NovelToon NovelToon
Perbedaan 18 Tahun

Perbedaan 18 Tahun

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Poligami / Patahhati / Contest / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Melaheyko

Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam

Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Bertemu suci

Laila sudah bersiap untuk pergi, di luar rumah Zaenab menangis, merengek di hadapan Yusuf yang malah tertawa-tawa melihat Zaenab yang ingin bermain dengan Laila tapi Yusuf malah menggodanya dengan mengatakan bahwa Laila akan dia bawa pergi.

” Aa cuma bercanda neng, jangan nangis" kata Yusuf lalu menggendong anak perempuan berumur lima tahun itu yang terus menangis.

” Sama umi ya nak" ajak Salamah yang baru datang.

” Tidak mau, mau ikut" Zaenab terus merengek dan Yusuf menggendongnya, membawanya jalan-jalan dan menunjuk setiap tanaman dan pohon yang dilewati supaya Zaenab teralihkan perhatiannya. Dan berhenti menangis, Laila keluar dan berpapasan dengan Laila.

” Assalamualaikum umi”

” Waalaikumsalam teh, Zaenab kenapa nangis?” Laila melirik suaminya yang sedang menggendong Zaenab, Laila memperhatikan suaminya yang sudah pantas menggendong seorang anak. Terlebih Yusuf yang memang menyukai anak kecil, di umur 34 tahun dia belum merasakan nikmatnya menggendong anaknya sendiri. Pria itu begitu tampan memakai jubah berwarna hitam. Pecinya terselip di saku karena Zaenab sempat akan melemparkan peci Yusuf karena kesal digoda. Rambut lurus panjang sangat tebal sampai tengkuk dengan belahan di bagian kiri berulang kali jatuh menutupi matanya, dan Yusuf terus mengusapnya ke belakang. Salamah dan Laila melangkah bersama untuk mendekati Yusuf dan Zaenab, Yusuf menoleh dan menatap istrinya lekat. Begitu cantiknya Laila dengan berjalan yang selalu menundukkan kepala, dengan pakaian yang tertutup sempurna. Banyak yang bilang umi Laila sangat dewasa setelah dia berulang kali berdebat dan selalu menang dalam perdebatan tersebut, apalagi ketika dirinya selalu dipertanyakan tentang hubungannya dan Maryam. Mereka tidak tahu bahwa Laila tetap Laila yang sangat manja bagi Yusuf suaminya. Laila menggendong Zaenab dan Yusuf masih memperhatikannya.

” Umi Laila aku mau ikut" pinta Zaenab dan melirik Salamah yang melotot padanya.

” Mau ikut? coba minta izin dulu sama umi Salamah” pinta Laila dan Zaenab berhenti menangis lalu melirik ibunya.

” Teh, biarkan saja kalau Zaenab mau ikut” kata Yusuf.

” Tapi a...” Salamah takut Zaenab menganggu keduanya, ini adalah kali pertama Laila dan Yusuf pergi berdua.

” Iya teh, teu nanaon. Insya Allah Laila bisa jaga Zaenab” Laila tersenyum.

(Teu nanaon/ gak apa-apa)

” Ya sudah boleh, Zaenab jangan nakal ya nak" Salamah tersenyum dan Zaenab mengangguk.

” Assalamualaikum” semuanya berpamitan.

” Waalaikumsalam” Salamah menjawab.

Yusuf naik ke atas motor matic berwarna merah itu dan Zaenab ingin duduk di hadapannya, atau berdiri di bagian depan motor tersebut. Favorit anak-anak memang duduk di sana dan Yusuf tidak bisa melarang, Laila bingung harus bagaimana apa dia harus duduk sambil terus memeluk suaminya dilingkungan pesantren? Yusuf melirik Laila dan Laila tersenyum lalu naik dan duduk dengan posisi miring. Yusuf menarik tangan Laila agar memeluknya, Laila terkejut saat membentur punggung besar suaminya itu. Laila tersenyum dan motor melaju setelah Yusuf mengucapkan bismillah.

