Apa jadinya kalau CEO dan asistennya selalu bertengkar hanya karena hal sepele?
Andrian yang selalu saja ribut dengan Jasmine asistennya dalam segala kesempatan. Tiada hari tanpa keributan antara mereka, dari saling mengejek dan menggoda jadi aktifitas mereka disela kegiatan kantor.
Seiring kebersamaan dan langkah mereka yang sering ribut justru menimbulkan perasaan nyaman antara keduanya. Namun gengsi seakan menahan perasaan keduanya untuk tidak terucap.
Mampukah mereka saling jujur akan perasaan masing-masing? atau justru terus terperangkap pada gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lijun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka Padanya
Andrian menindih tubuh Jasmine di bawahnya setelah ia banting ke sofa. Namun siapa sangka jika gadis itu ternyata menekuk lututnya ke atas.
Hingga akhirnya pusaka Andrian bersahutan dengan lutut Jasmine cukup keras.
Andrian memekik kuat tapi tidak beranjak dari atas tubuh Jasmine. Pemuda itu hanya memegangi pusakanya sambil meletakkan kepalanya di pundak Jasmine dan memejamkan mata.
Jasmine yang terkejut dengan apa yang terjadi secara cepat barusan hanya bisa diam karena otaknya masih memproses segala kejadian barusan.
Di tengah posisi keduanya yang belum berubah dan suara Andrian yang masih terdengar merintih. Sementara Jasmine menatap lurus dengan tangan di dada Andrian menahan tubuh pemuda itu.
Terdengar suara dari arah pintu yang mengagetkan Jasmine, sedangkan Andrian masih fokus pada rasa sakit di selakangannya.
"Apa yang kalian lakukan?" suara itu berasal dari dua pemuda yang sepertinya baru datang.
Dengan cepat Jasmine mendorong kuat tubuh Andrian karena malu di lihat oleh Aan dan Hendri dalam posisi yang cukup intim dengan bosnya sendiri.
AKHH
Lagi-lagi Andrian menjerit kesakitan akibat terjerembab ke lantai. Kuatnya dorongan dari Jasmine benar-benar membuat tubuhnya harus mencium dinginnya lantai.
Bukannya menolong kedua pemuda yang batu datang itu malah menertawakan kemalangan dari bos mereka sendiri.
Jasmine sangat kaget melihat Andrian yang terjatuh telentang di lantai sembari meringis.
Dengan rasa bersalahnya gadis itu mendekati Andrian untuk menolongnya.
"Kau baik-baik saja! maafkan aku ya!" ucap Jasmine panik karena takut di pecat.
Andrian yang tahu Jasmine mendekatinya kembali menarik tangan gadis itu dan menjatuhkannya di lantai hingga berbaring.
Dengan cepat Andrian mengungkung tubuh langsing Jasmine di bawahnya dengan tatapan yang kesal sekaligus menahan sakit yang sudah double kill itu.
Tatapan mata Andrian menatap tajam pada Jasmine di bawahnya.
Wajah Jasmine sendiri langsung panik setengah mati akibat posisi mereka, apa lagi di ruangan itu ada orang lain yang melihat.
Bisa jadi mereka berpikiran kalau Jasmine yang menggoda Andrian lebih dulu hingga hal seperti ini terjadi.
"Kenapa kau mendorongku?" tanya Andrian menatap tajam pada Jasmine yang wajahnya mulai memerah menahan malu.
Tapi hal itu justru di jadikan Andrian sebagai kesempatan untuk membalas perbuatan gadis di bawahnya.
"A aku tidak sengaja" gugup Jasmine menahan tubuh Andrian yang mendekat padanya.
"Kenapa kau menyakiti masa depanku? kalau aku tidak bisa punya keturunan bagaimana? kau mau jadi istriku kalau tidak ada gadis yang mau ku nikahi?" ucap Andrian mengintimadasi hadis di bawahnya.
"Eh itu... ehm" gugup Jasmine.
"Katakan dengan jelas nona Jasmine" ucap Andrian menurunkan tubuhnya menindih Jasmine.
"Ada orang di depan pintu" ucap Jasmine memberi tahukan Andrian kalau di ruangan itu ada orang lain selain mereka berdua.
Andrian melihat siapa orang yang di maksud oleh Jasmine. Di sana ada dua Manager sekaligus temannya yang memegang map berbeda warna.
Jasmine juga ikut menatap keduanya dengan tatapan yang meminta tolong agar ia bisa lepas dari posisi intim dengan Andrian.
Kedua pemuda yang sempat melihat sekilas tatapan memohon dari Jasmine sempat ragu untuk menolong tapi mereka tetap mencoba.
"Eh pak ini ada berkas penting yang harus di tanda tangani sekarang" ucap Aan menaham kegugupannya saat di tatap tajam oleh Andrian.
Walaupun mereka berteman tapi tatapan tajam dan kemarahan Andrian sangat di hindari oleh dua temannya yang sudah tahu bagaimana sikap Andrian kalau seperti itu.
"Letakkan di meja dan pergi" ucap Andrian yang tidak ingin di ganggu balas dendamnya.
"Ehm tapi ini harus segera selesai sekarang juga pak karena kami masih harus menyelesaikannya lagi pada yang lain" ucap Hendri.
