Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Waktu bergulir dengan cepat, namun bagi Anya, setiap detiknya terasa seperti siksaan yang lambat. Acara tahlilan di lantai satu untungnya berjalan khusyuk. Beberapa bapak dari lingkungan sekitar tampak saling membacakan doa. Rumah kos yang tadinya terasa pengap dan sedingin es, perlahan-lahan menghangat oleh lantunan kalimat-kalimat indah.
Begitu tetangga terakhir pamit pulang. Jam dinding tua menunjukkan pukul 23.30, Ustadz Haris langsung berdiri. Suasana santai mendadak menguap, digantikan ketegangan yang merayap kembali.
"Siapkan Al-Qur'an dan Yasin kalian. Kita naik ke lantai dua sekarang."
Mereka berjalan menyusuri lorong sempit menuju kamar ujung. Tempat yang ditunjuk oleh makhluk bernama Minar lewat Bibah tadi pagi. Kamar mandi itu berdiri kokoh, dengan pintu kayu berwarna hitam kusam yang terkunci rapat.
Tio, Wulan, Serra, Tari, dan Bu Mimi langsung mengambil posisi duduk melingkar di depan pintu tersebut, menggelar tikar kecil yang sengaja mereka bawa dari bawah. Ustadz Haris menyuruh Anya duduk tepat di tengah-tengah lingkaran, berhadapan langsung dengan pintu hitam yang membisu.
Jam digital di ponsel Tio berkedip, menunjukkan angka 23.55. Lima menit lagi menuju waktu yang dijanjikan.
Ustadz Haris mulai melipat kakinya, duduk bersila. "Bismillahirrohmanirrohim. Mari kita mulai membaca Surah Yasin. Buka Al-Qur'an kalian, fokuskan hati hanya kepada Allah."
Suara lantunan ayat suci mulai menggema, memantul di dinding-dinding lorong lantai dua yang remang-remang. Suara Ustadz Haris yang fasih berpadu dengan suara gemetar Wulan, Serra, dan Tari yang mati-matian menahan ketakutan. Anya memeluk Al-Qur'an hijau kecilnya dengan dada sesak, melafalkan ayat demi ayat saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Bzzzt... Bzzzt...
Lampu pijar di langit-langit koridor mulai berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding.
Tepat saat jam dinding di lantai bawah berdentang dua belas kali menandakan tengah malam, suara yang paling mereka takuti akhirnya pecah dari dalam kamar mandi yang terkunci.
TES... TES... TES...
Suara tetesan air itu kembali hadir. Ritmenya lambat, berat, dan seolah bergaung kental di dalam ruangan kosong di balik pintu. Seketika itu juga, lantunan Yasin dari bibir Wulan sempat terhenti karena syok, namun Ustadz Haris langsung mengeraskan suaranya, memberi kode agar mereka tidak boleh berhenti apa pun yang terjadi.
KREEEKKK...
Gagang pintu kamar mandi berwarna hitam itu bergerak turun dengan sendirinya. Secara perlahan, pintu itu terdorong ke dalam, menyingkap kegelapan yang pekat. Hawa sedingin es bercampur bau anyir darah yang luar biasa busuk langsung menyembur keluar, memedihkan mata.
Sreeet... Sreeet...
Suara kain basah yang terseret di atas lantai. mulai terdengar dari dalam kegelapan kamar mandi, bergerak perlahan. Semua mata tertuju pada kegelapan di balik pintu hitam itu. Lantunan Yasin dari bibir Serra dan Tari mulai pecah, bercampur dengan isak tangis yang tertahan. Tio mencengkeram erat senter di tangannya, berusaha mengarahkan sorot lampu ke dalam kamar mandi, tetapi cahayanya seolah tersedot oleh kepekatan mistis di sana.
Sreeet... Sreeet...
Sesosok perlahan muncul dari batas kegelapan. Tubuhnya membungkuk aneh, dengan rambut panjang kemerahan akibat darah, menjuntai menutupi wajah. Gaun putih kusam yang dikenakannya menempel ketat di kulitnya yang pucat kebiruan, meninggalkan jejak air hitam pekat di atas lantai keramik.
