Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
Pantai selatan Desa Syrup masih diselimuti oleh ketegangan yang pekat, meski perahu peti mati milik Dracule Mihawk telah lama menghilang ditelan kegelapan lautan. Di atas pasir yang kini dipenuhi oleh parit-parit dalam dan retakan kaca akibat panas api alkimia, kelompok Bajak Laut Topi Jerami dan para koki Baratie berdiri mematung.
Sanji masih memegang cangkang Den Den Mushi yang telah terputus panggilannya, sementara Nami berlutut di atas pasir, tubuhnya bergetar hebat saat memori tentang kekejaman Arlong kembali menghantui benaknya.
Di tengah-tengah mereka, Roy Mustang berdiri dengan tenang. Mantel militernya yang robek berkibar ditiup angin laut. Di belakangnya, Giyu Tomioka dan Gaara berdiri layaknya patung penjaga yang tak tertembus.
Mustang, yang kini memiliki jiwa otonom, menatap kelompok bajak laut muda di depannya. Matanya berhenti sejenak pada Zoro yang terluka parah namun masih memancarkan tekad yang menyala, lalu beralih kepada Luffy yang menatapnya dengan kekaguman buta.
"Pertunjukan malam ini sudah selesai," ucap Mustang dengan nada datar namun berwibawa, memecah keheningan pantai. "Kami telah menunjukkan sedikit dari apa yang berada di balik tirai dunia ini. Ingatlah nama Erebus, karena saat kita bertemu lagi di Grand Line, kami mungkin tidak akan berdiri sebagai sekutu."
Luffy menyengir lebar, memegangi topi jeraminya. "Shishishi! Tentu saja! Saat kita bertemu lagi, bajak lautku akan jauh lebih kuat dari kalian!"
Mustang hanya membalasnya dengan senyum tipis yang misterius. Ia mengangkat tangannya yang berbalut sarung tangan pyrotex.
Tanpa aba-aba lebih lanjut, dari dalam hutan yang gelap, Muzan Kibutsi menarik kembali kendali sistemnya.
Dalam sekejap mata, tubuh Roy Mustang, Giyu Tomioka, dan Gaara terurai menjadi ribuan partikel cahaya berwarna ungu dan biru yang berpendar indah di bawah sinar bulan. Cahaya itu berputar layaknya pusaran bintang miniatur sebelum akhirnya melesat ke udara dan menghilang sepenuhnya, seolah mereka hanyalah ilusi semata.
"M-Mereka menghilang!" seru Usopp, menggosok matanya tak percaya. "Apakah mereka benar-benar manusia?!"
Zoro mendengus pelan, menahan rasa sakit di dadanya yang mulai berdenyut hebat. "Manusia atau bukan, mereka berada di tingkat yang sangat gila. Erebus... Faksi macam apa sebenarnya mereka itu?"
Sementara kelompok Topi Jerami sibuk memproses peristiwa malam itu dan mulai memberikan pertolongan pertama pada Zoro, di atas dahan pohon ek raksasa di dalam hutan, Muzan Kibutsi akhirnya bisa melepaskan napas yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya.
Sang Dalang menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur deras dari pelipisnya. Dadanya naik turun dengan sangat cepat. Mengontrol tiga boneka secara bersamaan—bahkan dengan Mustang yang bergerak otonom—untuk menahan serangan kasual dari Dracule Mihawk telah menguras nyaris seluruh batas staminanya. Otaknya terasa seperti habis dipanggang di atas bara api.
"Gila..." bisik Muzan dengan suara parau, bibirnya pucat pasi. "Jika Mihawk menggunakan sepuluh persen saja dari kekuatan aslinya secara serius, perisai Gaara dan tebasan Giyu akan hancur seketika."
Namun, ia selamat. Tidak hanya selamat, ia berhasil menyelamatkan Desa Syrup, mengamankan total buronan senilai 33 Juta Belly (Kuro dan Krieg), dan menanamkan nama Erebus di benak para tokoh utama serta Mihawk. Sebuah kemenangan absolut yang diraih dari tepi jurang kematian.
