NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Jejak di Dalam Bayangan

Pagi membeku di Lembah Batu Pecah. Kabut tebal merayap lambat di permukaan tanah, membawa bau lembap tanah dan dedaunan busuk. Di tengah halaman yang masih menyisakan retakan bekas pertempuran, Sun Chen sudah berdiri tegak, merapatkan jubah sederhananya untuk menahan tusukan angin dingin.

Di hadapannya, Chou Tian berdiri bersedekap. Wajah kaku sang guru tampak kian pucat di bawah temaram fajar, dan garis-garis kerutan di dahinya terlihat lebih dalam dari biasanya. Kendati demikian, berdiri tegak di sana, pria tua itu tetap memancarkan ketegaran yang tak tergoncangkan.

"Latihan hari ini bukan lagi soal seberapa keras kau memukul," suara Chou Tian terdengar rendah, bergetar tipis di tenggorokan. "Hari ini, kau akan belajar melihat apa yang tak terlihat."

Chou Tian melangkah ke samping untuk memperagakan gerakan tumpuan kaki. Namun, tepat saat kaki kirinya menjejak tanah, tubuh tuanya goyah. Langkahnya meleset setengah jengkal, dan dada pria tua itu terkulai sedikit ke depan.

Itu hanya kecelakaan sepersekian detik. Dengan cepat, Chou Tian memutar pinggulnya, menyamarkan kehilangan keseimbangan itu menjadi sebuah kebasan lengan yang anggun dan bertenaga. Pria biasa mungkin melihatnya sebagai bagian dari jurus, tetapi mata Sun Chen tidak bisa dikelabui.

Hati Sun Chen berdenyut perih. Ia tahu betul, racun di dalam tubuh gurunya sedang menggerogoti meridian utama dari dalam, merusak koordinasi saraf dan tenaganya secara perlahan.

"Fokus, Sun Chen!" tegur Chou Tian tegas, seolah sadar muridnya sedang memperhatikannya dengan cemas. "Jangan biarkan matamu terganggu oleh hal-hal di sekitarmu!"

"Baik, Guru," jawab Sun Chen pendek, menyembunyikan badai emosi di dalam dadanya.

Chou Tian melangkah ke tengah halaman, lalu menyuruh Sun Chen duduk bersila di atas rumput basah.

"Musuh sejati di dunia persilatan jarang mengetuk pintu depan sambil berteriak," kata Chou Tian seraya mengelilingi Sun Chen. "Mereka bersembunyi di balik bayangan, menekan niat membunuh, dan menunggu saat kau paling lemah. Jika kau hanya mengandalkan mata dan telingamu, kau sudah mati sebelum sempat mencabut senjata."

Chou Tian menepuk bahu kecil Sun Chen. "Pejamkan matamu. Salurkan benih Qi dari dantianmu naik ke pelipis dan telinga. Rasakan perubahan kecil pada angin, daun yang jatuh, dan getaran tanah."

Sun Chen menuruti instruksi tersebut. Ia memejamkan mata, membuang seluruh deru napasnya, dan membiarkan benih Qi keemasan di dalam dantiannya berputar halus. Aliran hangat itu merambat naik, melapisi indra pendengaran dan perasaannya.

Awalnya, dunia di sekitar Sun Chen terasa sangat bising. Ia mendengar desir angin yang menabrak tebing, gemericik air terjun di belakang gubuk, dan gesekan daun-daun pinus yang saling berbenturan. Ia bahkan bisa mendengar langkah kaki serangga kecil yang merayap di atas tanah.

"Singkirkan suara alam," bisik Chou Tian dari jarak tiga langkah. "Cari getaran yang tidak selaras dengan lembah ini."

Sun Chen memperdalam meditasinya. Ia menyaring setiap suara alami, membiarkan pikirannya melayang semakin jauh, melewati halaman gubuk, menembus kerapatan tebing, hingga mencapai puncak-puncak batu raksasa yang mengelilingi lembah.

