Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Gao Hongda
Sementara puncak Gunung Jiangnan kembali sunyi, sebuah badai kepanikan luar biasa sedang melanda kediaman mewah Keluarga Gao di pusat kota.
Di dalam ruang kerja yang luas dan dilapisi marmer mahal, Gao Hongda—Direktur Utama Perusahaan Properti Hongda—sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Di atas sofa kulit, anaknya, Gao Yang, duduk dengan pipi yang masih diperban tebal akibat tamparan Fang Yuan tadi pagi. Mata Gao Yang dipenuhi dengan antisipasi yang licik.
"Ayah, apakah Geng Harimau Hitam sudah memberi kabar?" tanya Gao Yang dengan suara agak tidak jelas karena giginya yang copot. "Bocah berengsek itu harus mati malam ini! Aku tidak bisa tenang sebelum melihat mayatnya!"
"Tenanglah, Yang'er. Geng Harimau Hitam mengirim sepuluh pembunuh elit mereka. Bocah miskin itu tidak mungkin selamat," jawab Gao Hongda dingin.
*BRAKK!*
Tiba-tiba, pintu ruang kerja didobrak dengan sangat keras dari luar. Sang pemimpin Geng Harimau Hitam masuk dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi seperti mayat, dan celananya masih basah karena kencing di celana.
"L-Lapor... Tuan Besar Gao..." pria kekar itu langsung ambruk di atas lantai marmer, tubuhnya gemetar hebat.
Gao Hongda mengernyitkan dahi dengan jijik. "Ada apa denganmu? Di mana kepala Fang Yuan? Mengapa kamu kembali sendirian dengan keadaan seperti pecundang begini?!"
"Mati... mereka semua mati..." rintih sang pemimpin geng dengan mata melotot ketakutan. "Sembilan orang saya... kepala mereka dipenggal hanya dengan sekali tebas oleh bocah itu! Dia... dia bukan manusia! Dia iblis!"
"Apa?!" Gao Yang langsung melompat dari sofa, wajahnya memucat. "Bagaimana mungkin?! Dia cuma anak sekolah miskin!"
Dengan tangan yang masih gemetar seakan memegang bom waktu, sang pemimpin geng meletakkan secarik kertas putih yang sudah ternoda oleh bercak darah pekat ke atas meja kerja Gao Hongda.
"B-Bocah itu... menitipkan ini untuk Anda..."
Gao Hongda segera menyambar kertas tersebut. Begitu matanya membaca tulisan darah yang mengalirkan aura dingin yang menusuk kalbu, jantungnya serasa dihantam godam besar:
> **"Gao Hongda, siapkan sepuluh peti mati untuk keluargamu sebelum matahari terbit."**
>
"K-Kurang ajar!" Gao Hongda merobek kertas itu menjadi kepingan kecil, mencoba menyembunyikan rasa takut yang mendadak menyerang dadanya. "Dia pikir dia siapa?! Berani mengancam Keluarga Gao di Kota Jiangnan?!"
"Tuan Besar Gao, saya sarankan... sebaiknya Anda dan Tuan Muda pergi besok pagi untuk berlutut di kaki gunung..." bisik sang pemimpin geng dengan suara serak. "Jika tidak... Keluarga Gao benar-benar akan habis..."
Setelah mengatakan itu, sang pemimpin geng langsung berlari keluar dari ruangan, tidak sudi lagi terlibat dalam pusaran maut yang diciptakan oleh Fang Yuan.
Di dalam ruangan, keheningan yang mencekam kembali melanda. Gao Yang menatap ayahnya dengan tubuh yang mulai bergetar. "A-Ayah... apa yang harus kita lakukan? Fang Yuan... bagaimana kalau dia benar-benar datang?"
Gao Hongda mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh kebengisan.
"Berlutut? Mustahil! Jika Keluarga Gao berlutut pada seorang bocah SMA, di mana kami harus menaruh muka di Jiangnan?!" Gao Hongda mendengus keras, lalu mengambil ponselnya. "Dia bisa memukul beberapa preman fana, tapi dia belum pernah melihat kekuatan senjata api modern yang sebenarnya. Aku akan menghubungi Ketua Lei, pemimpin tertinggi Geng Harimau Hitam. Besok pagi, kita akan kumpulkan seratus orang bersenjata lengkap di kaki gunung! Aku ingin melihat, apakah kulit bocah itu lebih keras daripada ratusan peluru tajam!"
### Keesokan Harinya, Pukul 06.00 Pagi
Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar keemasan yang menembus kabut tipis di kaki Gunung Jiangnan.
Suasana di jalanan utama menuju area gunung mendadak mencekam. Lebih dari dua puluh mobil van hitam terparkir rapi di pinggir jalan. Dari dalam mobil-mobil tersebut, turun sekitar seratus pria berbadan tegap mengenakan pakaian hitam, masing-masing menyembunyikan parang panjang dan senjata api di balik jaket mereka. Mereka adalah pasukan inti dari Geng Harimau Hitam yang dipimpin langsung oleh **Ketua Lei**.
Gao Hongda dan Gao Yang berdiri di barisan depan dengan pengawalan ketat.
"Ketua Lei, pastikan bocah itu mati begitu dia turun dari gunung ini," ujar Gao Hongda sambil menyerahkan sebuah koper berisi uang tunai jutaan yuan.
Ketua Lei, seorang pria paruh baya dengan tatapan mata sedingin ular beludak, tersenyum sinis sambil mengisap rokoknya. "Tenang saja, Direktur Gao. Di Jiangnan ini, tidak ada satu orang pun yang bisa hidup setelah menantang organisasi kami. Jangankan bocah SMA, bahkan harimau gunung pun akan menjadi dendeng di tangan seratus pasukanku."
Gao Yang tersenyum puas dari balik perban pipinya. *'Fang Yuan... hari ini adalah hari kematianmu!'* batinnya penuh dendam.
Tepat pada saat itu, dari arah kabut gunung yang perlahan menipis, terlihat siluet seorang pemuda yang berjalan dengan langkah santai.
Fang Yuan berjalan menuruni tangga batu gunung dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana jas almamater biru tuanya. Rambut biru keputih-putihannya bergerak lembut diterpa angin pagi, dan senyum nakal yang sangat tipis terukir di wajah tampannya yang sempurna. Sepasang matanya menatap seratus orang bersenjata maut di depannya seolah-olah mereka tak lebih dari sekadar tumpukan boneka jerami.
Dia berhenti tepat sepuluh langkah di depan Gao Hongda.
"Matahari sudah terbit," ucap Fang Yuan, suaranya yang merdu namun dingin bergema di tempat yang sepi itu. "Di mana sepuluh peti mati yang aku minta, Gao Hongda?"