NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Bukti-Bukti

"Pak, kami butuh rekaman CCTV tanggal itu sebelum filenya tertimpa."

Fajar Nugroho menaruh surat permintaan tertulis di meja admin Restoran Taman. Suaranya tenang. Jaketnya biasa, tetapi cara ia berdiri membuat dua security tidak berani terlalu dekat.

Admin restoran, Mbak Reni, melihat nama Raka di surat itu lalu meringis. "Masalah Raka sama Pak Herman sudah selesai, kan?"

Raka berdiri di samping Fajar, kemeja lengan panjang menutup bekas nyeri latihan Wing Chun di lengannya. "Belum. Saya hanya tidak ribut di sini."

Dari pintu kantor, Herman muncul seperti mencium peluang.

"Lagi-lagi kamu. Sekarang bawa bodyguard?"

"Asisten," kata Raka.

Fajar menatap Herman. "Kami meminta salinan CCTV area VIP dan koridor. Jika restoran menolak, kami ajukan permintaan melalui pengacara dengan dasar sengketa ketenagakerjaan dan dugaan fitnah laporan internal."

Herman tertawa. "Kamu kira restoran ini takut surat?"

Raka membuka ponsel dan memutar potongan rekaman ancaman Herman. Tidak keras, cukup terdengar oleh admin.

Wajah Mbak Reni berubah. Ia tahu suara itu bisa menyeret manajemen.

"Saya harus izin Pak Darma," katanya cepat.

"Silakan," jawab Raka. "Kami tunggu lima menit."

Herman mendekat, menurunkan suara. "Kamu mau perang?"

"Tidak. Saya sedang menagih arsip. Perang nanti di ballroom."

Mata Herman menyipit. Ia belum tahu maksudnya, dan itu membuatnya lebih gelisah.

Lima menit kemudian, Pak Darma memberi izin terbatas. Restoran tidak mau ditarik ke masalah pribadi Vera dan Ahmad. Salinan CCTV diberikan dengan tanda terima. Fajar langsung memasukkan file ke laptop, menyalin ke flashdisk pertama, lalu mengunggah ke cloud terenkripsi yang ia siapkan malam sebelumnya.

[Mimpi memverifikasi: Bukti 1, CCTV koridor VIP, valid.]

Rekaman menampilkan Vera masuk bersama Ahmad, tangan saling menggenggam, jauh sebelum jam makan. Rekaman lain menampilkan Ahmad melempar uang ke lantai dan Herman mendorong Raka. Bukti itu belum menyentuh isu kehamilan, tetapi sudah cukup untuk mematahkan cerita bahwa Raka membuat onar tanpa sebab.

Keluar dari restoran, Raka menerima pesan dari Wulan.

Mas, aku simpan foto daftar reservasi malam itu. Nama Ahmad dan Vera ada di ruang VIP. Kalau butuh, aku kirim.

Raka berhenti di tepi parkiran.

"Wulan mau bantu."

Fajar melirik. "Dia berisiko dipecat. Jangan ambil kalau tidak perlu."

"Perlu, tapi jangan buat dia menanggung sendiri."

Raka membalas: Kirim ke email ini. Kalau Herman menekan kamu, bilang ke saya. Semua biaya hukum saya tanggung.

Tidak sampai satu menit, file masuk.

[Mimpi memverifikasi: Bukti 2, daftar reservasi, valid.]

Target berikutnya lebih sensitif: rekam medis. Raka tidak bisa dan tidak mau mencuri data rumah sakit. Mimpi memberi jalur legal: Vera pernah mengirim foto hasil pemeriksaan ke grup privat yang ia lupa hapus dari ponsel lama Raka. Raka masih menyimpan cadangan percakapan karena dulu ia membantu memindahkan data Vera.

Di vila, Fajar duduk di ruang kerja sementara, menyalakan laptop baru. Bibi Lestari membawa teh, tetapi wajahnya tegang melihat layar penuh video dan folder.

"Kamu sedang menghadapi siapa, Raka?"

"Orang yang kemarin membuang saya."

"Kalau hanya mantan pacar, kenapa seperti penyelidikan?"

Raka menatap Bibi. Ia tidak ingin menyeretnya, tetapi tidak mau berbohong seperti Vera.

"Karena mereka akan memakai uang, keluarga, dan nama baik untuk membuat saya terlihat gila. Kalau saya datang tanpa bukti, saya kalah. Kalau saya datang dengan bukti yang rapi, mereka tidak bisa bersembunyi."

Bibi meletakkan teh. "Jangan sampai dendam membuatmu sama seperti mereka."

