Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Jalan Bareng
Bab 13
Jalan Bareng
"Mil, besok pagi ke luar kota buat tinjau lokasi." Andra menatap Mika yang baru masuk dengan wajah kesal membuat pria itu heran.
"Baik, Pak." Mila mengangguk setuju.
"Sudah kamu siapkan semuanya?"
"Sudah Pak, ini mau saya infokan ke bagian lapangan juga."
Andra mengangguk setuju lalu fokus lagi ke pekerjaannya. Meski dia melihat wajah Mila yang berubah, pasti nanti dia tidak akan langsung cerita.
"Setelah pulang nanti, temani saya ke mall buat beli sesuatu ya, Mil." Andra menatap wajah Mila yang tengah kerja serius.
"Baik, Pak,"
Wanita itu tampak manut saja karena sedang tidak ingin berdebat, padahal jika ingin membeli sesuatu bosnya itu tidak kekurangan orang untuk disuruh. Tapi untuk saat ini lebih baik dia mengangguk saja.
Sementara di luar gedung kantor Arjun sedang meremas kertas yang tadi di campakkan oleh Mila. Pria itu rasanya ingin mengamuk tapi nanti disangka seperti orang gila.
"Oh iya, gue tunggu di mobilnya aja. Dia pasti nanti makan siang keluar. Atau pulang juga tidak masalah menunggu lama,"
Tiba-tiba Arjun menemukan ide untuk menunggu Mila di parkiran mobil. Sedangkan jam istirahat siang masih 4 jam lagi dia rela melakukannya.
Arjun pun sampai di basemen parkiran dan mendapati mobil Mila tidak dikunci dan Arjun pun masuk ke dalamnya untuk menunggu.
Sembari menunggu Arjun memilih untuk tidur, dia pun memejamkan mata. Waktu masih panjang dan dia yakin pasti sebelum jam 12.00 siang sudah bangun.
"Gini cara yang kau mau Mil, baiklah. Kau pikir aku akan pergi begitu saja, kau salah menilai ku Mila." Arjun tersenyum miring.
*
Sore pun tiba, Mila mulai membereskan meja kerjanya. Sementara di sudut ruangan dekat pintu Andra berdiri sambil menetap Mila yang sedang sibuk membereskan mejanya. Pria itu ingin keluar bersama dengan Mila.
"Bapak bisa duluan saja nanti saya akan menyusul," ujar Mila.
"Saya akan tetap menunggu, kita turun bareng."
"Tidak apa-apa, Pak. Ini masih agak lama." Kata Mila.
Andra pun melihat jika berkas di meja masih berserakan dan perlu di susun kembali ke rak dokumen.
"Kalau begitu saya ambil mobil dulu, dan tunggu kamu di depan." Andra akhirnya duluan.
"Baik," jawab Mila.
Andra pergi ke basement untuk mengambil mobilnya. Setibanya di mobil dia melihat mobil yang biasa dipakai oleh mika pintunya terbuka. Dia pun penasaran dan melihat ada satu kaki yang terjuntai ke lantai.
Andra tersenyum miring melihat Arjun tidur di mobil. Lalu berlalu dan masuk ke mobilnya yang posisinya bersebalahan dengan mobil Mila.
"Rasakanlah penderitaanmu sebentar lagi," gumam Andra.
Mila sudah menunggu di lobby, begitu melihat Andra turun dari mobil Mila pun langsung menghampiri.
Andra membukakan pintu untuk Mila, beberapa staf kantor yang melihat hal itu langsung berdehem.
Ehm-ehm.
Mendengar suara yang menurutnya berisik itu, Andra memberikan tatapan tajam.
"Kalau gaji kalian mau di potong, teruskan." Tegas Andra.
"Canda Pak," ucap beberapa staf itu.
"Yah, bakal ada gosip nih romannya," ucap Mila.
"Tidak apa-apa, asalkan gosipnya Kita berdua pasti nanti akan jadi trending topik," balas Andra.
Mereka pun pergi ke mall untuk membeli barang yang Andra rencanakan tadi. Padahal dia pun masih mikir mau beli apa.
Entah kenapa Andra tak rela jika harus cepat-cepat pulang kerja. Dia masih ingin terus bersama dengan Mila.
