Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Jakarta
Udara di perbatasan utara berganti menjadi mendung yang gelap saat waktu bergeser menuju tengah hari.
Di dalam ruang tengah rumah dinas, Erica Fiorenza sedang memeriksa beberapa lembar pembukuan awal untuk proyek pelatihan menjahit para ibu Persit.
Fokusnya tak mudah terpecah, meski debaran aneh akibat peristiwa kedekatannya dengan Eshar di teras tadi pagi masih menyisakan rssa hangat yang samar di dadanya.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu depan menyadarkan Erica. Sebelum dia sempat beranjak, pintu terbuka dan Axelo melangkah masuk dengan langkah cepat.
Wajah asisten Eshar yang biasanya dipenuhi dengan humor segar itu kini tampak dingin, tegang, dan waspada.
Di tangannya, dia memegang sebuah amplop cokelat tebal dengan segel lilin merah yang sudah terbuka.
"Nyonya Besar," panggil Axelo, suaranya direndahkan saat melirik ke arah ruang kerja Eshar yang tertutup.
"Kantor pos komando baru saja menerima kiriman paket logistik dari Jakarta lewat jalur telegraf dan kurir kilat khusus militer. Ada sebuah surat yang dialamatkan langsung kepada Anda. Pengirimnya tertulis atas nama agen pengiriman bahan kain, tapi..." Axelo menyerahkan amplop itu pada Erica.
"Intelijen kami di gerbang depan sempat memeriksa isinya sebelum diserahkan ke rumah ini. Pengirim aslinya adalah Daniel Megantara."
Mendengar nama itu, senyum ceria di wajah Erica seketika lenyap. Tangannya pun bergerak tegas saat menarik selembar kertas tipis dari dalam amplop.
Bau parfum khas pria kota yang sangat dia benci di kehidupan sebelumnya menguar dari permukaan kertas tersebut.
Erica mulai membaca baris demi baris tulisan di dalamnya.
Dari: Daniel Megantara.
Erica, jika kamu membaca surat ini, artinya kamu sudah merasakan bagaimana tersiksanya tinggal di hutan perbatasan yang dingin dan asing itu bersama pamanku yang kaku dan kejam.
Aku tahu kamu melakukan semua ini hanya untuk membalas dendam padaku karena aku menyembunyikan statusku, atau mungkin kamu hanya ingin memanfaatkan nama besar Paman Eshar demi melindungi perusahaan ayahmu. Tapi sadarlah, Erica. Paman Eshar bukanlah pria yang punya hati. Dia adalah mesin militer yang dingin. Begitu dia mendapatkan apa yang dia inginkan dari para tetua adat Megantara Corp, dia akan membuangmu di barak itu tanpa memperdulikanmu.
Kembalilah ke Jakarta. Aku bisa mengatur pembatalan pernikahan kalian melalui pengaruh Papa di kementerian. Aku bersedia memaafkan kelakuan lancangmu tempo hari, asalkan kamu mau kembali ke sisiku dan menyerahkan pengelolaan Fiorenza Fashion padaku demi keselamatanmu sendiri. Jangan paksa aku menggunakan cara yang keras, Erica. Aku akan menunggumu.
Erica meremas surat kertas itu hingga membentuk gumpalan kecil di dalam kepalan tangannya. Napasnya memburu, bukan karena takut, tapi karena rasa muak yang tak terbendung.
Daniel benar-benar tidak berubah.
Pria itu masih mengincar Fiorenza Fashion, dan dia merasa harga dirinya begitu tinggi hingga mengira Erica akan memohon untuk kembali ke Jakarta.
"Nyonya Erica? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Axelo, wajahnya menggambarkan kekhawatiran.
"Jika Anda mau, saya bisa memerintahkan unit intelijen di Jakarta untuk memberi 'pelajaran' kecil pada keponakan Jenderal yang tidak tahu diri ini."
Sebelum Erica sempat menjawab, sebuah langkah kaki tegap yang berat terdengar mendekat dari arah lorong kerja.
Jenderal Eshar Megantara melangkah masuk ke ruang tengah. Pria itu tampaknya baru saja menyelesaikan pemeriksaan peta taktis perbatasan. Mata coklatnya yang setajam elang langsung menangkap gumpalan kertas di tangan Erica dan ekspresi tegang di antara istri dan asisten pribadinya.
"Ada apa, Axelo? Kenapa suasananya seperti sedang menghadapi serangan dari perbatasan?" tanya Eshar, suaranya beratnya menggetarkan ruangan.
