NovelToon NovelToon
Sang Penggali Makam

Sang Penggali Makam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: D.P. Auzora.

Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.

Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.

Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.

Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sehat Kembali Dengan Kesibukan

  Hari demi hari berlalu, Bejo melakukan keseharian dengan jauh lebih baik dari sebelumnya, ia terus melangkah seiring waktu demi waktu. Seminggu berlalu, dimana tepatnya masa libur sekolah sebelum wisuda beberapa hari kemudian.

Saat liburan inilah Bejo banyak memiliki kegiatan lebih, dari ketundanya kerja bakti di pemakaman kini banyak orang hadir membantu.

"Kalau rame-rame gini kan lebih cepat, ya gak Jo?," seru Pak Yudi.

"Bener banget tuh pak," balas Bejo.

Suasana pemakaman desa Krajan kini cukup ramai, asap mengepul dari pembakaran dedaunan kering maupun basah. Membuat pemakaman yang tadinya terlihat tinggi ilalangnya kini lebih enak di pandang karena cukup bersih.

Bejo bersama Jarot dan Dirga berada di panggil ujung, lebih tepatnya di pinggiran sungai. Tidak hanya kehadiran mereka, Dinda bersama teman-temannya bermain air di sungai kecil samping pemakaman.

"Seru juga ya disini!," ucap Salsa.

"Pasti serulah kan kampungku ramai," balas Dinda.

"Hmm.. ada gak cowok ganteng disini selain Bejo?," tanya Clara.

"Banyak, cuman mereka jarang keluar tapi kalau Bejo yang ngumpulin mereka pasti datang,"

"Kenapa gak ikut bersihin makam?,"

"Kayaknya Bejo lupa mengajak mereka."

Saat sedang bersih-bersih datanglah seorang pemuda lebih dari tujuh orang.

"Tumben lu gak kasih kabar Jo?," seru Dika.

"Iya nih, gua kira ada apaan ternyata bersih-bersih,"

"Astaga.. aku lupa lagi. Ya udah yok bantuin biar cepat kelar semua," ujar Bejo.

Dika, Anton, Devan, Dani, Kevin, Aldo dan Diki kini membantu Bajo.

Obrolan singkat dengan berjalan terus hingga ujung pemakaman membuat rasa lelah tak terasa sama sekali. Bejo pulang untuk mengambil makanan untuk bapak-bapak dan yang lainnya.

Semua orang kini duduk di gubuk kecil tengah pemakaman desa Krajan, susana penuh canda tawa memberikan efek baik dalam rasa lelah. Mbak Mala duduk bersama teman-teman Bejo di belakang rumah.

"Dasar Bejo, kenapa tadi gak bilang kalau Mbak Mala sedang memasak," seru Dinda.

"Hhhiihii.. sudah gak apa Dinda, Bejo sendiri bilang tadi katanya kamu mau main ke sungai belakang jadi ya aku lakukan semua sendiri,"

"Aduhh.. maaf ya mbak, nanti kalau Bejo kesini aku marahin dia," ucap Dinda.

Tepat saat itu toa masjid terdengar keras, dimana pengumuman orang meninggal kembali. Cuaca yang tadinya cerah kini mulai tersusun perlahan dengan gelapnya awan.

Bejo di bantu Jarot dan Dirga mengambil alat sambil menunggu di belakang rumahnya. Tidak berselang lama, dua bapak datang menghampiri Bejo.

"Jo, tempatnya bebas tapi kalau bisa deket ibunya."

"Nama ibunya siapa pak?,"

"Surati."

Bejo mengingat nama itu, seperti tidak asing baginya. Lalu Bejo dan dua temannya berjalan menuju tempat yang sudah Bejo ketahui, bapak-bapak tadi ikut di belakang Bejo.

"Ini ibunya pak," ucap Bejo.

"Nah.. okelah disini aja Jo, tuh ada yang pas kayaknya," seru pak Triman.

