NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Daniel melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang padat, membawa Amira dan Felia menjauh dari atmosfer rumah sakit yang menyesakkan.

Di dalam mobil, keheningan terasa begitu berat. Felia yang kelelahan setelah menangis akhirnya tertidur pulas di kursi belakang, sementara Amira hanya menatap kosong ke luar jendela, tenggelam dalam rasa mindernya.

Melalui kaca spion, rahang Daniel mengeras saat melihat mobil hitam milik Gayatri terus membayangi mereka dari belakang.

Gayatri dan Anita ternyata tidak menyerah; mereka ikut menuju ke rumah Daniel menggunakan mobil pribadi Gayatri, siap melancarkan konfrontasi berikutnya.

Sesampainya di rumah mewah milik Daniel, pelayan menyambut mereka dengan canggung, merasakan aura ketegangan yang dibawa oleh rombongan tersebut.

Daniel menggendong Felia yang terlelap langsung menuju kamarnya di lantai atas, sementara Amira berjalan pelan menggunakan tongkatnya menuju ruang tamu.

Tak lama kemudian, Gayatri dan Anita melangkah masuk tanpa permisi.

Gayatri menatap sekeliling rumah dengan pandangan menilai, lalu sorot matanya yang tajam tertuju pada Amira yang baru saja mendudukkan diri di sofa dengan susah payah.

"Heh, Amira. Buatkan kami teh. Yang manis, dan jangan lama-lama," perintah Gayatri dengan nada ketus, menganggap Amira tak lebih dari seorang pelayan.

Anita yang duduk di sampingnya hanya tersenyum sinis, melipat kaki dengan anggun sembari menikmati pemandangan itu.

"Dia bukan pembantu Mama!"

Suara berat dan tegas Daniel menggelegar dari arah tangga.

Pria itu berjalan turun dengan langkah lebar, langsung mengambil posisi berdiri di depan Amira seolah menjadi benteng pelindung bagi istrinya.

"Jangan lancang memerintah istriku di rumahku sendiri. Katakan, apa mau Mama sebenarnya datang ke sini?" tanya Daniel dingin tanpa basa-basi.

Gayatri bangkit berdiri, menatap putranya dengan tatapan murka.

"Mama ke sini untuk meminta hak asuh Felia dan seluruh harta peninggalan Selena! Semuanya harus diserahkan kepada Mama!"

Mendengar tuntutan yang tidak masuk akal itu, Daniel tidak marah.

Sebaliknya, Daniel tertawa kecil—sebuah tawa sarkas yang terdengar dingin dan meremehkan.

"Hak asuh?" Daniel menatap ibunya lurus-lurus dengan pandangan mencemooh.

"Aku papanya, dan aku masih hidup. Atas dasar hukum apa Mama berniat memintanya?"

"Karena kamu sudah menikah dengan wanita kumuh ini?!" teriak Gayatri histeris, jarinya menunjuk tepat ke arah wajah Amira.

"Kamu mengorbankan masa depan Felia demi merawat wanita cacat, miskin, dan tidak jelas asal-usulnya ini! Kamu sudah tidak waras, Daniel! Kamu tidak pantas mengasuh Felia selama perempuan ini ada di rumah ini!"

Mendengar teriakan histeris Gayatri yang menggema di ruang tamu, Felia yang berada di lantai atas mulai terusik dalam tidurnya.

Daniel tidak ingin putri kecilnya terbangun dalam kondisi trauma.

Dengan sigap, ia memanggil suster pengasuh Felia yang sejak tadi menunggu dengan cemas di balik pilar ruang tengah.

"Sus, temani Felia sekarang. Pastikan pintunya tertutup rapat," perintah Daniel dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Suster itu menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke lantai atas.

Setelah Felia aman, atmosfer di ruang tamu mendadak berubah drastis.

Hinaan kasar dari Gayatri yang menyebutnya "wanita kumuh dan cacat" akhirnya membakar harga diri Amira yang selama ini ia pendam.

Rasa minder yang sempat merayap di rumah sakit seketika menguap, tergantikan oleh kilat amarah yang membara di sepasang matanya.

Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang tersisa, Amira bangkit berdiri dari sofanya.

Ia melemparkan tongkat kruknya hingga berdenting keras di atas lantai marmer, membuktikan bahwa ia tidak selemah yang mereka kira.