Sepanjang perjalanan, Zaenab tidak berhenti bersholawat sampai-sampai pengendara lain melirik ketiganya. Sudah seperti keluarga bahagia, suami isteri dan satu anak perempuan yang begitu cantik dan lucu. Laila mencengkram kuat jubah suaminya dan Yusuf tersenyum. Sesampainya di kediaman orang tua Laila, orang tua Laila pak Abdul dan Bu Jamilah sudah menunggu kedatangan Laila dan menantu mereka. Bu Jamilah bahkan memasak makanan spesial untuk anak dan menantunya, Rizky yang memberi kabar setelah Yusuf meminta kepada Rizky untuk memberi tahu pak Abdul dan Bu Jamilah supaya tidak kemana-mana hari ini karena Laila ingin bertemu.

” Assalamualaikum” salam Laila dan Yusuf, dan Laila berucap dengan suara begitu lirih dan tangannya menggenggam tangan Zaenab.

” Waalaikumsalam” Bu Jamilah dan pak Abdul. Laila berpelukan dengan ibunya dan Yusuf dengan ayah mertuanya, Zaenab menyalami tangan ibu Jamilah dan pak Abdul bergantian.

” Laila ini siapa?" Bu Jamilah merasa gemas melihat Zaenab, bukan satu dua kali dia mencubit pipi Zaenab.

” Ini Zaenab, murangkalih na teh Salamah” Laila tersenyum.

( Murangkalih/anak/putra putri)

” Masya Allah, meuni geulis pisan”

(Geulis pisan/cantik banget)

Zaenab tersenyum dan semuanya masuk ke rumah, Laila membuka lemari mengambil mainan masak-masak nya dulu yang masih disimpan sebagai kenangan oleh ibunya, Zaenab merasa senang dan Yusuf memperhatikannya.

” Ustadz, bagaimana kabarnya?” pak Abdul tersenyum.

” Alhamdulillah, bapak bagaimana?"

” Alhamdulillah" pak Abdul tersenyum.

Bu Jamilah datang membawa nampan berisi minuman, yaitu teh manis untuk semua orang.

” Terima kasih Bu, punten jadi merepotkan" Yusuf tersenyum tipis.

” Jangan sungkan-sungkan ustadz" kata Bu Jamilah seraya duduk disebelah suaminya.

” Umi, mau minum” pinta Zaenab dan Laila mengambil segelas air lalu membantu Zaenab meminumnya. Bu Jamilah memperhatikan tubuh Laila yang terlihat berisi, jangan-jangan anaknya itu sedang hamil. Campur aduk perasaan Bu Jamilah dan sekilas melirik Yusuf, Yusuf menatap ke arah lain saat Bu Jamilah memergokinya sedang memperhatikan Laila. Ustadz memang pemalu.

Laila dan Zaenab sibuk bermain, begitu juga dengan Yusuf yang sesekali tersenyum mengobrol dengan mertuanya pak Abdul. Sampai saatnya, Laila berpamitan untuk pergi ke rumah suci dan membawa Zaenab, Yusuf mengizinkannya dan dia juga akan pergi ke rumah sahabatnya di kampung tersebut.

Di rumah suci, Suci sudah menunggu kedatangan Laila sedari tadi. Berulangkali dia bertanya kepada orang tuanya, kapan dan berapa lama lagi dia harus menunggu Laila. Orang tuanya sampai lelah menjawab.

” Assalamualaikum” suara Laila terdengar, Suci tersenyum dan menunggu.

” Waalaikumsalam" jawab ibunya Suci dan melirik Zaenab yang bergandengan tangan dengan Laila, keduanya sudah seperti anak dan ibunya.

” Uwa, kumaha damang?"

(Uwa, gimana sehat?"

” Alhamdulillah, kamu gimana Laila? betah gak di pesantren?"

” Alhamdulillah, betah wa"

” Nya sok mangga kalebet, Suci ngantosan dari tadi”

( Silahkan masuk, suci sudah nungguin dari tadi)

Laila masuk menggandeng tangan Zaenab, Zaenab kebingungan melihat Laila meraih tangan perempuan yang memakai hijab panjang tidak jauh beda dengan Laila.

” Assalamualaikum suci, ini aku Laila” lirih Laila seraya memeluk sahabatnya.