Tepat ketika Muzan mencoba menenangkan detak jantungnya, ruang mental di dalam kepalanya meledak oleh cahaya keemasan yang luar biasa terang. Suara terompet mekanis yang megah dan menggetarkan jiwa bergema di telinganya, jauh lebih keras dari notifikasi manapun yang pernah ia dengar.
«"DING!!!"»
«"ACHIEVEMENT SKALA DUNIA TERBUKA: [BERTAHAN DARI PUNCAK DUNIA (Surviving the Apex)]"»
«"Kondisi Terselesaikan: Host dan jajaran bonekanya berhasil menahan serangan langsung dari entitas berskala Mitos/Legenda Tertinggi (Dracule Mihawk) dan mendapatkan pengakuan verbal dari entitas tersebut, tanpa mengalami kerusakan fatal atau kematian."»
«"Deskripsi: Puncak dunia adalah tempat di mana keajaiban hancur dan realitas ditegakkan dengan besi dan darah. Hanya mereka yang berani menatap langsung ke dalam jurang kematian dan bertahan yang berhak melangkah menuju takhta para dewa."»
Mata Muzan melebar membaca deskripsi pencapaian tersebut. Ia tahu, hadiah dari pencapaian dengan skala seperti ini tidak akan main-main.
«"Hadiah Achievement Luar Biasa Didistribusikan:"»
«"- +100 Poin Kekuatan Fisik (Strength)"»
«"- +100 Poin Kecepatan (Speed)"»
«"- +100 Poin Ketahanan (Endurance)"»
«"- Skill Pasif/Aktif: [Haoshoku Haki (Conqueror's Haki)]"»
«"- 1x [Tiket Gacha Karakter Legenda (Tier Emas)]"»
«"PERINGATAN: Integrasi status fisik skala masif akan segera dimulai. Proses ini akan merombak struktur seluler dan biologis Host secara ekstrem. Harap bersiap!"»
Jantung Muzan seolah berhenti berdetak sesaat.
Ratusan poin fisik sekaligus? Rata-rata manusia normal di dunia ini memiliki nilai statistik 10. Jika ia menerima 100 poin di setiap aspek fisik, tubuh kurus dan rapuh seorang anak berusia empat belas tahun ini akan bermutasi menjadi fisik manusia super yang kekuatannya melampaui monster! Ditambah lagi dengan Haoshoku Haki, Haki Raja Penakluk yang hanya dimiliki oleh satu dari sejuta orang.
Namun, belum sempat Muzan mencerna rasa bahagianya, sebuah rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata menghantam tubuhnya.
"UAAARRRGGGHHH!"
Muzan menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah untuk menahan jeritannya agar tidak terdengar keluar dari hutan. Tubuhnya kejang hebat di atas dahan pohon.
Proses integrasi itu bukanlah sekadar angka yang bertambah di layar sistem. Itu adalah proses biologis yang brutal. Otot-otot di lengan, kaki, dan dada Muzan seolah dicabik-cabik oleh pisau tak kasat mata, lalu dijahit kembali dengan serat baja yang ribuan kali lebih kuat. Tulang-tulangnya retak, memadat, dan mengeras hingga setebal titanium. Sel-sel darahnya mendidih, memompa oksigen dengan efisiensi yang mengerikan.
Tubuh Muzan yang tadinya kurus kering kurang gizi mulai mengalami perubahan nyata. Bahunya melebar, otot perutnya terbentuk dengan garis-garis padat yang sempurna tanpa terlihat terlalu berlebihan. Tubuhnya bertambah tinggi beberapa sentimeter, memancarkan proporsi fisik seorang petarung elit yang telah berlatih di neraka selama puluhan tahun.
Rasa sakit itu berlangsung selama lima menit yang terasa seperti satu abad di neraka.
Ketika rasa sakit fisik itu mereda, ledakan kedua menyusul. Namun kali ini bukan di tubuhnya, melainkan di dalam jiwanya.
Sistem memasukkan Haoshoku Haki langsung ke dalam inti kesadarannya. Perasaan dominasi mutlak, tekad seorang raja yang tidak mau tunduk pada aturan dunia manapun, meledak keluar dari tubuh Muzan layaknya gelombang tsunami yang tak kasat mata.
