NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — BATAS YANG MULAI RETAK

Sinar matahari pagi merayap pelan menembus kisi-kisi jendela kayu rumah keluarga Faruqi, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja makan. Udara Arunika Timur masih menyisakan dingin embun bekas hujan deras kemarin siang—hujan yang saksi bisu pertengkaran dan bisikan janji Rasyid di pemakaman.

Di dalam kamar lantai dua, Aurel berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya yang sudah mengenakan kaus katun putih dipadu kardigan rajut warna pistachio dan celana jins hitam. Wajahnya tidak lagi sesembap kemarin, namun sepasang matanya masih menyisakan sedikit kelelahan batin.

Aurel menghela napas panjang, merapikan rambut bergelombangnya yang diikat longgar ke belakang.

Kemarin siang di TPU Arunika Asri, Rasyid telah melipat payung hitamnya dan menunggunya di dalam mobil tanpa menuntut penjelasan sepatah kata pun. Sepanjang perjalanan pulang dari pemakaman ke pesantren, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya ada suara usapan pembersih kaca mobil yang bergerak ritmis dan lagu-lagu instrumen pelan dari radio.

Aurel bersiap menghadapi amarah atau setidaknya benteng dingin Rasyid pagi ini. Ia telah menyusun tameng pertahanan dirinya: bersikap cuek, pura-pura tidak terjadi apa-apa, dan menolak setiap bentuk pembahasan emosional.

Dengan langkah yang disengaja tegas, Aurel menuruni anak tangga kayu menuju ruang makan.

Suasana lantai bawah hening. Kiai Abdul dan Ibu Nur Aini masih berada di luar kota, sementara Salma sedang ada jadwal kajian pagi bersama para santriwati.

Di ujung meja makan kayu jati, Rasyid sudah duduk rapi.

Pria itu mengenakan kemeja koko putih polos berpotongan bersih dengan lengan tergulung rapi hingga pertengahan lengan bawah. Peci hitamnya tergeletak di samping sebuah buku tebal bermerek pita merah yang sedang ia baca dengan tekun. Di depannya, secangkir teh hangat menyisakan uap tipis.

Mendengar kecipak pelan langkah kaki Aurel di atas marmer, Rasyid tidak menunjukkan keterkejutan. Pria itu menghentikan jarinya di atas halaman kitab, lalu mengangkat wajahnya pelan.

Mata cokelat gelap Rasyid menatap Aurel. Tidak ada kilat amarah, tidak ada raut kekecewaan yang tersisa, dan—yang paling mengejutkan Aurel—tidak ada tatapan kasihan. Tatapannya jernih dan tenang, seolah hari kemarin hanyalah lembaran angin lalu yang telah usai dibalik.

"Pagi," kata Rasyid singkat. Suaranya mengalun rendah, hangat, dan jernih seperti biasa.

Aurel sempat tertahan sejenak di ambang pintu dapur, agak kaget karena sapaan itu terlontar begitu alami tanpa beban. Ia membetulkan letak tali kardigannya, melangkah mendekat, lalu menarik kursi di sisi meja.

"Pagi," balas Aurel pendek.

Biasanya, jam-jam sarapan di meja ini selalu diwarnai ketegangan kecil atau sindiran halus. Aurel yang biasanya sinis akan memancing perdebatan tentang aturan, atau Rasyid yang akan memberikan tanggapan halus yang membuat Aurel mati angin.

Namun hari ini, ketenangan yang tercipta justru terasa berbeda.

Aurel meraih piring porselen di tengah meja yang berisi beberapa potong roti bakar dan selai srikaya buatan Bu Nur. Ia mengoleskan selai dengan gerakan pelan, sesekali melirik dari celah bulu matanya ke arah Rasyid.

Pria di seberang meja itu kembali memfokuskan pandangannya pada barisan tulisan Arab gundul di buku tebalnya. Jemari tangannya sesekali meraih tangkai cangkir teh, meminumnya perlahan, lalu meletakkannya kembali tanpa menimbulkan denting meja yang bising.

Rasyid tidak menyinggung kejadian semalam di pemakaman.

Ia tidak bertanya mengapa Aurel menangis sesenggukan di samping nisan ibunya. Ia tidak bertanya mengapa Aurel meluapkan amarah dan berteriak bahwa ia tidak butuh diselamatkan. Ia juga sama sekali tidak menggunakan kesempatan ini untuk menyelipkan ceramah moral tentang pentingnya bersabar atau berbakti pada orang tua.

Satu menit... dua menit... lima menit berlalu dalam keheningan yang serba ganjil. Hanya ada suara denting pisau oles di atas piring dan desir angin pagi dari teras samping.