Makhluk itu—Minar—merangkak maju, memecah saf lingkaran majelis tepat di hadapan Anya.
"Kau... berjanji... bermain... denganku..." Suara perempuan tua serak, meraung ganda di dalam lorong, membuat bulu kuduk setiap orang berdiri.
Ustadz Haris tidak menghentikan bacaannya. Beliau justru memperkeras suaranya, memimpin dengan nada yang kian tegas, menghantam keheningan malam dengan ayat-ayat suci. Tangan kanannya terangkat, mengarahkan seuntai tasbih kayu tepat ke depan wajah makhluk tersebut.
Seketika, hawa sedingin es di lorong itu berputar kencang bagai badai kecil. Lampu pijar di langit-langit berkedip brutal sebelum akhirnya...
PYAAAR!
Lampu tersebut pecah menjadi serpihan kecil, menyisakan kegelapan total di lantai dua. Hanya ada sorot senter Tio yang bergetar hebat, bergoyang ke sana kemari karena tangannya yang gemetar.
Di tengah kegelapan, jidat Anya mendadak menyala temaram. Urat hitam menyerupai angka yang menonjol di keningnya memancarkan warna merah pekat yang berdenyut kasar.
"Aaahhh! Panas, Bu! Sakiiit...!" Anya menjerit histeris. Tubuhnya mendadak kaku, melengkung ke belakang dengan tidak wajar. Kedua matanya terbuka lebar, tetapi seluruh bagian matanya telah berubah menjadi hitam legam tanpa warna putih sedikit pun.
"Anya!" Bu Mimi berteriak panik, berniat maju untuk memeluknya.
"Jangan bergerak dari tempat duduk kalian! Rapatkan lingkaran, terus membaca!" seru Ustadz Haris dengan nada menggelegar. Beliau maju satu langkah, menekan ubun-ubun Anya dengan telapak tangannya yang hangat.
Makhluk di depan mereka melolong panjang—suara pekikan yang begitu melengking dan menyayat hati, membuat Wulan dan Tari terpaksa menutup telinga dengan sebelah tangan sambil terus merapalkan doa dengan terbata-bata. Minar mencakar-cakar lantai keramik, kuku-kuku hitamnya menimbulkan suara gesekan yang memilukan.
Sreeeeet! Sreeeeet!
Pertempuran malam itu baru saja dimulai, dan kegelapan lantai dua kos-an seolah enggan membiarkan mereka keluar hidup-hidup.
"Pergi...!" Lolongan Minar berubah menjadi geraman berat.
Makhluk itu memajukan tubuhnya, wajahnya yang tertutup rambut basah kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Ustadz Haris. Bau busuk bangkai dan tanah kuburan langsung menyengat indra penciuman.
Ustadz Haris tak bergeming sedikitpun. Ia menutup mata, memusatkan seluruh fokus batinnya. Dari bibirnya, lantunan Ayat Kursi mengalir deras dengan nada yang bergetar penuh penekanan. Setiap untaian kata suci yang keluar, seolah menjadi tameng tak kasat mata yang menahan gempuran hawa hitam dari dalam kamar mandi.
BZZZZT! DUAARR!
Hentakan energi gaib luar biasa besar mendadak meledak di tengah lorong. Membuat makhluk itu terpental mundur ke dalam kegelapan kamar mandi, membentur dinding dengan keras. Bersamaan dengan itu, senter di tangan Tio mati total. Gelap gulita menyelimuti mereka.
"Anyaaa!" Serra menjerit di tengah kegelapan. Ia merasakan tubuh Anya yang berada di dekatnya mendadak bergetar hebat.
Anya tak lagi menjerit, Ia mengerang dengan suara ganda yang mengerikan. Perpaduan antara suaranya dan suara serak perempuan tua. Tubuhnya yang melengkung kaku mulai terangkat sedikit dari lantai, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang sedang menariknya ke dalam kamar mandi.
"Tio! Senternya! Nyalakan!" teriak Bu Mimi panik.
Tio memukul-mukul senter besarnya dengan tangan gemetar. Klik! Klik! Cahaya senter kembali menyala, bergoyang liar, dan langsung menyorot ke arah Anya.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?