DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran licik
##BAB 13 - Pikiran Licik
Rahmat perlahan turun dari boncengan motornya. Tangannya mencengkeram erat kantong kain berisi seonggok uang tunai, sementara tangan satunya lagi memegangi wadah berisi seekor ayam cemani hitam legam yang sesekali berontak pelan di dalamnya.
Walaupun matahari sebenarnya masih bertengger di atas kepala, hawa dingin yang ganjil mendadak merayap jatuh dan menyergap sekujur tubuh Rahmat. Angin berembus sangat kencang, menciptakan suara keriuhan yang bising di antara dedaunan hutan yang saling bergesekan kaku. Dengan langkah yang agak berat, Rahmat melangkah maju, mendekati pintu kayu usang rumah Mbah Cahyo yang tampak rapuh.
Tok... Tok... Tok...
Rahmat mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Suasana di halaman rumah kayu itu seketika berubah menjadi hening senyap, menyisakan deru angin hutan yang semakin menusuk tulang.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, pemandangan yang berbanding terbalik justru tengah dihadapi oleh Ratna. Di dalam kios bakso mereka, wanita itu benar-benar dibuat kewalahan karena gelombang pelanggan yang datang semakin membeludak tanpa henti silih berganti.
Peluh bercucuran di pelipisnya saat tangannya bergerak cepat menuangkan kuah dan menata mangkok sendirian. Dengan napas yang mulai terengah-engah, Ratna menatap barisan pembeli bertatapan kosong yang mengular kaku di depan kiosnya.
"Aduh... gimana sih Mas Rahmat ini. Kios lagi ramai luar biasa begini, malah ditinggal pergi sendirian," keluh Ratna dengan sangat dongkol di dalam hatinya.
Sementara Ratna tengah berjuang sendirian melayani lautan manusia, kondisi yang jauh lebih tragis justru terlihat di ujung jalan sana. Kios bakso yang dulunya menjadi saingan terberat sekaligus paling ramai di kawasan tersebut, hari itu resmi gulung tikar. Pemiliknya terpaksa menutup usaha mereka selamanya karena sudah tidak mampu lagi mengembalikan modal, apalagi untuk membayar biaya sewa kios yang terus berjalan. Akibat hantaman hawa gaib dari dandang Rahmat, kini di sepanjang jalanan itu tidak ada lagi satu pun saingan yang tersisa untuk menghalangi jalannya kekayaan mereka.
Kembali ke halaman rumah kayu yang sunyi, Rahmat mulai kehilangan kesabarannya karena ketukannya terus-menerus diabaikan. Ia memandang sekeliling hutan yang gelap dengan raut wajah gusar.
"Mbah... Simbah ke mana, sih? Simbah ini... apa aku balik aja ya? Lagian kalau aku pulang sekarang, ya bukan salah saya. Saya sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi Simbahnya sendiri yang gak ada di rumah," gumam Rahmat pelan.
Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Di balik gumamannya itu, terselip seulas senyum licik di wajah Rahmat. Pikirannya mulai tergoda untuk membawa pulang kembali kantong berisi uang sepuluh persen dan ayam cemani itu untuk ia nikmati sendiri.
Tepat saat Rahmat baru saja hendak membalikkan badannya untuk melangkah kembali ke sepeda motor—berniat melarikan uang upeti itu pulang—sebuah pergerakan mendadak menghentikan langkahnya. Dari balik rerimbunan semak di samping rumah kayu, sosok Mbah Cahyo tiba-tiba muncul begitu saja sembari memikul sebuah cangkul tua di pundaknya.
"Sudah datang, Le... Simbah tahu kamu pasti akan menepati janjimu. Tapi ingat, jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya," ujar Mbah Cahyo. Suaranya terdengar sangat dingin, datar, namun sarat akan nada ancaman yang penuh keyakinan, seolah-olah mata batin sang dukun telah membaca utuh isi kepala licik Rahmat beberapa detik yang lalu.
Sontak, hal itu membuat Rahmat kaget setengah mati. Jantungnya berdegup kencang karena kemunculan sang dukun yang teramat misterius dan tanpa suara.
"Astagfirullah! Simbah... ngagetin saya aja!" sahut Rahmat dengan napas yang memburu, mencoba menutupi rasa gugup dan bersalahnya di depan orang tahu itu.
Melihat ekspresi Rahmat yang begitu tegang dan pucat pasi, Mbah Cahyo hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar parau dan lirih itu justru terasa semakin menyiksa noda-noda ketakutan di dalam dada Rahmat. Dengan langkah yang santai namun berwibawa, sang dukun berjalan menghampiri anak muda yang tengah berdiri mematung di depan pintu rumahnya tersebut.
"Sudah, Le... ayo kita masuk. Kita bicara di dalam saja," ujar Simbah sembari mengayunkan tangannya untuk membuka pintu kayu usang yang langsung berderit nyaring, menyingkap kegelapan di dalam rumah yang berbau kemenyan.
