NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar dari Menara

​DOOONGGG...!

​Suara gaib dentangan lonceng raksasa Menara Dewa Kuno perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan gema yang samar di dalam keheningan jurang. Namun, pilar cahaya keemasan tirani yang baru saja membumbung tinggi menembus lapisan awan langit, telah terlanjur menarik atensi penuh dari seluruh faksi penguasa di dunia kultivasi.

​Di dalam aula Lantai Ketiga menara, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan tegang.

​Roh Menara menatap lekat-lekat ke arah Shen Yu dengan sorot mata yang teramat tegas, tanpa ada kompromi. "Waktu amanmu untuk berlatih di tempat ini... sudah benar-benar habis, Shen Yu."

​Shen Yu mengernyitkan dahi dalam-dalam, tangannya masih memegang Batu Bintang seberat lima ribu jin. "Tapi Kakek Tua, aku bahkan belum sempat menyelesaikan seluruh anak tangga ujian di lantai-lantai berikutnya."

​"Aku tahu," sergah Roh Menara cepat. "Namun jika kau bersikeras untuk tetap tinggal di dalam menara ini sekarang, aliansi sekte dunia atas di luar sana pasti akan mengerahkan artefak terlarang untuk menghancurkan dimensi jurang. Ingat, eksistensi warisan peradaban Sekte Dewa Kuno di tubuhmu... jauh lebih berharga dan penting daripada sekadar satu nyawa fanamu saat ini!"

​Tie Shan di sampingnya menganggukkan kepala kekarnya penuh penegasan. "Paman setuju. Seorang pendekar kultivator sejati bukan hanya harus tahu kapan saatnya melepas tinju untuk bertarung... melainkan ia juga harus tahu persis kapan waktu yang tepat untuk menarik kakinya mundur!"

​Shen Yu mengepalkan tinju kirinya kuat-kuat. Secara jujur, ego dan mentalitas seorang pemburu liar di dalam dadanya sangat membenci keputusan untuk melarikan diri seperti ini. Namun, logika akal sehatnya berteriak bahwa mereka berdua benar. Dengan basis ranah Body Tempering Tingkat Keduanya saat ini, menantang puluhan tetua sekte di luar sana hanya akan berakhir menjadi aksi bunuh diri yang konyol.

​Wush! Roh Menara melambaikan tangannya, memunculkan sebilah peta kuno berskala makro yang melayang di udara. Peta itu menampilkan pembagian wilayah geografi dunia kultivasi yang teramat luas.

​"Di dunia luar sana, terdapat Sembilan Wilayah Besar yang saling bersaing. Dan tepat di titik area perbatasan Wilayah Timur, berdiri sebuah kota metropolitan bernama Kota Awan Hijau."

​"Di kota tersebut, tiga bulan dari sekarang, akan diadakan sebuah ajang kolosal: [Ujian Rekrutmen Murid Baru Gabungan]."

​Shen Yu menyipitkan matanya, mengamati detail titik koordinat peta tersebut. "Apa nilai istimewa dari ujian gabungan kota perbatasan itu?"

​"Hampir seluruh aliansi sekte besar dan menengah akan mengirimkan perwakilan Tetua mereka ke sana untuk berburu benih-benih murid baru bertalenta. Itulah panggung emas pertamamu, Shen Yu. Masuklah ke sana, bersembunyilah di antara kerumunan jutaan calon murid baru, pilih salah satu sekte untuk kau masuki, perkuat basis dantianmu di dalam sana secara rahasia... lalu mulailah mencari kepingan informasi mengenai dalang utama yang menghancurkan sekte kita!"

​Shen Yu menganggukkan kepalanya perlahan, menyerap strategi tersebut. "Artinya... aku harus mengubur nama asliku dan menyembunyikan identitas darahku secara total dari publik?"

​"Tepat sekali!" Roh Menara kemudian mendorong sebilah topeng tipis berwarna perak transparan ke hadapan Shen Yu. "Benda ini bernama [Topeng Seribu Wajah]. Selama tingkatan ranah kultivasi musuh yang kauhadapi tidak terpaut terlalu jauh di atasmu, tidak akan ada satu orang pun yang mampu menembus penyamaran wajah baru pilihanmu."

​Shen Yu menerima topeng perak itu, menyimpannya dengan rapi. "Terima kasih, Kakek."

​Ting! Gebruk!

​Detik berikutnya, Tie Shan mendadak melemparkan sebuah benda berbentuk gelang besi berwarna hitam polos ke arahnya. Shen Yu dengan sigap menangkapnya menggunakan tangan kanan.

