NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Balik Dinding Kaca

Kegelapan yang pekat langsung menelan seluruh sudut kediaman Jalan Widya Mulia begitu jarum jam menyentuh pukul 21.00. Detik berikutnya, gemuruh petir yang dahsyat membelah langit Megapura, memantulkan kilatan cahaya putih keperakan yang mengiris tirai jendela kaca besar di lobi utama. Hujan deras yang mengguyur sejak sore kini menjelma menjadi badai yang bising, menyamarkan setiap suara gesekan daun dan derit ranting di halaman belakang.

Di koridor lantai dua yang dingin, Nathan berdiri tanpa bergerak. Di balik lensa kacamata termal pasifnya, dunia tidak lagi gelap. Koridor marmer yang sunyi itu terpeta dalam gradasi warna biru tua yang beku, sementara suhu tubuhnya sendiri terisolasi sempurna oleh lapisan pakaian taktis di balik jas hitamnya.

Bzzzt.

"Dua detik yang lalu, frekuensi radio luar mereka mendeteksi netralisasi pertahanan perimeter," bisik Rendra melalui saluran enkripsi di telinga kanan Nathan. "Tim pertama Vera menggunakan gas anestesi aerosol halotan dosis tinggi melalui sistem ventilasi pos jaga luar. Empat penjaga kita lumpuh tanpa sempat menekan tombol panik. Mereka sangat bersih, Nathan."

"Sesuai perkiraan," jawab Nathan, suaranya terdengar seperti desis angin malam yang dingin. "Berapa banyak yang bergerak menuju struktur utama?"

"Satu tim pengintai terdiri dari 3 agen telah melewati pagar belakang barat. Tim kedua berisi 4 agen menyapu area kolam renang timur. Vera sendiri bersama 2 pengawal elit berada di titik komando van belakang, memantau umpan sensor taktis mereka. Sisanya berjaga sebagai jangkar di perimeter luar."

"Bagus. Biarkan mereka masuk lebih dalam," ucap Nathan datar.

Ia mematikan komunikator nirkabelnya untuk mencegah kebocoran frekuensi taktis sekecil apa pun yang mungkin dipindai oleh alat pelacak canggih milik Vera Sterling. Nathan melangkah turun dari lantai dua menggunakan tangga pelayan yang sempit di sisi barat rumah, sebuah rute yang sengaja ia pilih karena memiliki sudut pertahanan yang sangat sempit dan tidak terpantau oleh jendela luar.

Setiap langkah kaki Nathan begitu ringan, hampir melayang di atas permukaan kayu tangga. Di tengah badai yang menderu di luar, langkahnya sama sekali tidak menghasilkan getaran.

Ia tiba di lantai dasar tepat ketika tiga siluet termal pertama muncul di balik pintu kaca geser halaman belakang yang menghadap langsung ke kolam renang barat.

Melalui kacamata termal pasifnya, Nathan bisa melihat tiga sosok dengan radiasi panas tubuh berwarna merah-oranye terang. Mereka bergerak dalam formasi wedge yang sangat rapat, memegang senapan serbu kompak submesin kaliber 9 mm yang dilengkapi dengan peredam suara panjang dan laser inframerah tak kasat mata.

Tim Alfa. Unit pengintai depan.

Salah satu dari mereka mengeluarkan alat pemotong kaca taktis dari tas pinggangnya. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menempelkan mangkuk hisap ke permukaan kaca, memutarnya dalam lingkaran sempurna berdiameter 15 sentimeter, lalu memberikan satu tekanan lembut.

Klik.

Kaca bundar itu terlepas tanpa menimbulkan pecahan suara. Agen tersebut memasukkan tangannya yang bersarung kulit ke dalam celah, memutar tuas pengunci dalam pintu dari dalam, dan mendorong pintu geser tersebut hingga terbuka lebar. Angin malam yang dingin dan percikan air hujan langsung menerobos masuk, membawa hawa basah yang menyapu lantai marmer hitam ruang makan bawah.

"Alfa-Satu masuk. Area makan steril. Tidak ada tanda-tanda sistem pertahanan cadangan aktif," bisik agen terdepan ke dalam mikrofon tenggorokannya. Suara napasnya yang teratur terdengar melalui dekoder frekuensi yang sempat disadap oleh Rendra sebelum pemadaman listrik.

"Lanjutkan ke titik tangga tengah. Amankan target sekunder sebelum mengamankan jalur evakuasi," suara dingin Vera Sterling menjawab dari saluran radio komando, terdengar samar di telinga Nathan yang memiliki pendengaran di atas rata-rata manusia biasa.

Tiga penyusup itu melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka bergerak dengan sangat hati-hati, memindai setiap sudut gelap menggunakan alat penglihatan malam tipe Gen-3 mereka. Namun, mereka tidak menyadari satu hal krusial, NVG mereka mengandalkan amplifikasi cahaya sisa, yang membuat kegelapan total tanpa sumber cahaya inframerah aktif menjadi sangat datar dan membatasi persepsi kedalaman visual mereka hingga 40 persen.