Tiba-tiba, di ujung indra spiritualnya yang baru mekar, Sun Chen menangkap sesuatu.

Jauh di atas tebing batu sebelah timur, tertutup oleh kerapatan semak-semak dan deburan kabut, ada dua hembusan napas yang sangat tertahan. Pernapasan itu terlalu teratur untuk ukuran hewan liar, dan ada getaran tekanan asing yang sengaja ditekan rapat-rapat agar menyatu dengan angin.

Dua pasang mata sedang mengawasi mereka dari atas sana.

Sun Chen membuka matanya seketika. Napasnya terengah tipis, dan ia mendongak menatap puncak tebing timur yang berselimut kabut.

Chou Tian memperhatikan perubahan raut wajah muridnya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang sangat jujur.

"Kau merasakannya," kata Chou Tian bangga. "Dua ekor lalat di atas tebing sana. Kau telah berhasil membuka indra spiritual dasarmu, Sun Chen."

Sun Chen mengangguk pelan, rasa kagum terpancar di batinnya. Latihan pernapasan dan penyelarasan Qi yang diajarkan gurunya terbukti sanggup membuka potensi indra batinnya jauh lebih cepat daripada metode kekerasan yang dulu pernah ia jalani.

Sementara itu, jauh di atas tebing batu sebelah timur.

Dua orang pengintai dari organisasi pemburu sedang tengkurap di balik bebatuan. Salah satu dari mereka baru saja menurunkan teropong kecilnya dengan tangan yang gemetar tipis.

"Kau menyadarinya?" bisik pengintai pertama, wajahnya pucat pasi.

"Maksudmu apa?" tanya pengintai kedua seraya mengusap peluh di dahinya.

"Bocah empat tahun di bawah sana..." pengintai pertama menelan ludah dengan susah payah. "Saat dia duduk bersila tadi, dia mendadak mendongak dan menatap lurus ke arah tebing ini. Tepat ke posisi kita!"

Pengintai kedua mengerutkan dahi, tertawa kecil meremehkan. "Kau terlalu paranoid. Mana mungkin seorang balita bisa merasakan keberadaan kita dari jarak sejauh ini? Kita sudah menekan Qi kita sampai batas maksimal!"

"Aku tidak bercanda!" bisik pengintai pertama penuh penekanan. "Matanya... tatapan matanya seolah bisa menembus kabut dan melihat wajah kita! Bakat bocah ini tidak masuk akal. Laporan dari pusat pasti salah!"

Tanpa membuang waktu lagi, pengintai pertama merogoh kantong jubahnya, mengeluarkan seekor burung merpati kecil berbulu kelabu. Ia menuliskan sebuah pesan singkat di atas kertas tipis, mengikatkannya ke kaki burung itu, lalu melepaskannya terbang tinggi menerobos kabut menuju arah utara.

Di halaman gubuk, Sun Chen yang melihat kepakan teropong dan bayangan burung dari kejauhan langsung bangkit berdiri.

"Guru, mereka mengirim pesan," kata Sun Chen, jemarinya terkepal. "Izinkan saya naik ke tebing itu dan menghabisi mereka."

"Duduk," perintah Chou Tian dingin, memotong niat muridnya seketika.

Sun Chen tertegun. "Tapi Guru, jika mereka memanggil bantuan—"

"Pendekar yang gegabah keluar dari kandangnya demi mengejar umpan kecil adalah pendekar yang sedang berjalan menuju kuburannya sendiri," potong Chou Tian tegas, menatap Sun Chen dengan mata yang tajam. "Musuh sengaja menempatkan pengintai di sana untuk memancing kita. Jika kau nekat memanjat tebing itu, kau hanya akan masuk ke dalam jebakan yang lebih besar."

Chou Tian melangkah mendekati Sun Chen, menepuk bahunya. "Biarkan mereka mengawasi. Tugasmu saat ini bukan berburu, melainkan memastikan raga dan langkahmu siap saat badai yang sebenarnya datang."

