NovelToon NovelToon
Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Setelah Menjadi Istri Pertama Yang Jahat, Aku Bertahan Hidup Lewat Mulut Tajam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Permen

Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.

Tapi takdir berkata lain.

Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.

Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Dua

"Aku datang hari ini untuk menanyakan sesuatu."

"Apa?"

Pei Yanzhi menatapnya lurus.

"Sebenarnya... siapa dirimu?"

Udara di ruangan itu seolah membeku.

Lin Xiao memandanginya tanpa segera menjawab.

Ia tidak menyangka Pei Yanzhi akan bertanya sejelas ini.

Ketika Nyonya Tua mengajukan pertanyaan serupa, wanita tua itu masih memutar lebih dulu, mengajaknya minum teh sebelum mulai menyelidiki.

Tetapi Pei Yanzhi berbeda.

Begitu duduk, ia langsung bertanya.

"Apa maksud Marquis?"

"Maksud harfiahnya." jawab Pei Yanzhi. "Kau bukan Shen Qingyue yang dulu."

"Shen Qingyue yang dulu tidak akan berani mengangkat kepala di hadapan Nyonya Tua. Tidak akan tersenyum sambil memberikan jeruk kepada Ruolan. Dan tidak akan bertanya kepadaku, 'Apakah Anda percaya kepadaku?'"

Ia berhenti sejenak.

"Memang, selama tiga tahun ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu."

"Tetapi setidaknya aku tahu satu hal."

"Seseorang tidak mungkin berubah total hanya dalam semalam."

Tatapannya semakin tajam.

"Kecuali..."

"Dia memang bukan orang yang sama."

Lin Xiao mengangkat cangkir teh dan menyesapnya perlahan, memanfaatkan gerakan itu untuk memberinya beberapa detik berpikir.

Pei Yanzhi bukan Nyonya Tua.

Nyonya Tua sudah memilih menerima dirinya.

Namun Pei Yanzhi berbeda.

Dunianya hitam dan putih.

Ia membutuhkan jawaban yang jelas.

"Kalau begitu..." Lin Xiao bertanya balik, "menurut Marquis, siapa aku?"

"Aku tidak tahu."

"Karena itulah aku bertanya."

Lin Xiao meletakkan cangkirnya.

"Aku adalah Shen Qingyue."

"Lalu sekaligus bukan Shen Qingyue."

Kening Pei Yanzhi berkerut.

"Tubuh ini memang milik Shen Qingyue."

"Tetapi orang di dalamnya sudah berganti."

"Shen Qingyue yang hidup di Kediaman Marquis selama tiga tahun itu sudah tidak sanggup bertahan."

"Karena itulah... aku datang."

Nada bicaranya tenang, seolah sedang membicarakan orang lain.

Namun wajah Pei Yanzhi berubah beberapa kali selama mendengarnya.

"Berganti?" ulangnya perlahan.

"Bagaimana bisa?"

"Aku tidak tahu."

"Saat aku sadar, aku sudah berada di sini."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Pei Yanzhi memandanginya lama.

Tatapan itu bukan lagi tatapan curiga ataupun menyelidik.

Rasanya seperti ia sedang mengukur setiap kata yang diucapkannya, sedikit demi sedikit, menimbang mana yang benar dan mana yang tidak.

"Lalu... Shen Qingyue yang dulu?"

"Aku tidak tahu."

"Waktu aku datang... dia sudah tidak ada."

Pei Yanzhi menundukkan kepala.

Jemarinya yang bertumpu di atas meja tampak memutih karena mengepal terlalu kuat.

Melihat ekspresinya, Lin Xiao tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dalam nada suara Pei Yanzhi, ada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Rasa bersalah.

Selama ini ia mengira dirinya hanya mengabaikan Shen Qingyue karena tidak menyukainya.

Tetapi jika kenyataannya bukan sekadar "tidak disukai", melainkan "sudah tidak sanggup bertahan lagi", maka makna dari semua itu berubah sama sekali.

"Marquis," katanya pelan, "apakah Anda menyesal?"

Pei Yanzhi mengangkat kepala.

"Aku tidak membutuhkan penyesalan Anda."

"Masa lalu itu tidak ada hubungannya denganku."

"Aku hanya mengambil alih masa kini dan masa depannya."

Pei Yanzhi tidak menjawab.

