Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Selalu Menyalahkan Arini
Pagi itu, Galang kembali turun dari ojek online tepat di depan gedung kantornya. Ia merapikan tas ransel yang menggantung di bahunya, lalu berjalan masuk dengan langkah lesu.
Beberapa hari terakhir, kendaraan roda dua itulah yang selalu mengantarkannya ke kantor. Mobil yang dulu hampir setiap hari diparkir di halaman kantor kini tak pernah lagi terlihat.
Begitu memasuki ruang kerja, beberapa pasang mata langsung menoleh ke arahnya.
"Lah..." Aldi yang paling cerewet langsung bersuara. "Naik ojek online lagi? Ke mana mobilmu? Lama banget di bengkelnya?"
Galang hanya meletakkan tasnya tanpa menjawab.
Yeni yang biasanya lebih banyak diam pun ikut mengangkat kepala dari depan komputernya.
"Iya, nih. Aku juga heran. Beberapa hari terakhir kamu kelihatan kusut banget. Lagi ada masalah di rumah, ya?"
Belum sempat Galang menjawab, Rita ikut menyahut. "Iya, Lang. Kamu berubah banget."
Hanif mengangguk setuju. "Biasanya bajumu rapi, licin, wangi. Sekarang kok kusut kayak baru diambil dari jemuran. Wajahmu juga sama kusutnya."
Galang mengembuskan napas pelan. "Kalian kenapa sih? Perhatian banget sama kehidupanku?"
Aldi tertawa kecil. "Iya karena kelihatan banget bedanya, Lang. Kamu dulu paling rapi di ruangan ini."
"Iya," sahut Rita. "Makanya kami khawatir."
Galang mulai merasa tidak nyaman. "Udahlah, nggak usah ngurusin urusanku."
Rita tersenyum tipis. "Bukan ngurusin. Namanya teman, ya wajar kalau perhatian. Siapa tahu kamu lagi ada masalah. Kadang kalau cerita, beban jadi lebih ringan."
Galang menggeleng pelan. "Udahlah. Kerja aja. Jangan dikit-dikit kepo. Kepalaku sudah cukup pusing."
Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung membuka laptopnya. Teman-temannya saling berpandangan. Mereka memilih kembali bekerja, meski rasa penasaran masih menggantung di benak masing-masing.
Baru beberapa menit Galang mencoba fokus pada pekerjaannya, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuatnya mengembuskan napas panjang.
**Mbak Yulia.**
Kakak satu-satunya.
Dengan malas, ia mengangkat panggilan itu. "Ada apa, Mbak?" Tanpa basa-basi.
Suara Yulia terdengar kesal dari seberang. "Ini sekarang sudah tanggal berapa, Lang?"
Galang mengernyit. "Ya tanggal empat. Memangnya kenapa?"
"Biasanya setiap tanggal satu, Arin selalu kirim uang jajan buat Cio. Kok sampai sekarang belum masuk?"
Galang langsung memejamkan mata sesaat. "Ya tanya sendiri lah. Kok tanya ke aku?"
"Justru itu. Dari kemarin Arin nggak angkat teleponku. Chat-ku juga belum dibaca."
Galang mulai kehilangan kesabaran. "Ya mana aku tahu?"
"Tolonglah, Lang. Jangan bercanda, aku butuh banget uang itu."
"Aku nggak bercanda."
"Lalu Arin ke mana?"
Galang mengusap wajahnya dengan kasar. "Arin sudah nggak tinggal di rumah."
Suara Yulia mendadak meninggi. "Apa? Seriusan Lang?"
Galang menjawab datar. "Iya, dia pergi."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Ternyata, tanpa disadari Galang, nada suara kakaknya yang cukup keras terdengar jelas hingga ke meja-meja kerja di sekitarnya. Aldi, Rita, Hanif, dan Yeni yang semula berpura-pura fokus pada layar komputer kini spontan menoleh.
Mereka saling berpandangan.
**Arin pergi?**
Bukankah selama ini rumah tangga Galang terlihat baik-baik saja?
Yulia kembali bertanya dengan suara bergetar.
"Pergi? Maksudmu apa? Kalian bertengkar karena Mayang ya?"
Galang baru tersadar. Ia sedang berbicara di ruang kerja yang dipenuhi rekan-rekannya.
Refleks ia menoleh ke kanan dan kiri. Benar saja.
Semua mata sedang mengarah kepadanya. Galang langsung menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya berubah canggung. Tanpa ba bi Bu, dia langsung mematikan ponselnya. Ia merasa rahasia yang selama ini berusaha ditutup rapat mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Sementara itu, di sudut ruangan, Aldi berbisik pelan kepada Rita. "Pantas saja..."
Rita mengangguk lirih. "Jadi selama ini memang ada sesuatu yang terjadi di rumahnya."
Dan sejak detik itu, Galang tahu bahwa ia tak mungkin lagi bisa menyembunyikan kenyataan bahwa rumah tangganya telah hancur di hadapan orang-orang yang setiap hari bekerja bersamanya.
Tatapan rekan-rekan kerjanya membuat Galang semakin gelisah. Ia merasa setiap pasang mata sedang menghakiminya, meski tak seorang pun mengucapkan sepatah kata.
Tanpa berkata apa-apa, ia berdiri dari kursinya sambil menggenggam ponsel. "Aku keluar sebentar." gumamnya singkat.
