Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Malam makin larut di kawasan elite Los Angeles, namun di dalam ruang kerja megah kediaman keluarga Widmer, atmosfer terasa begitu membakar.
Suasana yang biasanya hening kini pekat oleh aura kemurkaan yang tak tertahankan.
Abner Widmer berdiri di dekat meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati tua. Di hadapannya, asisten pribadinya menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar, menyerahkan sebuah lembaran dokumen rahasia yang baru saja didapatkan dari peretas jaringan data sipil dan gereja lokal.
"A-apa yang kau katakan ini benar?!" suara bariton Abner menggelegar, memecahkan keheningan ruangan.
Napas pria paruh baya itu memburu hebat. Jemari tegapnya meremas kertas dokumen tersebut hingga renyuk.
Di lembaran kertas itu, tertera dengan sangat jelas pasfoto Rossi Widmer—putri kandungnya yang selama ini ia cari—disandingkan dengan foto Rowan Vale-Knight.
Di bawah foto mereka, stempel hukum dan tanda tangan saksi gereja mengonfirmasi sebuah kenyataan yang teramat gila: Rossi Widmer dan Rowan Vale-Knight telah menikah secara sah di mata hukum.
"Benar, Tuan Besar..." bisik sang asisten dengan suara bergetar. "Tuan Rowan... beliau telah menikahi Nyonya Muda Rossi secara rahasia Minggu lalu. Saat ini Nyonya Muda berada di Mansion Utama keluarga Vale-Knight."
"Sialan!"
PRANG!
Abner membalikkan meja kerja mewahnya hingga seluruh pajangan kristal dan cangkir porselen hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Urat-urat di leher dan dahinya menegang menahan amarah yang membuncah hingga ke ubun-ubun.
"Beraninya pria Knight itu menikahi putriku tanpa izin dariku?!" teriak Abner dengan mata memerah penuh murka.
Di dalam benak Abner, sosok Rowan bukanlah menantu ideal.
Selama empat tahun terakhir ini, Abner menyaksikan sendiri bagaimana dingin dan kaku-nya Rowan terhadap Cathez.
Di mata Abner, Rowan adalah pria yang selalu tutup mata dan mengabaikan istrinya, membiarkan pernikahan mereka menjadi dingin bak es tanpa gairah dan kasih sayang.
Yang ada di kepala Abner hanyalah ingatan tentang bagaimana Rowan memperlakukan Cathez dengan begitu acuh tak acuh.
"Aku membuang dan menyembunyikan Rossi selama bertahun-tahun untuk melindunginya... dan sekarang, pria dingin itu justru menjadikannya istri kedua?!" murka Abner makin menjadi-jadi, membayangkan putri kandungnya yang polos akan bernasib sama tragisnya dengan Cathez—diabaikan, dijadikan simpanan rahasia, dan dijadikan pelampiasan tanpa rasa cinta.
Rasa tidak terima dan keadilannya sebagai seorang ayah yang ingin menebus dosa masa lalu membuat Abner gelap mata.
"Siapkan seluruh pengawal!" perintah Abner dengan nada dingin yang mematikan. "Malam ini juga... jemput putriku kembali! Aku tidak akan membiarkan Rossi membusuk di tangan pria Knight berengsek itu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di Mansion Utama Vale-Knight, kehangatan malam baru saja tercabik oleh sebuah kebenaran yang meledak bagaikan bom waktu.
Di dalam ruang keluarga utama, Nyonya Suzzy duduk tertegun di atas sofa. Di tangannya, terpapar dokumen salinan pernikahan rahasia yang baru saja diserahkan oleh tim hukum keluarga atas perintah Kaelor.
Di hadapan Suzzy, Rowan berdiri kaku dengan wajah tegap dan penuh penyesalan, sementara Rossi duduk di samping Suzzy dengan kepala menunduk.
Sik shak shok!
Kehancuran rasa percaya mendera hati Suzzy.
Senyuman gembira yang baru beberapa jam lalu menghiasi wajah anggun sang Mommy kini musnah tanpa sisa. Suzzy menatap putranya dengan pandangan tidak percaya, matanya berkaca-kaca dipenuhi kekecewaan yang amat dalam.
"Kau... kau sudah menikahi Rossi?" suara Suzzy bergetar hebat, menahan tangis dan amarah yang menyatu di dadanya. "Secara rahasia? Di belakang Mommy dan Daddymu?!"
"Mommy, dengarkan aku dulu—" Rowan mencoba melangkah mendekat.
"Tutup mulutmu, Rowan!" bentak Suzzy dengan histeris, berdiri seketika dari duduknya.
Pria tegap seperti Rowan bahkan mundur satu langkah mendengar teriakan penuh luka dari ibunya.
