Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 — TEMBAKAN BUTA BARRETT
Kota tua Darsen masih diselimuti malam.
Setelah mendapatkan senapan runduk berat dari salah satu anggota kelompok tadi, Adrian berdiri di balik sebuah dinding beton yang sudah separuh runtuh.
Senjata itu benar-benar besar.
Bahkan larasnya terlihat hampir sebesar lengannya.
Adrian mengangkatnya sebentar, lalu mengernyit.
“Berat juga.”
Dia kemudian menyandarkan bagian depan senapan di atas sisa dinding dan mencoba melihat melalui alat bidiknya.
Begitu matanya mendekat—
Adrian langsung mengernyit.
Gambarnya buram.
Ada beberapa goresan pada lensa, sementara garis bidiknya bahkan tampak sedikit miring.
Adrian menjauhkan wajahnya.
“Barang apaan ini?”
Dia mengetuk bagian alat bidik dengan jarinya.
“Perusahaan sebesar itu masa beli barang bekas begini?”
Adrian menghela napas.
“Jangan-jangan bagian pembeliannya dikorupsi.”
Belum selesai dia mengomel—
Sret!
Sret!
Sret!
Tiga peluru datang hampir bersamaan dari arah yang berbeda.
Salah satunya menghantam bagian atas dinding tepat di atas kepala Adrian.
BRAK!
Serpihan beton berhamburan.
Debu langsung berjatuhan ke rambutnya.
Dua peluru lainnya menghantam tanah di sisi kiri dan kanan.
Duk!
Duk!
Jalur keluar Adrian seolah sengaja ditutup.
Adrian menatap bekas tembakan di sekelilingnya.
“Wah.”
Dia mengusap debu dari kepalanya.
“Mainnya serius juga.”
Dari sebuah alat komunikasi yang tergeletak tidak jauh dari sana, terdengar suara laki-laki dengan nada mengejek.
“Masih dengar aku?”
Adrian melirik benda itu.
Suara tersebut terdengar seperti sudah melewati penyaring suara.
“Kemampuanmu dalam pertarungan jarak dekat memang cukup mengejutkan.”
Suara itu berhenti sejenak.
“Tapi sekarang kita berjarak lebih dari satu kilometer.”
“Di jarak seperti ini, kekuatanmu tidak berarti apa-apa.”
Adrian berjalan mendekati alat komunikasi itu.
Suara di dalamnya terdengar semakin percaya diri.
“Kau hanya target yang sedang menunggu ditembak.”
“Nikmati saja beberapa menit terakhir hidupmu.”
Adrian tidak menjawab.
Dia justru mengangkat kaki.
Tap.
Tap.
Dia menginjak alat komunikasi itu dua kali.
Kemudian Adrian kembali melihat ke arah kejauhan.
Beberapa kilatan kecil tampak muncul dari balik reruntuhan.
Penembak mereka masih bersembunyi.
Adrian menatap senapan berat di tangannya.
Lalu menatap alat bidik yang buram.
Dia menghela napas.
“Tambah kerja lagi.”
Adrian mengusap wajah.
“Padahal aku cuma mau main.”
Dia kemudian berdiri sedikit lebih tegak.
Namun kali ini, ekspresi santainya menghilang.
Matanya perlahan terpejam.
Seketika, kemampuan yang selama ini tersimpan di dalam dirinya mulai bekerja.
【Kemahiran Senjata Api Tingkat Maksimal】 aktif.
Dalam pikirannya, berbagai informasi muncul hampir bersamaan.
Arah angin.
Jarak.
Perkiraan lintasan.
Kecepatan proyektil.
Ketinggian posisi lawan.
Bahkan perubahan kecil dari pergerakan udara di antara bangunan-bangunan tua.
Semua informasi itu seperti tersusun menjadi sebuah peta di dalam kepalanya.
Kemampuan 【Prediksi Bahaya Tingkat Dasar】 juga ikut aktif.
Adrian tidak perlu melihat lawan secara langsung.
Dia dapat merasakan ancaman dari arah yang berbeda.
Ada yang sedang mengatur napas.
Ada yang sedang menggeser posisi.
Ada yang jarinya mulai menekan pelatuk.
Dan ada yang baru saja mengubah arah senjatanya.
Bagi Adrian, medan pertempuran yang sebelumnya gelap kini seolah memiliki bentuk.
Dia mengetahui posisi musuh tanpa harus melihat mereka.
Adrian tidak lagi mencoba menggunakan alat bidik.
Dia bahkan tidak keluar dari balik dinding.
Tangannya hanya mengangkat senapan berat tersebut.
Larasmya perlahan keluar dari sisi perlindungan.
Ujungnya mengarah sedikit ke atas.