” Waalaikumsalam, aku senang kamu datang Laila" tangisan Suci tidak terbendung lagi, saat mendengar dan merasakan kehadiran sahabatnya. Laila meraih tangan suci dan dia tempelkan di pipinya. Suci tidak bisa melihat, karena sebuah kecelakaan suci tidak bisa melihat. Dia setia menunggu sampai ada pendonor mata untuknya. Suci menggerakan tangannya di wajah Laila yang tertutup cadar itu dan Laila mengusap air matanya berulang kali.

” Umi Laila” panggil Zaenab dan Laila menarik tangan Zaenab lembut, dia biarkan Zaenab menyalami tangan Suci.

” Laila ini siapa?" Zaenab bingung, bukannya menikah 6 bulan saja belum bagaimana bisa Laila memiliki anak perempuan yang sudah lancar bicara begitu.

” Ini putrinya teh Salamah, kamu pernah mendengar teh Salamah kan Suci?”

” Oh iya, bagaimana Laila apa kamu betah di sana?”

” Teu aya nanaon neng, mangga di leet”

( Gak ada apa-apa, silahkan di nikmati)

” Nuhun nya ua" Laila tersenyum. Dan ibunya Suci kembali pergi meninggalkan ketiganya, Zaenab kembali bermain dan Laila berbincang dengan Suci.

” Aku betah, aku banyak teman dan keluarga baru disana" Laila menjawab pertanyaan Suci tadi.

” Suami kamu teh beneran ustadz Yusuf, Laila?"

” Muhun, jangan iri." Goda Laila.

( Muhun/iya)

” Abdi teh belum pernah lihat ustadz Yusuf dari dekat, seperti apa ustadz Yusuf Laila?" Suci tersenyum.

” Kasep, ganteng lah pokonya mah" Laila menjawab dengan cepat dan Suci tertawa.

” Dasar koret kamu Laila”

(Koret/pelit)

” Ustadz Yusuf baik, gak pernah meninggikan suaranya selama kami menikah, ganteng, sabar, ustadz Yusuf sempurna di mataku" Laila tersenyum lebar, menceritakan bagaimana suaminya dengan perasan berbunga-bunga. Suci tersenyum mendengarnya.

” Alhamdulillah, semoga kamu selalu bahagia ya Laila. Kapan atuh aku mendengar kabar kehamilan kamu” goda Suci dan Laila hanya tersenyum.

” Aamiin, kamu juga semoga segera mendapatkan pendonor ya Suci" Laila tersenyum, Suci lebih muda tiga tahun darinya. Keduanya sering bermain bersama, sampai sekarang keduanya dewasa. Suci berhenti sekolah karena sebuah kecelakaan yang merenggut penglihatannya. Laila sangat sedih dan menunggu pendonor mata bukanlah hal yang mudah dan singkat.

Laila dan suci terus membicarakan tentang rencana, kisah mereka masing-masing dan ungkapan perasaan mereka yang harus tinggal berjauhan sekarang. Zaenab yang mengantuk tertidur di pangkuan Laila dan Laila terus mencium kening dan pipi anak kecil menggemaskan itu. Setelah satu jam, Laila berpamitan pulang sambil menggendong Zaenab. Yusuf ada acara majelis taklim pukul 2 siang, dan Laila juga belum mengobrol banyak dengan orang tuanya.

Laila cukup kelelahan menggendong Zaenab, sampai dia melihat Yusuf sedang duduk di atas kursi bambu di depan rumah orang tuanya.

” Assalamualaikum"

” Waalaikumsalam” jawab Yusuf seraya mendekati Laila. Untuk menggendong Zaenab.

” Ayo bawa aja ke kamar Laila bi" ajak Laila dan Yusuf mengikuti langkah istrinya, di kamar Laila. Yusuf membaringkan tubuh mungil Zaenab dan Laila duduk di tepi ranjang memperhatikan Zaenab.

” Zaenab lucu banget kalau lagi bobo" kata Laila dan Yusuf duduk di sebelahnya, seraya melepas pecinya.

” Umi pasti capek, seharusnya umi nelepon biar Abi jemput” kata Yusuf karena menuju rumah Laila menanjak, Laila pasti lelah.

” Umi gak bawa ponsel bi"

” Gak di bawa? kan Abi minta umi bawa ponsel”

” Lupa hehe”

” Umi masih gak mau menerima hadiah murah dari Abi ya?”