"Kau menganggap pernikahan ini permainan apa, Rowan?!" tangis Suzzy pecah, menunjuk dada putranya dengan jari yang gemetar. "Kau masih terikat pernikahan sah dengan Cathez! Dan kau secara diam-diam menikahi Rossi... menjadikannya istri kedua dalam ikatan rahasia yang terisolasi?! Kau membuat gadis polos ini menanggung beban moril dan stigma yang begitu berat, Rowan!"
Suzzy merasa sangat hancur karena ia baru saja memberikan kasih sayangnya pada Rossi sebagai "calon menantu", namun kenyataannya putranya telah mengikat gadis itu dalam sebuah pernikahan rahasia yang ilegal di mata hukum sebelum perceraian Cathez selesai.
"Mommy tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria pengecut yang menyembunyikan istrinya seperti ini!" cecar Suzzy lagi, air matanya menetes di pipinya yang merona.
Rossi yang melihat kebaikan Suzzy tercabik-cabik mendadak merasa dadanya sesak luar biasa. Gadis itu ikut berdiri, hendak memegang tangan Suzzy untuk menenangkan ibu mertuanya. "Mommy... ini bukan sepenuhnya salah Rowan... Saya yang—"
BAM! BAM! BAM!
Sebelum Rossi sempat menyelesaikan kalimatnya, suara gedoran dahsyat di pintu depan mansion menggetarkan seluruh ruangan.
Suara keributan dari luar terdengar membahana. Puluhan langkah kaki berat memaksa masuk, disusul oleh suara seruan para pengawal keluarga Knight yang mencoba menahan gelombang penyusup.
Brak!
Pintu ganda ruang keluarga terdorong terbuka secara kasar. Abner Widmer melangkah masuk dengan tubuh tegapnya, dikawal oleh belasan pria berbadan besar berpakaian serba hitam.
Matanya yang tajam dan memerah scan seluruh ruangan hingga akhirnya terkunci rapat pada sosok Rossi yang berdiri di dekat Suzzy.
"Rossi!" panggil Abner dengan suara serak yang penuh ketegangan, dadanya naik-turun melihat putri kandungnya dalam keadaan selamat.
Rowan dengan cepat pasang badan, melangkah ke depan dan menyembunyikan tubuh Rossi di belakang punggung tegapnya.
"Tuan Abner Widmer... beraninya kau menerobos malam-malam begini!"
"Singkirkan tubuhmu dari hadapanku, Rowan!" bentak Abner murka, menunjuk wajah Rowan dengan penuh kebencian. "Kau pria tidak tahu diri! Kau sudah memiliki Cathez, dan sekarang kau menyembunyikan dan menikahi putri kandungku secara rahasia?! Kau pikir aku akan membiarkan Rossi menjadi korban dari kedinginan dan kebiadabanmu seperti yang kau lakukan pada Cathez?!"
Suzzy yang sedang emosi pada putranya, seketika memasang mode protektif saat melihat kedatangan Abner.
Sebagai seorang ibu dan Nyonya Besar keluarga Knight, Suzzy tidak akan membiarkan siapa pun mengancam keselamatan orang-orang di bawah atap rumahnya.
Suzzy melangkah maju, berdiri sejajar dengan Rowan, menatap Abner dengan pandangan hina yang teramat tajam.
"Jaga mulutmu, Abner Widmer!" tegur Suzzy dengan nada suara yang begitu dingin dan berkuasa. "Kau datang ke sini bertingkah seolah-olah kau adalah ayah yang paling suci di dunia! Di mana kau selama belasan tahun saat putri cantikmu ini menderita di desa?!"
Wajah Abner memucat mendengar sindiran Suzzy, namun amarahnya membiaskan rasa bersalah itu. "Itu urusan keluargaku, Nyonya Knight! Aku datang ke sini untuk membawa pulang putri kandungku dari tangan pria berengsek yang menginjak-injak harga dirinya!"
Abner mengulurkan tangannya ke arah Rossi, matanya memancarkan kerinduan dan keputusasaan seorang ayah.
"Rossi... Ikut Ayah pulang, Nak!" seru Abner, suaranya bergetar. "Ayah baru tahu semuanya... Ayah tahu bagaimana Mariella menyiksamu dan memalsukan surat-surat itu! Ayah datang untuk menyelamatkanmu, Rossi! Pria ini... Rowan ini... dia hanya memanfaatkanmu! Dia tidak benar-benar mencintaimu! Dia hanya menjadikannya istri kedua di bawah bayang-bayang ikatan hukumnya dengan Cathez!"
Suasana di dalam ruang keluarga seketika menjadi begitu hening dan mencekam. All eyes on Rossi.
Rowan membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Rossi dengan kilatan kecemasan yang teramat dalam. Pria itu mencengkeram jemari Rossi, takut... sangat takut jika gadis ini akan memilih pergi bersama ayah kandungnya setelah mengetahui kekacauan ini.