Tidak ada yang aneh dari gerakan itu.
Namun justru itulah yang membuat para penembak di kejauhan bingung.
Lebih dari satu kilometer dari posisi Adrian.
Seorang anggota kelompok penembak mengamati melalui teropong.
Begitu melihat laras senapan muncul dari balik dinding, dia langsung tertawa kecil.
“Komandan.”
“Target mengeluarkan senjatanya.”
Dia mengamati beberapa detik.
“Tapi dia tidak membidik.”
“Laranya malah mengarah ke atas.”
Pria bernama Ghost yang memimpin kelompok tersebut mengernyit.
“Jangan lengah.”
Dia mengambil posisi lebih nyaman.
“Penembak ketiga, siapkan tembakan.”
“Bidik kaki.”
“Begitu dia keluar sedikit saja, tembak.”
“Diterima.”
Penembak yang ditunjuk segera mengarahkan senjatanya.
Melalui teropong, dia mendapatkan pandangan jelas terhadap tubuh Adrian.
Target terlihat santai.
Bahkan seperti tidak menyadari dirinya sedang dibidik.
Penembak itu menahan napas.
Jarinya perlahan menyentuh pelatuk.
Sedikit lagi.
Tinggal sedikit tekanan—
DOR!
Suara tembakan berat tiba-tiba mengguncang kawasan kota tua.
Penembak tersebut membeku.
“Apa—”
Tiba-tiba pandangannya menghilang.
Lensa teropongnya retak tepat di bagian tengah.
Sebuah proyektil menghantam posisi persembunyiannya dari arah yang sama sekali tidak masuk akal.
Tubuhnya terhempas ke belakang.
Senapan terlepas dari tangannya.
Komunikasi langsung dipenuhi keheningan.
“Penembak ketiga?”
Tidak ada jawaban.
Ghost segera mengarahkan teropongnya ke posisi rekannya.
Yang terlihat hanya tubuh yang sudah tidak bergerak.
Ghost terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Matanya perlahan membesar.
“Mustahil...”
Dia kembali mengarahkan pandangan ke tempat Adrian berada.
Pemuda itu masih berdiri di balik dinding.
Tidak terlihat sedang membidik.
Ghost langsung meraih alat komunikasinya.
“Semua posisi, jangan menembak sembarangan!”
Suaranya berubah tegang.
“Target sudah menemukan salah satu posisi kita!”
Seorang anggota menjawab dengan cepat.
“Bagaimana mungkin?”
“Dia bahkan tidak melihat kita!”
Ghost tidak menjawab.
Karena dia sendiri tidak mengerti.
Jarak mereka sangat jauh.
Posisi penembaknya tersembunyi.
Bahkan Adrian tidak menggunakan alat bidik.
Namun satu tembakan tadi tetap mengenai sasaran.
Ghost menelan ludah.
“Pindahkan posisi.”
“Sekarang!”
Adrian sama sekali tidak tahu bahwa orang-orang di kejauhan sedang panik.
Baginya, semuanya sederhana.
Dia hanya merasa orang-orang itu terlalu berisik.
Adrian menarik mekanisme senapan.
Krak!
Selongsong kosong terlempar keluar.
Dia memasukkan peluru berikutnya.
Tidak ada gerakan terburu-buru.
Tidak ada ekspresi serius.
Dia hanya mengangkat laras sedikit.
Kali ini ke arah berbeda.
Matanya masih tertutup.
DOR!
Suara tembakan kembali menggema.
Di kejauhan, seorang anggota kelompok yang sedang berpindah posisi tiba-tiba berhenti.
Tubuhnya terjatuh di balik reruntuhan.
Rekan-rekannya langsung membeku.
“Dia menembak lagi!”
“Dari mana?”
“Tidak tahu!”
“Mustahil!”
Ghost melihat melalui teropong.
Dadanya terasa semakin berat.
Target mereka tidak hanya mengetahui posisi penembak pertama.
Dia bahkan mampu mengenai orang yang sedang bergerak.
Ghost langsung mengubah perintah.
“Semua unit, berpencar!”
“Jangan gunakan jalur yang sama!”
“Jangan berhenti di tempat terbuka!”
Namun perintah itu terlambat.
DOR!
Tembakan berikutnya kembali terdengar.
Salah satu anggota yang baru saja berpindah dari balik bangunan langsung terjatuh.
Radio kembali sunyi.
Ghost mengepalkan tangan.
“Dia menembak berdasarkan suara?”
“Tidak mungkin.”
“Jarak sejauh itu...”
Dia berhenti bicara.
Karena sekarang dia mulai menyadari sesuatu.
Adrian bukan sekadar petarung jarak dekat.
