Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURIGA
Keesokan Hari
Udara pagi di lingkungan kampus terasa segar dan cerah. Matahari baru saja naik perlahan ke angkasa, menyinari gedung-gedung tinggi dan deretan pohon rindang yang tumbuh di sepanjang jalan setapak tempat para mahasiswa berjalan berduyun-duyun menuju kelas. Di antara kerumunan itu, Joe berjalan sendirian dengan langkah yang tenang dan mantap. Ia datang lebih awal dari biasanya, jauh sebelum jam kuliah dimulai. Pakaiannya rapi, wajahnya datar tanpa ekspresi berlebih, namun di balik tatapan matanya yang biasa saja, tersembunyi keteguhan hati dan rencana besar yang sudah lama ia simpan dalam benaknya. Tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan, ia terus berjalan hingga tiba di depan pintu kelas yang masih sepi, lalu masuk dan duduk di tempat yang biasa ia tempati — di sudut belakang, tempat yang memungkinkannya melihat segala sesuatu tanpa terlalu banyak diperhatikan orang lain.
Sementara itu, di bagian lain kampus tepatnya di kantin yang mulai ramai pengunjung, Alex, Rey, dan Billy duduk mengelilingi salah satu meja panjang di sudut ruangan. Di depan mereka sudah tersaji piring-piring berisi sarapan yang masih mengepulkan uap — nasi hangat, telur dadar, dan lauk sederhana yang cukup untuk mengisi perut sebelum memulai perkuliahan. Namun hanya Billy yang tampak sibuk berbicara dengan nada penuh keluhan, sementara kedua temannya justru makan dengan santai seolah tidak ada hal yang mengganggu pikiran mereka.
"Parah sekali kalian berdua!" seru Billy sambil menggelengkan kepala berkali-kali, menatap Alex lalu beralih ke Rey dengan tatapan tak percaya. "Bisa-bisanya kalian mabuk sampai tidak sadar sama sekali kemarin. Kalian tahu betapa repotnya gue? Untung saja ada orang-orang yang dikirim Nyokap untuk menjemput, jadi mereka yang gue suruh mengantar kalian pulang sampai ke pintu rumah. Kalau tidak, entah di mana kalian tergeletak sendirian di jalanan kemarin."
Rey mengunyah makanannya dengan perlahan dan tenang, lalu menelan pelan sebelum menjawab sambil tersenyum menyindir sahabatnya itu. "Hei, jangan seakan-akan loe sendiri tidak pernah begitu, Bil. Loe juga pernah mabuk parah sampai tidak sadar dan hampir menabrak orang di jalan pulang. Kalau tidak ada Bokap gue yang datang tepat waktu dan menangani masalah itu dengan cepat, pasti sudah lama loe berurusan dengan pihak berwenang. Jadi jangan saling mengejek, kita sama saja."
Alex yang sedari tadi hanya diam menatap nasi di piringnya tanpa banyak berselera, tiba-tiba meletakkan sendoknya perlahan dan menatap kedua temannya dengan wajah yang masih penuh kekesalan. "Sudah, cukup soal mabuk-mabukan. Sekarang bagaimana caranya kita membalas dendam kepada Joe? Gue sama sekali belum merasa puas kalau dia belum kena batunya dan menderita seperti yang kita rasakan."
Rey baru saja hendak menyuap nasi, namun tiba-tiba ia berhenti dan melirik ke arah pintu masuk kantin dengan sudut matanya, lalu tersenyum tipis. "Tidak usah repot-repot mencarinya," ucapnya pelan namun jelas. "Karena orang yang kalian bicarakan itu sudah ada di belakang Alex, dan sedang berjalan menuju ke meja kita sekarang."
Alex dan Billy serentak menoleh dengan cepat ke arah yang ditunjukkan Rey. Benar saja — Joe berjalan mendekat dengan langkah santai yang tenang, tidak terburu-buru sama sekali. Wajahnya tetap datar, tidak ada tanda-tanda takut maupun cemas, seakan tidak pernah ada perselisihan di antara mereka sebelumnya. Sesampainya di samping meja mereka, ia berhenti sejenak, lalu menatap ketiga orang itu satu per satu sebelum tersenyum sopan.
"Maaf soal kejadian hari itu," ucapnya dengan nada yang terdengar tulus namun tetap tegas dan tenang. "Gue mengakui sikap gue kurang pantas saat itu. Karena itu, gue datang untuk meminta maaf dengan baik. Bolehkah gue duduk bersama kalian?"
Tanpa menunggu jawaban panjang lebar, Joe menarik kursi kosong di sisi meja dan duduk di sana dengan tenang, seolah memang sudah seharusnya ia ada di antara mereka. Billy dan Rey saling berpandangan sebentar lalu mengangguk pelan — bagi mereka, permintaan maaf yang disampaikan secara langsung sudah cukup untuk meluruskan apa yang sempat kacau. Namun Alex masih terlihat kesal sekali. Wajahnya masam, bibirnya mengerucut, dan matanya menatap tajam ke arah Joe tanpa berkedip. Joe seakan tidak peduli sedikit pun dengan sikap Alex itu; ia hanya tersenyum biasa dan menatap ke depan dengan tenang.
