Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Undangan yang Beracun
Dua minggu berlalu tanpa ancaman baru.
Nomor asing yang mengirim foto gerbang tidak aktif lagi. Rekaman CCTV dan catatan pos keamanan sudah disimpan, tetapi belum cukup untuk memastikan Bobby sebagai pengirim. Sebastian tidak melarang Lia keluar. Ia hanya meminta Lia memberi tahu tujuan, memilih kendaraan yang jelas, dan membawa tombol darurat kecil yang terhubung ke pos keamanan.
Kompromi itu membuat Lia merasa didengar.
Pada Minggu sore, keluarga Wijaya mengadakan makan malam untuk menyambut kerabat yang datang dari Surabaya. Rumah dipenuhi bunga segar, piring porselen, dan suara para pekerja menata meja panjang.
Lia baru selesai memandikan Bryan ketika Vanessa datang membawa sebuah gaun ungu tua.
“Pakai ini malam nanti.”
Lia menatapnya bingung. “Saya biasanya memakai seragam.”
“Tamu keluarga banyak. Seragam kamu terlalu sederhana kalau harus menggendong Bryan di depan mereka.” Vanessa tersenyum. “Ini gaun lama saya. Daripada dibuang.”
Gaun itu jelas model lama, dengan bagian pinggang sempit dan rok lebar. Vanessa mungkin berharap pakaian tersebut membuat tubuh Lia yang berisi tampak berat dan ketinggalan zaman.
“Kalau tidak pas, saya bisa tetap pakai seragam,” kata Lia.
“Harus pas. Kita hampir sama ukurannya.”
Itu bohong. Tubuh Vanessa lebih ramping, sedangkan Lia memiliki pinggul dan dada yang lebih penuh. Namun, menolak di depan para pekerja akan memberi Vanessa alasan menyebutnya tidak tahu diri.
Lia membawa gaun itu ke kamar.
Ia melepaskan hiasan bunga besar di bahu, membuka jahitan pinggang satu ruas, lalu mengganti sabuk usang dengan pita hitam sederhana. Rambutnya disanggul rendah agar tidak mengganggu saat menggendong Bryan. Ia hanya memakai bedak tipis dan lipstik warna mawar yang pernah diberikan Fenny.
Ketika Lia keluar, dua pekerja di lorong berhenti bicara.
Gaun tua itu tidak membuatnya buruk. Kain ungu justru menonjolkan kulit hangat dan lekuk tubuhnya dengan anggun. Rok lebar bergerak lembut setiap kali ia melangkah, sementara pita hitam memberi kesan sederhana, bukan murahan.
Vanessa yang menunggu di bawah tangga kehilangan senyum selama satu detik.
“Kamu ubah gaunnya?”
“Hanya jahitan sementara. Nanti saya kembalikan seperti semula.”
“Kamu terlihat terlalu mencolok untuk pekerja.”
“Mbak Vanessa yang meminta saya memakainya.”
Popo Mei Hoa tertawa dari kursinya. “Bagus. Baju tua jadi hidup lagi kalau dipakai Aho.”
Cornelia memperhatikan, lalu hanya berkata, “Jangan sampai Bryan menarik pitanya.”
Tamu mulai datang. Lia menjaga Bryan di dekat Popo agar bayi itu tidak rewel di tengah keramaian. Ia sengaja makan sedikit sebelum acara, cukup agar tidak lemas tetapi tidak sampai aroma manisnya menguat.
Sebastian seharusnya sudah pulang sebelum makan malam, tetapi proyek Nara mengalami perubahan gambar mendadak. Pesan singkatnya masuk saat Lia sedang memeriksa botol susu Bryan.
Saya terlambat. Jangan tunggu untuk makan.
Lia menatap layar sedikit lebih lama daripada seharusnya.
Ia membalas bahwa semua sudah siap dan dirinya akan makan. Sebastian langsung meminta foto piring, membuat Lia mengeluh dalam hati meski akhirnya menurut. Ia mengambil nasi, ayam panggang, dan sayur secukupnya, lalu memotret sebelum mulai makan.
Vanessa kebetulan lewat dan melihatnya.
“Sekarang harus lapor makan juga?” tanyanya.
“Ko Sebas hanya mengingatkan karena tangan saya baru sembuh.”
“Perhatian sekali.”
Nada Vanessa membuat Lia mengunci ponsel. Ia tidak menjawab. Namun, selama makan malam, kursi kosong Sebastian terasa mencolok. Lia beberapa kali melihat ke arah pintu tanpa sadar.
Rudy menangkap gerakan itu, tetapi tidak bertanya. Ia justru membantu Engkong mengambil mangkuk sup yang terlalu jauh dan mendengarkan cerita panjang soal pelabuhan lama. Kesopanannya tampak alami, bukan pertunjukan untuk menarik perhatian Lia.
