zira. Melalui salah satu kenalan lamaku yang bekerja di lingkungan industri korporasi, aku mendengar kabar yang sangat mengerikan tentang kejadian di rumahmu semalam. Zira... apakah benar Papahmu melakukan kekerasan fisik padamu?
Tolong katakan padaku itu tidak benar, Zira. Tapi jika itu benar, kamu harus tahu satu fakta biadab ini. Informanku mengatakan bahwa kemarin malam, tepat sebelum kejadian tamparan itu terjadi, Baskara Yudhistira sempat menelepon Papahmu dengan amarah besar. Baskara mengancam akan menarik seluruh investasi modal Prayoga Group dan membatalkan kontrak bisnis masa depan mereka jika Papahmu tidak bisa 'mendisiplinkan dan menjinakkan' sikap membangkangmu terhadap perjodohan ini. Baskara menggunakan uang dan kekuasaannya untuk menekan Papahmu agar bertindak keras dan kasar kepadamu.
Aku tahu aku sangat lancang membongkar ini, tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus ditipu oleh monster bergedok penyelamat itu, Zira. Baskara Prayoga dan Papahmu adalah jenis manusia berdarah dingin yang sama. Mereka hanya mengontrolmu demi angka dan takhta di atas kertas kontrak. Tolong, jaga dirimu baik-baik di sana. Jika suatu saat kamu butuh tempat untuk lari dari sangkar emas mereka, aku akan selalu ada di sini, menunggumu di tempat yang sama saat kita menghabiskan masa kecil kita dulu.”
Brak!
Ponsel di tangan Azira nyaris merosot jatuh ke atas lantai Keramik. Dadanya naik-turun dengan napas yang memburu pendek dan tersengal-sengal. Jantungnya bertalu-talu begitu hebat hingga menimbulkan rasa sakit fisik yang menusuk di ulu hatinya.
Kata-kata di dalam pesan panjang Gavin bagai sebotol racun arsenik yang menyebar instan ke dalam aliran darahnya, melumpuhkan seluruh logika waras dan benteng pertahanan mentalnya yang tersisa.
Taktik psikopat manipulatif Gavin berjalan sangat sempurna tanpa cela. Pesan itu menghantam tepat pada titik trauma terdalam dan ketakutan terbesar Azira, yang memang sejak awal menganggap Baskara dan Papahnya sebagai dua sosok monster gila kontrol yang egois dan tidak memiliki hati nurani.
Logika Azira yang sedang rapuh langsung menarik kesimpulan instan: Papah tidak akan pernah berani memukul anak kandungnya sekeras itu jika tidak ada tekanan bisnis berskala masif dari Baskara soal penarikan investasi modal Prayoga Group.
Sekali lagi, Azira jatuh ke dalam lubang yang sama. Ia kembali tertipu oleh muslihat Gavin yang begitu lihai memutarbalikkan fakta.
Rasa iba yang buta dan ikatan masa lalu mendadak mengaburkan akal sehatnya, hingga dalam sekejap mata, ia melupakan semua titah waspada yang Farhan katakan semalam.
Segala peringatan keras, tatapan serius, dan permohonan Farhan agar dirinya tidak mudah percaya lagi pada Gavin menguap begitu saja dari benaknya, tergantikan oleh doktrin baru yang ditanamkan Gavin dengan begitu kejam.
"Kenapa... kenapa kamu bisa sekejam dan sebiadab ini, Baskara?" bisik Azira lirih dengan suara yang pecah oleh tangisan yang tertahan di tenggorokan.
Rasa iba, simpati, dan kehangatan yang sempat muncul di hatinya saat melihat Baskara melunak dan menunduk frustrasi di kursi apartemen tadi malam, kini menguap sirna tanpa bekas.
Rasa itu digantikan oleh gelombang kebencian, kemarahan, dan rasa dikhianati yang teramat sangat besar di dalam dadanya. Pria itu menipunya semalam dengan wajah berpura-pura khawatir.
Telooleet... Telooleet...