Dengan malas Andrian mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Jasmine dan meninggalkan gadis itu begitu saja.
Jasmine yang tidak di tolong oleh Andrian jadi geram sekligus lega. Namun tetap saja ia ingin melampiaskan kekesalannya langsung.
Tapi saat mengingat kalau ada orang lain di sana maka keinginan itu di urungkan. Mungkin nanti saja lagi pula ia sudah dua kali membuat pemuda itu kesakitan pikir Jasmine.
Gadis itu melangkah keluar dari ruangan itu namun di cegah.
"Mau kemana kau?" tanya Andrian pada Jasmine yang menghentikan langkahnya dan menatap sengit pada Andrian.
"Saya mau ijin ke toilet dulu ya pak sekalian buat minum ke pantri" ucap Jasmine dengan senyum palsu yang mengembang dan gigi bergemelatuk.
"Pergi sana waktumu hanya 10 menit dari sekarang" ucap Andrian mengibaskan tangannya lalu kembali fokus pada berkas yang di sodorkan padanya.
Jasmine yang merasa di usir segera keluar dengan perasaan kesal dan dongkol yang teramat sangat. Dengan beraninya gadis itu menghentakkan hels nya kuat kelantai sebelum akhirnya menutup pintu.
Ketiga pemuda di ruangan Andrian yang mulai fokus pada pembahasan jadi kaget dan serentak melihat ke sumber suara.
"Asistenmu itu lucu sekali Rian" ucap Hendri sembari terkekeh geli.
Andrian yang mendengar ucapan dari temannya itu langsung memberikan tatapan tajamnya yang begitu menghunus membuat kekehan Hendri menghilang seketika.
"Kau suka padanya?" sinis Andrian.
"Tidak! aku kan hanya memujinya saja" elak Hendri.
"Kau lupa kalau dia sudah mendapatkan jodoh di aplikasi jodohnya itu!" ucap Aan tersenyum jahil.
Andrian melihat pada Aan.
"Memangnya dia laku?" ejek Andrian melirik Hendri.
"Entahlah, tapi sepertinya sudah ada gadis sakit mata yang mau dengannya" ucap Aan tertawa.
Andrian pun ikut tertawa mendengar hal itu. Sedangkan yang menjadi perbincangan sudah kesal.
"Hey kalian lihat saja nanti kekasihku itu, dia sangat cantik" ucap Hendri.
"Cantik hanya di foto, aslinya kau tidak tahu" ejek Andrian meremehkan.
"Bisa saja aslinya pecah 10" sambung Aan.
Kedua pemuda itu tertawa senang setelah menistakan Hendri yang semakin kesal.
"Kalau gitu aku dekati Jasmine saja, dia sangat cantik dan seksi sudah nyata lagi di depan mata" ucap Hendri gamblang.
Andrian terdiam dan kembali menghadiahi tatapan tajamnya pada Hendri yang nampak sedang mengkhayalkan ucapannya barusan.
"Kepalamu akan melayang kalau kau berani mendekatinya" ucap Andrian lalu kembali melihat berkas yang di pegang.
Aan dan Hendri saling pandang lalu tersenyum jahil dengan pandangan penuh arti.
"Memangnya kenapa kalau Hendri mendekati Jasmine? jasmine gadis tulenkan?" tanya Aan pura-pura polos.
"Dia Asistenku" jawab Andrian santai.
"Dan aku Managermu, kami pasti jadi pasangan yang sangat serasi karena aku juga tampan" ucap Hendri menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jari tangannya.
"Sekali tidak tetap tidak" mutlak Andrian.
Aan dan Hendri menahan senyuman mendapat respon seperti itu dari Andrian.
"Apa kau suka padanya?" tanya Hendri memajukan wajahnya pada Andrian.
"Tidak!" ucap Andrian.
"Kau yakin!" kata Aan ragu.
"Tentu" sahut Andrian mantap walau hatinya kurang yakin, tapi karena ia tidak mau jadi bahan ejekan lebih baik begitu saja pikirnya.
Kedua pemuda itu kembali menahan senyumnya.
"Kalau gitu biar aku mendekatinya, kau kan tidak suka padanya jadi biarkan aku mendekatinya, aku yakin dia akan sangat bahagia hidup denganku" kata Hendri.
Andrian berdecih lalu melempar Hendri dengan map yang ia pegang.
"Pergi selesaikan kerjaanmu sekarang dan jangan coba-coba mendekati Jasmine atau masa depanmu akan terpotong selamanya" ancam Andrian.
Dengan cepat Hendri menangkap map yang mengarah padanya.
"Cih posesif sekali anda pak, padahal hanya seorang asisten tapi kau melarangku bagaika dia seorang bidadari yang.... kaburrr" ucap Hendri berteriak di akhir kalimatnya.
Karena sudah kesal dengan celotehan Hendri, Andrian melayangakan tempat alat tulis pada pemuda itu. Untung Hendri sudah lebih dulu bergerak jadi tidak mendapatkan timpukan maut.
Aan yang tidak ingin mengalami nasib seperti Hendri memilih keluar dengan cepat setelah menyambar map miliknya.