Slow update..
Athifah Farihan cantik dan periang, dua kata yang pertama kali orang lihat dari gadis tersebut, terlahir dari keluarga sederhana, membuatnya harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga demi kedua orang tuanya
Muhamad Ahnaf Baqir tampan dan shalih, berasal dari keluarga yang cukup berada tak membuatnya sombong, di tambah dirinya sebagai lulusan salah satu pesantren membuatnya tidak pernah membedakan orang dari derajatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad
Matahari mulai menampakan sinarnya, angin bertiup lembut membuat rumput rumput kecil bergoyang, bunga bunga bermekaran cantik di halaman, burung bernyanyi bersahutan
Hari ini alam seakan ikut berbahagia menyambut hari bahagia sepasang insan manusia yang sebentar lagi akan mengikat janji sehidup semati di hadapan sang khaliq
Athifah sudah sibuk sejak pagi di depan meja rias di bantu oleh MUA meski pun cuma sekedar akad tapi ini hanya sekali seumur hidup jadi Ahnaf ingin membuat kesan terbaik hari ini untuknya dan calon istrinya. Maka dari itu ia tidak tanggung tanggung langsung mendatangkan MUA untuk merias Thifah
Sedangkan ia sendiri masih berada di kamarnya berjalan mondar mandir kesana kemari sambil memeperhatikan beberapa orang yang sedang merias kamarnya menjadi kamar pengantin
Hari ini dia sangat gugup lebih dari ketika dia sedang melakukan meeting besar di kantor dengan client baru yang cerewet, Ahnaf menghembuskan napas pelan ketika mas Zaki sudah memnggilnya karena sebentar lagi acara ijab qhabul akan segera di mulai
Ahnaf duduk di berhadapan dengan bapaknya Athifah disampingnya sudah ada pak penghulu. Setelah penghulu membacakan syarat dan ketentuan nikah dan beberapa surat yang harus di tanda tangani mempelai dan juga saksi sudah siap. Kini Ahnaf sudah menjabat tangan bapak yang akan menjadi wali nikah Athifah anak perempuan satu satunya. Sebelum ijab qhabul di mulai Ahnaf melantunkan surat Ar-Rahman sebagai mahar sesuai permintaan Thifah
Dengan satu tarikan nafas Ahnaf berhasil mengucapkan kalimat sakral tersebut, dengan mengucap hamdalah dan kata sah terucap dari para saksi akhirnya Ahnaf dan Athifah telah sah sebagai suami istri
Athifah yang masih berada di dalam kamarnya di temani ibu dan mbak Anisa menangis terharu sambil memeluk ibunya erat, perlahan dia melepaskan pelukannya kemudian Athifah keluar di gandeng ibu dan mbak Anisa
Di depan pintu sudah berdiri Ahnaf menunggu gadisnya yang sudah resmi menjadi istrinya itu, ketika sudah berhadapan mata mereka bertemu segera Thifah menunduk memutus pandangannya. Ahnaf menyunggingkan senyumnya melihat tingkah lucu istrinya itu. Ahnaf mengulurkan tangannya tapi Thifah masih diam tidak berniat menyambut
"Dek, kita sudah halal.. " Ahnaf mengingatkan istrinya
"Astagfirullah maaf.. " Thifah merasa menyesal mengabaikan laki laki yang sudah sah menjadi suaminya itu
Perlahan dia menyambut uluran tangan Ahnaf tapi saat sudah hampir berjabat dia menarik kembali tangannya, seperti masih enggan bersentuhan dengan laki laki, semua orang tertawa melihat tingkah pengantin baru tersebut
"Dek, mas sudah halal untukmu begitupun sebaliknya, jadi.. "
"Maaf.. " sesal Thifah kembali. Kini dia menguatkan hatinya setelah mengucapkan bissmilah dia meraih tangan Ahnaf yang masih terulur menunggu
Ahnaf tersenyum lebar, dengan hati hati dia menuntun istrinya untuk duduk di depan penghulu, setelah duduk ibu menuruh Thifah mencium tangan suaminya. Ahnaf mengangkat tangan kirinya di letakan di atas pucuk kepala Thifah kemudian dia membacakan doa setelah selesai dia meraih kedua pipi Thifah mendekatkan padanya kemudian mengecup kening Thifah lembut
Selesai menandatangani semua. Kini Athifah dan Ahnaf sungkem pada kedua orang tuanya, Athifah menangis anatara haru juga sedih harus berpisah dengan orang tuanya, begitupun orang tua Thifah, mereka tidak menyangka jika anaknya akan menikah dalam usia yang masih sangat muda
Bapak mengucapkan kata petuah untuk anak menantunya serta menitipkan Thifah dan menjaganya serta membimbingnya apalagi Thifah masih sangat muda dan labil
Ahnaf berjanji akan menjaga dan mencintai Thifah sepenuh hatinya, karena baginya menjaga Thifah bukan lagi sebuah keharusan tapi kewajiban