NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 13 [Arc: Desa Harapan]

Senja kini mendera, aku sudah berada di kamar sambil duduk di atas kasur. Meskipun kami disuruh berkemas untuk perjalanan besok, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang harus ku kemas. Maksudku— aku tidak punya banyak barang disini. Mungkin hanya baju ganti dan pedang pemberian Paman Ary saja yang harus kubawa. Atau mungkin aku tanya Riri saja.

Aku segera beranjak dari tempat tidur dan segera menuju kamar gadis mungil itu. Saat aku berada di depan pintu kamarnya, pintunya terbuka sedikit.

"Riri, kau di dalam?" 

Gadis itu tengah memperhatikan sesuatu di telapak tangannya. Saat menyadari kehadiranku, tangan gadis itu langsung mencoba menyembunyikannya. 

"Maaf, aku lupa mengetuk pintu."

"Tidak apa. Lagipula aku yang salah karena tidak menutup pintunya dengan benar. Masuklah."

Aku kemudian masuk ke dalam kamar Riri dan menutup pintu kamar. Ruangannya tidak jauh berbeda dari punyaku. Aku lalu duduk di samping gadis mungil itu. Aroma ruangan ini begitu harum, apa seperti ini ya aroma ruangan seorang gadis pada umumnya. 

"Riri, apa yang kau pegang tadi."

"Ah, ini." Ia lalu menunjukkan sebuah benda. Sebuah sayap putih kecil yang diberi tali, mungkin ini sebuah kalung. "Kalung ini ada bersamaku saat Bu Vega menemukanku. Ini adalah satu-satunya peninggalan Ayah dan Ibuku." 

Air mata gadis itu mulai menetes. "Ah maaf." Dengan cepat ia menghapus air matanya.

Tanganku bergerak dengan sendirinya, merangkul tubuh gadis mungil itu dan mendekapnya dalam pelukanku.

Setelah beberapa saat, aku baru tersadar atas apa yang aku lakukan. 

"A— maaf, tanganku bergerak dengan sendirinya." Saat ingin melepaskan Riri dari dekapanku, tangan gadis itu mencengkram kuat bajuku.

"Jangan. Kumohon, biarkan aku tetap seperti ini untuk beberapa saat." 

Aku tak bisa menolaknya. Aku kembali memeluknya. Rasanya hangat dan nyaman. Entah kenapa, jantungku juga berdetak semakin kencang.

Pintu kamar perlahan terbuka. "Azura, Riri kalian dia da—" Kak Nein terkejut dengan apa yang ia lihat, sama halnya juga dengan kami. "Maaf, silahkan lanjutkan." 

"Kak Nein salah paham!" Riri langsung melepaskan diri dari dekapanku dan berdiri.

"Kupikir kalian ingin melakukan "itu". Sebelumnya aku pergi ke kamar Azura, tapi ia tak ada disana, jadi aku langsung pergi kemari. Kalian sudah mengemasi barang kalian?" 

Aku sampai lupa ingin menanyakan hal yang sama sebelumnya ke Riri. Lagipula "itu" yang dimaksud Kak Nein apa? 

"Sudah. Lagipula kami tidak punya banyak barang disini Kak. Bahkan aku yakin Azura datang kesini karena dia bingung mau bawa apa saja. Apa aku benar, Azura?"

Aku hanya bisa tersenyum sambil terkekeh. Perempuan itu mengerikan ya, mereka bisa membaca pikiran juga.

"Kalau begitu istirahatlah. Kalian harus berangkat pagi-pagi besok." Kak Nein kemudian pergi.

Bersamaan dengan perginya Kak Nein, aku juga ingin kembali ke kamarku.

"Aku juga mau kembali ke kamar. Selamat malam Riri."

"Selamat malam." 

Aku kemudian meninggalkan kamar Riri. Di ujung lorong, aku melihat sebuah ruangan. Itu ruang kamar Arnold. Aku ingin tahu dia sudah kembali atau belum, tapi mengingat kejadian tadi siang, aku mengurungkan niatku dan kembali ke kamar.

Sesampainya di kamar, kubaringkan tubuhku di atas kasur. Lampu kamar kumatikan dan kucoba untuk tidur.

Semilir angin menerpa tubuhku. Aku pernah merasakan sensasi ini. Saat kubuka mataku, aku kembali ke mimpi aneh ini, dimana aku berada di sebuah padang rumput yang luas sambil berbaring.

"Yo, bagaimana kabarmu?"

"Seperti yang kau lihat kan." Gadis misterius itu juga ikut hadir. "Jadi, apa maumu membawaku ke tempat seperti ini."

"Jangan ketus begitu. Sudah sebulan sejak kita terakhir bertemu. Apa ingatanmu ada perkembangan?" 