"Saya tidak akan menyerang orang yang tidak bersalah. Saya hanya akan membuka apa yang mereka lakukan."

Bintang muncul dari pintu. "Kak, aku boleh bantu?"

Fajar langsung menutup layar. "Tugas kamu tidur, Dik. Besok sekolah."

Bintang cemberut, tetapi menurut. Raka menepuk kepalanya. Kehidupan baru ini tidak boleh dibangun di atas ketakutan anak itu.

Malamnya, Raka membuka cadangan pesan lama. Ada foto hasil USG yang dulu Vera kirim dengan alasan bercanda, lalu cepat-cepat dihapus. Ada tangkapan layar jadwal kontrol dokter dengan tanggal empat bulan lalu. Ada pesan Vera kepada temannya yang salah terkirim ke Raka: Ahmad bilang tunggu setelah pertunangan.

Raka mematung beberapa detik.

Fajar tidak menghibur dengan kata-kata kosong. Ia hanya berkata, "Simpan. Verifikasi metadata. Jangan pakai kalau sumbernya bisa diperdebatkan."

Mimpi menampilkan tanda hijau.

[Bukti 3, foto rekam pemeriksaan dari perangkat lama, metadata konsisten.]

[Bukti 4, pesan suara Vera meminta mahar dan biaya acara, valid.]

Pesan suara itu tiba malam hari.

Raka menekan putar.

"Raka, aku tahu kamu marah. Tapi kalau kamu masih punya sedikit perasaan, bantu aku sekali lagi. Ahmad sedang banyak pengeluaran. Mahar dan dekor pertunangan bisa kamu bantu dulu. Anggap saja terakhir kali kamu membuktikan kamu laki-laki baik."

Fajar memandang Raka.

"Dia minta kamu membiayai acara pertunangannya dengan pria lain?"

"Ya."

"Saya cabut pertanyaan lama. Ini bukan sekadar mantan. Ini kasus penghinaan terencana."

Raka tersenyum dingin. Ia membalas Vera dengan satu emoji senyum.

Tidak ada kata marah. Tidak ada ancaman. Justru itu yang membuat Vera menelepon berkali-kali setelahnya. Raka membiarkan semua panggilan masuk menjadi bukti tekanan.

Pukul sebelas malam, tiga flashdisk berjejer di meja: satu untuk Raka, satu untuk Fajar, satu disegel dan disimpan di Pocket Space. Cloud backup aktif. Folder diberi nama sederhana: Pertunangan.

Fajar menandai checklist.

"CCTV, reservasi, pesan suara, foto pemeriksaan, metadata, daftar transfer kamu ke Vera selama satu tahun, saksi Wulan opsional, rekaman Herman. Lengkap untuk panggung pertama."

"Panggung pertama?"

"Setelah mereka jatuh, biasanya ada orang tua, saudara, teman yang mencoba membalik narasi. Kita siapkan tahap kedua."

Raka menyandarkan punggung. Ia mulai mengerti kenapa Mimpi memilih Fajar. Pria ini tidak hanya bisa memukul. Ia bisa melihat arah pisau sebelum ditarik.

[Misi Balas Dendam Sang Penambal: persiapan bukti selesai 100%.]

Ponsel Raka menyala. Undangan digital pertunangan Vera dan Ahmad masuk dari nomor tak dikenal, mungkin sengaja dikirim untuk menyindir. Lokasi: Hotel Empat Musim. Ballroom Garuda. Jam tujuh malam.

Di bawah undangan itu ada pesan dari Vera.

Datanglah kalau kamu mau lihat seperti apa laki-laki sungguhan memperlakukan wanita.

Raka berdiri dan mengambil jas yang baru datang dari tailor.

"Fajar."

"Siap, Pak."

"Pastikan kursi depan atas nama saya."

Fajar tersenyum tipis.

Raka juga meminta Fajar membuat satu dokumen kronologi untuk dirinya sendiri. Jam, tempat, saksi, bukti, dan celah bantahan ditulis berurutan. Ketika ia melihat semua tersusun di layar, kemarahannya berubah bentuk. Api liar itu menjadi pisau yang diasah.

"Kalau malam itu Anda terpancing memukul Ahmad, semua bukti ini bisa tenggelam," kata Fajar.

"Karena itu aku tidak boleh memukul orang yang belum waktunya jatuh."

"Benar. Biarkan mereka bicara lebih dulu. Orang sombong biasanya membuat pembuka terbaik untuk kehancurannya sendiri."

"Sudah, Pak. Bukti lengkap. Kursi paling depan juga lengkap."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!