WUUUSSSHHHH!
Tanpa bisa Muzan kendalikan, gelombang Haki Penakluk itu menyapu hutan dalam radius satu kilometer. Ratusan burung malam yang sedang tertidur di pepohonan langsung jatuh pingsan, berdebum menabrak tanah. Serigala liar, beruang, dan hewan buas di sekitar hutan itu tersungkur tak berdaya, mulut mereka berbusa, takluk di bawah tekanan aura raja yang baru saja lahir.
Bahkan, dedaunan di pohon tempat Muzan bersembunyi berguguran secara paksa akibat tekanan gravitasi spiritual yang luar biasa tersebut.
Muzan terengah-engah. Ia menatap kedua telapak tangannya yang kini terlihat sedikit lebih besar, padat, dan dipenuhi oleh urat-urat kekuatan. Ia mengepalkan tangannya perlahan.
KRAK.
Hanya dengan mengepalkan tangan, udara di dalam genggamannya seolah terkompresi hingga menciptakan suara letupan kecil.
Muzan meninju dahan pohon ek raksasa di sampingnya dengan gerakan santai, nyaris tanpa tenaga putaran.
BHOOOOM!
Sebuah lubang raksasa sebesar bola meriam tercipta seketika di batang pohon ek yang setebal mobil tersebut, menembus lurus ke sisi sebaliknya. Kayu keras itu hancur menjadi serpihan debu. Muzan bahkan tidak merasakan sakit atau lecet sedikit pun di buku-buku jarinya.
"Luar biasa..." bisik Muzan, matanya berkilat liar dalam kegelapan. Senyum mengerikan terukir di wajahnya yang kini terlihat lebih dewasa dan tajam. "Kelemahan terbesarku... tubuh fisik yang rapuh... kini telah sepenuhnya musnah."
Ia tidak lagi harus takut mati oleh peluru nyasar atau tebasan preman jalanan saat ia sedang melakukan sinkronisasi dengan bonekanya. Dengan kekuatan fisik setara 100 poin, Muzan kini bisa bergerak lebih cepat dari suara, menghancurkan baja dengan tangan kosong, dan menahan tembakan meriam dengan kulitnya sendiri. Jika ada musuh yang berhasil melewati barisan bonekanya dengan harapan bisa membunuh sang Dalang yang lemah, mereka hanya akan menemukan monster lain yang tak kalah mengerikan.
Muzan segera membuka panel status terbarunya.
[STATUS HOST: MUZAN KIBUTSI]
Usia: 14 Tahun (Fisik setara atlet puncak usia 20-an)
Afiliasi: Faksi Erebus (Pemimpin)
Kekuatan Fisik: 104.1 (Mampu mengangkat belasan ton, pukulan penghancur baja)
Kecepatan: 105 (Setara atau melampaui teknik Soru/Bercukur tingkat lanjut)
Ketahanan: 103.1 (Kulit setebal besi, regenerasi seluler super)
Kekuatan Mental: 636
Kapasitas Pengendalian Boneka: 4 Slot
Skill Aktif: [Haoshoku Haki (Level 1 - Belum terkontrol penuh)]
"Sistem ini benar-benar tidak main-main dalam memberikan penghargaan," batin Muzan. "Bentrokan dengan Mihawk memberikan dampak yang sepadan dengan risiko kematian."
Namun, hadiah utamanya belum tersentuh.
Muzan menggeser layarnya ke menu Inventory. Di sana, sebuah tiket berwarna emas menyala, memancarkan aura kemewahan dan kekuatan yang tak tertandingi.
[Tiket Gacha Karakter Legenda (Tier Emas)]
Di sistem, untuk membeli karakter Legenda melalui gacha reguler membutuhkan biaya 1.000.000 Belly (jika menggunakan skala dasar), namun persentase untuk mendapatkannya sangatlah kecil, bisa menghabiskan belasan juta Belly tanpa jaminan. Tiket Emas ini adalah garansi 100% untuk mendapatkan entitas di kasta Legenda. Karakter yang kekuatannya mampu mengubah peta politik dunia, menghancurkan pulau, atau memanipulasi realitas.
