Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17-Kebingungan Arhan
Sepulang dari sekolah nya, Arhan benar-benar dibuat bingung dengan sikap Lula yang berubah drastis padanya. Bahkan chat nya sampai detik ini belum juga dibaca atau dibalas oleh cewek itu.
Ia bingung, sebenarnya apa salahnya hingga Lula tiba-tiba berubah seperti ini padanya. Tidak mungkin kan karena kejadian di pasar malam itu? Pasalnya kemarin mereka baru saja berbaikan.
Dan lihat sekarang? Sekolahan sudah benar-benar sepi dan ternyata sedari tadi Arhan menunggu, Lula sudah tidak ada. Kenapa ia dari tadi tidak melihat Lula lewat? Dia lewat mana? Kenapa Arhan sampai kecolongan begini?
Arhan menghembuskan nafasnya pelan. Ia pokoknya harus berbicara dengan Lula sekarang juga. Ia yakin Lula pasti saat ini sedang berada ditempat kerja seperti hari-hari biasanya.
Arhan melajukan motornya meninggalkan sekolah elite itu dengan kecepatan lumayan tinggi agar cepat-cepat sampai dan berbicara empat mata dengan Lula.
Tak lama kemudian sampai lah Arhan ditempat kerja Lula. Ia langsung mematikan mesin motornya dan melepas helmnya. Berjalan memasuki toko dengan cepat untuk mencari keberadaan Lula.
Baru melangkahkan kakinya masuk sekitar tiga langkah, Arhan sudah melihat Lula yang sedang membersihkan rak-rak bunga dipojok sebelah kanan. Arhan pun langsung saja mendekati Lula. "Kak Lula."
Lula yang sedang mengelap rak bunga itu langsung melihat ke arah sumber suara yang memanggilnya. Dada Lula bergemuruh hebat mendengar suara, langkah kaki dan wajah teduh itu. Kenapa Arhan harus muncul sekarang?? Ia takut jika sekarang Arhan sering menemukannya, Lula akan sulit untuk merencanakan misinya dan menepati janjinya pada Tante Ghea. Lula mencoba menetralkan dirinya serta tatapannya yang biasa saja melihat kedatangan Arhan. Padahal di balik itu semua, ia sangat rindu pada cowok itu.
"Ngapain Arhan kesini?." Tanya Lula biasa saja seolah mereka teman yang tidak dekat. Lula melanjutkan kegiatannya seolah acuh tak acuh pada Arhan.
Arhan berdiri disamping Lula yang masih tetap dengan pekerjaannya. "Kenapa kakak enggak nunggu aku? Aku kan udah bilang kalo pulang sekolah biar aku yang antar ke tempat kerja." Ungkapnya dengan suara lembut.
Lula menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap ke arah Arhan sebentar lalu mengalihkannya lagi. "Dari kemarin aku kan udah bilang, aku enggak enak sama kamu dan enggak mau bergantungan sama kamu." Lula kemudian berjalan meninggalkan Arhan untuk membersihkan rak lain.
Arhan melangkahkan kakinya mengikuti cewek itu. "Aku kan udah bilang kalo kakak sama sekali enggak ngerepotin. Tadi pagi aku juga udah rela nungguin kakak di depan gang ternyata udah berangkat dulu sampe aku dihukum, apa kakak enggak kasian sama aku? Kenapa enggak bilang kalo kakak udah berangkat sekolah?."
Lula tetap terlihat cuek dan tidak terharu sama sekali dengan pengorbanan Arhan. "Aku udah sering bilang kan? Kamu enggak perlu anter jemput tapi selalu ngeyel, ya salah kamu dong kenapa mau jemput aku." Masih tetap. Lula terlihat sibuk dengan aktivitasnya yaitu mengelap rak bunga yang sedikit berdebu.
Arhan terdiam. Ia mengamati cewek yang terlihat begitu sibuk itu. Ia seperti tidak mengenal Lula Khansa. Hari ini Lula Khansa terlihat berbeda dari sebelumnya, dari tatapannya, tutur katanya bahkan sikap dan sifatnya kenapa sangat berbeda?. Ia menggeleng cepat mungkin Lula hanya sedang bad mood saja mangkanya seperti itu. "Kenapa chat aku enggak kakak bales dari semalem?."
