Hanya membangunkan sang kaisar yang tertidur akibat sihir, hidupmu akan berubah drastis dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loserpryyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hebesus
"Kau mengingatkanku pada seseorang."
Mata gadis berkuncir dua tersebut tampak berbinar, kepalanya menengok ke kanan dan kiri seolah mencari keberadaan orang yang Hebesus maksud, "Oh ya? Siapa?"
Hebesus menggelengkan kepala, "Dia tidak ada di sini. Ada di dunia manusia."
"Oh masih hidup..." Gumam anak itu, nada suaranya berubah menyendu.
Hal itu sontak membuat Hebesus mengelus kepalanya lagi, karena merasa iba dengan perubahan sikap si gadis kecil di sampingnya, "Iya, dia... perempuan cantik sepertimu. Orang tuanya sudah meninggal, jadi sejak kecil diasuh bibi dan pamannya."
"Hebat sekali kakak itu, dia masih kuat untuk hidup sampai sekarang. Pasti bibi dan pamannya baik sekali, dia beruntung, tidak seperti aku."
"Tidak juga, bibinya itu pemarah sedangkan pamannya tidak peduli. Dia keras kepala dan selalu menganggap orang lain membencinya, oleh karena itu dia tumbuh menjadi orang yang keras atau tidak takut sesuatu. Bibinya bukan orang jahat, tapi mereka memang bukan orang tuan asli, jadi didikannya tidak cukup baik. Hingga temanku itu malah menyalahkan bibi dan pamannya."
"Wah, jadi kakak itu yang bandel. Harusnya dia tidak menyia-nyiakan kasih sayang yang didapat dari bibi dan pamannya."
"Karena terlalu keras, dia jadi kesulitan membedakan mana yang menasehati dan mana yang memarahi. Bibinya memang suka memukuli, temanku itu jadi menganggapnya benci."
Anak itu menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut, menggunakan kedua tangan, "Kasihan sekali dia..."
Acara pelepasan arwah sudah selesai, Hebesusu segera bangkit dari tempat duduk untuk segera pergi ke temoat lain, menjalankan tugasnya yang lebih penting ketimbang mendatangi acara pelepasan arwah, "Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi."
Sebelum Hebesus benar-benar pergi, gadus cilik itu memanggilnya dan memperkenalkan diri, "Oh iya, kak, namaku Sara. Siapa nama kakak?"
"En- maksudku Hebesus."
...---...
Usai kejadian yang membuat para warga menjadi ribut, Alice si mayat yang terbangun selaku pusat peristiwanya, kini malah duduk bersantai di depan rumah seraya menyesap minuman cokelat manis dari salah satu tetangganya.
Kata para penduduk sekitar, orang yang bangun setelah dinyatakan sudah meninggal, merupakan jiwa yang sedang diberi hadiah. Selain itu, kampung yang ditempatinya juga akam segera mendapatkan berkah. Maka dari itu, banyak sekali tetangga dan pejabat desa mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan makanan atau bingkisan hadiah lainnya. Mereka juga mengucapkan selamat atas kabar bahagia untuk keluarga Alice.
Sayangnya Alice tak cukup peduli akan hal itu. Ia juga tidak yakin kalau sudah mati. Baru semenit yang lalu rasanya ia bertemu jiwa si kaisar yang tertidur, Enrique.
Suara gedubrakan membuat atensinya beralih oada sekumpulan wanita paruh baya yang baru datang, di tangan mereka masin-masing terdapat makanan ataupun benda lain berupa jadian untuknya. Alice cukup bahagia ketika ada banyak makanan datang, sebab setiao harinya, rumah bibi Teresa ini sangat jarang kedapatan sesuatu yang bisa dimakan, "Alice, aku membawakan kukis blueberry untukmu. Dimakan ya... terus berbahagialah..." Ujar salah seorang wanita berbando.
"Aku juga bawa teh madu, untuk menjaga keshatanmu," sahut yang lainnya.
"Kami taruh di sini ya?" Tunjuk mereka pada menja kecil di samping kursi yang tengah Alice duduki.
Alice mengangguk, "Iya, terima kasih banyak."
Setelah menaruh buah tangan, para ibu rumah tangga itu bergegas pergi. Sebelum sempat berjalan menjauh pun mereka sudah bergosip dengan suara cukup keras, telinga Alice sampai terasa membesar saat bisa mendengarnya.
