Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Kartu nama itu diletakkan di meja Alexander pukul 09.12.
Richard Oeitomo.
Partner Senior.
Nama firma di bawahnya cukup besar untuk membuat resepsionis menelan ludah sebelum bicara.
"Pak Alexander, beliau mewakili pihak lawan dalam perkara Bu Mira Lestari."
Alexander mengambil kartu nama itu.
"Perkara kios alat tulis?"
"Iya, Pak."
Di depan mejanya, Mira Lestari duduk dengan tas kain lusuh di pangkuan. Perempuan itu memiliki kios alat tulis kecil di dekat terminal lama Kota Cahaya. Sejak lahan sekitar dibeli pengembang, ia diminta keluar dengan alasan renovasi kawasan. Masalahnya, pemberitahuan resmi dikirim ke alamat lama yang sudah tidak ia pakai, lalu perusahaan menagih denda Rp 18.700.000 karena ia dianggap menempati kios tanpa hak.
Untuk pengembang, angka itu mungkin biaya rapat.
Untuk Mira, itu biaya hidup beberapa bulan.
Gunawan berdiri di belakang kursi Alexander, membaca kartu nama itu sekilas.
"Richard Oeitomo turun untuk perkara sekecil ini?"
Mira semakin tegang. "Kalau lawannya besar begitu, saya cabut saja, Pak?"
Alexander menaruh kartu nama Richard di samping berkas.
"Justru karena lawannya besar, kita rapikan perkara kecil ini dengan benar."
Sidang gugatan sederhana berlangsung dua hari kemudian.
Ruang sidangnya tidak penuh seperti perkara MakanYuk. Hanya ada hakim tunggal, panitera, dua meja pihak, dan beberapa orang yang menunggu perkara mereka dipanggil. Tidak ada wartawan. Tidak ada sorotan.
Tetapi begitu Richard Oeitomo masuk, ruangan kecil itu terasa lebih rapi.
Ia pria berusia empat puluhan akhir, jas abu-abu tua, rambut tersisir sederhana, dan cara berjalan yang tidak mencari perhatian. Ia menghampiri meja Alexander sebelum sidang dimulai.
"Alexander Wijaya?"
Alexander berdiri. "Benar. Richard Oeitomo?"
Mereka berjabat tangan.
Genggaman Richard kuat, tidak menekan.
"Saya membaca putusan MakanYuk," kata Richard. "Argumen Saudara bersih."
"Terima kasih. Saya membaca jawaban Saudara dalam perkara ini."
Richard tersenyum kecil. "Dan?"
"Terlalu bersih untuk perkara yang faktanya kotor."
Senyum Richard tidak hilang.
"Bagus. Berarti sidang tidak akan membosankan."
Tidak ada hinaan. Tidak ada ancaman. Tidak ada kalimat licik yang disembunyikan di balik keramahan.
Alexander justru menjadi lebih waspada.
Lawan yang sopan kadang lebih sulit dikalahkan karena ia tidak memberi celah emosional.
Hakim membuka sidang.
Richard berdiri lebih dulu sebagai kuasa tergugat.
"Yang Mulia, klien kami tidak pernah bermaksud menekan penggugat. Perjanjian sewa kios memuat klausul bahwa pemilik kawasan berhak melakukan pengosongan sementara untuk renovasi, dengan pemberitahuan tertulis. Surat telah dikirim. Fakta bahwa penggugat tidak lagi memakai alamat korespondensi tersebut bukan kesalahan klien kami."
Ia tidak menyerang Mira.
Ia tidak menyebutnya bandel.
Ia hanya membuat posisi perusahaan terdengar wajar.
"Adapun denda Rp 18.700.000 merupakan perhitungan biaya pemakaian ruang setelah masa pengosongan diminta."
Kalimatnya rapi.
Terlalu rapi.
Alexander berdiri.
"Yang Mulia, perkara ini memang kecil. Nilainya tidak sebesar perkara korporasi lain. Tetapi prinsipnya jelas: pemberitahuan tidak boleh hanya dikirim agar perusahaan bisa berkata sudah mengirim. Pemberitahuan harus secara patut membuat pihak yang terdampak mengetahui hak dan risikonya."
Ia mengangkat satu lembar fotokopi.
"Alamat yang dipakai tergugat adalah alamat lama penggugat lima tahun lalu. Dalam tiga tahun terakhir, seluruh tagihan sewa bulanan dikirim ke nomor dan alamat kios yang aktif. Bukti transfer sewa juga mencantumkan alamat korespondensi baru. Artinya, tergugat tahu saluran komunikasi yang benar, tetapi untuk surat pengosongan justru memakai alamat yang tidak lagi dipakai."
Richard mencatat. Tidak memotong.