Suara bel apartemen yang berbunyi nyaring, tegas, dan berulang-ulang dari arah pintu depan seketika memotong jeratan pikiran kalut Azira. Dari luar kamar tamu, terdengar langkah kaki Farhan yang setengah berlari terburu-buru untuk membuka pintu utama, disusul oleh gema suara bariton berat yang sangat familier di telinganya.
Baskara Yudhistira Prayoga telah datang. Tepat waktu, tepat seperti janji yang ia ucapkan semalam dengan suara parau.
Azira menghapus air matanya dengan kasar menggunakan telapak tangan, mengabaikan rasa perih di kulit wajahnya. Dengan emosi membara yang membakar seluruh aliran darahnya, ia menyentak pintu kamar tamu terbuka dan melangkah lebar dengan tatapan menusuk menuju ruang tengah apartemen.
Di sana, Baskara sudah berdiri tegap dalam balutan setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi, mahal, dan formal. Tidak ada lagi sisa guncangan emosi, kelelahan, atau raut wajah menunduk seperti tadi malam.
Profil sang CEO telah kembali sepenuhnya menjadi pria penguasa bisnis yang dingin, angkuh, kaku, dan tak tersentuh oleh emosi manusia biasa.
Namun, di balik topeng kaku bin angkuh tersebut, sepasang mata elang Baskara sebenarnya langsung bergerak secepat kilat begitu melihat Azira. Matanya meneliti kondisi memar keunguan di wajah Azira dengan rasa cemas, khawatir, dan ngeri yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik dinding gengsi raksasanya sebagai seorang Prayoga.
Alih-alih menyapa dengan kelembutan, menanyakan kondisi fisiknya, atau memberikan obat yang lebih baik, Baskara—dengan segala kekakuan ego seorang pria dominan—justru langsung berbicara dengan nada suara datar yang sarat akan perintah mutlak.
"Ambil barang-barangmu sekarang, Azira. Mobil dan pengawal sudah menunggu di bawah," ujar Baskara dingin, melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya sekilas tanpa ekspresi.
"Jadwal pertemuan dengan pihak perancang busana pengantin dan pengurusan berkas administrasi pernikahan kita harus tetap berjalan sesuai urutan jam pagi ini. Kita tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan tidak produktif di tempat ini."
Bagi Baskara, pembicaraan formal dan kaku soal jadwal pernikahan bisnis ini adalah tameng pertahanan terbaiknya untuk menyembunyikan rasa bersalah, kecanggungan, dan rasa hancur hatinya karena telah melihat Azira menangis terluka semalam.
Ia berpikir, membawa Azira keluar dari apartemen Farhan secepat mungkin dan menempatkannya di bawah perlindungan tim pengawalnya adalah cara terbaik untuk melindunginya dari bahaya luar dan kejaran Gavin.
Namun, di telinga Azira yang baru saja menelan bulat-bullet racun fitnah manipulatif dari Gavin, kalimat formal Baskara barusan adalah sebuah pembenaran instan yang paling nyata dan menakutkan.
Sikap dingin dan ketat Baskara seolah mengonfirmasi kebenaran pesan Gavin; bahwa bagi pria kaya ini, lebam di pipinya, air mata, dan darah di bibirnya sama sekali tidak penting jika dibandingkan dengan kelancaran jadwal transaksi bisnis pernikahan mereka di atas kertas kontrak.
"Pernikahan?" Azira mendengus kasar. Sebuah tawa hambar, getir, dan penuh sinisme lolos dari belahan bibirnya yang terluka hingga terasa perih.
Ia melangkah maju beberapa kali, mengikis jarak di antara mereka dengan sepasang mata yang menyala oleh kobaran api kebencian murni. "Kamu masih bisa bicara soal jadwal pernikahan dan administrasi dengan begitu tenang setelah apa yang kamu lakukan semalam, Tuan Baskara Yudhistira?!"
Baskara mengernyitkan alisnya tajam, merasa tidak nyaman dan terusik dengan nada bicara Azira yang penuh intimidasi dan kebencian terbuka di depan Farhan.
"Apa maksudmu? Jangan mulai membuat drama atau kekacauan emosional di pagi hari yang sibuk ini, Azira."