Sun Chen menarik napas panjang, meredam gejolak amarahnya. "Murid mengerti."

Latihan berlanjut ke tahap berikutnya: latihan kecepatan dan kelincahan raga.

Di bagian barat halaman, Chou Tian telah menyiapkan lintasan berbahaya. Ia menancapkan puluhan tiang kayu dengan ketinggian berbeda di atas rawa kecil, membentangkan tali rotan licin di antara batu-batu raksasa, dan menaruh batang-batang pohon tumbang yang dilapisi lumut basah.

"Lewati lintasan ini," kata Chou Tian seraya memegang sebatang bambu. "Jangan biarkan kakimu menyentuh tanah rawa. Jaga benih Qi di dantianmu tetap mengalir ke telapak kaki saat kau melompat."

Sun Chen tidak menunda. Ia melompat ke atas tiang kayu pertama.

Srak!

Permukaan kayu yang licin oleh embun pagi membuat kakinya terpeleset seketika. Sun Chen terlempar dan jatuh terjerembap ke dalam lumpur rawa yang dingin.

"Ulangi!" seru Chou Tian tanpa rasa kasihan. "Jangan hanya mengandalkan berat badanmu! Tebarkan Qi ke telapak kakimu seperti akar pohon yang mencengkeram batu!"

Sun Chen bangkit dari lumpur, mengusap wajahnya yang kotor, lalu kembali melompat.

Berkali-kali ia jatuh, terhempas menghantam batu, dan tergores tali rotan yang tajam. Namun, Sun Chen terus mencoba. Ia mulai menyesuaikan penyebaran Qi di telapak kakinya. Saat kakinya menyentuh tiang kayu, ia menyalurkan seutas benih Qi hangat untuk menciptakan daya dorong dan daya cengkeram instan, lalu membiarkan tubuhnya melayang ringan menuju rintangan berikutnya.

Sore harinya, gerakan Sun Chen sudah berubah drastis. Ia melompati tiang-tiang kayu, meniti tali rotan yang licin, dan menerobos batang pohon tumbang dengan kecepatan luar biasa. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara, bagaikan seekor burung bangau yang menari di atas air.

Brak!

Di ujung lintasan, Sun Chen mendarat di atas batu datar dengan sempurna. Ia memutar tubuhnya dan melayangkan satu pukulan lurus dasar Tinju Penghancur Gunung ke udara.

Wus!

Pukulan itu tidak lagi kaku. Langkah kaki yang lincah, lecutan pinggul, dan dorongan Qi dari dantiannya menyatu sempurna dalam satu gerakan yang lancar. Pukulan lurusnya memotong udara dengan suara desingan yang jauh lebih tajam dari hari-hari sebelumnya.

Chou Tian yang berdiri di tepi lintasan mengangguk puas. Benih tenaga dalam di dalam tubuh muridnya kini semakin stabil, dan teknik dasarnya mulai meresap ke dalam tulang dan dagingnya.

Malam pun jatuh. Sun Chen yang kelelahan usai latihan berat disuruh masuk ke gubuk untuk membersihkan diri dan beristirahat.

Begitu pintu gubuk tertutup rapat, Chou Tian yang berdiri sendirian di halaman mendadak membungkuk dalam. Pria tua itu memegang dadanya yang terasa seperti dihantam bongkahan batu panas.

Uhuk! Uhuk!

Chou Tian terbatuk hebat, menahan suara batuknya agar tidak terdengar ke dalam gubuk. Ia memuntahkan seteguk darah kental berwarna hitam pekat ke atas rumput.

Urat-urat hitam akibat Qi Racun Bayangan Hitam kini telah menjalar semakin tinggi, merayap dari leher hingga mendekati rahang bawahnya. Beberapa meridian utamanya telah hancur, membuat aliran tenaga dalamnya bergejolak tidak menentu.

