My Careless Wife
Berawal dari perjodohan yang dibuat orang tua Arvin. Mau tidak mau ia harus menikahi wanita yang notabene nya merupakan pelayan cuci piring di restoran miliknya.
Perbedaan usia yang jauh 10 tahun. Arvin 28 tahun, dan Zakiya 18 tahun. Membuat Arvin harus ekstra sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan Zakiya yang selalu membuatnya jengkel, kesal, terkadang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayy hermione, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : welcome baby R
"Jeng debora" ucap melati terlihat sangat senang.
"Jeng melati"
"Aaaaaa"
mereka pun saling berpelukan dan loncat kegirangan karena bertemu.
Arvin dan zakiya saling bertukar pandang bingung, ko bisa mamanya kenal debora?
Debora juga kenal mamanya?
Lah hubungan mereka ini apa?
*****
"Ya ampun, kamu makin cantik aja deh sekarang" puji debora kepada melati.
"Kamu juga makin ganteng sekarang" puji melati sambil mengerlingkan satu matanya.
"Iuuuh" sahut arvin melihat mereka sungguh menggelikan, debora tampan? Mamanya cantik? Astaga apa lagi ini? Ini pasti ada rasa-rasa yang tidak enak. Pasti. Arvin sangat yakin.
Pasalnya, mamanya dan debora seperti teman lama yang sudah saling kenal, bahkan seperti teman dekat. SUNGGUH MENCURIGAKAN.
"Kalian saling kenal?" Ucap arvin memicingkan matanya seperti sedang menginterogasi.
"Oh iya dong, dia ini temen nya mama dari kecil, mama awal kenal dia dari sepupunya, sepupu sepupu nya kemudian sepupunya punya sepupu lagi hingga berakhir dengan sepupu sepupu nya. Dan sepupunya punya sepupu jauh, dan sepupu jauhnya punya sepupu jauh lagi.
Kayak gitu kisahnya mama bisa bertemu dia"
"Pusing arvin dengarnya" arvin memutar bola matanya. Percuma jika dia bertanya dengan mamanya, jawabannya pasti rumit. Sama seperti kisah cinta nya kini. Eh~
"Kalian tuh ya, ada tamu bukannya disuruh duduk" ucap melati pada zakiya dan arvin.
"Ayo, jeng debora duduk" ucap melati mempersilahkan debora untuk duduk di sofa milik arvin.
Arvin yang melihat sofa kesayangannya kini diduduki orang lain merasa pasrah, mungkin di lain waktu ia akan mengganti sofa nya lagi.
Mereka pun duduk bersama di sofa arvin, debora dan melati duduk di sofa panjang.
Arvin dan zakiya duduk di sofa kecil bersebelahan.
Zakiya mendudukkan badan riski dipangkuannya.
Riski tersenyum senang pada zakiya, hatinya sangat riang sekarang.
Arvin menghela nafasnya kasar, ia pasrah terhadap apa yang menimpanya.
Pasti mamanya ada ide konyol lagi setelah ini.
"Pak arvin" ucap zakiya menoleh ke kiri melihat arvin yang sedang bertopang dagu.
"Hemm"
"Ko zakiya merasa ada hawa-hawa mencurigakan ya?" Ucap zakiya setengah berbisik pada arvin.
"Iya" ucap arvin singkat.
"Pak arvin marah ya?"
"3.000%" ucap arvin jutek, ia sama sekali tidak menoleh pada zakiya.
*****
"Oke, jadi gini baby arvin dan kita sweetie. Udah baca kan surat dari mama? Jadi mama pinjam bayi nya debora selama sebulan untuk kalian urus.
Ini sebagai pelatihan menjadi calon ibu dan calon ayah yang baik, kalian mau kan? "
"Hemm?" Ucap zakiya yang masih berpikir. Mengurus bayi orang lain?
"GA" ucap arvin singkat, sudah di duga perasaannya pasti tidak enak.
Zakiya menoleh ke samping setelah mendengar jawaban penolakan dari suaminya.
Suaminya tipe orang yang blak-blakan, tak peduli orang sakit hati atau tidak.
Jika suka ya suka, tidak ya tidak. Arvin akan menunjukkan respon langsung ke orang tersebut.
"Mau ga mau, kalian harus mau! Ini juga untuk kamu baby arvin sayang, mama tau kamu itu gasuka dengan bayi dan anak-anak.
Tapi dengan pelatihan ini, mama yakin kamu lambat laun akan mencintai anak-anak dengan sepenuh hati, seperti kamu mencintai diri kamu sendiri, dan juga kamu~ "
"Meski sekuat apapun mama bujuk arvin, arvin tetap menolaknya" arvin berdiri dari duduk nya dan menatap tajam mamanya. Sudah cukup, terlalu banyak basa-basi hari ini.
Mood arvin tidak baik, seharusnya hari ini adalah harinya untuk beristirahat dengan baik.
"Arvin pergi" arvin pergi tanpa menoleh ke belakang, ia sama sekali tak peduli.
"Arvin, arvin" teriak mama nya memanggil anaknya yang kian menjauh.