Bejo menangkap alat penggali makam, lalu berdoa meminta izin kepada yang maha kuasa. Setelah selesai, Bejo mencangkul tanah kering kerontang.

Sudah dua Minggu tidak hujan setelah hujan petir saat pemakaman Ki Kusumo.

Saat rata setengah kaki, Jarot meminta Bejo untuk istirahat lalu ia turun.

"Tumben kuat lama lu Jo!," seru Jarot.

"Wah ngeledek gua lu ya?,"

Hahahaha... Hahahaha.. hahaha..

Tawa pecah semua orang yang ada disana.

"Gak ngeledek Jo, biasanya gantian cepet sekarang lama bener,"

"Cari keringet aja sekalian," ujar Bejo.

"Jo, ini mau beli nasi bungkus berapa?,"

"10 aja pak,"

"Gak kurang tuh Jo?,"

"Cukuplah segitu, gak semua orang mau makan juga,"

"Okelah. Kopinya gimana?,"

"Kopinya dari rumahku aja pak, nanti beli air putih aja,"

"Siap. Nih Jo, maaf kalau dikit,"

"Seikhlasnya saja pak, disini gak ada patokan harga. Yang terpenting ikhlas aja cukup bagi saya,"

Pak Triman tersenyum, ia menghela napasnya. Selama bertahun-tahun ini tidak ada perubahan dalam biaya penggalian makam, dimana di daerah lain bisa sampai 400 ribu dan naik lagi. Tapi di desa Krajan selalu seperti itu sejak awal hingga sekarang, yah walaupun banyak orang yang tidak mau tapi inilah tradisi baik tanpa menuntut biaya berlebihan.

Keihklasan akan membawa keberkahan dan keselamatan dalam perjalanan hidup, dimana kita akan saling membutuhkan satu sama lain jadi kita gotong royong sekali bisa.

Bejo berjalan pulang bersama Pak Triman, mereka berdua berbincang-bincang sesaat sambil menikmati langkah kakinya.

"Ya udah Jo, nanti aku kesini lagi,"

"Iya pak, hati-hati di jalan,"

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Bejo masuk kerumah dari pintu belakang.

"Kok pulang Jo?," tanya Mbak Mala.

"Bikin kopi kayak biasanya ya mbak, nanti anter kesana," jawab Bejo.

"Oke, mbak buatin."

Bejo tidak langsung kembali, ia duduk melihat uang yang di berikan sebelumnya. Alangkah terkejutnya Bejo melihat nominal yang sangat besar baginya, yang biasanya 50ribu sampai 100ribu saja itu sudah besar kini di tangannya ada 500ribu.

"Ya tuhan.. banyak banget ini," dalam hati Bejo.

Mata Bejo berkaca-kaca, selama 6 tahun lebih ini baru pertama kali Bejo mendapatkan bayaran ikhlas sebesar itu.

Kemudian Bejo pergi keluar untuk membeli rokok, dia menyimpan 400 ribu untuk keperluan lainnya nanti.

Setelah kembali, bersamaan dengan datangnya Dinda dan teman-temannya.

"Darimana Jo?," tanya Dinda.

"Dari beli rokok," jawab Bejo.

"Belum selesai emangnya?,"

"Belum. Aku kesana dulu ya, kalau mau kerumah masuk aja,"

Bejo kembali ke makam, ternyata di sana sudah cukup banyak orang yang membantu. Sekitar ada lima orang termasuk dua temannya, kemudian Bejo meletakkan dua bungkus rokok untuk di nikmati bersama.

"Wihh.. Surya nih bos senggol dong," seru Jarot.

"Kalau begini terus gak masalah banyak yang meninggal," celetuk Dirga.

"Gundulmu peyang itu Dir, bisa-bisanya lu minta orang meninggal," balas Jarot, kesal.

Bejo hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia menyalakan rokok lalu turun kembali. Namun rasa rokok Bejo hisap terasa tidak begitu enak, seperti ada campuran amis sekaligus bau busuk.

