NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Bara menatap tas bekal di tangan Andrea selama beberapa detik. Keheningan koridor terasa begitu pekat di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk mahasiswa lain yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Perlahan, tangan kekar Bara terangkat, menyambar tali tas kain itu dari jemari Andrea tanpa mengucapkan terima kasih.

"Masuk kelasmu," ujar Bara pendek, suaranya terdengar berat dan datar dari balik ekspresi dingin yang selalu ia agungkan. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Andrea yang masih berdiri menatap punggung tegapnya dengan senyuman yang tidak pudar sedikit pun.

Namun, ketegasan Bara sama sekali tidak menyurutkan ketulusan yang membakar dada Andrea. Hari-hari berikutnya di kampus justru memperlihatkan bagaimana Andrea bertransformasi menjadi sosok yang teramat manis dan penuh perhatian. Gadis itu seolah mendedikasikan seluruh perhatiannya hanya untuk Bara, mengabaikan fakta bahwa Bara sering kali hanya meresponsnya dengan tatapan abai atau gumaman singkat.

Setiap pagi sebelum jam kuliah pertama dimulai, Andrea selalu menemui Bara dan memberinya sesuatu yang bisa dinikmati. Seperti sebotol kopi susu kesukaan Bara yang lengkap dengan catatan kecil penyemangat yang ditulis tangannya sendiri. Bahkan, ketika hujan kembali mengguyur kampus dan Bara harus menghadiri kelas malam, Andrea rela menunggu berjam-jam di selasar gedung rektorat hanya untuk membawakan payung dan memastikan kemeja pria itu tidak basah oleh air hujan.

"Aku tidak minta kamu menungguku, Andrea," ucap Bara ketus suatu malam ketika mendapati Andrea berdiri menggigil di dekat tangga, memeluk sebuah payung besar.

"Aku tahu, Kak. Tapi aku cuma mau memastikan Kak Bara jalan ke parkiran dengan aman dan tidak jatuh sakit lagi," jawab Andrea lembut, sepasang matanya yang jernih menatap Bara dengan binar ketulusan yang teramat dalam. Andrea seolah siap melakukan apa saja, meluluhkan seluruh harga dirinya, demi menjadi tempat bersandar bagi sang predator yang ia tahu sedang memikul beban batin yang berat.

Melihat segala ketulusan, perhatian manis, dan kepasrahan yang disuguhkan Andrea secara cuma-cuma, pertahanan di dada Bara perlahan mulai terkikis lebih dalam. Setiap kali ia memakan bekal masakan Andrea atau membaca baris tulisan manis gadis itu, ada gelenyar aneh bercampur rasa hangat yang asing merayap di dadanya, mengacaukan skenario dendam yang telah ia susun rapi bersama teman-temannya. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran gadis itu di sisinya.

Sore itu, sepulang dari jam kuliah terakhir, Bara menghentikan langkahnya tepat di depan studio lukis tempat Andrea baru saja menyelesaikan kelasnya. Andrea terkejut saat melihat siluet tinggi besar Bara sudah bersandar di bingkai pintu, menatapnya dari balik kacamata hitam.

"Ikut aku," perintah Bara tanpa penjelasan.

Andrea mengerjapkan mata, namun tangannya dengan cepat membereskan tas dan mengikuti langkah lebar Bara menuju parkiran. Mobil sport hitam milik Bara melesat membelah jalanan kota yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, Andrea hanya diam memperhatikan rahang tegas Bara dari samping, tidak berani bertanya ke mana pria itu akan membawanya.

Namun, kejutan besar menanti Andrea ketika mobil itu berhenti di depan sebuah area semi-terbuka di pinggiran kota yang berkonsep industrial modern. Tempat itu adalah sebuah basecamp yang juga merupakan cafe privat kelas atas yang menjadi tempat tongkrongan eksklusif bagi Bara dan teman-temannya.

Suara raungan mesin mobil sport mewah dan tawa keras langsung menyambut kedatangan mereka.

Bara turun dari mobil, lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Andrea. Tindakan protektif yang tidak biasa itu membuat Andrea tertegun. Dengan gerakan lembut, Bara juga melingkarkan telapak tangan kokohnya di pinggang ramping Andrea, membimbing gadis cantik itu untuk masuk ke dalam.

Begitu langkah kaki Bara dan Andrea melewati pintu masuk utama, riuh rendah suara di dalam ruangan seketika senyap. Atmosfer tempat itu mendadak membeku.

