NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Menara Para Penjaga Bintang

Pintu kayu tua dari menara itu menutup sendiri saat Aurelia mulai melangkah masuk. Suara pintu tersebut menggema di seluruh menara, dan jantung Aurelia kembali berdebar lebih cepat. Untuk sesaat, ia mulai mempertimbangkan untuk kembali ke asrama. Namun rasa penasaran yang selama ini terus tumbuh jauh lebih kuat dari pada rasa takutnya.

Aurelia mengangkat tongkat Astralisnya. Kristal berbentuk bintang itu memancarkan cahaya putih keperakan hingga menerangi tangga batu yang berputar ke atas. Udara di dalam menara terasa sangat berbeda, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.

Langkah demi langkah, Aurelia tengah menaiki anak tangga dimenara itu. Dinding batu di kanan-kirinya dipenuhi oleh lukisan-lukisan kuno seperti para penyihir berjubah putih, ksatria yang memegang pedang bercahaya hingga simbol rasi bintang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Aurelia sudah naik ke menara itu cukup tinggi dan semakin tinggi ia berada, semakin jelas perasaan aneh yang memenuhi dadanya. Perasaan bahwa ia pernah berada ditempat tersebut, padahal ia sangat yakin belum pernah menginjakkan kaki disana sekali pun.

Setelah menaiki puluhan anak tangga, Aurelia tiba di lantai pertama menara. Ruangan itu berbentuk melingkar dan dipenuhi oleh rak-rak kayu tua yang berisi gulungan naskah kuno. Debu tebal menutupi sebagian besar perabotan, namun yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah bola langit raksasa yang berada di tengah ruangan.

Bola langit itu terbuat dari logam perak dengan permukaan yang dipenuhi oleh ukiran rasi bintang. Begitu Aurelia mendekat, bola itu perlahan berputar sendiri dan membuatnya terkejut.

“Tidak mungkin.” Gumamnya saat melihat apa yang tengah terjadi dihadapannya.

Selain bola yang berputar, kini satu per satu bintang pada bola tersebut mulai menyala membentuk jalur cahaya yang saling terhubung satu sama lain, kemudian terdengar suara wanita yang sangat lembut.

“Selamat datang…” Ucapan itu membuat Aurelia membeku, matanya pun terbelalak.

“Siapa itu?” Tanyanya sendiri. Tidak ada jawaban yang ia terima, ruangan itu tetap kosong.

“… pewaris Astralis.”

Lagi-lagi suara itu terdengar, namun tidak ada wujud yang ditampakkan padanya. Tubuh Aurelia langsung merinding meski suara itu terdengar begitu lembut dan juga hangat, seolah suara itu berasal dari seseorang yang sangat mengenalnya.

“Siapa kau?” Masih tidak ada jawaban yang diterima, namun cahaya pada bola langit perlahan meredup kembali meninggalkan keheningan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Setelah itu, Aurelia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dalam menara itu, ia naik ke lantai dua dan ruangan disana jauh lebih besar dari lantai pertama tadi. Dinding diruangan tersebut dipenuhi dengan ribuan foto yang bergerak dengan beberapa menampilkan penyihir yang sedang tersenyum dan sebagian lainnya memperlihatkan perayaan besar.

Selain penyihir dan perayaan, di dinding itu juga terlihat foto para murid yang sedang belajar sihir. Aurelia berjalan perlahan di antara foto-foto tersebut, kemudian langkahnya terhenti disalah satu foto yang menarik perhatiannya.

Di sana tampak seorang wanita berambut hitam panjang dengan mata yang berwarna emas, persis seperti dirinya. Wanita itu sedang berdiri didepan Gedung Astralis, senyumnya terlihat begitu lembut dan hangat, lagi-lagi jantungnya kembali berdebar lebih cepat dari biasanya.

“Dia…” Ucapan Aurelia menggantung. Wanita itu terlihat sangat mirip dengannya, bukan sangat mirip bahkan bisa dikatakan terlalu mirip, hanya usia yang menjadi pembedanya.

Wanita dalam foto itu terlihat lebih dewasa, anggun dan tentu saja kuat. Ketika Aurelia menyentuh bingkai tersebut, tiba-tiba saja cahaya meledak dari permukaannya. Ledakan cahaya itu merubah area sekeliling Aurelia, kini ia tidak lagi berada di menara, tetapi di sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga putih.