Seorang pria bernama Rudy datang bersama orang tuanya. Ia bekerja sebagai insinyur sipil di Surabaya dan sedang menangani proyek jalan di Tangerang. Berbeda dari tamu lain yang hanya mengangguk kepada pekerja rumah, Rudy berjongkok lebih dulu untuk menyapa Bryan.
Bryan menatap kacamata pria itu, lalu mencoba meraih bingkainya.
Rudy tertawa. “Kuat juga tangannya.”
“Kalau sudah tertarik sesuatu, susah dilepas,” kata Lia.
“Anak Mbak?”
“Bukan. Keponakan keluarga.”
“Maaf, saya kira karena dia tenang sekali sama Mbak.”
Lia tersenyum. “Saya sering merawatnya.”
Percakapan itu singkat, tetapi Vanessa memperhatikannya dari seberang meja. Beberapa menit kemudian, ia sengaja memindahkan kartu tempat duduk agar Rudy berada dekat kursi Popo, tempat Lia bolak-balik melayani.
“Rudy belum menikah,” kata Vanessa kepada Cornelia cukup keras. “Kerjanya bagus, orangnya juga sabar.”
Rudy tampak malu. “Mbak Vanessa, jangan promosi seperti jual rumah.”
Para tamu tertawa.
Lia ikut tersenyum sopan, lalu kembali menuang teh. Ia tidak menyadari bahwa pembicaraan itu diarahkan kepadanya sampai Rudy bertanya, “Mbak Lia asalnya dari mana?”
“Singkawang.”
“Saya pernah kerja survei di Kalimantan Barat. Makanannya enak sekali.”
“Popo saya mengajari banyak masakan dari sana.”
“Pantas lapis legit malam ini berbeda.”
“Itu buatan dapur bersama, bukan saya sendiri.”
Rudy tidak menggoda secara kasar. Ia mendengarkan jawaban Lia dan tidak pernah menatap tubuhnya terlalu lama. Sikap itu membuat Lia bisa berbicara tanpa takut.
Cornelia memperhatikan dari sisi meja. Seorang insinyur dengan pekerjaan jelas, keluarga baik, dan cara bicara santun tentu lebih masuk akal bagi Lia daripada anak sulung keluarga Wijaya. Pikiran itu tidak ia ucapkan, tetapi Vanessa bisa membacanya dari tatapan sang tante.
Vanessa mendekat sambil membawa sepiring buah. “Rudy sedang sering ke Jakarta, Lia. Kalau dia butuh teman mengenal tempat makan, kamu pasti lebih tahu warung rumahan.”
“Saya jarang jalan-jalan, Mbak Vanessa.”
“Bisa mulai sekarang.”
Lia memilih diam. Ia akhirnya memahami gaun itu bukan sekadar upaya mempermalukan. Vanessa juga sedang mencoba mendorongnya ke arah lelaki lain, menjauhkan pusat perhatian Sebastian tanpa perlu mengusirnya dari rumah.
Setelah makan malam, para tamu pindah ke taman belakang untuk minum teh. Bryan mulai mengantuk dan menempelkan wajah ke leher Lia. Rudy membantu membukakan pintu kaca ketika kedua tangan Lia penuh.
“Terima kasih, Pak Rudy.”
“Panggil Rudy saja. Umur kita mungkin tidak jauh.”
“Tetap tidak sopan.”
“Kalau begitu saya juga harus panggil Mbak Lia.”
Ia tersenyum, lalu mengeluarkan ponsel. “Saya sedang mencari katering rumahan untuk tim proyek. Kalau masakan tadi buatan Mbak juga, boleh saya simpan kontak? Siapa tahu bisa pesan.”
Alasannya wajar, tetapi ketertarikan di matanya tetap terlihat.
Lia ragu. Ia bukan pemilik katering dan tidak ingin memberi harapan salah.
“Saya bisa berikan nomor dapur rumah,” katanya.
Vanessa tiba-tiba muncul. “Berikan nomor Lia saja. Dia lebih tahu menunya.”
Lia menoleh tajam, tetapi Vanessa sudah tersenyum seolah sedang membantu.
Rudy tidak memaksa. “Kalau Mbak Lia tidak nyaman, tidak apa-apa.”
Sebelum Lia menjawab, suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.
Seorang pekerja membuka pintu dan berkata, “Pak Sebastian pulang.”
Langkah sepatu mendekat dari lorong.
Sebastian muncul di ambang taman masih mengenakan setelan kerja. Tatapannya menyapu kerumunan, lalu berhenti pada Lia dalam gaun ungu, Bryan dalam pelukannya, dan ponsel Rudy yang terbuka pada halaman kontak.
Wajahnya sama sekali tidak berubah.
Hanya tangan yang memegang kunci mobil mengencang perlahan.