Ia duduk diam, sementara sinar matahari yang masuk dari jendela menciptakan bayangan tipis di bulu matanya.

Setelah lama terdiam, akhirnya ia berkata,

"Kalau kau bukan dia... lalu kenapa kau tetap tinggal di sini menggantikannya?"

"Karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi."

Lin Xiao berhenti sejenak.

"Dan lagi..."

"Dia meninggalkan kekacauan selama tiga tahun."

"Aku ingin membereskannya untuknya."

Tatapan Pei Yanzhi kembali berubah.

Kebingungan, kecurigaan, dan rasa bersalah perlahan memudar.

Sebagai gantinya, muncul sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seperti benih kepercayaan yang baru mulai tumbuh.

Rapuh.

Namun nyata.

Ia berdiri lalu berjalan menuju pintu.

Beberapa saat ia hanya berdiri membelakanginya.

"Apa yang kau katakan hari ini..."

"Aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun."

"Aku tahu."

Pei Yanzhi tetap tidak menoleh.

"Tetapi mulai sekarang..."

Ia berhenti sejenak.

"Kau tidak perlu lagi berpura-pura menjadi dirinya."

"Jadilah dirimu sendiri."

Setelah mengucapkan itu, ia mengangkat tirai dan pergi.

Lin Xiao duduk di depan meja, menatap tirai yang masih bergoyang tertiup angin.

Baru beberapa saat kemudian ia mengembuskan napas panjang.

Barusan...

Ia baru saja mempertaruhkan segalanya.

Ia bertaruh bahwa Pei Yanzhi tidak akan menganggapnya sebagai roh jahat.

Ia bertaruh bahwa pria itu menginginkan jawaban, bukan kelemahan yang bisa dipakai untuk menjatuhkannya.

Dan sekarang...

Tampaknya ia menang.

Pei Yanzhi adalah orang yang cerdas.

Orang cerdas tidak akan membongkar sebuah rahasia aneh yang tidak membahayakan dirinya.

Ia memilih menerima Lin Xiao karena dirinya jauh lebih berguna daripada Shen Qingyue yang dulu.

Jauh lebih berguna.

Namun Lin Xiao juga memahami satu hal.

Penerimaan Pei Yanzhi memiliki syarat.

Hari ini pria itu berkata,

"Jadilah dirimu sendiri."

Tetapi jika suatu hari "dirinya yang sebenarnya" mengancam kepentingan Kediaman Marquis...

Pei Yanzhi pasti akan berbalik tanpa ragu.

Begitulah hakikat kekuasaan.

Lin Xiao bangkit dan berjalan menuju jendela.

Bunga-bunga begonia di halaman telah mekar lebih banyak daripada kemarin.

Kelopak merah muda pucat itu bergoyang lembut tertiup angin.

Ia mendengar Qingxing sedang mengobrol dengan Xiao He di halaman.

Suara mereka ringan.

Sesekali terdengar tawa.

Halaman Timur sudah jauh berbeda dibanding sebulan yang lalu.

Tempat itu...

Mulai dipenuhi suara kehidupan.

Lin Xiao bersandar di dekat jendela, memandangi bunga-bunga itu.

Tiba-tiba ia merasa...

Musim semi kali ini benar-benar telah tiba.

*

Keesokan paginya, Lin Xiao pergi ke halaman utama untuk memberi salam.

Ia datang setengah jam lebih awal dari biasanya. Orang-orang di ruang utama belum berkumpul sepenuhnya. Hanya Nyonya Tua yang duduk di kursi kehormatan sambil minum teh, ditemani Mama Zhang di sisinya. Saat melihat Lin Xiao masuk, kelopak mata Nyonya Tua sedikit terangkat dan tatapannya berhenti sejenak pada dirinya.

"Hari ini kau datang lebih awal."

"Menantu berpikir lebih baik datang lebih cepat agar Nyonya Tua tidak perlu menunggu." Lin Xiao membungkuk memberi hormat, lalu duduk di kursi di samping.

Nyonya Tua tidak menjawab. Ia mengangkat cangkir tehnya dan menyesap lagi.

Lin Xiao memperhatikan bahwa di sisi meja ada sepucuk surat. Ia tidak mengenali tulisan di amplop itu, tetapi warna dan bahan amplop tersebut jelas tidak tampak seperti surat keluarga biasa.

Ia tidak memandang lebih lama dan kembali duduk dengan tenang.

