Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Langkah Pertama di Tengah Badai
Hujan belum juga reda, Arunika masih duduk di bangku halte dengan koper tua di sampingnya. Angin malam berembus dingin, membuat tubuhnya yang basah menggigil.
Orang-orang yang berlalu-lalang hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada seorang pun yang mengenali putri sulung keluarga Mahardika.
Beberapa jam yang lalu, ia masih tinggal di rumah mewah dengan segala kemewahannya. Kini, ia bahkan tidak tahu di mana harus menghabiskan malam.
Perutnya kembali berbunyi pelan.Sejak pagi, ia belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya. Arunika membuka tas kecilnya.
Ia menghitung isi dompet, Satu lembar uang lima puluh ribu rupiah. Beberapa keping uang logam. Hanya itu.
Ia tersenyum getir.
"Setidaknya... aku masih punya cukup untuk makan sekali."
Ia bangkit dari duduknya, menyeret koper menuju warung kecil yang masih buka di seberang jalan.
"Bu... nasi goreng satu."
Pemilik warung, seorang wanita paruh baya, tersenyum ramah.
"Duduk saja, Nak."
Arunika mengangguk pelan, Sudah lama sekali ia tidak merasakan keramahan yang tulus. Di rumah Mahardika, semua orang selalu berbicara dengan hati-hati karena statusnya sebagai putri keluarga besar.
Namun setelah ibu kandungnya meninggal dan Maya mengambil alih rumah itu, senyum-senyum hangat perlahan menghilang.
Beberapa menit kemudian, sepiring nasi goreng sederhana dihidangkan, Aromanya membuat perut Arunika semakin keroncongan.
Ia baru menyendok suapan pertama ketika suara televisi di sudut warung menarik perhatian semua pelanggan.
"Berita terbaru."
"Putri keluarga Mahardika diduga menggelapkan dana perusahaan sebesar lima miliar rupiah."
Arunika langsung membeku, Di layar televisi muncul fotonya. Foto yang diambil beberapa bulan lalu saat menghadiri acara perusahaan.
"Direksi PT Mahardika Nusantara menyatakan pelaku telah dikeluarkan dari keluarga dan akan diproses sesuai hukum."
Beberapa pelanggan mulai berbisik.
"Itu wajahnya mirip perempuan itu..."
"Iya... jangan-jangan benar."
"Pantas sendirian."
Arunika menundukkan kepala, Nafsu makannya hilang seketika. Pemilik warung memandangnya sebentar. Namun wanita itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mematikan volume televisi.
"Silakan makan dulu, Nak."
Kalimat sederhana itu membuat dada Arunika terasa hangat, Masih ada orang yang memilih tidak menghakimi sebelum mengetahui kebenaran.
Setelah menghabiskan makanannya, Arunika membayar.
"Berapa, Bu?"
"Dua puluh ribu."
Arunika menyerahkan uangnya, Wanita itu justru mengembalikan sebagian.
"Ini kembaliannya."
Arunika menggeleng.
"Tak apa."
Wanita itu tersenyum.
"Kau lebih membutuhkannya."
Arunika menatap wajah wanita itu beberapa detik.
"Terima kasih."
Ia melangkah pergi dengan hati yang sedikit lebih ringan. Di sisi lain kota...Sebuah sedan hitam berhenti di depan gedung Adrian Group.
Seorang pria tinggi turun dari kursi belakang.
Wajahnya tampan dengan sorot mata setajam pisau.
Dialah Adrian Pradipta, Presiden Direktur Adrian Group.
Namanya dikenal sebagai sosok yang dingin, tegas, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi. Begitu memasuki ruang kerjanya, sekretarisnya sudah menunggu.
"Tuan, tim kita kehilangan jejak Arunika."
Adrian berhenti melangkah.
"Kehilangan?"
"Ya."
"Ponselnya tidak aktif setelah menerima dua pesan misterius."
Adrian menyipitkan mata.
"Siapa yang mengirim pesan itu?"
"Belum diketahui."
"Kami sedang melacaknya."
Adrian berjalan menuju jendela, Lampu-lampu kota berkilauan di bawah sana.
"Seseorang bergerak lebih cepat dari kita."
Sekretaris terdiam. Ia tahu, jika Adrian berkata seperti itu, berarti situasinya jauh lebih rumit daripada dugaan awal.
"Lanjutkan pencarian."
"Jangan sampai orang lain menemukannya lebih dulu."
"Baik, Tuan."
Sementara itu...Di sebuah gudang tua di pinggir kota. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri mengelilingi layar monitor.
Di sana tampak rekaman CCTV halte tempat Arunika duduk tadi, Seorang pria berambut perak memutar rekaman itu berulang kali.
"Dia menerima pesan."
"Ya."
"Nomor sekali pakai."
"Kemungkinan dari kelompok lain."
Pria itu mengetukkan jarinya di meja.
"Lanjutkan pengawasan."
"Jangan dekati target."
"Sampai waktunya tiba."
Semua orang mengangguk serempak.
"Baik."
Malam semakin larut, Arunika berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan. Hotel terlalu mahal. Kos-kosan meminta uang muka.