Sementara itu, kacamata termal milik Nathan membaca tanda panas mereka dengan akurasi 100 persen.

Agen kedua, seorang pria bertubuh sedang dengan tanda pemicu panas di bahu kanannya, berjalan melintasi koridor sempit menuju tangga pelayan barat. Ia mengarahkan laras senjatanya ke depan, memeriksa setiap sudut mati di balik pilar dekorasi.

Tepat ketika kakinya melompati anak tangga pertama—

KRAK.

Kawat baja karbon tinggi setinggi 10 sentimeter yang dipasang Nathan semalam langsung menjerat pergelangan kakinya yang mengenakan bot militer. Tubuh agen tersebut kehilangan keseimbangan seketika, terdorong ke depan akibat momentum larinya sendiri.

Sebelum tubuhnya sempat menghantam lantai kayu tangga dengan keras yang bisa menimbulkan suara bising, sebuah bayangan hitam meluncur keluar dari balik kegelapan di bawah tangga pelayan.

Itu adalah Nathan.

Dengan kecepatan yang tidak masuk akal, Nathan menangkap bahu agen yang terjatuh tersebut dengan tangan kirinya, menahan beban tubuhnya agar tidak membentur lantai, sementara tangan kanannya yang memegang pisau taktis karbon hitam menusuk lurus ke atas, menembus celah sempit di bawah rahang agen tersebut, tepat di titik lunak di belakang dagunya.

Bilah pisau sepanjang 15 sentimeter itu meluncur mulus ke dalam, menembus batang otak korban dalam waktu kurang dari 0.5 detik.

Mata agen tersebut membelalak kosong di balik kacamata NVG-nya. Seluruh saraf motoriknya mati seketika. Nathan menahan jasad dingin itu selama 2 detik hingga sisa energi ototnya habis, lalu meletakkannya perlahan di lantai tangga tanpa menimbulkan suara sedikit pun selain gesekan kain jas yang sangat halus.

Nathan mengambil senapan submesin kompak milik agen mati tersebut, melepas magasinnya, membuang peluru di kamar laras, dan menyembunyikan senjata itu di bawah tumpukan karpet di dekat lemari penyimpanan.

Satu jatuh. Sisa sebelas.

Di ujung koridor utama, dua agen Tim Alfa lainnya mulai menyadari ada yang tidak beres. Rekan mereka yang bertugas menjaga garis belakang tidak lagi terlihat di dalam jangkauan visual malam mereka.

"Alfa-Tiga, laporkan posisimu," desis Alfa-Satu melalui radio komunikasi mereka dengan nada yang mulai tegang.

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara desis statis yang dingin di ujung saluran udara.

"Alfa-Tiga, kembali ke jalur utama. Ini perintah," ulang Alfa-Satu, tangannya memberi isyarat taktis kepada Alfa-Dua untuk menghentikan pergerakan mereka dan mengambil posisi bertahan membelakangi dinding pilar.

Di bawah keremangan badai yang sesekali menerangi ruangan lewat kilatan petir luar jendela, ketakutan mulai merayap naik di dada dua agen tersebut. Mereka adalah tentara bayaran elit yang telah melewati belasan pertempuran di Timur Tengah, namun berada di dalam rumah yang gelap gulita ini memberikan atmosfer yang sepenuhnya berbeda, seolah-olah mereka tidak sedang menyusup ke rumah seorang konglomerat, melainkan masuk ke dalam sarang seekor predator purba.

"Alfa-Dua, periksa jalur barat. Aku akan menjaga koridor utama," perintah Alfa-Satu dengan suara yang mulai bergetar tipis.

Alfa-Dua mengangguk. Ia memutar tubuhnya, mengarahkan laras senjatanya ke arah koridor sempit tangga pelayan. Di bawah bantuan NVG-nya, koridor itu tampak sunyi dan kosong, diselimuti warna hijau neon yang statis.

Ia melangkah perlahan, menapakkan kakinya dengan sangat hati-hati pada marmer dingin.

Tepat ketika ia melewati pilar marmer kedua, sebuah tangan yang dingin seperti es tiba-tiba menjulur keluar dari balik bayangan pilar, mencengkeram erat laras senapan submesinnya dan mendorongnya ke atas dengan kekuatan yang sangat besar hingga membuat arah tembakan meleset ke langit-langit.

Alfa-Dua tersentak panik, mencoba menarik pelatuk pemicunya. Namun sebelum jarinya sempat bergerak, Nathan telah memutar tubuhnya masuk ke dalam area pertahanan dalam agen tersebut.

Sebuah pukulan telapak tangan terbuka yang membawa energi kinetik luar biasa menghantam ulu hati agen itu dengan presisi mutlak.

BUP.