Setibanya timbul yang mereka tuju, Andra dan Mila naik ke lantai atas.
"Bapak mau membeli apa?" Mila membuka obrolan terlebih dahulu.
Wanita itu benar-benar menjaga mood-nya agar tetap baik meski masalah dalam hidupnya datang silih berganti.
"Saya mau beli hadiah buat ibu, kamu bisa bantu pilihkan?"
Mila mengangguk, hanya bantu memilihkan barang. Pasti tidak akan memakan waktu lama. Mereka menuju ke toko perhiasan yang ada di mall itu.
"Bapak mau beli perhiasan apa?"
Andra tampak diam sebentar sembari menatap deretan perhiasan yang terpajang rapi di etalase.
"Sepertinya gelang saja, tolong pilihkan satu ya,"
Mila pun menatap ke arah etalase dan mengamati dengan seksama gelang yang menurutnya cocok dipakai untuk ibu dari bosnya itu.
Tatapan matanya tertuju pada gelang yang berbentuk kerang. Desainnya terlihat unik tapi juga tampak elegan.
"Kalau yang itu bagaimana menurut bapak?" Tunjuk Mila pada gelang pilihannya.
"Itu Bagus ternyata selera kamu oke juga," puji Andra.
"Hanya sebatas memilih Pak, kan tidak sulit," kata Mila.
Andra pun menatap deretan kalung, dia melihat kalung berlian yang mewah. Dia sangat yakin jika kalung itu cocok dan pas jika di pakai oleh Mila.
"Kalau kalung yang itu, bagaimana menurut kamu?" Andra menunjuk kalung pilihannya.
"Wah, itu sangat mewah Pak. Kesannya sangat elegan," kata Mila.
"Bungkus," titah Andra pada penjaga toko itu.
"Ibu Bapak pasti sangat senang di beri hadiah seperti ini. Apa bapak sering memberikan hadiah seperti ini untuk ibu?" Tanya Mila penasaran.
"Tidak terlalu, ini kebetulan untuk ucapan terimakasih saja," jawab Andra.
Pasalnya ini adalah untuk yang pertama kalinya Andra sendiri membelikan hadiah untuk ibunya. Biasanya Andra tidak turun tangan sendiri. Tapi kali ini dia yang akan turun tangan dan akan melihat reaksi ibunya nanti.
Setelah selesai, Andra mengantar Mila pulang ke kontrakan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
Sedangkan di basement kantor, Arjun baru bangun. Pria itu meliukkan badan ke kanan dan ke kiri karena terasa sangat pegal. Bagaimana tidak pegal dia tidur seperti orang tersangkut di jemuran.
"Jam berapa ini," gumam Arjun.
Arjun mencari ponselnya di kantong jaket untuk melihat jam. Dia sangat kaget begitu tahu ini sudah hampir maghrib.
"Kok Mila nggak ke sini sih! Apa jangan-jangan dia lembur ya," pikirnya.
Arjun pun berniat untuk menyusul Mila ke ruangannya. Tapi saat akan memasuki lobi Arjun dihentikan oleh security.
"Bapak mau mencari ibu Mila?"
"Iya, awas! Jangan halangi jalan," usirnya.
"Maaf Pak ibu Mila sudah pulang sudah jam 03.30 tadi," paparnya.
"Pulang?"
Pertanyaan itu di angguki oleh pak satpam sebagai jawaban benar.
"Dia pulang naik apa?"
"Naik mobil bersama pak bos," jawab pria itu santai. Karena memang dia melihatnya dengan jelas.
"Pulang ke mana dia?" Tanya Arjun dengan tatapan nyalang. Sebab dia baru melek sempurna.
"Maaf pak kalau itu saya tidak tahu,"
Sial. Arjun kelewatan jauh. Dia merasa tidur hanya sebentar tapi tak tahunya sampai hampir maghrib.
Pada akhirnya Arjun pulang dengan tangan kosong. Rasa kesal masih menyelimuti hatinya. Kenapa ya di rumah kondisi terlihat gelap.
"Argh! Benar-benar sial bener sih. PLN udah dicabut aja." Arjun langsung putar arah.