Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Hari itu Rangga tidak langsung pulang ke rumah. Sejak pagi kepalanya terasa penuh. Rumah sakit, tangisan bayi, wajah Vena yang terus menangis, pertanyaan orang-orang yang berdatangan tanpa henti. Semua bercampur jadi satu. Tidak ada yang benar-benar berniat menyakiti, tapi semakin sering didengar, semakin terasa menyesakkan.
Rangga akhirnya memutar arah. Bukan pulang ke rumahnya bersama Vena, tapi menuju rumah orang tuanya. Bukan karena ingin mencari solusi atau bercerita. Dia hanya sedang malas pulang. Malas melihat suasana rumah yang berat. Malas memikirkan hal yang tidak bisa dia ubah.
Saat masuk ke rumah, suasananya sepi. Hanya ada Ratna yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dengan volume kecil. Begitu melihat Rangga datang sendirian, Ratna langsung menoleh.
"Vena mana?"
"Di rumah, Ma."
Ratna mengangguk pelan.
"Anaknya gimana?"
Rangga diam sesaat sebelum menjawab.
"Masih dipantau."
Ratna memperhatikannya cukup lama. Lalu televisi dimatikan. Tatapannya berubah.
"Haaahh, kok gini kali sih hidup?"
Rangga mengangkat kepala.
"Apanya, Ma?"
Ratna menatap lurus.
"Anak kalian itu? Benar itu anak kalian?"
Kalimat itu membuat dada Rangga terasa sesak. Dia menahan diri dan menjawab singkat.
"Kok Mama bilang gitu sih? Kan dokter udah jelasin. Lagian yang lahiran hari itu di sana cuma Vena. Enggak mungkin tertukar."
Ratna menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya.
"Orang-orang udah ngomongin itu, Ngga."
Rangga diam.
Ratna kembali bicara dengan nada yang mulai membuat Rangga tidak nyaman.
"Nasib kamu kok gini amat."
Rangga menoleh.
"Dulu sama Celsi enggak punya anak. Mama pikir ya udah, mungkin memang Celsi yang masalah."
Rangga langsung menegang.
Ratna melanjutkan tanpa sadar wajah anaknya berubah.
"Sekarang nikah lagi. Dapat anak. Tapi malah begini."
Rangga menatap kosong ke lantai.
Ratna menggeleng pelan.
"Orang mulai ngomong macam-macam."
Rangga tidak menjawab.
Ratna meneruskan.
"Ada yang bilang karma lah."
Rangga diam.
"Ada yang bilang benih kamu yang jelek lah."
Rangga mulai mengepalkan tangan.
"Ada juga yang bilang kamu salah pilih perempuan lah."
Rangga menutup mata sebentar.
Ratna berdiri lalu mendekat.
"Kamu itu milih perempuan gimana sih, Rangga?"
Rangga menatap ibunya.
"Dulu Celsi enggak bisa kasih anak. Sekarang Vena bisa hamil tapi anaknya malah begini. Jadinya orang lihat keluarga kita kayak apa?"
Rangga menahan napas.
Ratna menggeleng lagi.
"Malu."
Satu kata itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding omelan sebelumnya.
Rangga diam cukup lama.
Dia kira ibunya akan bilang kasihan pada cucunya. Dia kira ibunya akan bilang supaya mereka kuat. Dia kira ibunya akan bertanya kondisi Vena.
Tapi yang keluar justru malu.
Rangga tertawa kecil. Pendek. Hambar.
Ratna mengerut.
"Kamu ketawa kenapa?"
Rangga berdiri sambil mengambil kunci mobil.
"Enggak apa."
Ratna masih bicara.
"Mama cuma ngomong kenyataan."
Rangga mengangguk kecil.
"Iya. Aku pulang dulu, Ma."
Lalu dia keluar.
"Loh, kok pulang? Kamu baru datang loh. Nggak mau makan dulu?"
"Enggak," jawab Rangga sambil lalu.
Begitu masuk mobil, Rangga tidak langsung menyalakan mesin. Dia duduk diam sambil memegang setir. Kepalanya dipenuhi kalimat yang tadi didengar.
Karma.
Benih jelek.
Salah pilih perempuan.
Apa benar ini karma?
Apa benar dia dulu terlalu menyakiti Celsi?
Apa benar ini balasan?
Lalu pikiran lain ikut muncul.
Apa benar Celsi pernah melakukan sesuatu?
Rangga langsung membuka mata dan menggeleng keras.
"Gila."
Tangannya memukul setir pelan.
"Dukun apaan."
Zaman sudah begini. Rumah sakit ada. Dokter ada. Pemeriksaan ada.
Kenapa masih mikir begitu.
Rangga menarik napas panjang lalu menyalakan mobil.
Saat sampai rumah, suasana terasa sunyi. Vena duduk di kamar sambil menggendong bayi mereka. Wajahnya pucat dan matanya bengkak.
Begitu melihat Rangga masuk, Vena langsung berkata pelan.
"Aku tadi telepon Mama."
Rangga melepas jaket.
"Kenapa telpon?"
Vena menunduk melihat anak mereka.
"Mama bilang mungkin ini karena Celsi."
Rangga berhenti bergerak.
Vena melanjutkan.
"Dia pasti dendam karena aku udah nikah sama kamu."
Rangga diam.
Vena mulai bicara lebih cepat.
"Dia enggak bisa punya anak. Dia iri. Bisa aja dia..."
"Cukup."
Vena terdiam.
Rangga menatap istrinya.
"Jangan ngomong begitu."
Vena ikut emosi.
"Kamu enggak takut?"
Rangga mengerut.
"Takut sama apa?"
"Ilmu hitam."
Rangga langsung mengembuskan napas keras.
"Vena."
Perempuan itu mulai menangis.
"Kita enggak pernah begini sebelumnya."
Rangga mulai kehilangan kesabaran.
"Ini udah dijelaskan secara medis."
Vena menatap.
"Bukan dukun."
Vena langsung membalas.
"Kamu gampang ngomong. Yang hamil aku, aku tau anakku kenapa-napa."
Suasana mulai panas. Mereka saling bicara dengan emosi yang sama-sama penuh.
Sampai tiba-tiba tangisan bayi berubah.
Tubuh kecil itu menegang.
Gerakannya tidak normal.
Vena langsung membeku.
Rangga menoleh cepat.
Anak mereka kejang.
Vena menjerit panik.
"Mas Rangga! Anak kita!"
Rangga langsung mengambil bayinya.
"Ke rumah sakit. Sekarang."
Dan sejak saat itu, tidak ada lagi waktu untuk menyalahkan siapa pun. Yang tersisa hanya ketakutan.
Sesampainya di rumah sakit, Vena dan Rangga langsung menbawa ke IGD. Bayi itu mendapat perawatan dari tenaga kesehatan.
"Keluarga pasien!"
Rangga dengan cepat mendekat. Dokter menjelaskan. Ia pun mendengarkan. Tanpa sengaja dia melihat sosok mantan istrinya.
"Celsi? Apa yang dia lakukan di sini?"