Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kegilaan Danzzel
Malam di Paris terasa mencekam. Di balik gerbang besi mansion Mapelli Mozzi yang dijaga ketat, Xienna merasa seperti burung dalam sangkar emas yang menunggu eksekutornya.
Namun, ia tidak menyangka bahwa pengawal ayahnya bisa ditundukkan semudah itu.
Denzzel masuk melalui balkon kamar Xienna dengan ketenangan seorang predator yang telah memetakan wilayahnya selama bertahun-tahun. Saat ia melangkah masuk, aroma kayu cendana dan bahaya seketika memenuhi ruangan.
Xienna berdiri di tengah kamar, memegang foto-foto pengintaian itu dengan tangan gemetar. "Kau benar-benar gila, Denzzel. Kau mengawasi ku... kau merencanakan semua ini."
Denzzel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, menutup jarak hingga punggung Xienna membentur tiang tempat tidurnya yang megah.
"Aku tidak hanya merencanakannya, Xienna. Aku menghidupinya. Setiap detik kau bernapas, aku ada di sana, di bayang-bayangmu."
Kebencian yang mendalam selama bertahun-tahun antara keluarga mereka, ditambah dengan rasa dikhianati oleh Brandon dan dikekang oleh ayahnya, membuat mental Xienna berada di titik didih. Saat Denzzel mencengkeram rahangnya dengan kasar dan menciumnya dengan rasa lapar yang destruktif, Xienna tidak memberontak.
Denzzel mendorong Xienna ke atas ranjang sutranya. Tidak ada kelembutan dalam gerakannya, hanya ada klaim kepemilikan yang gelap. Denzzel merobek gaun malam mahal Xienna, sebuah simbol bahwa statusnya sebagai Heiress tidak berarti apa-apa di bawah kuasa seorang Riccardo.
"Katakan kau membenciku," bisik Denzzel, suaranya berat dan serak saat ia menciumi leher Xienna dengan gigitan kecil yang meninggalkan bekas. "Katakan bahwa kau ingin aku mati."
"Aku membencimu, Denzzel... aku sangat membencimu," rintih Xienna, namun jemarinya justru mencengkeram rambut Denzzel, menarik pria itu lebih dekat.
Hubungan mereka malam itu bukanlah tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Denzzel memaksakan kehendaknya dengan intensitas yang hampir menyakitkan, sebuah bentuk pemerkosaan terhadap harga diri Xienna sebagai musuh.
Namun, di dalam kegilaan itu, Xienna menemukan sesuatu yang tidak pernah diberikan Brandon, sebuah gairah yang jujur dan mentah.
Xienna menyadari bahwa ia menikmati rasa didominasi oleh pria yang paling ia benci. Ada kepuasan aneh saat melihat pria yang "tak tersentuh" ini kehilangan akal sehatnya hanya karena tubuhnya.
Suara napas mereka beradu dengan denting jam di dinding, menciptakan harmoni yang berdosa di tengah permusuhan darah.
Denzzel bergerak di atasnya dengan ritme yang menuntut, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Xienna. Di bawah sentuhan Denzzel yang kasar namun posesif, Xienna melepaskan segala topeng elegannya. Ia membalas setiap ciuman dengan gigitan, membiarkan kebencian mereka melebur menjadi keintiman yang paling gelap.
"Kau milikku, Xienna," geram Denzzel saat mencapai puncaknya, suaranya terdengar seperti sumpah yang mengikat jiwa. "Ayahmu, Brandon, Paris... tidak ada yang bisa mengambilmu dariku sekarang."
Saat matahari mulai menyembul di ufuk Paris, Denzzel masih memeluk tubuh Xienna yang lemas di bawah selimut yang berantakan. Bekas-bekas percintaan mereka yang liar terlihat jelas di kulit pualam Xienna.
Xienna menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Ia baru saja menyerahkan dirinya pada iblis yang paling ditakuti keluarganya, dan yang paling mengerikan adalah ia ingin melakukannya lagi.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Xienna dengan suara serak.
Denzzel mengecup bahu Xienna yang terbuka, matanya berkilat penuh kemenangan. "Sekarang? Sekarang kita akan membuat ayahmu dan ayahku menonton bagaimana dua musuh bebuyutan menghancurkan dunia demi satu sama lain."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰🥰😍😍
simple tapi penuh makna