"Untuk sekarang aku sudah mengingat kembali tentang hal-hal dasar di dunia ini. Tapi tetap saja, semua hal yang berkaitan dengan diriku tak bisa ku ingat. Aku juga melihat kilasan-kilasan balik secara cepat saja. Bahkan aku tak yakin apa itu benar-benar ingatanku." 'Diamlah pembunuh!' "Dan itu benar-benar menggangguku."

"Nampaknya ucapanku terbukti benar kan."

"Hah?" Aku langsung bangun dari posisiku dan duduk menghadap gadis itu sambil menaikkan salah satu alisku.

""Beban yang besar." Jangan pikir kau sudah melupakan ucapanku sebulan yang lalu." Gadis itu dalam sekejap langsung berada di hadapanku. "Kilasan yang kau lihat sekarang hanyalah awal dari perjalananmu. Jalan yang kau lewati sekarang akan terus dilumuri darah."

Untuk sesaat aku menelan ludahku. "Kau pasti hanya membual."

Tangan gadis itu kini menyentuh dadaku. Aku ingin bergerak menjauh, tapi tubuhku terasa membeku.

"Jika kau tidak percaya, tidak apa-apa. Tapi—" 

"Ugh— huh—" Tangan gadis itu menembus dadaku. Darah segar mengucur sangat deras. "Apa, yang kau—"

"Mulai sekarang bangunlah, dan kau akan tahu maksud dari ucapanku itu. Itupun kalau kau berhasil hidup."

Gadis itu menarik kembali lengannya. Meninggalkan bekas lubang besar di dadaku. Aku jatuh lemas di atas rerumputan disana.

Kesadaranku mulai kabur. Rasanya tidak lucu jika aku mati di dalam mimpi sendiri.

"Azura… Azura! Bangun, Azura!"

"Hah?! Haaah… haaah… aku, masih hidup."

Aku berhasil bangun, dan di sebelahku sudah ada Riri yang sejak tadi berteriak memanggil namaku.

"Kenapa Ri— eh…" 

Belum selesai aku bertanya, tanganku ditarik olehnya.

"Tidak ada waktu, kita harus bergegas."

"Bergegas kemana?"

"Ada orang-orang jahat yang akan menyerang desa."

Jadi ini ucapanmu tadi soal jalanku akan dipenuhi darah, ya.

- 60 Menit sebelumnya. 10 Km, Tenggara desa. - 

>POV 3: 

Di dalam hutan yang gelap. Ada beberapa orang berpenampilan aneh mulai menunjukkan dirinya. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan sebuah tudung, membuat wajah mereka tak terlihat.

"Sebentar lagi kita akan sampai ke lokasi target."

"Kau yakin di depan sana lokasinya?"

"Tentu, aku punya sumber terpercaya."

"Apa aku boleh tidur dulu? Haaah~ lagipula kita baru terbangun dari tidur lebih dari seribu tahun." 

"Tidak. Kita perlu kekuatan kita semua, yang akan kita hadapi adalah orang yang sudah mencapai tahap Dewa." 

Sinar rembulan mulai bersinar, wilayah-wilayah gelap di hutan perlahan mulai terlihat. 

Perlahan, wujud seram para monster serta puluhan orang bertudung aneh mulai menampakkan dirinya.

"Mari kita mulai perburuannya."

- Panti Asuhan. Ruangan Bu Vega - 

Di ruangan itu, Bu Vega sedang duduk di kursinya, sementara Kak Nein menyajikan teh. 

Raut wajah Bu Vega nampak kebingungan. Ia seperti berpikir keras akan suatu hal.

"Ini tehnya, Nyonya."

"Terimakasih, Nein."

"Apa Nyonya masih memikirkan kejadian hari ini?"

"Benar. Aku merasa, sesuatu yang besar akan datang sebentar lagi." Bu Vega mengambil cangkir tehnya, ia mulai mendekatkannya ke mulut. Tapi, belum setetes cairan teh itu masuk ke mulutnya, ia berhenti. Telinganya bergerak-gerak seperti menangkap sebuah suara.

"Nyonya…"

"Benar-benar datang ya." Ia langsung meletakkan cangkir tehnya dan berdiri dari kursinya. "Bangunkan semua warga desa dan perintahkan mereka untuk berlindung! Aku akan membangunkan anak-anak."

"Baik."

Kak Nein langsung berlari pergi meninggalkan ruangan. Sementara Bu Vega pergi ke sudut ruangannya, ia menghampiri sebuah lemari besar. Ia membukanya, sekumpulan baju miliknya tertata rapi.

Ia mengambil sebuah jubah putih dengan sebuah gambar naga di belakangnya dan mulai mengenakannya.

"Bersiaplah kalian." 

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!