Axelo segera menegakkan tubuhnya, memberikan hormat yang disiplin.
"Siap, Jenderal! Nyonya Besar baru saja menerima surat ancaman dan bujukan dari Daniel Megantara dari Jakarta."
Mendengar nama Daniel disebut dalam konteks mengganggu istrinya, aura intimidasi militer Eshar langsung meledak keluar, menurunkan suhu ruangan hingga terasa sedingin es perbatasan kutub selatan.
Paras tampannya yang misterius itu mengeras, memancarkan rasa maraah yang tertahan.
Eshar melangkah mendekati Erica, merebut gumpalan kertas dari tangan istrinya dengan gerakan tegas.
Dia membuka kembali remasan kertas itu dan membaca isinya dengan cepat. Sepasang mata coklatnya menyipit kejam saat membaca bagian di mana Daniel mengancam akan menggunakan cara keras terhadap Erica.
"Dia benar-benar sudah bosan hidup," desis Eshar, suaranya begitu rendah dan berbahaya hingga membuat Axelo yang berada di dekatnya tanpa sadar menelan ludah.
Eshar merobek kertas surat itu menjadi serpihan kecil dan melemparkannya ke dalam asbak kuningan di atas meja. Dia kemudian menoleh sepenuhnya pada Erica, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata wanita itu.
Sentuhan tangan Eshar yang besar dan hangat bergerak naik, memegang kedua pundak Erica dengan erat, untuk memberikan rasa aman.
"Erica, dengarkan aku," ujar Eshar, suaranya kini terdengar tenang.
"Di Jakarta, kau mungkin hanya seorang direktur wanita yang harus berjuang sendiri menghadapi intrik busuk keluargaku. Tapi di sini, di perbatasan utara ini, kau adalah istri sah dari Jenderal Eshar Megantara. Tidak akan ada satu pun ancaman, atau satu pun manusia dari Jakarta yang bisa menyentuh sehelai rambutmu tanpa melompati mayat pasukanku terlebih dahulu."
Erica pun mendongak, menatap wajah suaminya yang berdiri kokoh layaknya benteng pertahanan di hadapannya.
Raut wajahnya yang kesal dan khawatir tadi terpancar, kini kembali tenang setelah melihat komitmen Eshar, dan juga karena Erica mampu menguasai diri dengan cepat.
"Aku tidak takut pada Daniel, Eshar," jawab Erica, sambil menunduk dan jari-jarinya memainkan ujung bajunya.
"Aku hanya muak melihat bagaimana dia masih mengira bisa mengendalikan takdirku. Aku tidak akan pernah kembali ke Jakarta sampai aku memastikan dia dan Shofia menderita atas apa yang mereka tabur."
Eshar menatap istrinya dengan binar kagum yang semakin mendalam. Ketangguhan mental Erica membuktikan bahwa wanita ini memang layak bersanding dengannya di medan yang keras ini.
Eshar kemudian melepaskan tangannya dari pundak Erica, lalu berbalik menatap asistennya.
"Axelo."
"Siap, Jenderal!"
"Hubungi jaringan intelijen kita di Jakarta malam ini juga," perintah Eshar, kilat matanya berisi taktik yang mematikan.
"Perintahkan mereka untuk memperketat pengawasan pada seluruh gerak-gerik Daniel dan jalurnya di kementerian. Jika dia mencoba mengusik izin usaha atau jalur distribusi kain Fiorenza Fashion di ibu kota, potong seluruh pasokan dana dan fasilitas Megantara Corp yang selama ini dia gunakan. Biarkan keponakanku itu tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa sepeser pun uang dari nama besar keluarganya."
"Siap, laksanakan, Jenderal!" Axelo tersenyum puas, menyukai perintah tegas atasannya yang kali ini digerakkan oleh rasa protektif terhadap sang Nyonya Besar.
Setelah Axelo pamit keluar untuk mengurus telegraf rahasia, Eshar kembali menatap Erica yang kini sedang merapikan pembukuannya kembali dengan suasana hati yang sangat stabil.
"Terima kasih, Eshar," bisik Erica, tapi terdengar jelas di telinga suaminya.
Eshar kemudian melangkah untuk kembali ke ruang kerjanya, tapi sebelum melewati pintu, dia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang memang sudah menjadi hakmu, Erica. Menjaga keselamatanmu adalah bagian dari kewajibanku sebagai suamimu. Istirahatlah, besok mesin jahit barumu dari Jakarta akan tiba di gerbang depan."
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