Chou Tian mengusap darah di bibirnya dengan gemetar. Matanya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.

"Sedikit lagi..." bisik Chou Tian pada keheningan malam, suaranya sangat parau. "Berikan aku waktu sedikit lagi..."

Sementara itu, jauh di markas besar organisasi pemburu.

Burung merpati kelabu yang dikirim oleh pengintai mendarat di jendela sebuah ruangan batu yang luas. Seorang pengawal segera mengambil pesan itu dan menyerahkannya kepada pria berjubah hitam yang duduk di atas kursi batu.

Pria berjubah hitam membaca gulungan kertas tipis itu di bawah cahaya remang lilin. Matanya yang dingin menyipit saat membaca laporan tentang bakat Sun Chen yang sanggup merasakan keberadaan pengintai dari jarak jauh.

"Bocah empat tahun itu... sudah bisa menggunakan indra spiritual dasar?" gumam pria berjubah hitam, suaranya mengandung nada terkejut sekaligus kecemasan yang nyata.

Lu Gu yang berdiri di samping kursi batu dengan dada masih terbebat kain kassa ikut terhenyak. "Apa? Mana mungkin?!"

Pria berjubah hitam meremas kertas itu hingga hancur menjadi abu. "Rencana berubah. Kita tidak bisa menunggu Chou Tian mati perlahan oleh racun. Perkembangan bocah itu terlalu berbahaya jika dibiarkan. Jika dia tumbuh beberapa tahun lagi, dia akan menjadi ancaman terbesar bagi organisasi kita!"

Pria itu berbalik, menatap tajam ke arah Lu Gu dan seorang pria asing yang berdiri di kegelapan sudut ruangan.

"Kumpulkan seluruh ahli elit yang ada!" perintah pria berjubah hitam dengan nada penuh paksaan mutlak. "Gempur Lembah Batu Pecah besok malam! Tangkap bocah itu hidup-hidup, dan ratakan tempat itu dengan tanah!"

Malam semakin larut di Lembah Batu Pecah.

Di luar gubuk bambu, Sun Chen kembali duduk bermeditasi di atas batu datarnya. Benih Qi di dalam dantian bawahnya berputar dengan sangat stabil, mengalirkan rasa hangat yang memulihkan seluruh otot-ototnya yang memar.

Namun, saat peredaran energinya mencapai puncak pertengahan malam, indra spiritual dasar yang baru dibukanya tadi siang mendadak bergetar hebat.

Sesuatu yang sangat mengerikan sedang mendekat.

Jauh di atas puncak tebing batu sebelah barat—tebing yang berbeda dari posisi pengintai tadi siang—sebuah kilatan niat membunuh yang amat pekat, dingin, dan pekat menembus kegelapan malam.

Sun Chen membuka matanya seketika. Bulu kuduknya berdiri tegak.

Di atas tebing barat tersebut, belasan sosok bergaun hitam pekat telah berdiri berjejer dalam keheningan yang mematikan. Jumlah mereka jauh lebih banyak dan aura mereka jauh lebih ganas daripada pasukan yang dibawa Lu Gu sebelumnya.

Di tengah-tengah kelompok pembunuh elit itu, berdiri seorang pria tinggi tegap yang mengenakan jubah berwarna merah gelap. Dari tubuh pria itu, memancar aura tenaga dalam yang sangat masif, ganas, dan berbau amis darah yang menyengat—sebuah keberadaan yang jauh lebih mengerikan daripada Lu Gu.

Pria berjubah merah gelap itu menundukkan kepalanya, menatap lurus ke arah gubuk bambu Chou Tian di dasar lembah yang sunyi.

Bibirnya terangkat, memperlihatkan senyuman dingin yang mengerikan di balik kegelapan malam.

"Besok malam..." suara pria berjubah merah itu berbisik pelan, tersapu oleh angin malam yang dingin. "Bocah itu akan menjadi milik kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!