​"Benda apa lagi ini, Paman?"

​"Itu adalah [Gelang Penekan Bobot Fisik]. Begitu terpasang, gelang itu akan terus-menerus memancarkan riak gravitasi berat untuk menekan seluruh otot dagingmu. Jangan pernah berani melepasnya satu detik pun! Jika suatu hari nanti kau sudah memiliki kapasitas untuk menghancurkan gelang besi hitam ini murni dengan kekuatan cengkeraman tangan kosongmu... maka itu adalah indikator mutlak bahwa kau telah memenuhi syarat untuk kembali mengetuk gerbang Menara Dewa Kuno!"

​Shen Yu langsung memasang gelang hitam itu di pergelangan tangan kirinya.

​BUM!

​Seketika itu juga, Shen Yu merasakan bobot tubuh fisiknya mendadak merosot drastis bagai dihantam beban ratusan ton. Jangankan untuk melompat lincah, bahkan untuk sekadar menggeser satu tapak kakinya maju ke depan saja rasanya teramat sulit.

​Shen Yu tersenyum pahit, dahinya berkerut. "Hm... Paman Kekar, kau benar-benar tahu cara menyiksa orang. Berjalan biasa saja sekarang rasanya seperti memikul gunung."

​Tie Shan tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak Shen Yu. "Hahaha! Justru itulah poin utamanya! Semakin berat belenggu yang menahan tubuhmu sekarang, maka ledakan tenagamu akan semakin mengerikan saat belenggu itu dilepas nanti!"

​BOOOOMMMM!!!!!

​Tiba-tiba, sebuah ledakan berskala destruktif yang teramat nyaring berdentum keras dari arah lantai dasar menara. Pintu gerbang utama batu Menara Dewa Kuno di bawah sana... tampaknya telah hancur sepenuhnya.

​Gelombang suara serak yang dipenuhi oleh niat membunuh dari pria jubah ungu si pemburu bayangan menggema kuat naik ke atas: "Wahai Bocah Pewaris...! Aku sudah mencium bau busuk auramu! Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku!"

​Roh Menara tidak membuang waktu satu milidetik pun. Ia langsung mengangkat tinggi-tinggi tongkat spiritualnya ke langit aula. Wuuuung! Sebuah lingkaran pola array susunan cahaya keemasan murni berukuran besar mendadak menyala terang tepat di bawah pijakan kaki Shen Yu.

​"Gerbang formasi array teleportasi kuno?" tebak Shen Yu, tubuhnya mulai terurai menjadi partikel cahaya.

​Roh Menara menganggukkan kepalanya dengan gurat wajah sendu. "Benar. Gerbang array ini akan melemparmu keluar secara acak menuju wilayah antah-berantah yang sangat jauh dari area Pegunungan Awan Hitam. Ingat, Shen Yu... kau hanya memiliki satu kali kesempatan hidup ini!"

​Shen Yu menatap lekat-lekat ke arah wajah tiga entitas penjaga jiwa yang telah membimbing dan menempa tubuhnya selama ini. Ia membetulkan posisi berdirinya, lalu membungkukkan seluruh badannya dalam-dalam memberikan penghormatan takzim tertinggi.

​"Kakek Tua... Paman Tie Shan... Nona Lin Yue... Jaga diri kalian baik-baik di sini. Aku, Shen Yu... bersumpah demi jiwaku bahwa suatu hari nanti, aku pasti akan kembali untuk membuka seluruh lantai menara ini!"

​WUUUUUUNGGG!!!

​Cahaya putih gerbang teleportasi meledak menyilaukan mata, menelan eksistensi tubuh Shen Yu sepenuhnya.

​Dan tepat pada fraksi detik setelah tubuh Shen Yu menghilang lenyap dari dimensi menara...

​DUAAARRRRR!!!!!

​Dinding penghalang gerbang batu utama aula Lantai Ketiga akhirnya hancur lebur menjadi puing-puing batu yang beterbangan ke segala arah.

​DUAAARRR!!!

​Serpihan batu berukuran besar terlontar liar saat gerbang utama hancur berkeping-keping. Detik berikutnya, puluhan siluet figur manusia berkaus jubah hitam, putih, dan merah darah menyerbu masuk ke dalam aula bagai kawanan belalang kelaparan yang mencium bau mangsa.

