NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Pohon yang Memberi Buah

Lima tahun berlalu dalam irama yang tenang dan penuh berkah di Karimun. Laut yang dulu sering menyaksikan pertumpahan darah, kini hanya menyaksikan perahu-perahu nelayan yang pulang membawa rezeki, anak-anak yang bermain di bibir pantai, dan pasangan yang berjalan beriringan menikmati matahari terbenam. Nama Laras tak lagi disebut dengan gemetar ketakutan, melainkan dengan rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.

Bayu kini berusia dua belas tahun. Tubuhnya mulai menjulang, bahunya mulai melebar, dan tatapan matanya semakin mirip dengan ibunya—tajam namun teduh, penuh perhatian dan kebijaksanaan yang tak lazim dimiliki anak seusianya. Ia tidak hanya belajar membaca dan berhitung di sekolah desa, tetapi juga belajar langsung dari alam dan pengalaman hidup orang-orang di sekitarnya.

Setiap sore, setelah selesai membantu Dika di kebun atau Raka memeriksa jaring ikan, Bayu selalu menyempatkan diri duduk bersama Laras di beranda rumah yang kini terasa semakin hangat dan hidup.

“Ibu,” tanyanya suatu hari sambil memandangi bekas luka samar di pergelangan tangan ibunya—bekas yang menjadi saksi bisu masa lalu kelam Laras. “Apakah kau pernah menyesal pernah menjadi seperti dulu? Apakah kau ingin menghapus semua bagian itu dari ingatanmu?”

Laras menatap putranya lama, lalu tersenyum lembut sambil meremas bahu muda itu.

“Aku tidak menyesal telah melewatinya, Nak. Karena itulah yang membuatku mengerti betapa berharganya damai ini. Jika aku tidak pernah merasakan betapa gelapnya malam, aku tak akan pernah bisa mensyukuri indahnya fajar. Bagian kelam itu tak perlu kuhapus, cukup kuubah maknanya: dari kenangan yang menyakitkan menjadi pelajaran yang tak boleh terulang oleh siapa pun, terutama olehmu.”

Pelajaran itu bukan hanya untuk Bayu. Laras dan Dika bersama seluruh warga desa kini menjadi teladan bagi wilayah yang jauh lebih luas. Kerajaan-kerajaan tetangga sering mengirim utusan untuk belajar bagaimana cara memimpin dengan hati, bagaimana menyelesaikan perselisihan tanpa kekerasan, dan bagaimana membangun kemakmuran bersama tanpa saling merugikan.

Namun takdir seolah ingin menguji apakah nilai-nilai itu benar-benar telah berakar kuat di hati mereka, atau hanya sekadar kebiasaan sesaat.

Musim kemarau yang panjang melanda wilayah kepulauan tahun itu. Sumber air mulai menyusut, tanaman layu, dan hasil laut pun berkurang drastis. Kekhawatiran mulai menyelimuti hati warga. Dan seolah belum cukup, sebuah kapal dagang besar dari negeri jauh terdampar di perairan Karimun. Kapal itu membawa muatan beras dan persediaan makanan yang sangat banyak, namun kapten kapal itu menuntut bayaran yang sangat mahal—bahkan melebihi harga biasanya berkali-kali lipat—dan mengancam akan menjualnya ke pulau lain jika warga tak sanggup membayar.

Suasana menjadi panas. Sebagian warga, terutama mereka yang masih ingat dengan masa lalu Laras, berbisik: “Jika dulu Ibu Laras masih menjadi Ratu Pembunuh, barang itu pasti sudah diambil tanpa perlu banyak bicara.”

Raka pun sempat tak sabar. “Mereka memanfaatkan kesusahan kita untuk mencari untung besar! Itu tidak adil! Kita bisa saja mengambilnya dengan kekuatan, kita punya cukup banyak orang!”

Namun Laras menggeleng tegas. Ia mengumpulkan seluruh warga di balai desa sore itu, saat matahari mulai turun dan udara mulai sejuk.

