Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Perjamuan Doa Musim Semi dan Siasat Penawar
Long Feng mengerutkan alisnya. "Kau ingin membiarkan ibundaku meminum racun itu?"
"Tentu saja tidak," Meilin tersenyum menawan, sebuah senyuman yang penuh dengan perhitungan sains modern. "Di hadapan ahli toksikologi sepertiku, Racun Pembalik Sukma itu hanyalah cairan kimia organik sederhana. Aku akan meracik penawar instan tanpa warna yang akan dimasukkan ke dalam cawan Ibu Suri terlebih dahulu. Ketika racun keluarga Hua dicampurkan, reaksinya justru akan mengubah anggur menjadi ramuan vitamin yang menyehatkan tubuh Ibu Suri."
Meilin menatap lurus ke dalam mata elang Long Feng. "Kita akan menangkap basah pelayan Selir Hua tepat saat dia menaruh racun tersebut di depan ratusan menteri besok malam. Di bawah kesaksian publik dan di depan Ibu Suri yang selamat, keluarga Hua tidak akan punya jalan keluar lagi selain dieksekusi atas tuduhan makar tingkat tinggi."
Long Feng menatap permaisurinya dengan binar takjub yang kian mendalam. Rubah kecilnya tidak pernah memilih jalan keluar yang defensif; ia selalu memilih untuk membiarkan musuh melangkah masuk ke dalam jebakan maut yang ia rancang sendiri, sebelum akhirnya menghancurkan mereka berkeping-keping tanpa sisa.
Kaisar melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk mendekap tengkuk leher Meilin, menarik wajah cantik wanita itu hingga jarak mereka terkikis habis. "Siasat yang sangat kejam, Permaisuriku. Aku akan mengatur agar Pasukan Serigala Hitam menjaga setiap sudut aula perjamuan besok malam. Tapi ingat... jika rencana ini berhasil, pajak cinta yang harus kau bayar padaku setelah perjamuan selesai... akan jauh lebih tinggi dari biasanya."
Meilin terkekeh dingin, menepis pelan tangan Long Feng meskipun rona merah tipis sempat melintas di wajah cantiknya. "Selesaikan dulu bagian pertunjukanmu besok malam, Yang Mulia. Sisa urusan racun... biarkan aku yang menjadi sutradaranya."
Konspirasi di dalam cawan Ibu Suri telah tercium, dan malam sebelum Perjamuan Doa Musim Semi menjadi saksi dari lahirnya siasat maut baru yang akan menentukan siapa penguasa sejati di dalam harem belakang Dinasti Long.
Aroma dupa gaharu berpadu dengan wewangian bunga persik memenuhi Aula Agung Kencana. Perjamuan Doa Musim Semi diselenggarakan dengan kemegahan yang luar biasa. Ratusan menteri kabinet, pangeran, dan nyonya bangsawan duduk rapi di barisan meja rendah yang tersusun sesuai kasta. Di takhta tertinggi, Kaisar Long Feng duduk dengan keagungan jubah naga emas hitamnya. Di sisi kirinya, Ibu Suri duduk dengan anggun mengenakan jubah beludru ungu tua, sementara Lin Meilin berada di posisi Permaisuri Agung di sisi kanan Kaisar.
Di sudut paling belakang aula, Selir Hua yang telah diturunkan gelarnya duduk dengan wajah tertunduk. Namun, dari balik bulu matanya yang lentik, sepasang matanya berkilat penuh racun kedengkian. Ia sesekali melirik ke arah dayang pribadinya yang berdiri di dekat meja hidangan Ibu Suri.
Lin Meilin, nikmati sisa keagunganmu malam ini. Sebentar lagi, kepalamu akan terpisah dari lehermu, batin Selir Hua penuh dendam.
Meilin, yang mengaktifkan indra pendengarannya yang tajam lewat aliran Qi, bisa merasakan ketegangan yang merayap di sisi kiri aula. Sesuai draf rencana sains modern yang ia rancang semalam, ia telah menyuruh Xiao Cui menyelinap lebih dulu ke dapur istana untuk mengoleskan lapisan tipis cairan Natrium Karbonat murni—alkali kuat buatan tokonya—ke bagian dalam cawan emas Ibu Suri. Cairan ini tidak berwarna, tidak berbau, dan sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh manusia. Namun, ia bertindak sebagai penetral asam instan yang sangat kuat.
"Hidangan teh herbal musim semi untuk Ibu Suri!" seru seorang kasim pengurus hidangan.