Aurel mengunyah rotinya tanpa selera. Dada dan kepalanya mulai merasa tidak tenang. Ketenangan Rasyid yang ekstrem ini justru terasa seperti teka-teki yang mengusik rasa ingin tahunya. Kenapa pria ini bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi hal dramatis kemarin? Apakah Rasyid sengaja mengabaikannya? Atau Rasyid menganggap luapan emosinya kemarin cuma angin lalu yang kekanak-kanakan?

Aurel meletakkan pisaunya agak keras ke tepi piring, menimbulkan denting nyaring yang memecah keheningan.

"Kamu nggak mau nanya?" cetus Aurel tiba-tiba. Suaranya agak tinggi, sarat dengan nada menantang yang dipaksakan.

Rasyid menghentikan bacaannya. Pria itu menutup bukunya pelan, lalu meletakkan kedua jemarinya yang tertaut di atas meja. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata cokelat terang milik istrinya dengan raut wajah yang sepenuhnya perhatian.

"Nanya soal apa, Aurel?" tanya Rasyid halus.

Aurel bersedekap, bersandar pada sandaran kursi kayu seraya memiringkan kepalanya. "Soal kemarin. Soal aku yang nangis di makam Ibu. Soal aku yang ngamuk-ngamuk ke kamu di tengah hujan. Kamu biasanya selalu punya banyak tanggapan, kenapa sekarang diem aja?"

Rasyid menatap Aurel dalam-dalam. Ada binar kelembutan yang amat tenang di kedalaman matanya, membuat pertahanan defensif Aurel yang baru saja ia bangun terasa agak goyah.

"Kalau kamu ingin cerita, kamu akan cerita, Aurel," jawab Rasyid pelan. Intonasi suaranya seperti aliran air di celah batu—rata dan menenangkan. "Saya tidak punya hak untuk memaksa kamu membuka luka yang belum ingin kamu bagikan."

Aurel terdiam seketika. Lidahnya yang sudah bersiap dengan amunisi sanggahan mendadak kaku.

"Setiap orang punya ruang rahasia di dalam hatinya," lanjut Rasyid seraya mengusap tepi cangkir tehnya dengan jempol. "Tugas saya bukan mendobrak masuk ke ruang itu secara paksa. Jika suatu hari kamu merasa siap untuk berbagi, saya ada di sini untuk mendengar. Tapi jika kamu memilih untuk menyimpannya sendiri... saya menghargai batasan itu."

Aurel menatap Rasyid tanpa berkedip.

Kalimat sederhana itu merayap masuk ke dalam benaknya, meruntuhkan asumsi-asumsi buruk yang sempat ia susun. Pria di depannya ini ternyata benar-benar paham. Rasyid mengerti kapan harus berbicara, kapan harus memberi nasihat, dan kapan harus diam membisu untuk menjaga martabat dan ruang aman bagi orang lain.

Dan anehnya... rasa dihormati itu membuat sebuah sudut kecil di dalam dada Aurel mendadak merasa sangat nyaman. Sebuah kenyamanan yang belum pernah ia rasakan dari figur pria mana pun, termasuk ayahnya sendiri yang selalu mendesak dan menghakiminya.

Namun, detik berikutnya, kesadaran itu memicu alarm bahaya di kepala Aurel.

Aurel dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar, menggigit bibir bawahnya erat-erat. Rasa hangat yang baru saja menyusup ke dadanya mendadak ia tentang secara brutal oleh logikanya sendiri.

Nggak. Nggak boleh, batin Aurel memperingatkan dirinya sendiri dengan keras. Aku nggak boleh terbiasa sama kebaikan dia. Ini cuma strategi dia biar aku luluh. Aku nggak boleh terbuai.

Aurel meraih cangkir air putihnya dan meminumnya hingga kandas dalam beberapa tegukan cepat, berusaha membuang rasa canggung yang tiba-tiba melilit tenggorokannya.

Rasyid memperhatikan perubahan raut wajah Aurel yang mendadak kembali tegang, namun pria itu tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya tersenyum samar, memaklumi gejolak batin yang sedang terjadi pada wanita muda di seberang mejanya.

Rasyid meraih kembali buku tebalnya dan membukanya pelan. "Makanlah rotimu sampai habis. Jam delapan nanti saya harus mengajar di madrasah, kalau kamu mau ikut ke kota, saya bisa antarkan."

"Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri," potong Aurel cepat, suaranya kembali ketus dan dingin untuk menutupi rasa gugupnya.

"Baiklah," jawab Rasyid singkat, tanpa nada tersinggung sedikit pun.

Aurel meraih potongan roti bakarnya kembali, mengunyahnya cepat-cepat tanpa memandang Rasyid lagi. Namun di balik sikap dingin yang sengaja ia tampilkan, benteng pertahanan yang selama ini memagari hatinya telah mengalami keretakan pertama—sebuah retakan halus yang terukir bukan karena paksaan, melainkan karena keheningan Rasyid yang begitu menghargai batasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!