Muzan tidak ingin menunda. Ia akan menghadapi Arlong sebentar lagi, dan meskipun ia kini memiliki kekuatan super dan tiga boneka yang kuat, menyapu bersih markas manusia ikan yang berada di dalam air membutuhkan pendekatan khusus.
"Sistem," perintah Muzan, suaranya sangat tenang namun dipenuhi antisipasi. "Gunakan Tiket Gacha Karakter Legenda sekarang."
Panel di depannya seketika menggelap. Roda roulette yang biasanya muncul tidak terlihat. Sebagai gantinya, sebuah pusaran cahaya berwarna emas dan merah darah berputar di tengah-tengah ruang mentalnya. Suara dentingan lonceng yang sangat berat dan mistis menggema, layaknya lonceng kuil kuno yang memanggil dewa.
Pusaran emas itu berputar semakin cepat, menyedot cahaya di sekitarnya, sebelum akhirnya meledak dalam kilatan merah yang sangat menyilaukan.
«"DING!!!"»
«"Gacha Legenda Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Legenda (Tier Emas)!"»
«"Mengekstrak data karakter tingkat tinggi... Menyesuaikan hukum chakra absolut dan genjutsu ke dalam interaksi Haki dan kesadaran dunia One Piece..."»
«"Ekstraksi selesai."»
Sebuah kartu berbingkai emas murni melayang keluar dari layar.
Di atas kartu itu, tergambar sosok seorang pria muda dengan rambut hitam panjang yang diikat longgar di belakang. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan duka dan tragedi yang mendalam. Guratan halus terlihat di bawah matanya. Pria itu mengenakan jubah hitam panjang bermotif awan merah—seragam Akatsuki.
Namun, yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah matanya. Matanya berwarna merah darah, dengan tiga tomoe hitam yang berputar, sebelum akhirnya berubah menjadi pola kincir angin bersudut tiga yang sangat ikonik. Mata yang bisa mengendalikan ilusi absolut dan membakar apapun hingga menjadi abu.
«"Boneka Diperoleh: Uchiha Itachi"»
«"Asal Dunia: Naruto Shippuden"»
«"Afiliasi Asli: Klan Uchiha / Akatsuki"»
«"Kekuatan/Gaya Bertarung: Mangekyou Sharingan, Tsukuyomi (Ilusi Waktu Absolut), Amaterasu (Api Hitam Abadi), Susanoo (Avatar Pertahanan/Serang Legendaris, dilengkapi Pedang Totsuka dan Cermin Yata)."»
«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»
Napas Muzan tercekat. Untuk sesaat, otak superkomputernya nyaris mengalami korsleting saking terkejutnya.
Uchiha Itachi.
Ini bukan sekadar karakter kuat. Ini adalah definisi berjalan dari overpowered jika ditempatkan di dunia One Piece.
Kemampuan Genjutsu (Tsukuyomi) milik Itachi mampu menjebak pikiran musuh dalam dimensi di mana Itachi mengendalikan ruang, waktu, dan massa. Di dunia One Piece, di mana banyak petarung hanya mengandalkan otot keras dan Haki Persenjataan, serangan mental langsung seperti Tsukuyomi tidak memiliki counter yang jelas, kecuali target memiliki Haki Penakluk atau observasi tingkat ekstrim.
Lebih dari itu, Amaterasu—api hitam yang tidak akan padam sebelum targetnya terbakar habis—bahkan bisa membakar api biasa milik karakter Logia. Dan Susanoo milik Itachi dilengkapi dengan Cermin Yata yang memantulkan semua serangan elemen dan fisik, serta Pedang Totsuka yang menyegel siapa saja yang ditusuknya ke dalam dimensi mimpi tanpa akhir.
"Ini... ini adalah kecurangan," Muzan tertawa pelan, tawa yang semakin lama semakin keras, menggema di dalam hutan yang sunyi. Tawa seorang dalang yang baru saja mendapatkan ratu catur terkuat di papan.
