NovelToon NovelToon
Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: picisan imut

Ketika dua gadis yang berbeda golongan mengagumi ku, membuatku bimbang untuk memilih salah satunya dari mereka.

dan saat hati ku mulai condong pada salah satu dari mereka, perbedaan lah yang menahan ku.

haruskah aku mengikuti alur yang di setujui dari sebagian besar pihak yang mendukung ku.

lalu?

bagaimana bisa aku memilih, karena pasti akan ada yang terluka setelahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

antara dua hati

"harus lah. Kalau kamu jatuh cinta berlebih, padanya? Dan dia bukan jodoh mu. Itu bisa di bilang kau zolim pada diri mu sendiri. Jadi sekarang lupakan. Atau mau pade datengin laki-laki itu, tak lamar sekalian buat mu?" Ucap Ustadz Irsyad, dan ucapan itu sukses membuat Shafa terdesak, dia batuk-batuk.

"Nggak... Nggak... Pade."

"Loh kenapa? Nggak papa, wanita boleh loh melamar laki-laki yang dia sukai. Serius...! Islam tidak melarang apabila seorang wanita ingin meminang laki-laki. Islam tidak mensyariatkan bahwa yang boleh mengajukan lamaran hanya laki-laki."

"Ya Allah Pade... Masa iya Shafa ngelamar laki-laki duluan." Tutur Shafa. 'apa lagi laki-laki itu anak mu, sendiri.' sambungnya di dalam hati.

"Kenapa? Gengsi?" Tanya Ustadz Irsyad. Sementara Shafa hanya diam saja. "kamu tahu Khadijah? Beliau dulu loh yang pertama melamar Nabi Muhammad SAW. Khadijah mengutus seorang perantara untuk menyampaikan niatnya kepada Nabi. Seriusan, kalau kamu mau. Pade siap datangin pria itu."

"Duh... Tapi bukankah, wanita harus punya rasa malu ya? Hehehe." Shafa Garuk-garuk kepala.

"Kamu benar. Sebagai wanita shalehah, rasa malu memang perlu dijaga. Namun untuk hal kebaikan dan demi terwujudnya fitrah atau amal ibadah, maka hal seperti itu perlu disegerakan. Dalam QS Al Maidah disebutkan, 'Dan bersegeralah kamu dalam kebaikan.' asal pria itu ahlaknya baik, bisa menjadi imam kamu, bisa bimbing kamu dalam hal kebaikan inshaAllah boleh. Coba kasih Pade, orang mana dia?"

'duh nyesel deh tanya ke pade, malah di tanya orang mana lagi. Dia itu kan, anak mu sendiri Pade, anak mu, hiks.'

"Shafa?"

"Iya pade, sudah lah. Shafa mending menguburnya saja..."

"Loh kenapa? Katanya kamu sudah merasa tidak nyaman dengan gejolak di hati mu."

"Tapi masih bisa di kendalikan kok pade." Shafa terkekeh. Sama halnya dengan ustadz Irsyad yang hanya geleng-geleng kepala, gemas melihat tingkah Shafa.

Mereka masih mengobrol singkat di sana, membahas soal pekerjaan dan sebagainya. Hingga sebuah motor pun memasuki pelataran rumah itu. Sontak mata Shafa membulat, ia menyesali berlama-lama di rumah ini. Sehingga ia harus bertemu Rumi yang baru saja tiba.

'Allahu rabbi.' batin Shafa yang langsung menunduk. Terlebih saat Rumi melepas helmnya dan tersenyum.

"Shafa, sudah dari tadi?" Tanya Rumi.

"I...iya." dia menjawab dengan gugup. Kedua tangannya saling meremas kuat. Bahkan bibirnya pun kini bergumam istighfar berkali-kali. Ustadz Irsyad menoleh. Beliau seperti menangkap sebuah bahasa tubuh yang tak biasa, lantas tersenyum dan berdeham setelahnya sembari kembali menatap Rumi.

"Assalamualaikum, Bi." Rumi menghampiri.

"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Ustadz Irsyad mengusap kepala anak sulungnya yang tengah mencium punggung tangannya sebanyak tiga kali. Lalu beliau raih wajah putranya itu, dan mencium pipi kanan dan kirinya.

