Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
020
Di ruang tamu penthouse yang luas dan mewah, cahaya matahari pagi memantul sempurna pada perabotan kaca dan marmer.
Michaela duduk dengan tenang di sofa kulit, sementara Killian berdiri di hadapannya dengan gestur yang sangat berhati-hati.
Di tangan kekar pria itu, terdapat sebuah masker kain premium berwarna hitam pekat dan sebuah topi bisbol bermerek dengan warna senada.
Dengan gerakan yang teramat lembut, seolah takut menyakiti kulit Michaela yang halus, Killian memasangkan tali masker itu di balik kedua daun telinga istrinya.
Setelah memastikan masker itu menutupi setengah wajah Michaela dengan sempurna, dia meraih topi bisbol tadi, lalu memakaikannya di kepala Michaela, sedikit menarik bagian depannya ke bawah untuk menyembunyikan sepasang mata tajam wanita itu.
Killian mundur selangkah, meneliti penampilan istrinya dari atas ke bawah, lalu tersenyum hangat hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.
"Nah, pas sekali, Sayang. Penampilanmu sudah aman. Setelah ini kita sudah boleh keluar."
Michaela mendongak, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya mendengar nada suara Killian yang begitu protektif.
Melalui balik maskernya, dia tersenyum lembut meski tak terlihat. "Terima kasih, Suamiku."
Killian mengusap puncak topi Michaela sekilas sebelum berbalik untuk mengambil kunci mobilnya.
Sore ini, mereka memang memiliki rencana untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling elit di pusat kota Los Angeles.
Killian ingin memanjakan istrinya, membelikan apa saja yang wanita itu butuhkan untuk mengisi lemari pakaian mereka yang masih kosong.
Namun, di balik senyuman hangat dan sikap manisnya pagi ini, dada Killian sebenarnya sedang bergejolak hebat oleh rasa khawatir yang mendalam.
Pikiran-pikiran buruk berputar di dalam benaknya bagai lingkaran setan.
Dia tahu betul bahwa di bawah identitas yang dia ketahui, istrinya—Cecilia Lynch—masih tercatat sebagai anggota aktif dari sindikat Madam's Roses.
Sebuah kelompok kriminal manipulatif yang hingga detik ini belum berhasil dihancurkan oleh Killian dan tim intelijennya sendiri.
Killian sangat khawatir jika mereka berjalan-jalan di tempat umum, ada anggota sindikat atau mata-mata Madam itu yang mengenali wajah istrinya dan menganggap Cecilia telah berkhianat karena menikah dengan Targetnya.
Namun, yang jauh lebih membuat dada Killian sesak dan bergemuruh adalah ketakutan pribadinya yang lain.
Dia takut. Sangat takut jika di masa lalu, sebelum mengalami kecelakaan dan koma, istrinya pernah menjalankan misi penipuan pada pria-pria kaya lain di sekitar Los Angeles selain dirinya.
Bagaimana jika di tengah mall nanti, tiba-tiba ada pria lain yang mengenali istrinya dan membuat keributan?
Bagaimana jika masa lalu kelam itu mendadak merenggut kebahagiaan baru yang baru saja mereka raut pagi ini?
Killian mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
Aku harus melindungi istriku dengan baik. Siapa pun tidak boleh menyentuhnya atau merebutnya dariku, tekadnya di dalam hati.
Bahkan, sekelebat ide ekstrem sempat melintas di kepala Killian semenjak mereka di dapur tadi.
Pria itu sempat ingin menawarkan sebuah opsi gila: bagaimana jika dia membiayai operasi plastik besar-besaran pada wajah istrinya?
Mengubah struktur wajahnya secara total agar tidak ada satu pun orang dari masa lalu—baik dari sindikat maupun korban penipuan—yang bisa mengenali sosok istrinya lagi.
Dengan begitu, mereka bisa hidup dengan identitas yang benar-benar baru dan aman.
Namun, Killian segera menepis ide itu jauh-jauh.
Dia sangat khawatir istrinya akan tersinggung dan merasa tidak dihargai.
Apalagi, hubungan mereka baru saja membaik setelah dua hari penuh dia menyiksanya dengan ego dan kekasaran yang brutal. Killian tidak ingin merusak momen kedamaian ini hanya karena kecurigaannya yang berlebihan.
"Ayo, mobilnya sudah siap," ajak Killian, mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan genggaman hangat oleh Michaela.
...ΩΩΩΩl...
Beberapa menit kemudian, mobil sport mewah berwarna hitam legam milik Killian membelah jalanan kota Los Angeles yang mulai padat.
Deru mesinnya yang halus namun bertenaga membawa mereka membelah jalan raya menuju salah satu pusat perbelanjaan kelas atas.
Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam mall yang megah dengan langit-langit kaca yang tinggi, Killian mengira istrinya akan bersikap anggun, memilih butik-butik desainer ternama seperti Chanel atau Dior dengan langkah yang tenang seperti wanita sosialita pada umumnya.
Namun, dugaan Killian meleset total.
Wujud asli Michaela Hokked—seorang gadis jalanan yang selama bertahun-tahun harus memutar otak untuk menghemat setiap sen dolarnya agar bisa bertahan hidup dan memberi biaya ayahnya—seketika keluar tanpa bisa dibendung.
Jiwa pemburu diskonnya mendadak bergejolak melihat papan-papan merah yang bertebaran di beberapa toko.
Michaela menjadi sangat gesit. Dia tidak bisa diam di satu tempat.