BAMM
Arvin menutup pintu apartemen nya dengan keras.
Zakiya yang melihat respon suaminya hanya menunduk sedih, ia menghela nafas nya.
Zakiya tidak mempermasalahkan jika harus menjaga dan mengurus bayi orang lain.
Tapi dari sikap arvin seperti tadi, zakiya merasa bahwa, arvin sama sekali tak akan menyukainya jika nanti mereka punya anak.
Bahkan dari hari pertama menikah tak melakukan honey moon apapun, arvin begitu cuek terhadapnya.
Zakiya menatap riski yang tersenyum manis ke arahnya, dua gigi depan riski yang tumbuh itu sangat lucu.
Riski menyentuh pipi kanan zakiya dengan jari mungilnya, menepuk-nepuk pipi zakiya pelan.
Zakiya tersenyum melihat tingkah riski, riski seperti sedang menghiburnya disaat hatinya sedang tidak baik.
"Aku rasa, riski menyukaimu" ucap debora tersenyum pada zakiya.
Zakiya yang mendengar itu menaikan sudut bibirnya, tersenyum.
"Kiya, debora ini adalah kakek dari riski" jelas melati pada zakiya.
"Hemm" zakiya menganggukan kepalanya mengerti , ia tersenyum manis.
"Saya adalah kakeknya riski. Nama saya sebenernya bukan debora, tapi damian.
Istri saya telah meninggal karena sakit parah, jadi saya berperan sebagai kakek dan nenek disaat yang bersamaan.
Jika menjadi nenek, nama saya nenek debora.
Jika kakek, kakek damian" jelas debora sambil tersenyum.
"Riski adalah cucu pertama dari anak sulung saya, namanya revan. Dia berumur 26 tahun.
Revan hidup seorang diri sebagai single parent, istrinya meninggal saat melahirkan riski.
Revan bekerja sebagai CEO di perusahaan otomotif.
Meskipun, sesibuk apapun pekerjaannya, revan selalu ada untuk anaknya.
Bahkan, dia sering bekerja membawa anak "
Melati yang mendengar penuturan dari debora meneteskan air matanya karena terharu.
"Andai baby arvin seperti itu" ucap melati terisak-isak.
"Tapi, kenapa pak damian menitipkan nya pada kiya dan arvin?"
"Melati datang kerumah saya saat itu, dia bilang ingin meminjam riski selama sebulan.
Awalnya saya ragu meminjamkannya, karena takut anak saya akan marah.
Tapi karena melati memohon-mohon dan mengancam tak ingin pulang kerumah sebelum di pinjamkan.
Akhirnya saya setuju "
"Tapi, anak pak damian tahu riski dipinjamkan?"
"Tidak, revan sekarang sedang berada di luar negeri selama sebulan.
Revan tadinya ingin membawa riski, tapi saya menolaknya.
Saya ingin menjaga riski, tapi melati tiba-tiba sangat menginginkan nya. Apa boleh buat Hehehe.
Saya belum memberitahu revan bahwa riski disini.
Saya harap kamu bisa menjaga cucu saya "
"Iya pak, terima kasih" ucap zakiya sambil menyunggingkan senyumannya.
*****
Zakiya menatap riski yang sedang tertidur lelap, mertuanya dan pak damian sudah pergi dari 20 menit yang lalu.
Tinggal ia dan riski berdua disini.
Arvin juga belum pulang, zakiya memikirkan bagaimana nanti reaksi arvin melihat riski disini.
Zakiya menggelengkan kepalanya berusaha menghindari pikiran buruk.
"Riski kamu lucu deh , seandainya aja om arvin pengen punya bayi juga.
Pasti dia akan lucu seperti kamu.
Kamu tampan sekali, apa papamu setampan ini juga kah? " ucap zakiya tersenyum.
Ia mengelus pipi riski yang lembut.
"Aku sayang kamu baby" ucap zakiya lembut pada riski.
Zakiya mengelus perutnya yang masih rata, tidak salahkan jika ia ingin punya anak juga?
Tapi kapan? Zakiya menunduk melihat perutnya, ia bermimpi jika suatu saat nanti, ia dan arvin saling bahagia bersama dua anak yang lucu.
*****
TOK TOK TOK
Arvin mengetuk salah satu pintu kamar.
Ia menunggu sang pemilik kamar di depan pintu sambil bersiul.
Ceklek
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan vicky yang memakai baju panjang pink dan celana levis pendek selutut.
"Honey" ucap vicky girang.
Ia pun tersenyum senang melihat arvin dan memeluk tubuh arvin erat.
Arvin membalas pelukan vicky padanya dan mencium puncak rambut vicky.
"Rambut kamu wangi apel"
"Iyakah? Apa kamu suka?"
"Iya" ucap arvin menganggukan kepalanya.
Vicky melepaskan pelukannya pada arvin, ia menatap bola mata arvin yang bewarna coklat terang.
"Kamu jahat, kemana aja? Ga hubungin aku"
"Iya maaf ya"
"Yuk masuk" ucap vicky mempersilahkan arvin untuk masuk ke kamarnya.