"Assalamualaikum Shafa." Sapa Rumi Kemudian sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Wa... walaikumsalam warahmatullah." Jawabnya semakin gugup. Mungkin karena habis membahasnya, dan itu membuat Shafa semakin tak bisa mengontrol dirinya. 'astagfirullah al'azim.' batin Shafa. Dia pun beranjak. "Pade, Shafa pamit ya?"

"Loh buru-buru?" Tanya Rumi.

"Aku, sudah dari tadi kok." Tertunduk.

"Ya sudah hati-hati ya." Ucap Rumi.

"I..ya." jawabnya lirih sembari meraih tangan Ustadz Irsyad, menjabatnya.

Ustadz Irsyad saat itu merasakan tangan Shafa gemetaran, sehingga membuatnya ingin tertawa. "Nduk, Jadi nggak?"

"E...Eh? Apanya?"

"Ngomong ke dia?"

"Pa... Pade, ngomong apaan sih." Shafa semakin keringat dingin, sementara si Rumi hanya diam saja karena dia tidak mengerti.

"Hahaha... Ya sudah sana. Hati-hati ya."

"Iya Pade, assalamualaikum."

"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab dua orang yang di sana. Sementara Shafa langsung berjalan cepat menuju motornya, dan pergi dari sana.

***

Di hari raya.

Hari ini di Bandung, keluaga besar Debby sedang merayakan sebuah acara besar yang jatuhnya bertepatan dengan hari raya idul Fitri.

Sungguh spesial, dimana dua Agama merayakan hari besar mereka di hari yang sama.

Saat ini, Debby baru saja pulang dari gereja. Dia pun menatap layar ponselnya, tidak ada satupun pesan chat dari Rumi. Sehingga membuatnya sedikit mendengus.

Namun tak lama, seseorang datang. Dia mengantarkan sesuatu, sebuah paket yang entah apa isinya. Sang ibu yang sudah menerima bungkusan yang di tutup kertas berwarna coklat pun langsung menyerahkan itu pada anaknya.

"Ini apa, Mah?" Tanya Debby.

"Entahlah, buka saja."

"Emmm, nanti deh." Ucap Debby, dia pun hanya meletakkan paket itu begitu saja. Dan kembali berfokus pada ponselnya.

'dia kalau tidak di chat duluan nggak akan mau chat aku duluan. Tapi bahas apa ya, biar Kak Rumi mau menjawabnya?' batin Debby berfikir keras.

"Ucapin selamat hari raya saja kali ya?" Debby mengangguk sekali, menghela nafas dan mulai membuka ponselnya. Baru saja dia membuka aplikasi chat, dan menekan nomor Rumi di kolom atas sudah nampak tulisan berwarna hijau, yang bertuliskan 'mengetik...'

Mata Debby melebar.

"Sumpah, dia nulis? Kak Rumi mau japri aku kah?" Gadis itu menampar pipinya sendiri. "Aaaa... Sakit. Berarti nggak mimpi." Senyum semangat langsung merekah di bibirnya. Debby menunggu pesan itu terkirim.

Satu, dua, tiga detik. Tulisan itu masih mengetik saja. Hingga hilang tulisan mengetiknya, namun sepertinya pesan chat itu belum masuk.

"Sinyalnya susah kali ya?" Gumam Debby masih berfikir positif, seraya mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. Hingga dia kembali menunggu. Tak lama kolom di atas kembali tertulis mengetik.

"Lagi...? Kayanya dia nulis panjang deh. Duh, siapkan hati ku. Kali saja ungkapan perasaan." Debby terkekeh. Bukan karena dia percaya, tapi hanya membayangkan seperti itu saja sudah lumayan lucu baginya.

Dan tulisan mengetiknya kembali hilang.

Debby mendengus. "Niat nggak sih mau ngirim pesan? Ampun! Ampun!" Debby geleng-geleng kepala, karena sudah tiga kali dia mendapatkan tulisan itu namun tak ada satu pun pesan chat yang sampai. Hingga dia pun gemas sendiri, dan mulai mengetik sesuatu.

(Dari tadi mengetik Mulu... Mau ngirim apa? Ungkapan perasaan ya? Hahaha) kirim.

Debby terkekeh, sudah pasti yang di sana sedang salah tingkah. Tak lama pesan balasan masuk.

(Jangan pernah bilang tentang perasaan pada lawan jenis mu. Haram!) Balas Rumi.

"Weleh... Weleh... Di bales dong. Hahaha." Debby kembali mengetik sesuatu.

