Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAWAT EROS YANG SAKIT
Dengan penuh kesabaran, Zenaya menyuapkan sesendok demi sesendok bubur hangat buatannya ke mulut Eros.
Setiap gerakannya begitu lembut dan penuh perhatian, seolah ia sedang merawat seorang anak kecil yang tengah jatuh sakit.
Sesekali ia meniup bubur itu terlebih dahulu agar suhunya tidak terlalu panas sebelum menyodorkannya ke bibir sang suami.
Eros hanya menurut tanpa banyak bicara. Tatapannya sesekali tertuju pada wajah cantik istrinya yang tampak begitu telaten merawatnya. Entah mengapa, perhatian kecil itu mampu menghadirkan kehangatan yang sulit ia jelaskan.
Namun, keheningan hangat di antara mereka tiba-tiba terusik oleh suara ketukan di pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat.
Tok... tok... tok...
Keduanya serempak menoleh ke arah pintu.
"Maaf, Tuan, Nyonya," ujar kepala pelayan dengan
sopan sembari sedikit menundukkan kepalanya.
"Tuan Desmon sedang menunggu di luar."
Eros mengalihkan pandangannya ke arah kepala pelayan.
"Panggilkan Desmon kemari."
"Baik, Tuan."
Kepala pelayan itu segera berlalu untuk menyampaikan perintah tersebut.
Tak lama kemudian, Desmon datang. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk setelah mendapat izin.
Begitu melihat kondisi Eros yang masih tampak pucat, wajahnya langsung berubah penuh kekhawatiran.
"Tuan sakit?" tanyanya. "Mengapa tidak memberi tahu saya? Saya bisa segera memanggil Dokter ke mansion."
Zenaya yang mendengar usul itu langsung mengangguk setuju.
"Kalau begitu, segera panggil Dokter."
Eros menggeleng pelan.
"Tidak perlu. Aku sudah jauh lebih baik."
Zenaya menoleh kepadanya dengan tatapan khawatir.
"Tapi kau tetap harus diperiksa."
Eros mengembuskan napas pelan, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang mencoba menenangkan.
"Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan dan kurang istirahat. Setelah tidur, kondisiku pasti akan membaik."
Zenaya menatap wajah tampan suaminya beberapa saat, seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar tidak memaksakan diri.
Pada akhirnya ia mengalah.
"Baiklah," ucapnya lirih. "Tapi kau harus segera memberitahuku kalau merasa tidak enak badan lagi."
Eros menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Pemandangan sederhana itu tak luput dari perhatian Desmon.
Senyum tipis tanpa sadar terukir di sudut bibirnya.
Tatapan Zenaya kepada Eros dipenuhi rasa cemas, kasih sayang, dan perhatian yang begitu tulus.
Siapa pun yang melihatnya pasti dapat merasakan betapa besar perasaan wanita itu terhadap suaminya.
Dalam hati, Desmon semakin yakin bahwa Zenaya telah benar-benar jatuh cinta kepada Eros.
Sayangnya, ia juga tahu bahwa hati sang tuan masih dipenuhi oleh bayang-bayang Lura. Padahal, menurutnya, tidak ada sedikit pun yang dapat dibandingkan dengan ketulusan yang Zenaya berikan setiap hari.
Desmon menghela napas pelan, memilih menyimpan semua pemikirannya sendiri.
"Baiklah, Tuan," ucapnya kemudian.
"Kalau begitu saya akan kembali ke kantor. Tuan beristirahatlah sampai benar-benar pulih. Urusan perusahaan akan saya tangani untuk sementara. Namun, jika ada hal penting yang membutuhkan keputusan Tuan, saya akan datang kemari."
Eros mengangguk tanpa ragu.
"Baiklah, Desmon. Aku serahkan semuanya kepadamu."
Kepercayaan yang diberikan Eros bukanlah tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, Desmon telah membuktikan kesetiaan dan kemampuannya dalam mengurus hampir seluruh urusan perusahaan.
"Saya pamit, Tuan... Nyonya."
Desmon membungkukkan badan dengan hormat sebelum berbalik meninggalkan kamar.
Pintu kembali tertutup perlahan.
Keheningan pun menyelimuti ruangan sekali lagi, menyisakan Eros dan Zenaya berdua dalam suasana hangat yang dipenuhi perhatian dan rasa peduli yang perlahan mulai mengikat hati mereka.
"Apakah hari ini kau ada jadwal bekerja?" tanyanya, memecahkan suasana sunyi di antara mereka.
Zenaya yang sedang duduk di dekatnya menoleh.
"Sebenarnya ada pertemuan dengan tuan Lucian soal kontrak film itu, tetapi aku membatalkannya," jelasnya dengan nada santai.
Eros sedikit mengernyitkan alisnya. "Kenapa kau membatalkannya?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang tidak ingin pergi ke mana-mana," jawab Zenaya singkat.
Namun, ada alasan lain yang tidak ia katakan. Sebenarnya, Zenaya hanya ingin menemani Eros di mansion.
Kesempatan seperti ini jarang terjadi, mengingat pria itu hampir selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kapan lagi ia bisa menghabiskan waktu seharian bersama Eros tanpa gangguan?
Karena itulah, ia memilih untuk tetap tinggal.
Beberapa saat kemudian, Zenaya menundukkan wajahnya.
Ada rasa bersalah yang masih ia simpan sejak malam sebelumnya.
"Maaf karena kemarin aku pulang terlalu larut. Aku tidak menyangka acara agency model akan berlangsung selama itu," ucapnya pelan.
Eros menatap wanita di hadapannya.
Melihat sikap Zenaya yang terlihat menyesal, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Tidak apa-apa," jawabnya lembut. "Aku tidak akan membatasi dirimu."
Kalimat sederhana itu membuat Zenaya terdiam sejenak.
Eros memang selalu memberinya kebebasan. Ia tidak pernah memaksakan kehendak, tidak pernah menuntut terlalu banyak, dan tidak pernah mencoba mengatur kehidupannya.