Mike, yang sedang memegang stik biliard, langsung menghentikan gerakannya dengan mulut setengah terbuka. Teman-teman Bara yang lain juga saling berpandangan dengan raut wajah yang syok luar biasa. Bagaimana tidak. Seorang Bara Adikara, pria yang terkenal paling antikritik, dingin, dominan, dan tidak pernah mengizinkan wanita mana pun menginjakkan kaki di wilayah privasi mereka, kecuali Angel, kini datang dengan menggandeng seorang gadis yang tampak cantik dan anggun.

Namun, reaksi paling dramatis datang dari Angel. Wanita yang duduk di sofa utama itu langsung berdiri, cangkir minuman di tangannya bergetar hingga isinya sedikit tumpah. Matanya membelalak lebar, menatap tajam ke arah tangan Bara yang masih bertengger di pinggang Andrea. Rasa cemburu, syok, dan tidak percaya bercampur menjadi satu, membakar wajahnya seketika.

"Bar ... apa-apaan ini?" suara Angel meninggi, memecah kesunyian dengan nada menuntut yang bergetar. "Kenapa kamu membawa dia ke sini? Kamu tahu kan ini tempat rahasia kita? Kenapa gadis ini bisa ada di sini?!"

Bara tidak melepaskan rangkulannya pada Andrea. Ia justru mempererat cengkeraman tangannya, menarik tubuh Andrea sedikit lebih merapat pada tubuh kekarnya. Dengan wajah datar sempurna dan sorot mata yang teramat dingin menatap Angel, Bara menjawab dengan nada suara yang tak terbantahkan, "Karena aku yang menginginkannya. Mulai hari ini, dia bersamaku. Apa ada masalah?"

Melihat lengan Bara tetap merangkul pinggang Andrea dengan begitu protektif, amarah Angel benar-benar mendidih di puncak kepala. Ia melangkah maju dengan emosi memuncak, jemarinya menunjuk tepat ke arah wajah Andrea yang tampak takut dan berlindung di balik tubuh tegap Bara.

"Kamu ... dasar perempuan tak tahu diri! Berani-beraninya kamu masuk ke—"

"Angel, stop!"

Sebelum kalimat makian itu selesai, Mike bergerak cepat. Ia langsung menyambar pergelangan tangan Angel dan menarik wanita itu dengan paksa menjauh dari jangkauan Bara, mengabaikan teriakan protes dan umpatan yang keluar dari mulut Angel. Mike menyeretnya hingga ke sudut belakang basecamp, di dekat area parkir dalam yang sepi.

"Lepasin aku, Mike! Kamu apa-apaan sih?!" bentak Angel sambil menghempaskan tangan Mike dengan kasar. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena cemburu. "Kenapa kamu malah membela anak ingusan itu? Bara berubah sejak ada perempuan sialan itu!"

Mike menghela napas berat, mengacak rambutnya frustrasi sebelum menatap Angel dengan sorot mata yang teramat serius. "Angel, dengerin aku baik-baik," bisik Mike dengan suara ditekan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Kamu lupa siapa Bara? Kamu pikir dia beneran jatuh cinta secepat itu? Sadar, Angel! Semua ini, kedekatan mereka, bahkan tindakan Bara bawa dia ke sini, itu bagian dari skenario besar Bara untuk menghancurkan Selina melalui anak itu!"

Angel tertegun, napasnya yang memburu perlahan melambat.

"Bara tahu apa yang dia lakukan. Jadi, tolong jangan terlalu ikut campur dan merusak rencananya kalau kamu nggak mau dia mendepakmu dari lingkaran ini. Paham?" ucap Mike tajam, membuat Angel akhirnya terbungkam dengan rahang yang mengatup rapat menahan kekesalan.

Sementara ketegangan terjadi di lantai bawah, Bara sama sekali tidak mempedulikan sekelilingnya. Dengan langkah tegap tanpa ragu, ia menuntun Andrea menaiki undakan tangga menuju ke lantai dua. Ia membawa gadis itu ke sebuah ruangan privat kedap suara yang memiliki dinding kaca besar menghadap langsung ke arah jalanan di luar pagar. Tempat itu adalah area teritorial milik Bara, ruangan yang biasa ia gunakan untuk menyendiri.

Namun, begitu pintu ditutup dari dalam, perhatian Andrea langsung tertuju pada deretan botol alkohol berbagai merek yang berjejer di atas meja kaca dan sudut ruangan. Mengingat bagaimana berantakannya Bara malam kemarin akibat minuman keras, naluri perhatian Andrea langsung terusik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!