Langit malam membentang di atas kepalanya dan dipenuhi ribuan rasi bintang yang bersinar begitu terang serta di hadapannya berdiri seorang wanita yang berada dalam lukisan tadi, wanita bermata emas yang mirip dengannya.

“Akhirnya aku bisa melihatmu.” Suara wanita itu terdengar sangat lembut dan hal itu membuat Aurelia melangkah mundur.

“Ini dimana? Siapa kau?” Aurelia bertanya-tanya dengan nada yang bingung. Wanita itu tersenyum, senyum yang membuat dada Aurelia terasa sesak.

“Aku seseorang yang sangat menyayangimu.” Jawaban itu justru membuatnya semakin bingung.

“Maksudmu apa? Aku tidak mengerti.”

Wanita itu perlahan mengangkat salah satu tangannya. Namun, sebelum ia menyentuh Aurelia, tubuhnya mulai memudar, seolah bayangan yang perlahan menghilang dan seketika wajahnya berubah menjadi sedih.

“Waktuku belum cukup…” begitulah ucapnya saat menyadari tubuhnya hendak menghilang. “…Aurelia, dengarkan aku. Kegelapan yang tersegel mulai bangkit dan saat hari itu tiba, jangan pernah meragukan siapa dirimu.” Terangnya lagi sebelum akhirnya wanita itu semakin memudar.

“Tunggu.” Aurelia melangkah maju dan ia juga sedikit terkejut mendengar wanita itu menyebut namanya. “Tolong jelaskan semuanya.” Tuntutnya. Namun cahaya mulai menelan seluruh taman, wanita itu tersenyum untuk terakhir kalinya.

“Aku bangga padamu.” Ucapnya yang akhirnya benar-benar menghilang sepenuhnya.

Ketika cahaya menghilang, Aurelia terjatuh ke lantai batu dengan napas yang memburu. Keringat dingin membasahi dahinya, dan foto dihadapannya itu kembali diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.

Aurelia sendiri tidak tahu apa alasan dia menangis saat ini, ia hanya merasakan bahwa wanita yang ia temui didalam foto itu terasa sangat penting dan dekat dengannya layaknya bagian dari dirinya yang telah lama hilang.

Sementara itu ditempat yang jauh, tepatnya di kastel hitam yang tersembunyi di balik pegunungan, pria tua berjubah hitam kembali membuka kedua matanya. Bola kristal dihadapannya memperlihatkan bayangan Aurelia di dalam menara.

“Dan kau meninggalkan jejakmu disana.” Begitulah gumaman pria tua tersebut. Disampingnya berdiri seorang pemuda berambut putih dengan mata yang berwarna merah darah, parasnya cukup tampan namun terlihat sangat dingin.

“Apa dia benar-benar pewaris itu?” Tanya pemuda itu dan pria itu langsung mengangguk.

“Tidak diragukan lagi, karena segel para Penjaga Bintang mulai merespon kehadirannya.” Pemuda itu tampak menyeringai mendengar penuturan pria tua yang berada di sisinya tersebut.

“Kalau begitu izinkan aku pergi. Aku sangat ingin bertemu dengannya.” Ucapnya dan membuat pria tua disana terdiam beberapa saat, lalu tersenyum simpul.

“Tidak. Jangan sekarang, karena belum waktunya, tapi tidak akan lama lagi.” Ucapnya yang tidak mengalihkan pandangan dari bola kristal dihadapannya.

Sedangkan di menara tua, Aurelia akhirnya mencapai lantai tertinggi. Pintu batu besar berdiri dihadapannya, ukiran rasi bintang memenuhi seluruh permukaannya sama seperti pintu Gedung Astralis.

Aurelia mendekat ke arah pintu itu, dan saat ia semakin dekat, tongkat Astralis mulai bersinar terang. Cahaya keperakan menyebar ke seluruh ruangan, pintu batu perlahan terbuka dan dibaliknya terdapat sebuah observatorium kuno.

Atap dalam ruangan itu terbuka dan memperlihatkan langit malam, ribuan bintang juga tampak begitu dekat, seolah dapat disentuh dengan tangan. Di tengah ruangan berdiri tujuh patung batu raksasa, masing-masing mengenakan jubah panjang dan wajah mereka tertutup tudung.