"Katanya dia ditusuk. Aneh sekali saat mendengar dia bangun kembali."
"Heei, terkena anak panah, bukan ditusuk."
"Tapi aku dengar lukanya seperti tusukan pedang, dan ada goresan-goresannya pula. Mana yang benar ini?"
"Yah, tidak tahu mana yang benar. Yang jelas dua-duanya tidak masuk akal, ketika ada orang yang ditusuk pedang atau terkena anak panah, bisa hidup lagi."
"Tidak masalah juga, ada hal baiknya kalau dia mati lalu kembali hidup. Semoga desa kita bisa benar-benar mendapat berkahnya."
Alice menggerlingkan bola mata, "Pada dasarnya bermuka dua ya bermuka dua saja! Pakai menyogok dengan makanan pula. Hal buruk apapun yang terjadi padaku, orang lain pasti senang!"
"Jangan begitu, mereka mengunjungimu untuk memberikan ucapan selamat atas keselamatanmu. Sebuah keberkahan besar ketika ada seseorang yang sudah nati mendapat kesempatan hidup kembali. Bersikaplah lebih baik, Alice," tutur bibi Teresa yang baru datang dari dalam, usai menyimpan makanan yang datang barusan, di meja depan rumahnya sudah terkumpul kembali.
Si keponakan mengalihkan pembicaraan karena malas dinasehati, "Di mana Jonathan tadi? Kenapa buru-buru pergi?"
"Katanya ada urusan. Dia pulang ke rumah sebentar, nanti kembali lagi."
"Oh ya? Aku tidak peduli," balasnya acuh seraya mengupas kulit jeruk.
Jawabannya itu sontak membuat bahu bibi Teresa merosot, Alice ya Alice, apapun yang terjadi tidak akan bisa berubah. Padahal sebelumnya, saat Alice bangkit dari kematian, ia sudah berharap kalau anak itu bangun dengan sisi yang berbeda, sisi yang lebih baik, "Tadi kau tanya, nak."
"Kalau begitu, saat dia datang lagi nanti, aku akan bersembunyi. Bibi katakan saja padanya, aku kabur lagi. Malas sekali aku dengannya..."
"Jangan begitu, dia sudah baik membantumu, membawakanmu pulang saat terluka."
"Itu karena dia tidak tahu harus berbuat apa selain membawaku pulang dan mengarang cerita. Coba, apa yang sudah dia katakan tentangku saat tubuhku penuh darah?"
"Dia bilang tidak tahu apapun. Saat kau sedang memisahkan diri, hal itu berlangsung cukup lama, membuat teman-teman sekelompokmu khawatir dan bertindak segera mencari, lalu mereka menemukanmu sudah... seperti itu."
Alice tidak yakin apakah bibi Teresa juga ikut menyembunyikan sesuatu. Tapi wanita paruh baya itu terlihat sama mencurigakannya dengan Jonathan.
"Apa ada yang salah? Sebenarnya, apa yang terjadi padamu, Alice?"
"Entahlah, aku juga lupa ingatan, haha."
...---...
Srak!
Jonathan meringkuk saat punggungnya kembali dihantam, kali ini menggunakan kain panjang yang ujungnya diikat simpul. Sudah lebih dari dua jam posisinya terus begini, ia tak bisa berkutik sama sekali karena kedua kaki dan tangannya diikat kencang.
Pria yang mencambukinya, masih dengan tatapan penuh amarah, tak berhenti menyalurkan rasa kemarahan itu dengan pukulan, "Mati saja kau, anak sialan! Bagaimana kalau pihak kerajaan sampai tahu kebenaran kejadian ini?! Mau ditaruh di mana muka ayah dan ibu, huh?!"
Jonathan masih terdiam, dengan keadaan punggung telanjangnya yang mulai menampakkan garis-garis merah keunguan.
"Nathan! Jawab! Kenapa kau melakukan hal seperti itu?!" Pria yang merupakan ayah dari Jonathan itu, masih menyentak putranya. Untuk mau membuka mulut, memang sejak tadi anak itu hanya diam menahan rasa sakit.
Tak lama kemudian kedua matanya tiba-tiba terasa memburam, tidak sampai sedetik, Jonathan langsung ambruk tak sadarkan diri.
Masih dengan menerima cambukan ayahnya yang makin menggila.
...Tale of The Sleeping Emperor...
nagis aja gak akan ada hasil
ada lanjutnya ga thor