​Di barisan paling depan, pria paruh baya berjubah ungu tua melangkah masuk dengan angkuh. Sebilah tombak hitam pekat di tangan kanannya terus memancarkan riak niat membunuh absolut yang sanggup membekukan udara di sekitarnya.

​"Hahaha! Akhirnya... setelah pencarian panjang sejarah peradaban, aku sendiri yang berhasil menjejakkan kaki menembus inti Menara Dewa Kuno ini!" raung pria jubah ungu itu penuh kepuasan.

​Sepasang mata elangnya dengan cepat menyapu ke seluruh sudut aula untuk mencari target utamanya. Namun... detik berikutnya, ekspresi wajahnya seketika membeku.

​Di dalam aula luas tersebut, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan sesosok pemuda berusia enam belas tahun. Tempat itu hanya menyisakan sosok Roh Menara dan tiga entitas Penjaga Jiwa yang sedang berdiri tegak dengan ekspresi yang teramat tenang dan meremehkan.

​Pria jubah ungu itu menyipitkan matanya tajam, aura tombaknya mendidih. "Di mana bajingan kecil si pewaris baru menara ini bersembunyi?! Katakan!"

​Roh Menara menyunggingkan sebuah senyuman dingin yang sarat akan penghinaan. "Kau dan seluruh anjing sekte di belakangmu... telah datang terlambat satu ketukan kedipan mata, Wahai Pemburu Bayangan fana."

​Wajah pria jubah ungu itu seketika berubah menjadi sangat muram dan kelam, darahnya mendidih marah. "Mustahil! Sisa fluktuasi riak energi Qi Kekacauan Purba miliknya di ruangan ini masih sangat pekat! Dia pasti belum berlari jauh!"

​Tanpa memberikan peringatan verbal apa pun, pria jubah ungu itu mengerahkan seluruh energi Foundation Establishment miliknya, lalu menusukkan tombak hitamnya ke depan dengan kecepatan kilat mengincar tepat di dada Roh Menara.

​BOOOOMMMM!!!

​Sebuah ledakan gelombang energi hitam menghantam keras pelindung penghalang emas yang melilit tubuh Roh Menara. Seisi aula berguncang, namun wujud transparan Roh Menara tetap berdiri kokoh di posisinya tanpa bergeser satu milimeter pun, sama sekali tidak terluka.

​"Sungguh tindakan kebodohan yang konyol," cibir Roh Menara dingin. "Selama pilar hukum inti Menara Dewa Kuno ini belum hancur sepenuhnya dari fondasi bumi, tidak akan ada satu pun eksistensi makhluk fana seperti kalian yang memiliki kapabilitas untuk melukai wujud jiwaku!"

​Pria jubah ungu itu menduguk geram, menarik kembali tombaknya. "Kalau begitu... konklusinya sangat sederhana. Aku dan aliansi sekte di luar hanya perlu meratakan dan menghancurkan seluruh menara terkutuk ini hingga menjadi debu jalanan!"

​Sementara itu... berada di sebuah koordinat geografi yang terpisah sejauh ribuan kilometer dari wilayah jurang Pegunungan Awan Hitam.

​Tepat di titik area terdalam dari Hutan Kabut Hijau yang lebat...

​Sebuah lingkaran riak portal cahaya keemasan kuno mendadak termaterialisasi di udara kosong.

​WUUUUUUNGGG!!!

​Sesosok tubuh pemuda terlempar keluar dari dalam portal dimensi tersebut, meluncur horizontal sebelum akhirnya berguling-guling beberapa kali di atas permukaan tanah yang dipenuhi oleh tumpukan daun kering.

​"Ugh... Sialan, hantaman pendaratan teleportasi ini benar-benar tidak ramah bagi pinggangku," keluh Shen Yu seraya bangkit berdiri secara perlahan, membersihkan kotoran debu di bajunya.

​Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan pasokan udara segar hutan luar mengisi rongga paru-parunya. Untuk pertama kalinya setelah melewati berbagai siksaan neraka di dalam gubuk bawah tanah jurang, ia akhirnya kembali bisa menghirup aroma udara kebebasan dunia luar yang sesungguhnya.

​Atmosfer Hutan Kabut Hijau di sekitarnya tampak teramat sunyi. Hanya terdengar suara cuitan burung hutan yang samar serta desir angin pagi yang menggoyang rimbunnya dedaunan pohon.

​Shen Yu melirik sejenak ke arah pergelangan tangan kirinya yang kini terkunci rapat oleh gelang besi penekan gravitasi hitam pemberian Tie Shan. Tanpa menunda waktu, ia meraba saku bajunya, mengeluarkan Topeng Seribu Wajah, lalu menempelkan masker tipis perak itu ke permukaan wajah tampannya.