Ketujuh patung tersebut membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi sebuah altar, Aurelia berjalan mendekat dan saat itulah sesuatu mulai terjadi. Ketujuh patung itu mulai bersinar dan membuat Aurelia membelalakkan kedua matanya.

Retakan cahaya mulai muncul di seluruh permukaan batu, kemudian patung-patung tersebut bergerak secara perlahan seperti makhluk yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Suara batu-batu yang bergesekan disana pun terdengar memenuhi ruangan, Aurelia mundur beberapa langkah.

Refleks, tongkat Astralis yang berada dalam genggamannya pun terangkat begitu saja. Namun salah satu patung ikut mengangkat tangannya, bukan untuk menyerang, tetapi untuk memberi salam padanya.

“Kami menyambutmu…” Suara patung yang mengangkat tangannya itu bersuara dengan suara tua yang menggema.

“… pewaris terakhir Astralis.” Patung lainnya pun ikut berbicara. Aurelia menahan napasnya untuk sejenak, ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Sudah ratusan tahun kami menunggu.” Patung ketiga melanjutkan sambutan tersebut.

“Dan akhirnya kau datang.” Begitulah yang diucapkan patung ke empat.

Ketujuh suara itu mulai bergema bersamaan membuat seluruh ruangan bergetar dengan hebat, dan Aurelia memberanikan dirinya untuk bertanya pada patung-patung yang telah berbicara pada dirinya saat ini.

“Kalian siapa?” Tanya Aurelia dengan suara yang terdengar ragu.

“Kami adalah Penjaga Bintang. Pelindung Astralis dan saksi dari masa lalu yang telah dilupakan oleh dunia.” Patung yang berdiri paling tengah menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Aurelia.

“Masa lalu?” Tanya Aurelia dengan jantung yang kembali berdegup cepat.

Patung dihadapannya mengangguk seolah menjawab pertanyaan Aurelia, kemudian ia mengulurkan tangan ke arah altar. Di atas altar muncul sebuah cahaya yang berbentuk lambang bintang berujung tujuh terbentuk di udara, lambang yang sama persis seperti simbol yang pernah muncul di pergelangan tangan Aurelia.

“Kebenaran yang kau cari tersembunyi didalam simbol ini. Namun kau belum siap untuk mengetahuinya.” Patung itu menyahut lagi dan membuat Aurelia menggigit bibir bawahnya.

Jawaban seperti itu kembali ia dapatkan, belum siap atau belum waktunya, seolah seluruh dunia mengetahui rahasianya kecuali dirinya sendiri. Patung disana seakan tengah memahami kekesalan yang dirasakan oleh Aurelia.

“Bersabarlah Pewaris. Saat waktunya tiba, semua kenangan akan kembali.” Suara patung itu berubah menjadi lembut.

Tiba-tiba lonceng akademi berdentang dengan sangat keras, dentangan lonceng itu menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan tengah malam dan ketujuh patung disana langsung membeku. Cahayanya meredup, observatorium kembali sunyi seakan patung-patung disana tidak pernah bergerak.

Kejadian barusan membuat Aurelia membeku, ia masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Namun sebelum berpikir lebih jauh, ada sesuatu yang dirasakan olehnya. Ia merasa bahwa ada seseorang yang tengah mengawasinya dan perasaan itu sangat kuat.

Aurelia menengadahkan kepalanya untuk melihat langit malam. Di salah satu menara yang jauh di seberang Akademi, terlihat sosok pria yang berdiri dalam bayangan, jubah hitamnya berkibar tertiup angin dengan mata abu-abunya yang memantulkan cahaya bulan—Orion.

Tatapan keduanya bertemu untuk sejenak, lalu pria itu menghilang ke dalam kegelapan meninggalkan Aurelia yang semakin di penuhi dengan pertanyaan. Tanpa ia sadari, malam itu bukan hanya Orion yang tengah memperhatikannya, karena di luar perisai pelindung Akademi Aetherion terdapat sepasang mata merah menyala tengah memandang ke arah menara tua.

“Jadi dia Pewaris Astralis itu.” Senyum tipis pun muncul dibibirnya saat melihat Aurelia dari kejauhan.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!