NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pintu Menuju Wilayah Tengah

Setelah memastikan keamanan Lembah Tertutup, Lin Mo tidak langsung berangkat. Selama sepuluh hari, ia tinggal bersama Guru Shan dan pengikut Jalan Akar lainnya, saling bertukar pengetahuan dan memperdalam pemahaman tentang teknik kuno.

Dari Guru Shan, Lin Mo belajar hal yang sangat berharga: Jalan Akar tidak hanya tentang ketahanan dan kestabilan. Akar juga bisa menyerap racun, menyuburkan tanah yang rusak, bahkan menghubungkan tempat yang terpisah ribuan li menjadi satu jaringan kehidupan. Sementara itu, Lin Mo juga berbagi cara berlatih yang lebih sederhana namun kokoh, yang membuat para pengikut lama merasa pemahaman mereka semakin luas.

Dalam waktu singkat, Lin Mo berhasil menembus batas yang selama ini menahannya. Ia resmi naik ke tingkat Menyatu dengan Aliran tingkat awal. Kini, setiap kali ia melangkah, ia tidak lagi sekadar menumpu pada tanah—ia bisa merasakan aliran energi di dalam tanah, mengikutinya, bahkan mengarahkan aliran itu sesuai kebutuhan. Jika dulu ia seperti akar yang menembus batu, kini ia seperti bagian dari urat nadi bumi itu sendiri.

Namun semakin tinggi kemajuannya, semakin jelas pula bahaya yang mengintai. Guru Shan menjelaskan bahwa untuk mencapai Wilayah Tengah—tempat di mana kekuatan musuh bersembunyi—mereka harus melewati Gerbang Batu Perbatasan. Gerbang ini dijaga ketat oleh persekutuan sekte-sekte besar yang tunduk pada kekuatan gelap. Tanpa izin resmi, siapa pun yang mencoba melintas akan dianggap pemberontak dan diburu habis-habisan.

"Gerbang itu dibangun di atas celah lempeng bumi," kata Guru Shan sambil menunjuk peta kuno. "Di sana aliran energi sangat liar dan kacau. Hanya mereka yang memiliki tanda persetujuan dari sekte penguasa yang bisa melintas tanpa terjebak dalam pusaran energi."

"Kalau begitu kita cari jalan lain?" tanya Zhang Hao.

Lin Mo menggeleng. "Jalan lain memakan waktu berbulan-bulan, dan musuh pasti sudah menyiapkan jebakan. Kita harus lewat gerbang itu. Tidak perlu izin, kita akan melewati jalan yang seharusnya tidak bisa dilewati siapa pun."

Mereka berangkat keesokan paginya. Kali ini rombongannya lebih besar: selain Meng Chao dan Zhang Hao, Guru Shan dan sepuluh orang pengikut Jalan Akar yang paling kuat ikut serta. Mereka berjalan menyusuri lembah tersembunyi, menuju perbatasan yang memisahkan wilayah bawah dan wilayah tengah benua.

Tiga hari kemudian, Gerbang Batu Perbatasan akhirnya terlihat. Itu bukan sekadar pintu, melainkan dua tebing raksasa yang berdiri berhadapan, dihubungkan oleh jembatan batu lebar yang berkilauan dengan segel energi. Di kedua sisi gerbang, ribuan prajurit berjaga, dan menara pengawas tinggi dilengkapi dengan senjata penahan energi.

Banyak rombongan penjelajah dan pedagang antre di sana, menunjukkan lencana sekte atau surat izin agar diperiksa. Wajah mereka tampak cemas—biaya perizinan sangat mahal, dan siapa pun yang dicurigai langsung ditahan tanpa proses sidang.

"Lihat lencana di gerbang," bisik Meng Chao. "Itu lambang yang sama dengan yang dipakai orang-orang yang memburu kami. Sekte Langit Kakuasaan, kekuatan terkuat di Wilayah Tengah."

Lin Mo mengamati situasi dengan tenang. "Jembatan itu dilapisi segel yang menolak energi bumi. Jika kita lewat jalan itu, kekuatan kita akan terkunci. Kita lewat di bawahnya."