"Dengan Itachi, aku tidak hanya memiliki petarung. Aku memiliki eksekutor mutlak, pengintai ulung, dan manipulator pikiran. Serangan ke Arlong Park tidak akan menjadi perang frontal. Itu akan menjadi pembantaian yang bahkan tidak akan mereka sadari."
Muzan segera menekan emosinya. Ia bangkit berdiri. Kekuatan fisik barunya membuat tubuhnya terasa sangat ringan. Ia melompat dari dahan pohon ek yang tingginya belasan meter.
Tap.
Kakinya mendarat di atas tanah dengan sangat mulus, nyaris tanpa suara. Tidak ada rasa ngilu di lututnya. Otot-ototnya menyerap momentum jatuh tersebut dengan sempurna. Ia mengepalkan tangannya, membiarkan Haki Penakluk yang masih pasif di dalam dirinya mereda agar tidak menarik perhatian.
"Tugasku di Desa Syrup sudah selesai," gumam Muzan, merapikan jubah hitamnya.
Kru Topi Jerami saat ini pasti sedang sibuk mengurus Zoro dan menginterogasi (atau berterima kasih pada) sisa-sisa bajak laut Kuroneko. Nami kemungkinan besar akan segera mencuri kapal peninggalan Kuro atau kapal apa pun yang ada untuk pergi menuju Arlong Park, meninggalkan Luffy dan yang lainnya, sesuai dengan alur aslinya.
Muzan tidak berniat menumpang kapal Nami. Ia adalah entitas independen.
Muzan menyelinap keluar dari hutan dan berjalan menuju pelabuhan utara Desa Syrup, tempat di mana kapal dagang Oceanic Trade yang ia tumpangi sebelumnya masih berlabuh (mereka terlalu takut untuk berangkat karena laporan bajak laut).
Dengan fisik dan kecepatannya yang setara teknik Soru, Muzan bergerak melintasi desa layaknya hantu. Ia tiba di pelabuhan dalam waktu kurang dari lima menit, tanpa ada satu pun warga desa yang menyadari pergerakannya.
Sesampainya di pelabuhan, Muzan menemukan sebuah perahu layar kecil bertenaga angin yang sangat kokoh dan berkualitas tinggi milik seorang pedagang lokal. Tanpa ragu, Muzan meletakkan setumpuk uang senilai 500.000 Belly di atas meja pelabuhan sebagai "pembayaran paksa", lalu melompat ke atas perahu tersebut.
Ia menarik tali layar, dan dengan kekuatan fisiknya yang baru, ia mengarahkan perahu itu membelah ombak keluar dari teluk Desa Syrup, mengarah ke barat laut.
Tujuannya sekarang ada dua.
Pertama, ia harus singgah di pangkalan Angkatan Laut terdekat di gugusan pulau sebelum Kepulauan Conomi untuk menukarkan tubuh Kapten Kuro (16 Juta Belly) dan Don Krieg (17 Juta Belly) yang sedang tertidur lelap di dalam Inventory-nya. Ini akan memberikan tambahan 33 Juta Belly ke saldo sistemnya, mengembalikan kekayaannya setelah investasi besar untuk Batu Jiwa Mustang.
Kedua, Arlong Park.
Muzan duduk bersila di bagian buritan perahu layarnya. Angin laut malam meniup rambut hitamnya. Ia menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit East Blue.
"Arlong the Saw," bisik Muzan pelan, senyum mengerikan terukir di bibirnya. "Kau sangat bangga dengan keunggulan fisik manusia ikanmu. Kau merasa manusia adalah ras yang lemah dan pantas diperbudak. Kau menjadikan rasa takut sebagai senjatamu."
Sebuah kartu emas muncul di tangan Muzan. Di dalam kartu itu, sosok Uchiha Itachi menatap lurus ke depan dengan mata Mangekyou Sharingan yang abadi.
"Mari kita lihat, apakah manusia ikan masih bisa bernapas di dalam ilusi di mana udara itu sendiri berubah menjadi lautan api hitam."
Perahu layar kecil itu melesat cepat menembus kegelapan malam, membawa Sang Dalang dan mimpi buruk legendaris di sakunya menuju takhta Arlong yang angkuh. Papan catur East Blue akan segera dibalikkan untuk terakhir kalinya.