"Saya tidak cacat!" seru Amira dengan suara yang bergetar menahan emosi, menatap lurus ke dalam manik mata Gayatri yang terbelalak kaget.

"Saya anak orang berada, dan asal Anda tahu, saya menikah dengan Daniel karena..."

Amira mencengkeram jemarinya kuat-kuat, hampir saja membongkar rahasia tentang pernikahan sandiwara mereka dan kesepakatan malam itu.

Namun, tepat sebelum kalimat fatal itu lolos dari bibirnya, Amira mendadak menghentikan perkataannya.

Ia melihat Daniel sedang menatapnya lekat-lekat, menggelengkan kepalanya dengan perlahan—sebuah isyarat visual yang meminta Amira untuk tetap tenang dan tidak terpancing menyerahkan kartu as mereka kepada musuh.

Melihat Amira yang mendadak bungkam, Gayatri langsung memanfaatkan celah itu untuk menyudutkannya kembali.

Bersama Anita yang tersenyum puas di sampingnya, Gayatri melangkah maju dengan tawa mengejek.

"Karena apa? Hah?!" tagih Gayatri dengan nada meremehkan.

"Kenapa berhenti? Pasti karena kamu mengincar kekayaan Daniel, kan? Kamu perempuan miskin yang memanfaatkan situasi untuk naik kasta!"

"Ma! Sudah cukup!"

Suara bentakan Daniel menggelegar, memotong kalimat beracun ibunya.

Amarah pria itu sudah mencapai puncaknya. Ia melangkah maju, menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan Amira untuk memutus pandangan intimidasi dari kedua wanita di hadapannya.

"Silakan Mama dan Anita pergi dari rumah ini sekarang. Dan tolong, jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi," usir Daniel dengan suara bariton yang teramat dingin, menyiratkan bahwa batas kesabarannya telah habis sepenuhnya.

Gayatri dan Anita melengos pergi dengan wajah memerah padam, menyisakan hawa panas kemarahan yang masih tertinggal di ruangan itu.

Anita melirik Daniel dengan tatapan tajam yang penuh dengan ancaman terselubung sebelum akhirnya mengikuti langkah Gayatri keluar rumah, membanting pintu utama dengan keras sebagai bentuk protes.

Di tengah keheningan yang tersisa, Amira tidak peduli lagi pada rasa sakit di kakinya.

Dengan napas yang masih memburu karena emosi, ia berjalan pincang menyusuri ruang tengah, sengaja membiarkan tongkat penyangganya tergeletak tak berdaya di lantai ruang tamu.

Daniel dengan sigap memungut tongkat tersebut dan mengejar langkah istrinya.

"Amira, tunggu! Kamu butuh tongkat ini, kakimu masih lemah!" serunya khawatir, mencoba meraih bahu istrinya.

Amira menghentikan langkahnya secara mendadak.

Ia menepis tangan Daniel dengan kasar, menatap pria itu dengan kilatan amarah yang masih menyala.

"Tidak usah! Aku tidak cacat, Daniel! Dan sekarang, beritahu aku, mana kamarku?!" teriaknya frustrasi.

Tanpa berdebat lebih jauh, Daniel mengerti bahwa Amira sedang tidak bisa diajak bicara dengan tenang.

Ia segera melangkah mendahului Amira dan membuka pintu sebuah kamar tamu di lantai bawah yang sudah ia siapkan khusus untuk kenyamanan Amira selama masa pemulihan ini.

Begitu pintu terbuka, Amira langsung melangkah masuk dengan kaki yang tertatih-tatih. Tanpa sepatah kata pun untuk Daniel, ia meraih daun pintu dan—

Brakk!

Amira menutup pintu kamar itu dengan kasar tepat di depan wajah Daniel.

Suara dentuman pintu yang menggema di koridor itu menjadi bukti betapa hancurnya suasana hati Amira akibat hinaan ibunya tadi, sekaligus betapa ia merasa tertekan atas kehadirannya di rumah ini.

Daniel berdiri mematung di depan pintu yang tertutup rapat, memegang tongkat kruk Amira dengan cengkeraman erat, sementara hatinya diselimuti rasa bersalah dan kekhawatiran yang kian mendalam.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!