Suara benturan itu sangat diredam, namun dampaknya luar biasa mematikan. Udara di dalam paru-paru Alfa-Dua keluar seketika, dan tulang dadanya retak di tiga titik yang berbeda, menekan organ jantungnya hingga berhenti berdetak dalam waktu tiga detak pertama.

Sebelum tubuhnya jatuh, Nathan mencengkeram kerah jaket taktis agen tersebut, memutar tubuhnya 180 derajat, dan menggunakannya sebagai tameng manusia tepat ketika Alfa-Satu berputar di ujung koridor setelah mendengar gesekan halus gerakan mereka.

TAP! TAP! TAP!

Tiga tembakan diredam dari senapan Alfa-Satu meluncur dalam gelap, seluruhnya menghantam punggung jasad Alfa-Dua yang dipegang erat oleh Nathan. Tembakan itu tidak menimbulkan suara bising karena peredam suara, namun kilatan moncong laras yang sangat tipis memberi Nathan koordinat posisi Alfa-Satu secara presisi.

Nathan melepaskan cengkeramannya pada mayat Alfa-Dua, membiarkannya ambruk ke lantai, sementara tubuhnya sendiri meluncur rendah di atas lantai marmer yang licin akibat percikan air badai luar.

Sebelum Alfa-Satu sempat mengoreksi arah bidikannya di bawah kegelapan malam, Nathan sudah berada tepat di bawah lututnya.

Sebuah sabetan kaki memutar dari Nathan menghantam sendi lutut kiri Alfa-Satu dari samping dengan kekuatan yang setara dengan hantaman palu godam seberat 5 kilogram.

KRAKK.

Lutut itu bergeser dari mangkuknya, hancur berkeping-keping. Alfa-Satu jatuh berlutut dengan jeritan rasa sakit yang tertahan di tenggorokannya. Sebelum ia sempat menjatuhkan senjatanya atau berteriak lebih keras, tangan kanan Nathan yang mengenakan sarung tangan taktis hitam telah mencengkeram rahangnya dari belakang, sementara tangan kirinya memegang bagian atas kepalanya.

Dengan satu gerakan memutar yang dingin, efisien, dan tanpa belas kasihan—

KRAK.

Leher Alfa-Satu patah seketika. Seluruh tubuhnya lemas, ambruk di atas genangan darah rekannya sendiri yang mulai mengalir perlahan di atas lantai marmer putih lobi tengah.

Nathan berdiri tegak di tengah keheningan yang kembali berkuasa. Ia mengembuskan napas perlahan melalui hidungnya, sama sekali tidak terengah-engah setelah melenyapkan tiga agen elit dalam waktu kurang dari 3 menit.

Ia merunduk, mengambil radio komunikasi yang masih menempel di telinga Alfa-Satu yang telah tewas. Nathan memasang alat penangkap suara tersebut ke telinganya sendiri, menyetel enkripsinya ke frekuensi utama operasional Vera Sterling.

Di seberang frekuensi, keheningan sempat bertahan selama 10 detik sebelum suara dingin Vera Sterling kembali terdengar, membawa nada kecurigaan yang sangat tajam.

"Alfa-Satu, laporkan situasi. Mengapa umpan telemetri detak jantung kalian bertiga terputus dari monitor pusat?" tanya Vera. "Alfa-Satu, jawab."

Nathan menekan tombol transmisi pada radio kecil tersebut. Ia tidak mencoba meniru suara agen yang telah tewas. Sebaliknya, ia berbicara dengan suaranya sendiri, suara berat, dingin, dan membawa aura kematian yang begitu pekat hingga membuat frekuensi statis di radio seolah membeku seketika.

"Tim Alfa-mu tidak akan menjawab lagi, Vera," ucap Nathan tenang, berdiri tegak di tengah kegelapan lobi dengan kilatan petir yang menerangi wajahnya yang kaku tanpa emosi. "Mereka baru saja pensiun dini di lantai dasar."

Di dalam van komando taktis yang terparkir jauh di bukit pinus belakang rumah, Vera Sterling membelalakkan matanya mendengar suara asing tersebut. Jari-jarinya mengepal erat di atas meja kendali digitalnya hingga buku jarinya memutih.

"Siapa kamu?" desis Vera, suaranya dipenuhi amarah bercampur keterkejutan yang luar biasa. "Pengawal sipil tidak memiliki kemampuan seperti ini."

Nathan menatap lurus ke arah pintu kaca belakang yang terbuka, melihat ke arah kegelapan hutan pinus tempat van Vera berada.

"Aku adalah orang yang berdiri di antara kamu dan Clara," jawab Nathan dingin. "Dan aku menyarankanmu untuk mengirim sisa sembilan anak buahmu sekaligus... karena jika mereka masuk satu per satu, aku akan bosan mematahkan leher mereka."

Nathan melepaskan tombol transmisi, membuang radio kecil itu ke lantai marmer, lalu menginjaknya hingga hancur berkeping-keping di bawah tumit sepatu bot taktisnya.

Perang sesungguhnya di dalam istana marmer Jalan Widya Mulia baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!