Nyali Rahmat kini semakin menciut hebat karena gertakan terselubung dari Mbah Cahyo. Keberanian dan kesombongan yang sempat ia miliki saat menghitung tumpukan uang di atas kasur kini menguap tak berbekas; ia hanya bisa menunduk dalam-dalam dan tak bergeming di tempatnya. Bahkan, untuk sekadar mengeluarkan suara demi menjawab ajakan Simbah pun, kerongkongan Rahmat seakan mendadak terkunci dan sama sekali tidak mampu.
Langkah kaki Rahmat perlahan membawa tubuhnya masuk semakin dalam ke ruang tengah yang temaram, hingga kini ia terduduk bersila berhadapan langsung dengan Mbah Cahyo di depan sebuah altar kecil yang dipenuhi sesajen. Suasana di dalam ruangan itu seketika hening sejenak. Hanya suara kokokan ayam cemani dari dalam wadah kain yang sedari tadi terus-menerus berbunyi kaku, memecah kesunyian di tengah kepulan asap kemenyan yang menyesakkan dada.
Dengan tangan yang masih sedikit bergemetar, Rahmat perlahan menyodorkan kantong kain serta sebuah amplop cokelat tebal ke hadapan sang dukun.
"Mbah... Ini jatah sepuluh persen yang Simbah mau, beserta ayam cemaninya. Amplop ini... isinya dua puluh lima juta rupiah," ujar Rahmat dengan nada suara yang agak tercekat.
Mbah Cahyo menatap amplop tebal itu, lalu sedetik kemudian tawa parau yang mengerikan pecah dari mulutnya yang hitam.
"Hahaha... bagus, bagus, Le. Simbah terima semuanya ini," ucap Mbah Cahyo sembari mengusap amplop tersebut dengan jemarinya yang legam. Tatapan matanya yang tajam kembali menghunjam dalam-dalam ke wajah Rahmat. "Bagaimana dengan kios baksomu sekarang?"
Rahmat menelan ludah, mencoba mengulas senyum tipis untuk mengembalikan sisa harga dirinya yang sempat ciut.
"Baik, Mbah... Kios saya sekarang jauh lebih maju dari sebelumnya, walaupun baru berjalan satu bulan ini," sahut Rahmat, tak mampu menyembunyikan kilat kesombongan yang kembali membayang di matanya.
Mbah Cahyo kembali mengangguk-angguk, mengelus dagunya yang ditumbuhi janggut memutih yang jarang. Senyumnya melebar, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam.
"Bagus... Bagus, Le. Kamu sekarang sudah jadi orang kaya raya di desa itu. Tapi bagaimana dengan istrimu? Apakah dia mulai bertanya-tanya atau curiga soal ritual pasaran Kliwon yang kamu lakukan di atas meja kios itu?" tanya Mbah Cahyo kembali. Pertanyaan itu meluncur santai, namun sanggup membuat jantung Rahmat mencelos seketika.
Rahmat mengela napas panjang yang terasa sangat berat di dalam dadanya. Sudut hatinya bergolak hebat; ia tahu betul bahwa Ratna sebenarnya sangat menderita, tidak sudi, dan batinnya hancur karena ritual jahanam tersebut. Namun, akal sehat Rahmat masih berfungsi untuk satu hal: jika ia jujur bahwa istrinya tidak setuju dan mulai tidak ikhlas, Mbah Cahyo pasti akan berbuat hal-hal keji yang tidak-tidak, atau bahkan mencabut nyawa Ratna sebagai gantinya.
Mencoba bersikap setenang mungkin, Rahmat memaksa sebuah senyuman muncul di wajahnya yang agak pucat.
"Tidak, Mbah... Ratna sama sekali tidak protes. Dia justru merasa sangat senang dengan limpahan kekayaan yang sudah Simbah verikan kepada keluarga kami," sahut Rahmat, berbohong demi menyelamatkan nyawa istrinya sekaligus mempertahankan ego keserakahannya sendiri.
Mbah Cahyo tidak menyahut lagi, ia hanya menatap Rahmat dengan tatapan mata yang sulit diartikan, lalu kembali terkekeh lirih.
Setelah cukup lama mereka berbincang di dalam ruangan yang pengap dan dipenuhi aroma air jahanam serta dupa tersebut, Rahmat akhirnya memberanikan diri untuk pamit undur diri. Jarum jam sudah bergerak menjauh, dan ia buru-buru beralasan bahwa ia merasa kasihan pada istrinya yang pasti tengah repot dan kewalahan setengah mati mengurus kepungan pelanggan di kios sendirian.
Dengan langkah tergesa-gesa yang dibayangi rasa lega sekaligus cemas, Rahmat melangkah keluar dari rumah kayu itu, bergegas menyalakan motornya untuk pulang, tanpa menyadari sepasang mata gaib tengah menatap punggungnya dari balik kegelapan jendela.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