​Ssshh...

​Tekstur topeng perak itu seketika mencair, menyatu dengan pori-pori kulit wajahnya secara magis. Guratan struktur wajah asli Shen Yu perlahan-lahan bergeser dan berubah bentuk. Struktur wajah tampan bawaan lahirnya memang tetap tersisa, namun kini visualisasinya telah dimodifikasi menjadi jauh lebih biasa, standar, dan teramat sulit untuk dikenali oleh orang-orang dari masa lalunya.

​"Mulai detik ini, hari ini, di bawah kolong langit dunia luar... identitas dari seorang pemuda pemburu yatim piatu bernama Shen Yu... harus benar-benar lenyap dan terkubur tanpa sisa," gumamnya dengan senyum tipis.

​"Namaku untuk dunia kultivasi ini adalah... Yu Chen."

​Baru saja Shen Yu mengayunkan langkah kakinya sejauh beberapa meter untuk mencari jalur keluar dari hutan lebat ini...

​"Tolong!!! Siapa pun di sana, tolong kami!"

"Sialan! Binatang Roh menghadang jalur karavan! Cepat amankan barang logistik!"

​Sebuah rentetan jeritan histeris minta tolong serta desingan benturan senjata tajam mendadak bergema kuat dari arah vegetasi pepohonan di kejauhan depan.

​Langkah kaki Shen Yu seketika terhenti. Ia menghela napas panjang penuh keheranan. "Hebat sekali keberuntunganku hari ini. Aku bahkan baru saja menginjakkan kaki keluar dari menara kurang dari lima menit, tapi magnet masalah sudah langsung datang mengetuk pintu."

​Meskipun mulutnya mengeluh, namun sebuah senyuman jahil yang sarat akan kelancangan karismatik perlahan-lahan mulai terukir di wajah samaran barunya.

​"Baiklah kalau begitu. Anggap saja drama penyelamatan ini sebagai menu latihan pemanasan fisik pertamaku sebelum aku resmi menjejakkan kaki mengacaukan dunia kultivasi luar!"

​Wush!

​Shen Yu mencengkeram erat gagang pedang besi tua di pinggang kanannya, lalu mengerahkan teknik Langkah Bayangan Ilusi. Sosok tubuhnya seketika bergeser lincah bagai siluet bayangan hitam, melesat keluar dari balik rimbunnya pepohonan menuju ke arah sumber keributan.

​Di sana, di atas jalur setapak tanah hutan, sebuah karavan kereta dagang mewah tampak sedang dikepung secara taktis oleh tiga ekor Serigala Roh Bermata Merah berukuran raksasa.

​Tepat di posisi depan karavan, seorang gadis muda berpakaian gaun hijau kain sutra tampak sedang berdiri tegak seraya memegang sebilah pedang panjang dengan kedua tangan yang bergetar hebat karena ketakutan. Di sekeliling tanah di belakangnya, beberapa pengawal karavan berbadan kekar tampak sudah tergeletak bersimbah darah dengan luka robek yang parah.

​Namun, di saat yang sama... jauh di atas hamparan langit biru yang memayungi kawasan Hutan Kabut Hijau tersebut...

​Sesosok pemuda tampan berjubah putih bersih—Han Lie—sedang berdiri tegak dengan angkuh di atas sebilah pedang terbang berwarna biru pucat miliknya. Kedua matanya yang sedingin es kutub menatap tajam ke arah hamparan kanopi hijau hutan di bawahnya.

​Bzzzttt!

​Sebuah artefak kompas kuno berwarna hitam legam yang sedang digenggamnya mendadak bergetar hebat, memancarkan pendaran jarum cahaya keemasan yang menunjuk lurus ke arah titik koordinat karavan dagang di bawah sana.

​Han Lie menarik sudut bibirnya, menyunggingkan sebuah senyuman dingin yang teramat kelam dan dipenuhi oleh kepuasan mutlak seekor pemburu tingkat atas.

​"Jarum pelacak kompas telah beresonansi sempurna... Akhirnya, aku berhasil mengunci sisa jejak auramu yang tersembunyi, Wahai Tikus Kecil Sekte Dewa Kuno..." bisik Han Lie datar, hawa es meletus dari ujung jarinya.

​"Permainan petak umpetmu sudah resmi berakhir di bawah mata pedangku... Shen Yu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!