Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Hutan Kematian
Raungan monster yang memecah kesunyian hutan terdengar begitu dekat, sebuah suara berat dan serak yang membuat dedaunan di puncak pohon raksasa berguncang. Haruto Mirakawa berdiri mematung di sana, membiarkan angin dingin menyapu seragam kaos rumahnya yang ringan. Ia menatap ke arah hutan yang tampak seperti labirin gelap, lalu menghela napas panjang.
"...Setidaknya udaranya segar," gumamnya datar.
Haruto bukanlah tipe orang yang akan berteriak histeris saat menghadapi situasi mustahil. Baginya, kepanikan hanyalah pemborosan energi yang tidak perlu. Ia baru saja diculik, dikirim ke dunia lain, dan dibuang ke hutan yang suaranya saja bisa membuat jantung orang normal berhenti. Namun, satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini adalah betapa bersih dan jernih oksigen di tempat ini dibandingkan udara kota.
Ia mulai berjalan, kakinya melangkah hati-hati di atas hamparan lumut yang tebal. Hutan ini memiliki aura yang berbeda; pohon-pohonnya memiliki kulit yang gelap dan keras seperti baja tua. Sesekali, ia melihat bunga-bunga berwarna ungu yang berpendar samar, namun Haruto cukup bijak untuk tetap menjaga jarak.
Setelah berjalan cukup lama—mungkin sekitar satu jam—suara gemericik air yang familiar menyambutnya. Haruto keluar dari balik semak-semak dan menemukan sebuah sungai lebar yang airnya jernih. Di tepi sungai itu, terdapat area yang cukup datar, relatif bersih dari semak berduri, dan memiliki tanah yang terlihat subur.
Haruto memindai area itu dengan mata seorang pekebun. "Ada air. Tanah lapang. Tidak ada predator yang terlihat sedang nongkrong. Lumayan."
Ia meletakkan tangannya di atas tanah, merasakan teksturnya yang agak padat namun kaya nutrisi. Haruto memutuskan untuk beristirahat di sini. Saat ia menatap sungai, ia melihat bayangan hitam bergerak cepat di bawah permukaan air. Seekor ikan besar, seukuran salmon dewasa namun dengan deretan gigi yang menyerupai piranha, melompat keluar dan menyambar dahan pohon yang menggantung.
"Ikan ganas ya?" Haruto menatap ikan itu datar. "Untung aku tidak berniat berenang sekarang."
Karena merasa perlu melakukan sesuatu agar tetap tenang, ia mencoba skill yang diberikan Dewa. "Cangkul," bisiknya. Sontak, bayangan di tangan kanannya memadat menjadi cangkul yang kokoh dengan gagang kayu yang terasa pas di genggamannya. Ia mencoba mengubahnya menjadi kapak, pisau, hingga sabit. Perubahan bentuknya halus, seperti air yang berubah bentuk di tangan seorang pesulap. Alat-alat itu terasa sangat berat sekaligus ringan di saat yang bersamaan, tanda dari status "Dewa" yang tertanam di dalamnya.
Haruto menatap tanah yang lembap di dekat sungai. Tanpa rencana besar, ia mulai mencangkul. Karena cangkul bayangannya sangat tajam dan kuat, tanah yang keras itu terbelah dengan kemudahan yang nyaris konyol. Ia bekerja dengan ritme yang stabil, mengayun, menarik, membalik.
Sambil bekerja, pikirannya mengembara. "Kakek pasti marah kalau kangkungku mati karena tidak disiram," gumamnya sambil membalik lapisan tanah yang kaya akan humus. "Tomat-tomat itu... ah, mungkin sudah waktunya dipanen. Rasanya pasti sangat segar kalau dimakan langsung dengan sedikit garam."
Ia terus mencangkul. Tidak ada ambisi untuk membangun istana, ia hanya merasa lebih tenang jika tangannya sibuk.
Srak.
Sebuah suara semak yang patah menyadarkan Haruto. Seekor monster kecil, sejenis tikus bertanduk dengan taring tajam, menerjang dari balik rimbunan pohon. Haruto tidak panik. Ia hanya melangkah sedikit ke samping, mengubah cangkulnya menjadi kapak dalam satu gerakan fluid.
Plak.
Monster itu tersungkur, mati seketika. Haruto menatap bangkai kecil itu, lalu menatap kapak di tangannya yang perlahan memudar menjadi bayangan, lalu kembali menjadi cangkul. "Dunia lain ternyata berbahaya," komentarnya singkat. Ia menyeret bangkai monster itu ke pinggiran semak agar tidak mengotori area cangkulannya, lalu kembali bekerja.
Sore menjelang malam, cahaya matahari mulai memudar di balik pepohonan raksasa. Haruto sadar, ia tidak punya tempat tidur. Ia mulai bekerja mengumpulkan batang pohon yang tumbang. Dengan kapak bayangannya, menebang kayu terasa seperti mengiris keju. Ia memotong-motongnya dengan presisi yang mengejutkan, lalu menggunakan palu bayangannya untuk menyambungkan kayu-kayu itu.
Ia tidak membangun rumah yang rumit. Ia hanya membuat gubuk kecil berbentuk kotak persegi yang sangat fungsional. Ukurannya hanya cukup untuk duduk tegak, berbaring meringkuk, dan menyalakan api kecil di tengah. Sangat sempit, tidak nyaman, dan jauh dari kata indah, tapi setidaknya ia punya atap.
"Masih lebih bagus daripada tenda," gumamnya.
Bagian tersulit adalah membuat api. Haruto mencari dahan kering yang tipis. Ia menghabiskan waktu cukup lama, mencoba menggesekkan kayu dengan berbagai teknik. Berkali-kali gagal, berkali-kali ia harus mengatur napas agar tidak emosi. Ketika akhirnya api kecil berhasil menyala di tumpukan dedaunan kering, Haruto menghela napas panjang dan tersenyum kecil. Melihat lidah api itu menari di tengah kegelapan hutan memberinya rasa aman yang tak terlukiskan.
Malam turun sepenuhnya. Haruto duduk di depan api unggunnya, memanggang daging tikus bertanduk tadi dengan menggunakan pisau bayangan. Setelah makan, ia duduk bersandar di pintu gubuknya yang kaku, menatap sungai yang memantulkan cahaya api.
"Besok cari makanan," gumamnya pelan.
Ia masuk ke dalam gubuknya yang sempit, merebahkan diri di atas lantai kayu, dan segera tertidur pulas karena kelelahan. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang gubuknya—di tanah yang sepanjang sore tadi ia cangkul dengan begitu rajin—beberapa gundukan kecil mulai terbentuk. Sesuatu yang hijau dan segar perlahan tumbuh dari dalam tanah, seolah-olah tanah itu sendiri sedang mencoba menyambut tuannya saat ia tidur.