Dengan tawa kecil yang renyah di balik maskernya, dia berlari kecil kesana-kemari, menarik tangan kekar suaminya dengan penuh semangat, mengabaikan fakta bahwa langkahnya masih sedikit menahan perih.
"Yin! Lihat itu!" seru Michaela dengan mata berbinar-binar, menunjuk ke arah sebuah toko perlengkapan rumah tangga dan pakaian kasual.
"Kau tahu? Aku sangat terbiasa belanja diskon seperti ini! Lihat... barang ini sedang diskon tiga puluh persen, dan kalau kita pakai aplikasi ini, ada tambahan cashback sepuluh persennya juga, Yin! Ini menguntungkan sekali!"
Killian menghentikan langkahnya, menatap istrinya yang sedang sibuk menghitung angka di papan pengumuman dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.
Pria itu menghembuskan napas pendek, menahan senyum geli melihat bagaimana seorang wanita yang dituduh sebagai penipu miliaran dolar justru terlihat begitu bahagia hanya karena potongan harga beberapa belas dolar.
Killian meraih kedua bahu Michaela, menundukkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan istrinya yang memakai topi.
"Sayang..." panggil Killian dengan nada suara yang teramat lembut namun penuh penekanan.
"Eh? Kenapa, Yin?" Michaela mendongak.
"Tidak perlu melihat papan diskon seperti itu, hm?" Killian mengusap pipi Michaela yang tertutup kain masker hitam dengan ibu jarinya.
"Ambil saja apa pun yang kau mau di mall ini tanpa melihat label harganya. Percayalah pada suamimu ini, Cecilia. Jangankan pakaian-pakaian ini, aku bahkan bisa membeli seluruh toko ini beserta gedungnya sekarang juga untukmu jika kau mau. Jadi, ambil semua yang kau inginkan, oke?"
Mendengar kesombongan yang hakiki dari seorang pewaris keluarga Vale-Knight, Michaela mendengus geli di balik maskernya.
Dia tahu Killian tidak sedang membual, kekayaan pria ini memang tidak berseri.
Namun, kebiasaan hidup hemat yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun di San Francisco membuat Michaela tetap tidak bisa merubah sifat aslinya.
Dia tidak tertarik pada tas-tas mewah seharga ratusan ribu dolar; dia justru menarik Killian menuju area supermaket segar yang berada di lantai bawah mall tersebut.
...***...
Di sinilah wujud asli Michaela yang terbiasa mengirit setiap bulan benar-benar terlihat.
Alih-alih memborong perhiasan, dia justru berlari kesana-kemari memborong buah-buahan kesukaannya yang jarang bisa dia beli dalam jumlah banyak dulu karena harganya yang mahal di musim tertentu.
Dia mengambil stroberi organik, buah beri, dan beberapa buah persik segar dengan cekatan.
"Sayang... lihat ini!" Michaela berbalik dengan cepat, mengangkat sebuah keranjang kecil berisi buah ceri merah yang segar ke hadapan Killian.
Matanya menyipit membentuk garis melengkung yang sangat cantik, menandakan dia sedang tersenyum lebar di balik maskernya.
"Aku sudah dari dulu sekali ingin makan buah ceri ini dalam jumlah banyak! Boleh aku mengambilnya dua kotak?" tunjuknya pada suaminya dengan nada meminta izin yang terdengar sangat polos.
Deg.
Namun, bukan buah ceri merah di tangan Michaela yang membuat detak jantung Killian mendadak menggila seketika.
Bukan pula binar bahagia di matanya. Melainkan satu kata yang baru saja lolos dari bibir ranum istrinya di balik masker itu.
Sayang.
Itu adalah pertama kalinya Michaela memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' secara langsung setelah percakapan emosional mereka di dapur tadi pagi, bukan lagi panggilan 'Yin' yang biasa dia gunakan.
Panggilan itu terdengar begitu manis, begitu tulus, dan memiliki efek yang luar biasa pada ego dan perasaan Killian.
Killian terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik.
Tatapannya terkunci pada sepasang mata istrinya.
Detik berikutnya, sebuah senyuman salah tingkah yang sangat langka terukir di wajah tampan pria angkuh itu.
Semburat merah tipis bahkan samar-samar muncul di sekitar tulang pipi Killian yang tegas. Dia berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa gugup dan debaran aneh yang menyerang dadanya.
Killian melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka di sela-sela rak buah supermarket yang agak sepi.
Dia menundukkan kepalanya, berbisik dengan suara baritonnya yang mendadak berubah menjadi sangat serak dan penuh godaan tepat di depan wajah Michaela.
"Bibirmu bisa kugigit di sini sekarang juga, Sayang. Jangan menggoda suamimu di tempat umum jika kau tidak mau aku menciummu di depan kasir ini," bisik Killian dengan tatapan mata yang menggelap oleh rasa gemas yang membuncah.
Blush.
Mendengar ancaman terang-terangan yang sarat akan gairah itu, wajah Michaela seketika memanas.
Meskipun wajahnya tertutup masker hitam, semburan warna merah pekat seperti kepiting rebus langsung menjalar dari leher hingga ke daun telinga dan dahinya yang terlihat jelas di bawah lingkaran topi.
Michaela langsung memalingkan wajahnya dengan gugup, memukul dada bidang Killian pelan dengan kotak ceri di tangannya untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
"K-Killian! Hentikan ucapan mesummu itu! Ini tempat umum!" serunya dengan suara bergetar, membuat Killian justru tertawa renyah, merasa sangat puas karena telah berhasil membalikkan keadaan dan menggoda istrinya hingga tak berkutik.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