NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Maserati di Persimpangan

Di belakang Surya, suara gelas pecah menghantam lantai.

Ia tidak berhenti.

Malam Bintaro basah oleh sisa hujan. Lampu restoran memantul di aspal, pecah menjadi garis-garis kuning di genangan air. Surya berjalan ke tepi jalan sambil memasukkan flash disk cadangan ke saku dalam jaketnya.

Nadia pasti akan menelepon Kevin.

Kevin pasti akan bergerak.

Dan kalau bukti itu benar-benar sampai ke meja Budiman Tanuwijaya, keluarga Tanuwijaya tidak akan tinggal diam.

Surya memanggil ojek online. Namun, sebelum pesanan diterima, sebuah motor dari arah kanan melaju terlalu dekat. Ia mundur refleks.

Di saat yang sama, sebuah Maserati perak keluar dari parkiran gedung sebelah.

Kedua kendaraan itu hampir bersentuhan.

Surya menarik tubuhnya ke belakang. Namun, bahunya membentur spion Maserati. Spion itu terlipat keras. Motor sudah kabur lebih dulu, meninggalkan suara knalpot yang mengecil di tikungan.

Mobil mewah itu berhenti.

Surya berdiri kaku.

Jendela pengemudi turun perlahan.

Di baliknya, seorang perempuan muda menatapnya. Wajahnya tenang, kulitnya pucat bersih di bawah lampu jalan, rambutnya disanggul rendah. Tidak ada kemarahan di matanya. Justru, ada sesuatu yang aneh.

Seolah ia sudah menunggu Surya menoleh.

"Anda terluka?" tanyanya.

Surya sedikit terkejut oleh nada itu. Pemilik mobil semahal ini biasanya akan langsung memaki orang berpakaian biasa yang menyentuh spionnya.

"Tidak. Maaf, spion mobil Anda..."

Perempuan itu melihat spion, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Bisa diperbaiki."

"Saya akan ganti rugi."

"Tidak perlu."

"Tetap perlu." Surya mengeluarkan handphone. "Berapa biaya perkiraan?"

Perempuan itu menatapnya beberapa detik. "Kamu selalu begini?"

Surya mengerutkan kening. "Maaf?"

"Tidak apa-apa." Ia membuka aplikasi mobile banking, lalu meminta nomor rekening Surya. "Saya yang hampir membuatmu jatuh. Saya transfer dua juta untuk biaya pemeriksaan, kalau nanti bahumu sakit."

"Saya tidak bisa menerima itu."

"Anggap saja saya keras kepala."

Uang Rp 2.000.000 masuk ke rekening Surya sebelum ia sempat menolak lagi.

Nama pengirim hanya tertulis I. Tanuwijaya.

Surya menatap layar.

Tanuwijaya.

Nama itu membuat dadanya menegang.

Perempuan di dalam Maserati melihat perubahan kecil di wajahnya. Namun, ia tidak menjelaskan apa pun.

"Kamu benar-benar Surya Prasetyo, kan?"

Surya mengangkat mata. "Kita pernah bertemu?"

Senyum perempuan itu berubah sedikit. Bukan sedih. Bukan senang. Lebih seperti seseorang yang menemukan pintu lama masih terkunci.

"Surya Prasetyo..." suaranya rendah, nyaris hilang ditelan hujan. "Kamu benar-benar tidak ingat aku?"

Sebelum Surya bisa menjawab, kaca mobil naik.

Maserati perak itu melaju pelan, lalu menghilang di arus kendaraan.

Surya berdiri di trotoar, menatap lampu belakang mobil itu sampai tidak terlihat lagi.

I. Tanuwijaya.

Kevin Tanuwijaya.

Budiman Tanuwijaya.

Dan sekarang perempuan Maserati itu.

Nama keluarga itu seperti jaring yang tiba-tiba muncul di sekeliling hidupnya.

Handphone Surya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

"Saudara Surya Prasetyo?" suara perempuan di ujung sana terdengar tegas.

"Saya."

"Saya AKP Lim Mei Lu dari Dittipideksus Polda Metro Jaya. Kami perlu meminta keterangan Saudara terkait laporan aktivitas mencurigakan PT Mega Awan. Saat ini Saudara tercatat sebagai Direktur Utama dan pemegang saham mayoritas perusahaan tersebut."

Surya berhenti bernapas sebentar.

PT Mega Awan.

Nama itu pernah ia lihat sekilas di tumpukan dokumen yang Nadia suruh tanda tangani beberapa bulan lalu. Nadia bilang itu hanya urusan administrasi keluarga, pengajuan fasilitas bank, dan pembaruan kartu kredit.

"Saya tidak pernah menjalankan perusahaan itu," kata Surya.

"Itu yang perlu Saudara jelaskan di kantor kami. Petugas kami sudah berada dekat lokasi. Apakah Saudara bersedia ikut secara kooperatif?"

Pilihan kata itu halus.

Tetapi artinya jelas.

Kalau ia menolak, mereka punya cara lain.

Surya menutup mata sesaat. Kevin belum sempat membalas. Namun, perang sudah membuka pintu lain. Atau mungkin pintu ini memang sudah dipasang Nadia sejak lama.

"Saya ikut," katanya.

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil dinas berhenti di depan minimarket tempat Surya menunggu. Dua petugas turun. Mereka sopan. Namun, jarak tubuh mereka terlatih. Surya menyerahkan KTP, lalu masuk tanpa melawan.