(Iya... Iya pak ustadz. Emmm, kapan balik ke Bandung? Aku sudah menunggu buku yang kau janji kan loh.) Balas Debby.

Rumi, mengetik...

(Aku agak lama.) Balas Rumi, singkat.

(Terus, kapan aku dapat buku ku?) Tanya Debby.

(Buka saja paket mu. Dan lihat apa isinya.) Balas Rumi Kemudian.

"Paket?" Dia langsung beranjak dari posisinya yang tadi sedang rebahan, lalu meraih paket yang tadi di serahkan oleh ibunya itu, dan segera membukanya.

Sebuah buku yang berjudul (perjalanan hidup seorang mualaf yang taat di jalan Allah.)

"Buku ini?" Mata Debby berkaca-kaca dia segera mengirim pesan chat lagi kepada Rumi.

(Sungguh kau itu penuh kejutan. Kak Rumi, kenapa harus di paketin, sih? Kenapa nggak ngasih langsung saja?) Tulisnya. Debby menunggu beberapa saat.

Ting... Satu pesan masuk.

(Kamu yang bilang nggak mau nunggu kan? Sekarang, sudah ada di tangan mu. Jadi tolong di baca ya.)

"Huwaaaaaaa.... Demi apa ini orang gemesin sekali sih." Debby menciumi layar ponselnya. Dia pun mengirimkan satu pesan balasan ucap terimakasih, namun tidak di balas lagi oleh Rumi.

Hari itu Debby benar-benar bahagia. Dia bahkan langsung membacanya, mempelajarinya dan berharap dia benar-benar bisa menjadi seorang muslimah seutuhnya.

Bersambung...

🌸🌸🌸

Epilog...

Rumi yang sedang berbalas pesan chat itu hanya tersenyum namun ia segera menahannya, karena ia menyadari itu tidak baik.

Lebih-lebih saat ini sedang ada keluarga Shafa yang sedang bersilaturahmi.

(detail cerita part-nya Rumi yang sedang di kunjungi keluarga Ulum saat hari raya ada di novel Ikrar cinta sang Hafizh Qur'an ya... 😁, Terimakasih sudah membaca)

1
Sopi Yani
sangat luar biasa
falea sezi
lebih suka yg terbuka tuh rumi gpp Safa qm. bakal dpt jdoh lain
top markotop deh pokoke
Bunda ammar🥰🥰
padahal udh yg ke 3x baca cerita abi irsyad nuha jyga rumi tp ga tau kenapa pas di bab ini selalu ga tahan air mata😭😭😭
Momo Bulbul
bagus banget ceritanya
solihin 78
Masya Allah,😭😭😭😭😭😭
solihin 78
😭😭😭😭😭😭😭😭
solihin 78
hehehehee ustadz Rumi ustadz Rumi ya
solihin 78
subhanallah
solihin 78
😭😭😭😭😭😭😭😭
solihin 78
benar bi
solihin 78
luar biasa Abi Irsyad
M. Namikaze
saya baca sampai akhir novel Maryam (Cinta berselindung Risau) dan akhirnya mengerti kenapa Umma Isti tidak dijodohkan dg Ust Irsyad sebab "Menantunya Ummi Isti itu tantenya Debby, Otomatis Debby jadi cucu keponakan Ummi Isti, klo Ummi Isti jodoh sama Ust Irsyad manggil Debby nya anak apa cucu?"
M. Namikaze
cma umma Rahma yg berani ngomelin Ustadz
M. Namikaze
senjata terakhir "perintah suami"
M. Namikaze
ibnu adiknya Ilyas bukan thor? lumayan jauh klo iya, dr cileungsi ke harapan indah
M. Namikaze
yang saya tahu (saya lupa nama ulama nya) " Rasul saw. pernah bersabda, " Aku tidak akan pernah lupa, tetapi Allah memberiku lupa supaya menjadi sunnah.""
M. Namikaze
anakku perempuan semua, ntar klo ada yg ngelamar mau ku tanya begini kira kira harus bayar royalti ke author gak?
M. Namikaze
klo orang biasa yg sayang istri jujur malah jadi sakit hati banget klo sampai istri bicara begini, gak tahu klo ustadz....
...sus@nt!
hai rumi ...
dulu di novel nya Nuha aku sempet komen kalau ada novel tentang dirimu pasti aku baca , tapi karena ada hal yang terjadi akhirnya
baru sempat baca sekarang ...
maaf ya nggak menepati janji... ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!