Teman-temannya?
Ia bahkan tidak tahu harus menghubungi siapa, Nama baiknya sudah hancur. Semua orang pasti percaya berita yang beredar.
Saat itulah matanya menangkap papan bertuliskan:
LOWONGAN PEKERJAAN
Dicari pegawai penginapan, Bisa langsung menginap. Arunika menghentikan langkahnya. Ia masuk perlahan.
Seorang nenek yang menjaga meja resepsionis mengangkat kepala.
"Mencari kamar?"
Arunika menggeleng.
"Saya... melihat ada lowongan."
"Oh..."
Nenek itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki, Pakaian Arunika masih sedikit basah.
Wajahnya kelelahan, Namun sorot matanya tetap jujur.
"Namamu?"
"Arunika."
"Bisa bekerja?"
"Saya akan belajar."
Nenek itu tersenyum tipis.
"Kebetulan cucuku baru keluar."
"Kalau kau tidak keberatan membersihkan kamar dan membantu di dapur...kau boleh mulai besok."
Mata Arunika langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Ya."
"Gajinya memang tidak besar."
"Tapi kau bisa tinggal di kamar belakang."
Untuk pertama kalinya sejak diusir dari rumah, Arunika merasa menemukan secercah harapan.
"Terima kasih banyak."
Nenek itu mengangguk pelan.
"Malam ini kau istirahat saja."
Tidak jauh dari penginapan itu...Sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara. Di balik kaca gelap, Adrian memandang bangunan sederhana tersebut.
"Itu dia."
Sekretaris mengangguk.
"Target baru saja masuk."
"Apa kita menjemputnya sekarang?"
Adrian menggeleng.
"Tidak."
"Tuan?"
"Orang yang baru kehilangan segalanya tidak akan mudah percaya kepada orang asing."
"Biarkan dia beristirahat malam ini."
"Kita menunggu."
Sekretaris tampak heran, Selama bekerja bertahun-tahun, baru kali ini ia melihat Adrian begitu sabar terhadap seseorang.
Namun ia tidak berani bertanya, Mobil itu perlahan pergi. Mereka tidak menyadari bahwa di atap bangunan seberang, seseorang sedang memotret setiap pergerakan mereka menggunakan kamera berlensa panjang.
Pria itu tersenyum tipis.
"Jadi... Adrian Group juga ikut bermain."
Ia mengirim foto tersebut kepada seseorang.
Balasannya datang hanya beberapa detik kemudian, Awasi terus. Jangan sampai gadis itu jatuh ke tangan Adrian.
Pria itu membalas singkat.
Siap.
Menjelang tengah malam, Arunika akhirnya berbaring di ranjang kecil kamar belakang penginapan. Kasurnya tipis.
Langit-langitnya penuh bekas rembesan air.
Sangat jauh berbeda dengan kamar luas yang selama ini ia tempati.
Namun entah mengapa...Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bernapas lega. Tak ada lagi tatapan sinis Maya, Tak ada ejekan Clarissa.
Tak ada tekanan untuk selalu menjadi putri sempurna keluarga Mahardika. Sebelum memejamkan mata, ia kembali membuka pesan misterius yang masih tersimpan di ponselnya.
"Jangan percaya siapa pun di keluarga Mahardika."
"Mereka bukan keluarga kandungmu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Jika benar...
Lalu siapa orang tua kandungnya?
Mengapa ia bisa berada di keluarga Mahardika?
Dan siapa yang mengirim pesan itu?
Rasa lelah akhirnya mengalahkan semua pertanyaan, Kelopak matanya perlahan tertutup.
Namun pada saat yang sama...Di sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi berkas-berkas lama, seorang pria tua membuka sebuah kotak besi berdebu.
Di dalamnya terdapat sebuah foto bayi perempuan yang dibungkus selimut berwarna biru.
Di belakang foto itu tertulis sebuah nama dengan tinta yang mulai memudar.
"Arunika Ad..."
Tulisan berikutnya sengaja disobek hingga tak bisa terbaca, Pria tua itu menghela napas panjang.
"Waktunya hampir tiba."
Ia mengambil sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang selama puluhan tahun disimpan rapat.
Saat liontin itu terbuka, tampak lambang yang sama persis dengan tanda kecil berbentuk bulan sabit di belakang leher Arunika—tanda lahir yang selama ini selalu ia tutupi dengan rambut panjangnya.
Pria tua itu menatap foto bayi tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Lima tahun kami mencarimu..."
"Tidak kusangka... mereka menemukannya lebih dulu."
Di luar ruangan, terdengar langkah kaki seseorang mendekat.
Tok... tok... tok...
"Tuan, ada kabar darurat."
Pria tua itu segera menutup kotak besi.
"Apa yang terjadi?"
Orang di luar pintu menjawab dengan suara tegang.
"Orang-orang keluarga Mahardika baru saja mengirim surat resmi kepada kepolisian."
"Mereka meminta Arunika ditangkap besok pagi."
Pria tua itu langsung berdiri, Wajahnya berubah serius.
"Kalau begitu...Kita tidak punya banyak waktu lagi."
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?