Dia mampu menggunakan senjata berat itu dengan cara yang bahkan tidak mereka pahami.
Di balik dinding, Adrian menarik napas.
Dia membuka matanya sebentar.
Kemudian melihat senapan di tangannya.
“Lumayan.”
Dia menepuk bagian samping senjata itu.
“Walaupun jelek, masih bisa dipakai.”
Adrian kembali menutup matanya.
Di dalam pikirannya, posisi beberapa orang mulai muncul.
Satu berada di balik bangunan.
Dua lainnya bergerak menuju sisi timur.
Satu orang berusaha menjauh.
Dan ada satu lagi yang berdiam di tempat.
Adrian tersenyum tipis.
“Ketemu.”
Dia mengangkat senapan.
DOR!
Tembakan berikutnya kembali melesat.
Jauh di sana, seseorang yang sedang berusaha memindahkan senapan runduknya tiba-tiba terjatuh.
Senjatanya jatuh lebih dahulu.
Tubuhnya menyusul.
Tidak ada kesempatan untuk melakukan perlawanan.
Ghost menatap kejadian itu melalui teropong.
Tangannya mulai berkeringat.
“Tarik semua orang.”
“Sekarang!”
“Jangan pedulikan senjata. Tinggalkan posisi!”
Namun kali ini tidak ada seorang pun yang menjawab dengan cepat.
Mereka semua mulai panik.
Bukan karena mereka sedang ditembaki.
Melainkan karena mereka bahkan tidak tahu dari mana tembakan berikutnya akan datang.
Adrian berdiri dari balik dinding.
Dia memanggul senapan berat tersebut.
Kemudian melihat ke arah jalan yang membentang di antara reruntuhan.
“Kalau kalian terus lari begini...”
Dia menghela napas.
“Bukannya malah bikin aku tambah repot?”
Adrian berjalan keluar dari perlindungan.
Tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi.
Dia sudah mengetahui posisi mereka.
Dan mereka belum mengetahui bagaimana cara menghadapi dirinya.
Di kejauhan, Ghost melihat sosok Adrian keluar dari balik dinding.
Dia langsung mengarahkan teropong.
Pemuda itu berdiri santai.
Tidak bersembunyi.
Tidak mencari perlindungan.
Bahkan senapan berat di tangannya hanya disandarkan di bahu.
Ghost merasa tengkuknya dingin.
“Jangan bilang...”
Dia memperbesar pandangan.
Adrian mengangkat senapan.
Ghost spontan menunduk.
“SEMBUNYI!”
DOR!
Ledakan suara kembali mengguncang malam.
Ghost menunggu.
Tidak ada peluru yang menghantam posisinya.
Dia perlahan mengangkat kepala.
Lalu mendengar suara benda jatuh dari kejauhan.
Salah satu anggota mereka baru saja kehilangan senjatanya.
Ghost menatap kosong.
“Dia bahkan tidak membidik kita?”
Seorang anggota menjawab dengan suara gemetar.
“Komandan...”
“Apa?”
“Kurasa dia tidak membutuhkan alat bidik.”
Ghost terdiam.
Kalimat itu membuat suasana komunikasi langsung sunyi.
Karena kalau benar demikian—
mereka tidak sedang berhadapan dengan penembak biasa.
Mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang mampu menjadikan seluruh medan perang sebagai sasaran.
Adrian kembali menarik mekanisme senapannya.
Krak!
Selongsong berikutnya terlempar.
Dia memasukkan peluru baru.
Gerakannya semakin lancar.
DOR!
Satu tembakan.
Hening.
DOR!
Tembakan kedua.
Hening lagi.
Setiap suara tembakan membuat orang-orang yang masih bertahan semakin panik.
Tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi sasaran berikutnya.
Adrian justru terlihat semakin santai.
Dia melihat senapan di tangannya.
Kemudian tersenyum kecil.
“Kalau tahu begini, dari tadi aku pakai ini.”
Dia menguap.
“Beresin cepat, lalu balik main.”
Di sisi lain kota tua, Ghost akhirnya sadar bahwa rencana mereka sudah benar-benar runtuh.
Dia memberi perintah terakhir.
“Semua orang mundur ke titik evakuasi.”
“Jangan melawan.”
“Ulangi, jangan melawan target!”
Namun di dalam hati, Ghost sudah mengetahui kenyataan yang jauh lebih buruk.
Mereka datang untuk memburu Adrian.
Sekarang merekalah yang sedang berusaha menyelamatkan diri.
Dan malam itu, nama Adrian mulai menjadi sesuatu yang tidak ingin lagi disebut oleh para pembunuh sebagai target biasa.
Karena bagi mereka, Adrian sudah berubah menjadi satu hal lain.
Sasaran yang tidak mungkin dibidik balik.