Abner menatap Rossi dengan penuh harapan, memohon agar putrinya mengulurkan tangan dan menerima perlindungannya.
Namun, Rossi berdiri membeku.
Gadis yang biasanya bersikap polos dan lembut itu kini menatap Abner dengan pandangan yang teramat dingin—sebuah tatapan tanpa jiwa yang membuat bulu kuduk Abner berdiri.
Tidak ada rasa haru, tidak ada air mata kerinduan, dan tidak ada kehangatan seorang anak pada ayahnya di mata Rossi.
Rossi melepaskan pegangan tangan Rowan perlahan, lalu mengambil satu langkah maju. Ia berdiri tepat di depan Rowan, melindungi suaminya dari tatapan Abner.
"Pulang?" bisik Rossi, suaranya yang halus namun dingin membelah keheningan ruangan.
Rossi menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman paling getir dan menyakitkan yang pernah Abner lihat seumur hidupnya.
"Ke mana aku harus 'pulang', Tuan Abner Widmer?" tanya Rossi dengan nada sinis. "Ke vila dingin di mana aku dipaksa menyikat kandang kuda sampai jemariku berdarah? Atau ke tempat di mana kau dan Bibi Mariella menjualku ke klab malam?"
"Rossi... demi Tuhan, Ayah tidak pernah menjualmu! Itu semua ulah Mariella!" teriak Abner frustrasi, air mata penyesalan mulai menetes di pipinya. "Ayah mencarimu! Ayah menyayangimu!"
"Cukup!" potong Rossi dengan nada meninggi, matanya membelalak penuh kebencian yang mendalam.
"Jangan pernah sebut dirimu 'Ayah' di hadapanku!" seru Rossi dengan suara yang bergetar hebat oleh rasa sakit masa lalu. "Dalam ingatanku, tidak pernah ada sosok ayah! Kau hanyalah orang asing yang mengirimkan surat caci maki dan membiarkanku membusuk di pedesaan!"
Rossi menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya sedikit, merengkuh lengan tegap Rowan dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu di depan mata Abner.
"Aku tidak memiliki ayah... ataupun siapa pun di dunia ini," ujar Rossi dengan ketegasan mutlak, menatap Abner tanpa rasa takut sedikit pun.
"Satu-satunya orang yang memelukku saat aku Menyerah... satu-satunya orang yang memberiku kehangatan dan tempat berteduh adalah pria ini," Rossi menengadahkan kepalanya, menatap wajah Rowan dengan pendar cinta dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
"Rowan... Rowan dan aku sudah menikah, Abner!" pungkasi Rossi dengan nada menekankan setiap patah katanya. "Aku adalah istrinya secara hukum! Dan aku tidak akan pernah melangkah satu senti pun dari samping suamiku!"
Deg.
Kata-kata Rossi bagaikan pedang tajam yang menghantam dan meremukkan dada Abner tanpa sisa. Pria paruh baya itu mundur beberapa langkah dengan tubuh limbung. Pengawalnya dengan cepat menahan tubuh Abner yang tampak kehilangan seluruh dayanya.
Hatinya hancur berkeping-keping mendengarkan putri kandungnya sendiri menolak keberadaannya dan lebih memilih bertahan di sisi pria yang paling ia benci.
Rowan yang mendengar pengakuan jujur dan pembelaan mutlak dari Rossi merasakan dadanya meletup oleh rasa haru dan cinta yang luar biasa. Pria tegap itu melingkarkan lengan berototnya di pinggang Rossi, menarik tubuh istrinya rapat-rapat ke dalam dekapannya, memberi pesan tegas pada Abner bahwa Rossi adalah miliknya secara mutlak.
Suzzy yang menyaksikan pemandangan itu mengusap air matanya yang menetes. Kemarahannya pada Rowan seketika luluh digantikan oleh rasa iba dan kekaguman yang luar biasa pada keteguhan hati Rossi.
"Kau dengar itu, Abner Widmer?" tegur Suzzy dengan nada dingin dan penuh kemenangan. "Putrimu sendiri yang menolakmu! Sekarang, angkat kaki dari rumahku sebelum aku memerintahkan seluruh pengawal keluarga Knight untuk menembak kakimu!"
Abner menatap Rossi untuk terakhir kalinya dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. Namun Rossi tidak berpaling, ia tetap menyandarkan tubuhnya erat-erat pada Rowan.
Dengan hati yang hancur dan tubuh yang gemetar, Abner akhirnya membalikkan tubuhnya dengan pasrah, melangkah pergi keluar dari Mansion Utama diseret oleh para pengawalnya.
Pintu mansion kembali tertutup rapat. Keheningan malam menyelimuti ruangan itu kembali, menuntaskan satu babak krisis besar dengan ikatan cinta antara Rowan dan Rossi yang kini makin mengakar kuat, tak tergoyahkan oleh siapa pun.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