NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

​"Perempuan nggak tahu diri!" amuk Anjas seraya mengangkat kakinya, berniat menendang Nadia yang sedang terbaring tak berdaya di lantai.

"Biar gue ajarin lo sopan santun!" bentak Anjas.

Nadia memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan tubuhnya dan bersiap menerima rasa sakit yang akan menghantamnya. ​Namun, tendangan itu tidak pernah sampai.

​Sreet! Bresss!

​Sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat dan keras memotong gerakan kaki Anjas di udara, disusul sebuah pukulan mentah yang amat telak menghantam rahang Anjas hingga pria itu melayang dan tersungkur hebat menghantam pintu kayu VIP 6!

​Brakkk!

​"Arghhh!" jerit Anjas kesakitan sambil memegangi rahangnya yang terasa bergeser.

​Teman Anjas terperanjat kaget dan mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi ketika melihat sosok pria jangkung yang berdiri di tengah lorong.

​Aksa berdiri di sana. Kemeja abu-abunya sedikit teracak, matanya yang biasa dingin kini memancarkan aura membunuh yang sangat pekat dan mengerikan. Urat-urat di leher dan lengannya bertonjolan, kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

​Aksa melirik ke bawah, menatap Nadia yang terbaring lemah dengan sudut bibir berdar*h dan air mata yang mengalir di pipi pucatnya. Melihat pemandangan itu, seolah ada sesuatu yang pecah di dalam dada Aksa, amarah yang tak terkendali mendadak menguasai seluruh jalan pikirannya.

​Aksa tidak melangkah mendekati Nadia terlebih dahulu. Sebaliknya, pria itu berbalik dan melangkah perlahan namun mantap mendekati Anjas yang sedang merintih di lantai.

​"Lo... lo siapa?" teriak Anjas terbata-bata sambil mencoba merangkak mundur dan karena efek mabuk, Anjas tidak mengenali sang sahabat.

​Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Tanpa rasa ampun, Aksa mencengkeram kerah kemeja Anjas dengan satu tangan dan mengangkat tubuh pria itu lalu menghantamkan punggungnya ke dinding beton dengan kekuatan penuh!

​Brak!

​"Argh!" teriak Anjas.

​Aksa mendekatkan wajahnya yang dipenuhi amarah membara ke depan telinga Anjas, suaranya terdengar begitu berat, dingin, dan mengancam jiwa.

​"Siapa yang ngizinin tangan kotor lo nyentuh dia?" bisik Aksa dengan nada suara yang sanggup membuat darah siapa pun membeku.

"Ak-aksa...," gumam Anjas ketika mendengar suara yang tidak asing baginya.

Tanpa memberi kesempatan Anjas untuk memohon, Aksa melayangkan satu pukulan mentah tepat ke perut Anjas. Pria mabuk itu terbatuk hebat, muntah dar*h tipis di atas karpet mahal lorong VIP sebelum akhirnya ambruk tak berkutik dan kehilangan kesadarannya.

​Teman Anjas yang menyaksikan kesadisan itu gemetar hebat, kakinya lemas hingga mundur membentur dinding sebelum akhirnya melarikan diri terbirit-birit menyusuri tangga.

​Suara keributan yang hebat itu memancing kehadiran beberapa petugas keamanan klub dan Pak Johan yang berlari terengah-engah dari arah kantor manajemen. Namun, langkah Pak Johan mendadak terkunci di tempat, wajah garangnya seketika memucat pasi saat mengenali sosok pria berkemeja abu-abu yang berdiri membelakanginya.

​"Tu-Tuan Aksa...," gumam Pak Johan dengan suara gemetar, tenggorokannya mendadak terasa kering.

​Aksa tidak menoleh sedikit pun ke arah Pak Johan, ia menyapukan pandangannya yang tajam bagaikan belati. Napasnya memburu pelan, lalu pandangannya berangsur melembut saat jatuh pada sosok gadis yang masih tersungkur lemah di atas lantai.

​Aksa memutar tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Nadia. Pria bertubuh tinggi besar itu kemudian berlutut di atas karpet yang dipenuhi pecahan kaca kristal dan tumpahan champagne, tanpa peduli celana kain mahalnya basah dan kotor, tangan Aksa terulur, meraih bahu Nadia yang gemetar hebat dengan kelembutan yang sangat kontras dari aksi brutalnya beberapa detik lalu.