Mereka menyusup ke sisi paling gelap di dekat tebing. Lin Mo meletakkan tangannya ke tanah, menyebarkan kesadarannya mencari celah di antara bebatuan. Di sana ada terowongan alami yang tertutup longsoran ribuan tahun lalu, namun masih bisa dibuka kembali dengan hati-hati.

"Siapkan diri," katanya pelan. "Ikuti aliran yang kuberikan. Jangan lepaskan koneksi dengan tanah."

Ia mulai bergerak. Tanah di depan mereka perlahan bergeser, bukan hancur atau runtuh, melainkan terurai seperti pasir halus lalu terbuka menjadi lorong gelap. Mereka masuk satu per satu, dan tanah kembali menutup rapat di belakang mereka seolah tidak pernah diganggu.

Di dalam lorong yang gelap gulita itu, Lin Mo menjadi penunjuk jalan. Ia merasakan setiap batu yang tidak stabil, setiap aliran gas beracun, dan setiap celah yang bisa menjebak. Berjalan di bawah tanah baginya kini sama mudahnya dengan berjalan di permukaan.

Namun belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba seluruh lorong bergetar hebat. Cahaya merah menyala dari ujung jalan, dan suara gemuruh terdengar mendekat.

"Ada yang tahu kita di sini!" seru Guru Shan. "Mereka mengaktifkan formasi pengguncang bumi!"

Batu-batu besar mulai jatuh dari langit-langit lorong. Getaran begitu kuat hingga bahkan orang yang berjalan di atas tanah pun akan jatuh terguling. Lorong itu terancam runtuh sepenuhnya dalam hitungan menit.

"Jangan panik!" teriak Lin Mo. Ia menyalurkan seluruh kekuatan tingkat Menyatu dengan Aliran. "Bumi tidak akan menelan anaknya sendiri! Ikuti panggilanku!"

Ia melebarkan kesadarannya, menyentuh setiap bagian batu di sekitar lorong. Ia tidak menahan jatuhnya batu dengan kekerasan, melainkan mengubah struktur ikatan antar batu: membuat bagian yang runtuh menjadi lebih padat dan kokoh, mengubah debu menjadi dinding pelindung, dan membuka jalan baru di sela-sela longsoran.

Bagi orang luar, itu pasti terlihat seperti keajaiban. Batu yang seharusnya menghancurkan mereka justru berubah menjadi jalan miring, dinding penahan, dan atap pelindung. Dalam kekacauan itu, Lin Mo justru menyatu dengan gerakan tanah itu sendiri, memandu rombongannya melintasi bahaya seolah sedang berjalan di jalan raya yang aman.

Beberapa saat kemudian, cahaya terang mulai terlihat di ujung lorong. Mereka berhasil keluar ke sisi lain gerbang—tepat di perbatasan Wilayah Tengah.

Saat mereka melangkah keluar ke permukaan, pemandangan di depan mata berubah total. Tanah di sini berwarna merah kecokelatan, tandus dan keras, energi di udara terasa tajam dan menindih, dan di kejauhan terlihat gunung-gunung tinggi yang puncaknya menembus awan gelap.

Namun yang paling membuat hati terasa berat: Lin Mo tidak bisa merasakan aliran kehidupan yang lembut seperti di wilayah bawah. Di sini, tanah terasa kaku, tertindas, dan seolah takut untuk bergerak.

"Ini baru permulaan," bisik Lin Mo sambil menatap ke depan. "Tanah di sini sudah lama tertekan. Kita harus menanam akar lebih dalam lagi, sampai kita bisa menyentuh apa yang menindasnya."

Di kejauhan, di puncak menara tertinggi Gerbang Batu Perbatasan, seorang pengamat menatap ke arah tempat mereka muncul dengan mata menyala dingin. Ia segera mengirim pesan rahasia: "Benih Jalan Akar telah masuk ke Wilayah Tengah. Laporkan kepada Atasan. Waktu penyaringan dimulai."

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!