"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
"Lowongan staf operasional junior saja penuh."
Petugas rekrutmen itu tidak mengangkat wajah ketika mengembalikan CV Raka Pradana.
"Pengalaman tetap Anda belum sampai satu tahun. Kampus juga bukan dari daftar prioritas kami. Untuk posisi dasar pun, kami biasanya memilih kandidat yang sudah punya magang korporat."
Dua pelamar di belakang Raka menahan tawa. Ini meja ketiga pagi itu. Jawabannya masih sama: kurang pengalaman, tidak ada koneksi, tidak cukup menjanjikan.
"Saya siap mulai dari tugas paling dasar," kata Raka. "Administrasi, input data, survei lapangan, apa pun yang dibutuhkan."
Petugas itu baru mengangkat wajah. Tatapannya turun ke kemeja Raka yang sudah dipakai berkali-kali, ke sepatu hitam yang solnya mulai menganga, lalu kembali ke CV.
"Mas, saya bicara terus terang saja. Perusahaan kami butuh orang yang bisa langsung dibawa ke klien. Bukan yang nanti masih harus diajari cara tampil rapi."
Tawa di belakangnya lebih jelas kali ini.
"Jadi saya tidak bisa ikut tahap berikutnya?"
"Belum cocok." Petugas itu mendorong CV-nya kembali dengan dua jari. "Antreannya panjang. Silakan beri kesempatan kepada kandidat lain."
Raka mengambil CV tersebut. Slogan kesempatan di layar belakang meja tidak membayar kamar kos.
Ia menepi dari antrean. Saat melewati dua pelamar tadi, salah satu dari mereka berbisik cukup keras untuk didengar.
"Kasihan. Melamar staf saja ditolak."
Raka berhenti setengah langkah.
Lalu ia melanjutkan berjalan.
Ia menemukan tangga darurat di belakang aula, duduk di anak tangga ketiga, dan mengeluarkan sebuah buku tipis bersampul merah dari tasnya.
Buku Kas Merah.
Di halaman terakhir, tiga baris tulisan tangannya tampak seperti vonis: kos jatuh tempo delapan hari lagi, obat Ibu harus ditransfer malam ini, biaya hidup tinggal tujuh hari.
Raka menekan ujung pena ke angka sisa saldo. Tinta membentuk noda kecil.
"Staf saja tidak lulus," gumamnya. "Bagus. Besok mungkin aku bisa jadi spesialis antrean pengangguran."
Permukaan kertas bergetar.
Raka mengangkat tangan.
Noda tinta tadi melebar, tetapi bukan seperti tinta yang meresap. Garis-garis biru pucat tumbuh dari tengahnya, menyusun kotak transparan di atas halaman.
[Sistem Arsitek Talenta diaktifkan.]
[Host terverifikasi: Raka Pradana.]
[Tujuan utama: membangun perusahaan melalui penempatan talenta yang terukur.]
Raka menatapnya selama tiga detik.
"Kurang tidur," katanya pelan.
[Sistem tidak disebabkan oleh kurang tidur.]
Raka memiringkan kepala. "Bisa menjawab?"
[Informasi dasar tersedia.]
Baris-baris baru muncul. Dana sistem hanya boleh dipakai untuk usaha legal dan tercatat. Penghasilan pribadi Raka hanya satu persen dari gaji karyawan yang benar-benar dibayarkan dan satu persen dari laba bersih yang telah diaudit.
Tidak ada karyawan, tidak ada penghasilan. Tidak ada laba, bagian laba bernilai nol.
Di bagian paling bawah muncul misi pertama.
[Misi Awal]
[Dapatkan jadwal pendirian badan usaha legal dalam 24 jam.]
[Bangun tim pertama: 0/10.]
[Sisa waktu: 23:58:41.]
Raka tidak langsung percaya. Ia menekan tulisan dana usaha, lalu memasukkan nomor rekening pribadinya. Jumlah kecil saja, cukup untuk biaya kos.
Sebuah garis merah memotong layar.
[Ditolak.]
[Rekening tujuan bersifat pribadi.]
[Pelanggaran pertama dicatat. Percobaan berikutnya dapat membekukan fasilitas dana selama tujuh hari.]
"Jadi kau punya uang, tapi membiarkanku diusir dari kos?"
[Sistem membangun perusahaan. Sistem tidak membiayai konsumsi pribadi host.]
"Pelayanannya buruk sekali."
Raka hampir tertawa. Halusinasi atau kesempatan terbesar dalam hidupnya, hasilnya sama: tidak ada rupiah yang datang jika ia hanya duduk di tangga.
Pintu darurat terbuka.
Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan masuk sambil menempelkan telepon ke telinga. Kemejanya rapi, tetapi simpul dasinya sudah longgar.
"Saya mengerti, Pak," katanya. "Tapi tim gudang masih punya dua pengiriman yang belum selesai. Kalau akses saya diputus hari ini, siapa yang serah terima?"
Ia mendengarkan.
Rahangnya mengeras.
"Baik. Tolong kirim surat pemutusan dan perhitungan hak saya secara tertulis. Jangan hanya lewat telepon."
Panggilan berakhir.
Pria itu tidak langsung bergerak. Jari-jarinya menekan ponsel terlalu keras. Di layar yang belum padam, Raka sempat melihat tiga panggilan tak terjawab dan satu notifikasi bank.
Ia membuka tas, mengeluarkan map berisi tabel, lalu memotretnya satu per satu. Bahkan setelah dipecat, ia masih memikirkan serah terima.
Garis biru muncul di sudut pandangan Raka.
[Kandidat terdeteksi.]
[Nama: Bima Wiratama.]
[Potensi utama: operasi, penjadwalan, pengendalian biaya.]