​"Bisa berdiri?" tanya Aksa, suaranya kini terdengar berat namun sangat dalam.

​Nadia mendongak pelan, pandangannya yang buram oleh air mata perlahan memperlihatkan rahang tegas Aksa yang mengeras, pipi kiri Nadia tampak memerah membengkak dan dar*h segar masih menetes perlahan dari sudut bibirnya.

​Nadia meringis pelan tanpa suara saat mencoba bergerak. Melihat itu, tanpa meminta persetujuan dan tanpa ragu sedikit pun, Aksa menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Nadia dan tangan lainnya di belakang punggung gadis itu.

​Dalam satu gerakan, Aksa mengangkat tubuh ringkih Nadia ke dalam gendongannya. ​Nadia membelalak kaget dan memegang erat kerah kemeja Aksa, dadanya naik turun karena terkejut. Namun, kehangatan tubuh Aksa dan aroma wangi kayu cendana yang menyeruak dari kemeja pria itu mendadak memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Pak Johan melangkah maju dengan gagap, "Tu-Tuan Aksa, maafkan atas ketidaknyamanan ini... Pelayan bisu ini memang selalu membawa masalah, biar petugas keamanan saya yang mengurus...,"

​"Tutup mulutmu! Mulai detik ini, dia berhenti bekerja di tempat sampah ini," potong Aksa dingin.

​Pak Johan menelan ludah kasar, menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa berani menjawab satu kata pun.

​Aksa memutar tubuhnya, membawa Nadia dalam dekapan eratnya dan keluar dari tempat terkutuk itu menuju mobil sedannya.

​Di depan mobil, Pak Edo sopir pribadi keluarga Mahendra, terperanjat kaget melihat tuannya membawa seorang wanita muda bernoda dar*h dalam gendongannya. Dengam sigap, Pak Edo membukakan pintu belakang.

​Aksa mendudukkan Nadia di kursi empuk dengan sangat hati-hati, lalu mengitari mobil dan duduk di samping Nadia, membanting pintu dengan rapat.

​"Ke rumah sakit," perintah Aksa tegas pada Pak Edo.

​"Baik, Tuan," jawab Pak Edo seraya memacu kendaraan membelah jalanan kota yang sepi.

​Di dalam kabin mobil yang hening, suasana terasa begitu pekat. Nadia duduk merapat ke pintu mobil, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya yang gemetar meremas kuat tepi apronnya yang kotor, air mata ketakutan, rasa malu dan kepasrahan bercampur menjadi satu, menetes perlahan menimpa tangannya.

​Aksa memperhatikan setiap jengkal gestur Nadia, amarah yang membakar dadanya perlahan berganti menjadi rasa sesak yang aneh. Pria yang tak pernah peduli pada penderitaan orang lain itu kini merasa hatinya tercubit melihat betapa malangnya nasib gadis bisu di sampingnya.

​Aksa meraih kotak P3K dari laci mobil, mengambil beberapa lembar kapas berserta cairan antiseptik.

​"Jangan bergerak," gumam Aksa datar.

​Aksa mendekatkan tubuhnya, jemari tangannya yang kekar memegang dagu Nadia secara perlahan, mengarahkan wajah pucat gadis itu menghadapnya. Nadia tersentak pelan, matanya yang bulat dan basah menatap lurus ke dalam manik mata pekat Aksa.

Aksa menempelkan kapas beralkohol ke sudut bibir Nadia yang robek. ​Nadia meringis, refleks memejamkan matanya rapat-rapat dan memegang lengan kemeja Aksa.

​"Tahan sebentar," bisik Aksa.

​Setelah membersihkan luka tersebut, Aksa menyandarkan punggungnya kembali, menatap buku yang terselip di dalam apron Nadia.

​"Namamu Nadia, kan?" tanya Aksa, menatap lurus mata Nadia.

​Nadia terpaku sejenak, lalu jemarinya yang bergetar merogoh saku apronnya, mengambil buku tulis kecilnya dan menuliskan beberapa huruf dengan tangan yang lemas.

​[Iya, Tuan. Nama saya Nadia]

​Aksa lalu menatap pakaian kerja Nadia yang ternoda air mata dan dar*h dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Kenapa kamu bekerja di tempat seperti itu? Kamu tahu tempat itu berbahaya untuk wanita sepertimu?" tanya Aksa.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!