Alexander melanjutkan.
"Klausul renovasi memang ada. Kami tidak menyangkal hak pemilik kawasan melakukan penataan. Tetapi hak kontraktual harus dijalankan dengan itikad baik. Penggugat tidak menolak pindah. Penggugat hanya tidak pernah diberi kesempatan yang patut untuk menyiapkan pemindahan barang, mencari lokasi sementara, atau mengajukan keberatan atas denda."
Hakim menatap Richard. "Kuasa tergugat?"
Richard berdiri lagi.
"Yang Mulia, dalil itikad baik pihak penggugat dapat dipahami. Namun kontrak tidak mensyaratkan konfirmasi penerimaan surat. Jika setiap pemberitahuan harus dibuktikan sampai benar-benar dibaca, kepastian hukum dalam perjanjian sewa akan terganggu."
Alexander segera menangkap celah itu.
Ia berdiri setelah hakim memberi izin.
"Kepastian hukum bukan kepastian bagi pihak kuat untuk memilih alamat yang paling menguntungkan. Jika tergugat konsisten memakai alamat lama dalam seluruh komunikasi, posisi mereka kuat. Tetapi mereka memakai alamat baru untuk tagihan, lalu alamat lama untuk pengosongan. Itu bukan kepastian. Itu pemilihan alat bukti."
Mira menatap meja. Tangannya yang sejak tadi meremas tas kain perlahan berhenti bergerak.
Richard menoleh sebentar ke kliennya, seorang manajer legal pengembang. Wajahnya tetap tenang, tetapi Alexander melihat perubahan kecil: Richard tahu titik itu berbahaya.
Sidang berjalan empat puluh menit.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada drama.
Hanya dua orang pengacara yang saling mengunci kalimat di ruang sempit.
Ketika hakim membacakan putusan, suara panitera di belakang ikut berhenti mengetik.
"Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Menyatakan pengenaan denda Rp 18.700.000 tidak sah karena pemberitahuan pengosongan tidak dilakukan secara patut. Memerintahkan tergugat memberikan waktu pengosongan tiga puluh hari kalender dan menawarkan lokasi sementara yang layak selama renovasi, atau membayar kompensasi pengganti sesuai perhitungan sewa tiga bulan."
Mira menutup mulutnya.
Alexander menunduk singkat.
Menang.
Tidak besar.
Tidak mengubah kota.
Tetapi untuk Mira, itu berarti kiosnya tidak dihancurkan besok pagi.
Ting!
Panel Status menyala.
Level meningkat: Lv17 Advokat Pemula.
Pengakuan profesional baru terbuka: lawan yang layak dihormati.
Alexander belum sempat mencerna notifikasi itu ketika Richard menghampirinya.
"Selamat," kata Richard.
"Terima kasih."
"Saya kalah di alamat korespondensi."
"Saya menang di alamat korespondensi."
Richard tertawa pelan. "Bedanya tipis, tapi cukup."
Ia menatap Mira yang sedang menangis lega di dekat pintu.
"Klien Saudara beruntung."
"Bukan beruntung. Ia membawa bukti transfer tiga tahun."
"Dan punya kuasa hukum yang tahu bukti kecil bisa mematahkan klausul besar."
Alexander diam sejenak.
Dari Anthony Wongso sampai Laura Santoso, ia sudah sering mendengar lawan bicara memakai pujian sebagai racun.
Richard tidak begitu.
Kalimatnya bersih.
"Saya juga belajar dari cara Saudara berargumen," kata Alexander. "Tidak semua pihak lawan perlu dibuat seperti penjahat."
Richard mengangguk.
"Profesi ini akan cepat busuk kalau kita lupa itu."
Ia mengulurkan tangan sekali lagi.
"Saya menantikan pertemuan berikutnya dengan Saudara di ruang sidang, Alexander Wijaya."
Alexander menjabat tangannya.
"Saya juga, Pak Richard."
Richard menoleh ke kliennya, lalu pergi tanpa satu pun kata pahit.
Gunawan, yang menunggu di luar ruang sidang kecil, menyaksikan semuanya.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya ketika Richard menjauh.
"Aneh."
"Kenapa?"
"Biasanya kalau saya menang, pihak lawan ingin memukul saya dengan sesuatu."
Gunawan tersenyum tipis.
"Selamat datang di bagian profesi yang lebih sulit."
"Lebih sulit?"
"Ya. Melawan orang jahat membuatmu berani. Melawan orang baik yang berdiri di sisi berbeda membuatmu matang."
Alexander menatap lorong pengadilan yang tidak ramai.
Hari itu, ia tidak hanya membawa pulang kemenangan kecil.
Ia membawa pulang ukuran baru tentang lawan.