“Kita tidak akan membangun keadilan dengan cara yang tidak adil,” ucapnya lantang dan tegas. “Jika kita mengambil paksa barang itu, kita sama saja dengan perampok yang dulu merajalela di sini. Kita akan kehilangan apa yang selama ini kita bangun dengan susah payah: kepercayaan, kehormatan, dan hati yang bersih.”

“Lalu bagaimana kita memberi makan anak-anak kita, Laras?” tanya seorang ibu dengan suara gemetar menahan tangis.

“Kita berbagi sisa apa yang kita punya,” jawab Laras mantap. “Kita gali sumur baru bersama-sama. Kita cari sumber air alternatif. Kita minta bantuan saudara-saudara kita di kerajaan lain yang belum terkena kekeringan. Dan kita bicara pada kapten kapal itu—bukan dengan ancaman, tapi dengan kemanusiaan.”

Keesokan harinya, Laras pergi menemui kapten kapal itu didampingi Dika dan beberapa tetua desa. Ia tidak membawa emas atau harta, melainkan membawa cerita tentang kesusahan warga, tentang persaudaraan yang erat, dan tentang janji bahwa saat panen tiba nanti, seluruh warga Karimun akan berhutang budi dan membalas kebaikan itu dengan segala hasil bumi terbaik yang mereka miliki.

Awalnya kapten kapal itu keras hati. Namun saat melihat bagaimana warga desa saling berbagi sisa makanan yang sedikit, bagaimana mereka bekerja sama menggali tanah mencari air tanpa mengeluh, hatinya perlahan luluh. Ia sadar bahwa kekayaan yang ia cari tak akan berarti jika ia mendapatkannya dengan membiarkan orang lain menderita.

Akhirnya kapten kapal itu bersedia memberikan sebagian persediaan makanan dengan harga yang wajar, bahkan sebagian lagi ia berikan secara cuma-cuma sebagai bentuk simpati. Ia pun berjanji akan mengirimkan bantuan air bersih dari negerinya yang tak terkena dampak kekeringan.

Saat badai kekeringan akhirnya berlalu digantikan hujan yang turun membasahi bumi, panen yang datang jauh lebih melimpah dari biasanya. Warga Karimun menepati janji mereka—mengirimkan hasil terbaik kepada kapten kapal itu, dan menjalin hubungan dagang yang jujur dan saling menguntungkan untuk selamanya.

Di tengah rasa syukur itu, Laras melihat Bayu sedang berdiri di pinggir sawah, membantu petani mengatur aliran air. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, dan selalu memastikan tak ada bagian yang kekurangan.

“Kau sudah mengerti, Nak?” tanya Laras saat mendekati putranya.

Bayu menoleh, tersenyum lebar namun dewasa. “Kekuatan bukan untuk mengambil apa yang kita mau, Ibu. Tapi untuk menjaga apa yang kita punya, dan memastikan semua orang mendapat bagiannya.”

Dika berdiri di samping istrinya, meletakkan tangan di bahu Laras. “Kau telah menanam benih yang sangat kuat di dalam dirinya.”

“Bukan hanya di dalam dirinya,” jawab Laras pelan sambil menatap hamparan sawah yang hijau dan wajah-wajah warga yang penuh harapan. “Tapi di sini, di tanah ini, di hati semua orang. Pohonnya sudah tumbuh tinggi, dan sekarang ia mulai berbuah lebat.”

Malam itu, dalam perayaan syukur yang sederhana namun penuh makna, Laras menyadari bahwa tugas terbesarnya telah selesai. Ia telah mengubah dirinya dari bayangan yang menakutkan menjadi cahaya yang menuntun. Ia telah mengajarkan bahwa luka bisa menjadi pelajaran, bahwa dendam bisa berubah menjadi kasih sayang, dan bahwa kedamaian adalah hasil kerja keras bersama, bukan pemberian dari seseorang yang berkuasa.

Dan di bawah langit Karimun yang kembali bersih dan bertabur bintang, kisah Mantan Ratu Pembunuh terus hidup—bukan lagi sebagai cerita tentang pedang dan darah, melainkan sebagai legenda tentang hati yang mampu berubah, tentang keberanian untuk berbuat benar, dan tentang kasih sayang yang mampu menumbuhkan kehidupan yang indah bagi siapa saja yang mau merawatnya.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!