"Kok aneh.." dalam hati Bejo.

Bejo menyadari sesuatu, dia meminta Jarot mengambil rokoknya lalu melanjutkan menggali makam. Di saat itulah, air tiba-tiba muncul dari cangkulan Bejo.

"Astaghfirullahalazim."

Bejo seketika terkejut, dia tersentak kaget. Jarot dan semua orang langsung menoleh kebawah.

"Kenapa Jo?," tanya Pak Johan.

"Keluar air," jawab Bejo.

"Ahh yang bener kamu Jo!!,"

Pak Johan, di ikuti yang lainnya memandang lebih dekat. Mereka bersama tersentak ketika melihat air benar-benar muncul di dalam makam.

Baunya sangat sedap tapi Bejo tetap bertahan di bawah dan berdoa. Bejo dan bapak-bapak bersama teman-temannya berdoa bersama. Perasaan merinding dan aneh di rasakan semua orang yang berada di pemakaman.

"Aku tidak tau apa keburukan semasa hidupnya, tapi hamba mohon kepadamu ya tuhanku, permudahlah semua ini terimalah dia dengan baik."

Setelah lima belas menit, air yang muncul tadi berhenti perlahan.

"Untuk pertama kalinya aku melihat seperti ini," ucap Bejo.

"Aku juga Jo, kenapa bisa seperti itu ya Jo?," tanya Jarot.

"Entahlah, biarlah urusan ini menjadi cerita sebagian dari kita. Mau berprasangka buruk juga kita tidak sesuci itu, lebih baik kita berdoa bersama,"

"Bener tuh Jo."

Bejo melanjutkan penggalian makamnya, bergantian dengan bapak-bapak dan temannya. Setelah selesai, bersamaan datang makanan. Kopi sudah datang sejak tadi, mereka duduk makan bersama sambil menunggu jenazah datang.

Bejo ke sungai, membersihkan tiga alat penggali makam meninggalkan dua cangkul disana. Dirga dan Jarot ikut membantu, hari semakin sore.

Tidak berselang lama, jenazah datang. Bejo dan teman-temannya duduk sedikit jauh, setelah Bejo memberitahukan untuk membuka tali pocongnya jangan sampai kelupaan.

1
Eliermswati
lnjut lg thor up nya😍
herupratama_
kenapa pocong nya gak ganti cewe thor 🤣
D.P. Auzora.: Nanti ada, tapi di bab selanjutnya. Dia sosok yang belum lama ini tiada, ada sebuah misteri atas kematian. Jadi Bejo akan memecahkan masalah itu, tunggu ya!! mungkin di bab 23 nanti 😊🙏
total 1 replies
Eliermswati
lnjut lg thor seru nih 😍😍smngt thor up nya
Eliermswati
smngt thor up nya lnjut lg dong cerita seru bngt g klh seru sm cerita aldi enk buat d bc nya😂😂
Eliermswati
ih ko serem banget sih thor cerita nya, tp q suka walaupun ad rasa takut klo mau bc gmn dong q g mau kelewatan walaupun 1 bab😂😂😂smngt thor up nya
Andi Akhasay: baca ceritaku kak
total 2 replies
Eliermswati
wah cerita nya mkn seru thor q suka bngt😍😍smngt thor up nya
Eliermswati
wah thor bkin penasaran nih jngn2 d rmh bejo ad tamu tak d undang yg nm nya geser laki sm mb kunti😂😂😂smngt thor up nya
D.P. Auzora.
Kalau itu sudah ada nanti, kemungkinan sama akhir bulan depan Aldi akan kembali juga. ada kejutan pokoknya tunggu saja 😊🙏
Eliermswati
g klh seru sm cerita aldi y thor, tp bnran kn thor nnti d cerita in ad aldi nya jg soalnya dah kangen nih😍smngt thor up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!