” Bukan begitu, Laila beneran lupa tadi. Kalau Laila terus-terusan main hp gimana? bukan maksud Laila menolak, Laila pakek kalau Laila butuh, tadi beneran lupa” Laila menjelaskan supaya suaminya tidak salah paham.

” Kalau umi main ponsel terus, nanti Abi sentil di sini” menunjuk kening Laila.

” Tuh kan” Laila cemberut.

” Harus bisa ngatur waktu, Abi beliin hp supaya gampang berkomunikasi bukan buat mainan”

” Iya" singkat Laila.

Keduanya terdiam sejenak. Bibir Laila tersenyum lebar dibalik cadarnya lalu menoleh menatap suaminya lekat. Dan Yusuf juga menoleh padanya.

” Abi, aku mau anak perempuan” pinta Laila dan Yusuf terlihat syok mendengarnya, ada-ada saja permintaan Laila.

” Ini bukan waktunya membicarakan soal anak” Yusuf tersenyum lebar dan melirik Zaenab yang menggeliat lalu memiringkan tubuhnya, meringkuk dan Laila menyelimutinya.

” Eeeemm umi" Yusuf terkejut saat Laila bergeser lebih dekat padanya.

” Abi gak mau punya anak dari Laila?” Laila sedih.

” Bukan begitu umi”

” Lalu, apa?" Laila yang kesal karena Yusuf terus mundur menjauh menarik baju suaminya sampai Yusuf tertarik dan wajahnya hampir membentur wajah Laila.” Abi gak mau kan, Abi gak sayang sama Laila” Laila semakin sedih dan Yusuf mencengkram kuat tepi ranjang karena gugup karena dia sangat dekat dengan Laila.

” Males ah” Laila melepaskan baju suaminya dan Yusuf mengusap-usap wajahnya kasar sambil menahan tawa.

Ustadz ditarik bajunya langsung saltingᕙ(͡°‿ ͡°)ᕗ

1
Dysha♡💕
luar biasa
Dysha♡💕
aduh ga di jelasin ya Thor malam pertamanya,,,
Fatma Juniansyah
sudah berapa kali baca.dan saya juga kasih tau ke teman kalau ada bacaan yang bagus.saat ini mau kasih tau ke anak gadis supaya baca mana tau bisa contoh lailanya aa Yusup.aamiin
Nur Maryam
aku jadi gimana gitu y orang2 di komen menghina Maryam soalnya nama aq juga Maryam🥲
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
Lina Herlina
baca yang ke 5 kali nya gak pernah bosan😊
Zahro Mbk Jr.
Bagus banget aku bolak balik baca gak bosenin banyak hikmah sekaligus ilmu yang dapat kita ambil di cerita ini love sekebon untuk author yng sudah membuat novel ini
Qudsiyah Agus
aku sudah membayangkan suaranya
Ka Za
untuk kesekian kalinya kembali ke Novel favorit ku ini, Selalu semangat berkarya kak Mela 😊😍
MelMel
sula banget sama ceritanya, ga pernah bosen buat baca ulang
Ai Ai
tebel bener tu muka,👿
Ai Ai
Ada. ya orang jahat kaya gitu, pantes sering sakit dan sulit punya keturunan, hatinya kotor👿
Ai Ai
jadi orang ngarep boleh, tapi jangan malu maluin🤣🤣🤣
Rizqinur Hayati
bagus alur ceritanya dan dapat menambah ilmu
Rizqinur Hayati
alur ceritanya bagus dan dapat menambah ilmu
nisutt
Seru banget ceritanya, walaupun udah baca berulang kali tapi ga ngebosenin.
Lilisdayanti
sok siah ngomong ken Batur,eta biwir bisa jontor gera sok,,pamali ualah sok nga gosip 🤭
Lilisdayanti
hadir siapa tau lucu,, karena aqu lagi bosan sama yg mehek mehek 🤭siapa tau ceritanya sama kaya Sagara dan king,,
Nurjanna Nhanna Jhe
luarbiasa
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘
Deistya Nur
masyaallah bagus bnggt
Alis
ceritanya bgus dan banyak sisi positif yg bisa diambil dri cerita in
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!