Lula menarik nafasnya kasar, memperlihatkan wajah jengkelnya karena Arhan yang selalu bertanya ini dan itu. "Aku enggak buka ponsel Arhan Ardigo. Aku ketiduran, aku capek, hidupku enggak sepenuhnya harus buka ponsel terus setiap hari."
"Tapi ceklis dua kak."
"Datanya lupa aku matiin Arhan."
"Telepon aku enggak di angkat juga."
"Aku mode senyap!."
"Masa enggak liat sama sekali dari kemarin sampe sekarang?." Tanya Arhan tak percaya dengan semua jawaban dari Lula.
Lula mencoba menarik nafasnya berkali-kali lalu menatap bocah itu. "Enggak Arhan, ponselnya bahkan aku tinggal dirumah, puas???." Tukasnya kemudian. "Sekarang kamu pulang. Aku mau kerja, tolong jangan ganggu lagi." Lanjutnya sembari menunjuk kearah pintu keluar.
"Kakak PMS ya?"
"Enggak Arhan, pulang!."
"Kakak ada masalah?."
"Enggak!."
"Kakak lagi kurang baik ya mood nya?"
"AKU BILANG ENGGAK!." Bentaknya sembari melototkan matanya pada Arhan.
Arhan menatap Lula dengan tatapan lirih. Melihat perubahan Lula yang seperti ini membuat energi nya seperti terkuras habis bagaikan lampu senter yang dipakai terus namun tidak di cas, akan ngedrop.
Lula yang akan melangkahkan kakinya pergi langsung terhenti ketika mendengar perkataan Arhan.
"Kak aku ada salah ya? Aku minta maaf ya. Aku memang enggak tau salahku dimana, tapi kalo aku salah kakak enggak papa kok kalo mau marah, tapi jangan lama-lama ya? Besok harus maafin aku. Aku kangen sama kakak hehe..." Tak terasa air mata cowok itu mengalir keluar, namun Arhan langsung mengusapnya kasar, ia merasa sangat cengeng menjadi cowok, padahal hanya perkara cewek saja. Kalau sampai kakak nya tau, ia yakin kakak nya itu akan menertawakan nya sampai terpingkal-pingkal saat melihatnya menangis sekarang karena seorang perempuan.
"Aku pulang ya sekarang, sekali lagi Arhan minta maaf banget kalo emang Arhan buat salah sampe bisa bikin kak Lula badmood dan jengkel. Aku pamit." Arhan pun melangkahkan kakinya keluar dari toko dengan wajah lirihnya. Dengan cepat memakai helm dan langsung menyalakan mesinnya, melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area toko bunga grasea.
"Arhan menangis?." Gumamnya pelan. Ya, Lula dapat melihat jika cowok itu menangis karena nya. Tubuhnya bergetar melihat kepergian Arhan dari dalam sana. Matanya memanas seakan ingin menumpahkan laharnya.
Lula menundukkan kepalanya. "Kamu enggak salah Arhan. Aku yang minta maaf." Lirihnya dengan suara serak. Lula mencoba menggigit bibirnya untuk menahan tangisannya agar tidak semakin keras, tidak terasa hingga bibir itu berdarah akibat gigitan nya sendiri.
Suaranya memang tidak terdengar, namun air mata itu terus saja mengalir mengingat Arhan yang tadi menangis akibat dirinya. "Beribu maaf Arhan.... Kenapa kamu mau menangisi perempuan seperti ku?"
****
****
Arhan membelokkan motornya pada sebuah taman bunga yang tak jauh dari arah rumah nya.
Ia memarkirkan kendaraan nya lalu memasuki area taman itu. Taman yang sudah beberapa hari ia booking untuk merencanakan rencananya yang akan menembak Lula Khansa besok.
Meskipun Arhan tau jika Lula sedang marah padanya, tapi entah kenapa hatinya berbicara jika cewek itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya, yaitu perasaan suka dan cinta.
Arhan menatap taman yang sudah dihiasi dengan sedemikian rupa itu. Ia tersenyum lebar di sisa-sisa kesedihannya tadi. Salam hati Arhan begitu banyak harapan dengan Lula Khansa. Ia harap rencana nya besok akan berhasil. Arhan benar-benar tidak sabar menunggu hari esoknya.