[Catatan: potensi bukan jaminan hasil. Loyalitas dan moralitas tidak dapat dibaca.]
Raka berdiri.
"Pak Bima?"
Pria itu berbalik tajam. "Kita pernah bertemu?"
"Belum. Saya mendengar nama Anda dari telepon. Maaf."
"Kalau Anda dari perusahaan tadi, saya sudah meminta semuanya tertulis."
"Saya bukan dari sana." Raka mengulurkan CV yang masih kusut di tangannya. "Saya ingin menawarkan pekerjaan."
Bima memandang CV itu, lalu memandang wajah Raka.
Kata pekerjaan membuat harapan yang sejak tadi ia tahan muncul terang di wajahnya.
"Anda serius?"
"Saya."
"Hari ini saya baru diberhentikan," katanya. Suaranya tetap rendah, tetapi tidak lagi kosong. "Kalau Bapak benar-benar memberi kesempatan, saya mau coba. Saya bisa mulai malam ini."
"Perusahaannya belum ada," kata Raka.
Bima terdiam.
Tiga hari terakhir ia sudah mengetuk terlalu banyak pintu. Ada yang menolak karena usianya, ada yang menawar gaji seperti barang bekas, ada yang bahkan tidak membaca riwayat kerjanya. Ia tidak bisa terus menunggu telepon yang tidak datang.
Raka juga baru ditolak. CV-nya kusut, matanya lelah, tetapi tawarannya terdengar seperti pekerjaan, bukan belas kasihan. Mungkin orang ini bisa dipercaya. Dan kalaupun ia salah, Bima tidak punya banyak pilihan lain.
"Kalau sedang dibangun, saya bantu dari awal, Pak Raka. Saya tidak sedang mencari kursi empuk. Saya mencari pekerjaan yang bisa saya pegang."
"Saya sedang mendirikan PT. Saya butuh orang operasi pertama."
"Apa yang harus saya siapkan?"
"Untuk mulai, saya perlu tahu tiga hal," kata Bima cepat. "Produk, modal, dan tempat."
"Produk belum diputuskan," jawab Raka. "Ada sumber dana, tapi hanya bisa digunakan setelah badan usahanya legal dan transaksinya terdokumentasi. Kantor belum ada."
"Berarti tugas pertama saya adalah membantu Bapak membuat yang belum ada menjadi daftar kerja."
"Ada syarat," kata Raka.
"Silakan."
Raka melanjutkan, "Saya tidak akan memberi kontrak palsu. Saya menawarkan surat minat bersyarat. Berlaku hanya jika badan usaha berhasil didirikan, jabatan dan target tertulis jelas, serta kontrak kerja memenuhi semua kewajiban. Kalau saya gagal, Anda tidak berutang apa pun."
"Itu cukup adil."
"Dan kalau berhasil?"
"Anda menentukan ruang kerja yang Anda perlukan, akses laporan, dan batas keputusan yang harus mendapat keberatan tertulis dari Anda."
"Terima kasih, Pak Raka."
"Belum ada yang perlu diterima kasih."
"Ada," kata Bima. "Orang lain baru saja menutup pintu. Bapak datang membawa pintu yang belum jadi."
Bima mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang sederhana dan penuh tenaga.
"Saya ikut. Tolong tunjukkan dokumennya."
Mereka kembali ke aula.
Petugas dari meja ketiga masih ada. Tatapannya langsung jatuh pada Raka, lalu pada Bima yang berjalan di sampingnya.
"Mas, kalau mau melamar lagi, antre dari belakang."
"Saya tidak melamar." Raka meletakkan selembar formulir kosong di meja konsultasi yang tidak terpakai. "Saya sedang merekrut."
Tawa kecil terdengar lagi.
Raka menyerahkan pena kepada Bima. "Tulis jabatan yang masuk akal. Tulis juga apa yang harus tersedia sebelum Anda mulai bekerja."
Bima menarik kursi.
Ia menulis: Kepala Operasi.
Di bawahnya, ia menambahkan hak akses anggaran, kewenangan menyusun proses, target tiga puluh hari, dan klausul bahwa surat itu batal bila badan usaha tidak terbentuk.
"Saya percaya Bapak mau membangun ini," katanya pelan. "Kalau ini berdiri, kita buat benar sejak hari pertama."
Terakhir, Bima membubuhkan nama serta tanda tangannya.
Panel biru muncul di atas Buku Kas Merah yang masih dipegang Raka.
[Kandidat pertama menyatakan komitmen bersyarat.]
[Tim awal: 1/10.]
Petugas rekrutmen yang tadi mengusir Raka tidak lagi tertawa. Matanya berpindah dari tanda tangan Bima ke CV kusut di tangan Raka.
Bima berdiri. "Kalau begitu, Pak Raka, kita mulai sekarang. Waktu kita kurang dari sehari, dan Bapak masih perlu janji dengan notaris."
Pak Raka. Dua kata itu terasa lebih mahal daripada semua jabatan yang ditolak pagi tadi.
Mereka meninggalkan aula tanpa menoleh lagi.
Di dalam kereta menuju Jakarta, Bima membuka laptop dan membantu Raka menjelaskan rencana bisnisnya dalam satu halaman. Raka baru menulis tiga baris ketika teleponnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
"Selamat malam, saya Nadia Kusuma dari Kantor Hukum Kusuma & Rekan," kata suara perempuan di seberang. "Saya menerima permintaan jadwal pendirian PT. Kalau Anda serius, datang besok pagi dengan data yang lengkap."
Panel SAT menyala di pantulan jendela kereta.
[Sisa waktu: 17:02:11.]
Raka menatap Bima.
Bima sudah membuka lembar kerja baru.
"Baik, Pak Raka," katanya. "Malam ini kita rapikan mimpi ini jadi rencana kerja."