Seorang dayang dengan tangan gemetar maju ke depan, membawa nampan berisi teko keramik putih. Saat membungkuk untuk menuangkan teh ke dalam cawan Ibu Suri, jari kelingking dayang tersebut menekan sebuah mekanisme tersembunyi di balik lengan bajunya. Setetes cairan benang perak—Racun Pembalik Sukma—meluncur mulus masuk ke dalam teh hangat.
Gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat dan halus, hampir tidak mungkin dideteksi oleh mata pengawal biasa. Namun, di bawah pengawasan taktis dari mata elang Meilin, semua itu terlihat seperti rekaman gerakan lambat.
Tepat saat teh beracun itu menyentuh dasar cawan yang telah dilapisi penawar alkali oleh Meilin, reaksi kimia instan terjadi di tingkat molekuler. Komponen asam arsenik dari Racun Pembalik Sukma berikatan dengan partikel alkali murni, mengubah struktur racun mematikan itu menjadi senyawa garam kalsium alami yang justru berkhasiat untuk memperkuat tulang.
Ibu Suri mengangkat cawan emasnya perlahan, berniat meminum teh tersebut setelah membacakan doa keselamatan negara.
"Ibundaku, tunggu sejenak," suara bariton Kaisar Long Feng mendadak bergema rendah, memotong keheningan aula.
Ibu Suri menghentikan gerakannya, menoleh dengan bingung. "Ada apa, Yang Mulia?"
Long Feng tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberikan isyarat mata kepada Meilin. Meilin berdiri dari kursi phoenix-nya dengan gerakan yang sangat anggun dan penuh wibawa. Jubah kebesarannya berkibar saat ia melangkah maju ke tengah aula, menarik perhatian ratusan pasang mata menteri.
"Melapor pada Ibu Suri," Meilin membungkuk hormat, suaranya jernih dan tegas. "Teh herbal di dalam cawan Anda baru saja ditambahkan bumbu yang sangat... istimewa oleh dayang hidangan tersebut."
Mendengar ucapan Permaisuri, dayang yang tadi menuangkan teh langsung pucat pasi. Ia berlutut ketakutan di lantai. "P-Permaisuri Agung, hamba tidak berani! Hamba hanya menuangkan teh herbal biasa sesuai resep tabib istana!"
"Memfitnah pelayan istana di hari suci? Permaisuri Lin, tindakanmu ini sungguh keterlaluan dan mengganggu kekhusyukan doa!" Ibu dari Selir Hua yang duduk di barisan nyonya bangsawan langsung berdiri, mencoba membela kaki tangannya sebelum konspirasi terbongkar.
Meilin tidak menoleh ke arah wanita tua itu. Ia justru mendekati meja Ibu Suri, mengambil sebuah cangkir perak kosong dari pelayannya, dan menuangkan sedikit teh dari cawan emas Ibu Suri ke dalam cangkir perak tersebut.
"Menteri Zhao, Anda adalah ahli hukum di kekaisaran ini," Meilin melemparkan pandangan tajam ke arah salah satu menteri sekutu keluarga Hua. "Apakah Anda tahu apa yang terjadi jika perak bersentuhan dengan Racun Pembalik Sukma milik klan Hua?"
Seketika, atmosfer di dalam aula mendingin drastis. Nama racun legendaris milik keluarga Hua disebut secara terbuka.
Meilin mengeluarkan sebotol kecil cairan cuka pekat—zat asam buatan—dari balik lengan bajunya dan meneteskannya ke dalam cangkir perak berisi teh tersebut. Reaksi kimia terjadi seketika karena Meilin dengan sengaja menambahkan sedikit zat indikator warna dari ekstrak kubis ungu di dalamnya.
Syuuutan... Blup!
Cairan teh yang awalnya bening kekuningan mendadak berubah warna menjadi merah darah yang sangat pekat, dan permukaan perak di dalam cangkir langsung menghitam pekat seperti arang terbakar. Ini adalah bukti visual tak terbantahkan bahwa teh tersebut mengandung racun korosif tingkat tinggi yang sangat mematikan.
"Ahhh! Ada racun!" jeritan histeris seketika pecah dari barisan nyonya bangsawan.
"Gao Zan! Amankan dayang itu dan seluruh pengawal di sekitar meja hidangan!" Long Feng berteriak penuh amarah, menghentakkan tangannya ke atas meja hingga bergetar hebat.
Dua puluh pengawal bayangan Pasukan Serigala Hitam melompat turun dari langit-langit atap, langsung mengunci pergerakan dayang hidangan dan mengepung posisi duduk Selir Hua beserta ibunya.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