Tak lama kemudian, para nyonya dan menantu dari cabang keluarga lain mulai berdatangan satu per satu. Saat Nyonya Kedua masuk, tatapannya menyapu Lin Xiao sekilas, sementara senyumnya tampak lebih hambar daripada kemarin. Ketika duduk, ia membisikkan sesuatu kepada menantu keluarga ketiga. Suaranya terlalu pelan untuk didengar Lin Xiao, tetapi tatapan yang dilemparkan menantu itu jelas penuh penilaian.

Selir Zhou masih belum datang hari ini.

Masa hukumannya belum berakhir, sehingga ia tidak bisa meninggalkan kediamannya. Ketiadaan sosoknya yang lembut dan rapuh justru membuat suasana ruangan menjadi lebih ganjil. Semua orang tahu alasan ia tidak hadir, tetapi tak seorang pun membicarakannya.

Setelah prosesi memberi salam selesai, Nyonya Tua meletakkan cangkir tehnya dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Tiba-tiba, ia mengucapkan sesuatu yang tak diduga siapa pun.

"Qingyue, kau tetap di sini."

Ruangan itu seketika sunyi.

Beberapa nyonya dan menantu yang sudah bersiap bangkit kembali duduk. Semua mata tertuju pada Lin Xiao.

Lin Xiao berdiri.

"Apakah Nyonya Tua memiliki perintah?"

"Bukan urusan besar." Nyonya Tua berkata datar. "Kemarin Marquis mengatakan sesuatu kepadaku. Aku ingin mendengar pendapatmu."

Punggung Lin Xiao sedikit menegang.

Apa yang telah Pei Yanzhi katakan kepada Nyonya Tua?

Namun, ia tidak memperlihatkannya dan hanya menjawab dengan tenang,

"Silakan bicara, Nyonya Tua."

Nyonya Tua meliriknya, lalu memandang para nyonya dan menantu yang hadir. Dengan nada santai, ia berkata,

"Marquis mengatakan bahwa jatah untuk halaman timur sudah seharusnya ditambah. Katanya, selama tiga tahun ini kau bahkan belum pernah memiliki pakaian yang layak, dan saat keluar pun tidak memiliki kereta yang pantas. Jika kabar itu tersebar, orang akan menertawakan keluarga Marquis karena memperlakukan istri sah dengan buruk."

Udara di dalam ruangan seolah membeku.

Ekspresi semua orang berubah dalam sekejap. Tangan Nyonya Kedua yang sedang mengangkat cangkir teh terhenti di udara. Menantu keluarga ketiga yang tadinya menunduk perlahan mengangkat kepala. Bahkan Mama Zhang yang berdiri di sudut ruangan pun berkedip sekali.

Marquis sendiri yang meminta agar jatah ditambah.

Fakta itu saja sudah seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang.

Dulu, Marquis sama sekali tidak peduli pada urusan halaman timur, apalagi memperhatikan apakah jatah Shen Qingyue cukup atau tidak. Namun sekarang, ia bukan hanya peduli, bahkan secara khusus membicarakannya dengan Nyonya Tua.

Semua orang mengerti arti perubahan itu.

Lin Xiao berdiri diam beberapa saat.

Lalu ia berkata,

"Menantu berterima kasih atas kebaikan Nyonya Tua dan Marquis. Namun, soal jatah, menurut menantu belum mendesak."

Alis Nyonya Tua sedikit bergerak.

"Belum mendesak?"

"Benar." Lin Xiao mengangguk. "Memang, selama tiga tahun ini barang-barang yang menantu gunakan jauh lebih sedikit, tetapi bukan berarti menantu tidak bisa hidup. Uang keluarga seharusnya digunakan untuk hal-hal yang lebih penting, seperti obat penenang kandungan di halaman barat atau gaji para pelayan. Menantu hidup sendirian dan tidak membutuhkan sebanyak itu."

Keheningan di ruangan semakin dalam.

Nyonya Kedua meletakkan cangkir tehnya. Senyum di wajahnya hampir tak mampu dipertahankan.

Nyonya Tua menatap Lin Xiao. Tatapan itu tampak lebih dalam daripada sebelumnya, seolah dasar sebuah kolam akhirnya terlihat setelah airnya diaduk.

"Jadi, kau tidak ingin jatahnya ditambah?"

1
Trie Broto
critanya penuh teka-teki...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!