Tak menunggu respons siapa pun, ia melangkah cepat meninggalkan ruangan. Ia hanya ingin menjauh dari tatapan penuh tanda tanya itu.
Begitu berada di lorong kantor, Galang mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras.
"Brengsek!" gerutunya pelan.
"Semua gara-gara Arini, hidupku jadi repot begini."
Ia langsung melangkah ke belakang. Tujuannya kantin yang berada di belakang gedung kantor.
"Apa susahnya sih tetap diam di rumah? Dimadu juga memangnya rugi apa? Malah dia bisa berbagi tugas melayaniku. Dasar perempuan... maunya menang sendiri."
Tak sedikit pun terlintas dalam benaknya bahwa akar dari semua kekacauan itu adalah keputusan yang ia ambil sendiri. Dalam pikirannya, Arini adalah penyebab semua masalah yang kini menimpanya.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa perempuan yang selama ini selalu mengalah justru telah ia sia-siakan.
Suasana kantin masih lengang. Maklum, waktu menunjukkan pukul delapan lewat. Jam istirahat masih lama.
Galang membeli segelas kopi, lalu memilih duduk di meja paling pojok. Ia menyeruput kopinya perlahan sambil memandang kosong ke arah halaman belakang kantor.
Pikirannya terus dipenuhi Arini."Nanti pulang kantor aku harus menemuinya di toko online."
"Aku harus bicara baik-baik sama dia." "Apa pun caranya, dia harus kembali ke rumah." Tekadnya.
Menurutnya, semua persoalan akan selesai jika Arini bersedia pulang.
"Kalau dia balik, aku bisa pakai mobil lagi. Nggak perlu keluar uang buat ojek online setiap hari."
Ia menghela napas. "Kalau harus beli mobil baru, uang dari mana?"
Yang memenuhi pikirannya hanyalah kenyamanan hidupnya sendiri. Bukan perasaan Arini, bukan luka yang telah ditinggalkannya, apalagi penyesalan atas pengkhianatan yang ia lakukan.
Tanpa terasa, hampir empat puluh menit berlalu.
Sementara itu, di ruang kerja, atasannya, Pak Dedi, datang untuk meminta laporan yang seharusnya sudah diselesaikan Galang pagi itu.
"Galang mana?" tanyanya.
Aldi menoleh. "Tadi keluar, Pak."
"Keluar ke mana?"
"Nggak tahu, Pak."
Pak Dedi mengernyit. Ia mencoba menghubungi ponsel Galang, tetapi panggilannya tidak diangkat.
Raut wajahnya mulai berubah. Beliau kemudian berjalan menyusuri beberapa ruangan, berharap Galang sedang mengurus pekerjaan lain. Namun, Galang tak juga ditemukan.
Sampai akhirnya seorang petugas kebersihan yang baru selesai mengepel lorong belakang berkata pelan, "Maaf, Pak. Tadi saya lihat Pak Galang duduk di kantin."
Pak Dedi langsung mengubah arah langkahnya.
Benar saja. Dari kejauhan, terlihat Galang masih duduk santai sambil memegang gelas kopi yang hampir habis. Sesekali ia memainkan ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali bekerja.
"Galang!" Suara tegas itu membuat Galang tersentak.
Refleks ia berdiri. "Ya... Pak."
Pak Dedi menghampiri dengan wajah yang jauh dari ramah. "Ini jam berapa sekarang?"
Galang melirik arlojinya. "Pukul... delapan empat puluh lima, Pak."
"Jam kerja atau jam istirahat?"
Galang menelan ludah. "Jam kerja, Pak."
"Kalau tahu ini jam kerja, kenapa kamu malah santai ngopi di kantin hampir satu jam?"
Galang terdiam. "Saya... saya cuma mau menenangkan pikiran sebentar, Pak."
Pak Dedi menarik napas panjang. "Sebentar menurut kamu itu empat puluh menit?"
Galang kembali menundukkan kepala. "Maaf, Pak!"
"Ini sudah kedua kalinya dalam beberapa hari terakhir saya melihat performa kerja kamu menurun. Datang ke kantor naik ojek bukan masalah buat saya. Yang jadi masalah adalah pekerjaanmu terbengkalai dan kamu meninggalkan meja kerja tanpa izin."
Nada suara Pak Dedi mulai meninggi. "Kalau memang ada masalah pribadi, jangan dibawa sampai mengganggu pekerjaan. Negara menggaji kamu untuk bekerja, bukan untuk duduk berlama-lama di kantin saat jam dinas."
Galang hanya mampu mengangguk. "Maaf, Pak!"
"Jangan cuma minta maaf. Buktikan dengan sikap. Sekarang kembali ke ruangan, selesaikan laporan yang saya minta. Dan ingat, kalau ini terulang lagi, saya akan memberikan teguran secara tertulis!"
Jantung Galang berdegup lebih cepat. Ia kembali mengangguk pelan. "Baik, Pak."
Pak Dedi berbalik meninggalkan kantin. Sementara Galang berdiri mematung selama beberapa detik.
Dalam hitungan hari, hidup yang selama ini terasa begitu nyaman seolah runtuh satu per satu. Di rumah ia tak lagi menemukan ketenangan. Di kantor pun ia mulai kehilangan kepercayaan atasannya.
Namun ironisnya, hingga saat itu ia masih belum mampu melihat bahwa semua yang terjadi berawal dari keputusan yang ia ambil sendiri.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.