"Karena semuanya sudah jelas sekarang," ucap Joe santai sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja, "mungkin kita bisa mulai bersikap lebih baik satu sama lain. Bagaimana kalau malam minggu nanti kita pergi nongkrong bersama? Biar makin akrab sebagai teman sekelas."
Billy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Maaf, Joe, sepertinya nggak bisa. Kita bertiga sudah ada acara penting malam minggu nanti."
Rey yang duduk di samping Billy lalu tersenyum ramah dan menambahkan, "Tapi kalau loe berminat, loe boleh ikut datang ke acara kami, Joe. Tidak ada larangan."
Joe menoleh ke arah Rey dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Acara apa itu kalau boleh tahu?"
"Itu acara syukuran kecil di rumah gue," jelas Rey dengan nada yang sedikit bangga namun tetap sopan. "Ayah gue baru saja naik pangkat di kepolisian, jadi keluarga gue mengadakan syukuran tertutup untuk kerabat dan teman-teman dekat saja."
"Wah, selamat untuk Ayahmu ya, Rey," ucap Joe tulus. "Kalau begitu, gue datang. Terima kasih sudah mengundang."
Tak lama kemudian Joe berdiri perlahan sambil merapikan pakaiannya. "Gue ke kelas dulu. Sebentar lagi bel berbunyi dan pelajaran akan dimulai. Sampai jumpa nanti." Setelah berpamitan singkat, ia berjalan meninggalkan kantin dengan langkah yang tetap tenang dan tegap.
Begitu sosok Joe hilang dari pandangan mereka, Alex langsung menatap kedua sahabatnya dengan wajah yang penuh kekesalan. "Kalian ini bagaimana sih? Kenapa begitu mudah menyambutnya kembali seakan tidak pernah ada masalah besar di antara kita?"
Rey mengangkat bahu dengan santai. "Dia sudah datang sendiri dan meminta maaf dengan tulus, Alex. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa terus-terusan memusuhinya tanpa alasan yang masuk akal."
Billy ikut menyahut sambil mencomot lauk di piringnya. "Benar kata Rey. Lagipula, kita memang butuh teman tambahan. Jangan terus-terusan hanya bertiga saja ke mana-mana, nanti orang-orang mengira kita aneh dan tidak mau bergaul dengan siapa pun."
Alex semakin kesal mendengar alasan mereka yang begitu sederhana. "Sudah, sudah! Terserah kalian saja!" serunya sambil membuang muka dengan cemberut. "Kalau begitu, gue sendiri yang akan mengurus hal lain. Gue berniat mendekati wanita cantik yang ada di kelas kita. Malam minggu nanti gue akan coba mengajak salah satu dari mereka pergi bermain."
Mendengar ucapan itu, Rey dan Billy langsung tertawa lebar hingga bahu mereka bergoyang. "Hahaha! Pasti gagal lagi rencanamu itu, Alex!" canda Rey sambil menepuk-nepuk bahu temannya dengan geli.
Belum lama mereka tertawa, ponsel yang diletakkan Billy di sudut meja tiba-tiba bergetar pelan. Ia segera mengambilnya dan membaca pesan yang baru saja masuk. Wajahnya yang tadi biasa saja langsung berubah cerah seketika.
"Wah, kabar bagus sekali!" seru Billy dengan gembira. "Mama mengirim pesan, dia bilang hari ini dia memasak banyak sekali makanan di rumah. Dia mengundang teman-teman gue untuk makan siang bersama sepulang kuliah nanti."
Billy segera membalas pesan itu dengan cepat, lalu menoleh kembali ke arah dua sahabatnya dengan wajah berseri-seri. "Jadi sepulang kelas nanti, kita langsung pergi ke rumah gue untuk makan siang ya? Mama pasti sudah menyiapkan segalanya dengan lezat." Tanpa menunggu jawaban, ia menambahkan dengan antusias, "Dan sebaiknya... kita ajak Joe juga. Biar jumlah kita makin banyak dan makan siang ini makin seru."
Saat mendengar nama Joe disebut lagi, Alex langsung terdiam. Ia menunduk perlahan dan menatap meja makan dengan dahi yang berkerut dalam. Di dalam benaknya, pikiran-pikiran mulai berputar cepat — kenapa Joe tiba-tiba datang pagi-pagi sekali? Kenapa dia begitu bersikeras meminta maaf dan mendekati mereka? Apa sebenarnya tujuan yang tersembunyi di balik sikap ramahnya yang tiba-tiba itu? Alex menyipitkan matanya. Ia tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya. Ia akan memperhatikan setiap gerak-gerik Joe dengan teliti, dan ia sendiri yang akan mencari tahu — apa motif sebenarnya di balik semua ini.