Di Polda Metro Jaya, udara terasa berbeda. Dingin AC, bau kertas, suara langkah di koridor, dan mata para petugas yang terbiasa melihat orang berbohong.

AKP Lim Mei Lu menunggunya di ruang pemeriksaan.

Surya mengenali namanya sebelum mengenali wajahnya. Perempuan itu lebih muda daripada yang ia bayangkan. Namun, tatapannya tidak memberi ruang untuk diremehkan. Kemeja dinasnya rapi. Rambutnya diikat. Di meja depannya ada map berisi salinan akta pendirian, mutasi rekening, dan print out OSS.

"Duduk, Saudara Surya."

Surya duduk.

Meilu membuka halaman pertama. "PT Mega Awan. Akta pendirian dibuat di hadapan notaris. Direktur Utama: Surya Prasetyo. Pemegang saham: Surya Prasetyo enam puluh persen. Sisanya atas nama Benny Halim dan satu pemegang saham minoritas."

Ia menggeser kertas itu ke depan Surya.

Tanda tangannya ada di sana.

Rapi.

Jelas.

Surya menatap tanda tangan itu. Ada rasa dingin yang merambat dari punggung ke leher.

Nadia.

Ia ingat malam itu. Nadia menaruh banyak kertas di meja makan, menyuruhnya tanda tangan cepat karena "deadline bank". Pak Kusuma duduk di sofa, menatapnya seperti penjaga. Surya bertanya satu kali. Nadia membentak, "Kamu mau bantu keluarga atau cuma makan gratis?"

Ia menandatangani.

Seperti orang bodoh.

"Saudara tahu perusahaan ini menerima dana masuk dalam jumlah besar selama tiga bulan terakhir?" tanya Meilu.

"Tidak."

"Saudara pernah memberi kuasa kepada Benny Halim untuk menjalankan operasional?"

"Tidak."

"Saudara pernah membuka rekening perusahaan?"

"Tidak. Saya bahkan baru benar-benar membaca nama PT Mega Awan malam ini."

Meilu menatapnya lama.

"Saudara sadar jawaban seperti itu terdengar nyaman untuk orang yang ingin lepas tanggung jawab?"

"Saya sadar."

"Lalu kenapa saya harus percaya?"

Surya mengangkat wajah. "Karena kalau saya benar-benar mengendalikan perusahaan itu, saya tidak akan duduk di sini dengan pakaian yang sama sejak kemarin dan saldo rekening pribadi kurang dari biaya satu jam pengacara korporat."

Meilu tidak tersenyum.

Tetapi ujung penanya berhenti bergerak.

Surya mengeluarkan flash disk dari saku. "Ini bukan jawaban untuk Mega Awan. Tapi ini konteks. Istri saya, Nadia Kusuma, berselingkuh dengan Kevin Tanuwijaya. Saya baru mengetahui Kevin terkait PT Kencana Abadi dan Perkasa International. Saya juga baru tahu hidup saya dijadikan target polis asuransi. Kalau PT Mega Awan dipakai sebagai perangkap, saya perlu tahu siapa yang menaruh nama saya di sana."

Meilu tidak mengambil flash disk itu langsung.

"Ini bukti apa?"

"CCTV kompleks tempat tinggal saya. Petunjuk perselingkuhan dan kemungkinan motif."

"Bukti perselingkuhan tidak otomatis menghapus tanggung jawab korporasi."

"Saya tahu." Surya menatap akta di meja. "Tapi kalau ada pola: polis asuransi, donor ginjal, perusahaan atas nama saya, dana masuk yang saya tidak tahu, maka posisi saya lebih rumit dari tersangka yang berbohong. Saya bisa jadi korban yang sedang dijadikan firewall."

Kata itu membuat Meilu mengangkat alis.

Firewall.

Istilah yang tepat.

Ia mengambil flash disk dengan sarung tangan tipis, memasukkannya ke amplop barang bukti sementara, lalu memberi tanda kepada petugas di luar.

"Saudara Surya, untuk malam ini Saudara belum kami tahan. Tapi Saudara tidak boleh menghilang. Nomor aktif, alamat jelas, dan siap dipanggil kapan saja."

Surya menahan napas yang hampir keluar terlalu cepat.

"Saya mengerti."

"Saya juga akan meminta tim memeriksa Benny Halim dan aliran dana PT Mega Awan." Meilu menutup map. "Kalau Saudara berbohong, saya sendiri yang akan menjemput Saudara lagi."

"Kalau saya tidak berbohong?"

Meilu berdiri. "Maka Saudara sebaiknya mulai mencari pengacara yang bagus. Karena orang yang menaruh nama Saudara di akta itu tidak sedang bermain kecil."

Surya ikut berdiri.

Di koridor Polda, ia menyalakan handphone. Pesan dari Nadia belum berhenti. Pesan dari nomor tidak dikenal juga masuk.

Jangan sentuh Kevin.

Surya menghapus notifikasi itu tanpa membalas.

Namun saat berjalan keluar dari gedung Polda, pikirannya justru kembali ke Maserati perak.

I. Tanuwijaya.

Suara perempuan itu masih tertinggal di telinganya.

Kamu benar-benar tidak ingat aku?

Enam tahun lalu, apa yang pernah ia lupakan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!