Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan turun dengan sangat deras membasahi jalanan aspal ibukota Jakarta malam ini.
Seorang pemuda berusia dua puluh tahun bernama Deni berteduh di bawah jembatan layang sambil mengusap wajahnya yang basah.
Deni menatap jaket oranye terang bertuliskan Shopee Food yang baru saja dia pakai pagi ini.
Di dalam hatinya dia benar-benar masih tidak percaya dengan nasib tragis yang sedang menimpanya saat ini.
"Deni, ilmu bela dirimu sudah sangat hebat dan hampir mencapai puncak, tapi hatimu masih terlalu kosong dan naif," gumam Deni menirukan suara gurunya yang menggema di kepalanya.
"Kamu harus turun gunung sekarang juga dan jadilah kurir pengantar makanan jika kamu ingin menembus batas," lanjut Deni masih menirukan suara tua gurunya itu.
Deni menghela nafas panjang dan menendang kerikil di dekat kakinya karena kesal.
"Guru tua bangka itu benar-benar tidak masuk akal, kenapa dari sekian banyak pekerjaan di dunia ini aku harus jadi kurir?" keluh Deni sendirian.
Padahal sejak kecil dia sudah berlatih keras di Gunung Kawi hingga muntah darah berkali-kali.
Tiba-tiba sebuah suara aneh terdengar berdenging di dalam kepala Deni.
[Sistem Raja Kurir Mengingatkan: Tuan harus segera mendapatkan ulasan bintang lima pertama]
[Syarat Membuka Kunci Kekuatan Tingkat Satu: Kumpulkan 1000 ulasan bintang lima dari pelanggan yang puas]
"Diam kau sistem cerewet, aku tahu aturannya jadi jangan terus-terusan mengangguku!" bentak Deni pada udara kosong.
Sistem aneh ini tiba-tiba masuk ke dalam jiwanya tepat saat gurunya menendangnya jatuh dari tebing gunung kemarin.
"Ting!"
Suara notifikasi dari ponsel murah milik Deni tiba-tiba berbunyi memecah lamunannya.
Deni buru-buru mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan melihat layar yang retak itu.
"Wah, akhirnya ada pesanan masuk juga setelah aku menunggu tiga jam di tengah hujan begini," ucap Deni dengan mata berbinar.
Dia membaca detail pesanan itu dengan sangat teliti agar tidak melakukan kesalahan di hari pertamanya.
"Satu porsi Bubur Ayam Spesial dan Teh Hangat," baca Deni.
"Alamat pengiriman ke Apartemen Grand Nirvana, lantai empat puluh, kamar penthouse nomor satu."
Deni langsung memakai helm bututnya dan menyalakan mesin motor matic yang dia pinjam dari kenalan gurunya.
"Baiklah, demi ulasan bintang lima pertamaku, aku akan mengantar bubur ini dengan kecepatan kilat!" teriak Deni penuh semangat.
Motor matic itu melaju menembus hujan deras di malam hari dengan sangat lincah.
Meskipun motor itu jelek, tapi insting bela diri Deni membuatnya bisa bermanuver menghindari kemacetan Jakarta dengan sangat mudah.
Setengah jam kemudian, Deni sudah memarkir motornya di lobi apartemen mewah yang sangat megah.
Dia berjalan masuk dengan pakaian yang sedikit basah sambil membawa kantong plastik berisi makanan.
"Hei kurir, tunggu di sana saja, jangan mengotori lantai lobi," tegur seorang satpam dengan wajah meremehkan.
Deni berhenti melangkah dan menatap satpam itu dengan tenang.
"Maaf Pak, tapi pelanggan meminta makanannya diantar langsung sampai ke depan pintu kamarnya," jawab Deni sopan.
"Lagipula sepatuku sudah aku lap di keset luar jadi tidak akan mengotori lantai granit kalian."
Satpam itu mendecakkan lidah dan melambaikan tangannya dengan malas.
"Ya sudah sana cepat naik ke lantai empat puluh pakai lift barang di belakang, jangan pakai lift utama," usir satpam itu.
Deni tidak marah karena gurunya selalu mengajarkan kesabaran, jadi dia hanya mengangguk dan berjalan ke arah lift belakang.
"Orang-orang kota memang suka menilai orang lain hanya dari penampilannya saja," batin Deni sambil menekan tombol lift.
Lift perlahan naik menuju lantai paling atas gedung apartemen elit tersebut.
Ketika pintu lift terbuka, Deni disambut oleh lorong yang sangat sepi dan tertutup karpet merah tebal.
Hanya ada dua pintu besar di ujung lorong itu yang menandakan kamar penthouse yang eksklusif.
Deni berjalan mendekati pintu nomor satu sesuai dengan alamat yang ada di aplikasinya.
Saat jaraknya tinggal lima meter dari pintu, langkah kaki Deni tiba-tiba berhenti.
Hidungnya yang sudah dilatih dengan teknik pernapasan naga tiba-tiba mencium aroma yang sangat aneh.
"Bau apa ini? Kenapa ada bau almond pahit yang sangat menyengat bercampur dengan bau gosong?" gumam Deni curiga.
Deni mempertajam indera pendengarannya dan menempelkan telinganya di dekat celah bawah pintu baja tersebut.
"Uhuk... uhuk... tolong..."
Deni melebarkan matanya saat mendengar suara rintihan seorang wanita yang sangat lemah dari dalam.
"Gawat, bau almond pahit ini adalah karakteristik dari gas hidrogen sianida yang sangat beracun!" batin Deni terkejut.
Seseorang pasti sengaja memasukkan gas beracun ke dalam saluran ventilasi kamar ini untuk membunuh penghuninya.
"Permisi! Shopee Food! Apakah ada orang di dalam?" teriak Deni sambil menggedor pintu baja itu dengan keras.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam selain suara batuk yang semakin melemah.
Deni melihat ke arah gagang pintu dan mencoba memutarnya, tapi pintunya dikunci menggunakan sistem digital yang rumit.
"Sistem, apakah ada aturan yang melarang kurir merusak pintu pelanggan?" tanya Deni cepat.
[Sistem Menjawab: Tidak ada aturan khusus, tapi jika pelanggan marah dan memberi ulasan buruk, tuan akan gagal]
"Persetan dengan ulasan buruk, ada nyawa manusia yang sedang dalam bahaya di dalam sana!" tegas Deni.
Deni mundur dua langkah ke belakang dan mengambil nafas dalam-dalam.
Udara di sekitarnya seolah bergetar saat Deni mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya.
"Teknik Kaki Naga Penghancur Gunung!" teriak Deni di dalam hatinya.
Deni melompat dan menendang tepat di bagian kunci pintu baja tersebut dengan kekuatan penuh.
"Brakkkk!"
Suara ledakan keras terdengar saat pintu baja tebal yang diklaim anti peluru itu terlepas dari engselnya dan terpelanting ke dalam ruangan.
Asap putih pekat yang berbau sangat menyengat langsung mengepul keluar dari dalam ruangan menyapu wajah Deni.
Deni segera menahan nafasnya dan menutup pori-pori kulitnya menggunakan teknik perlindungan Qi agar racun tidak masuk ke tubuhnya.
Dia menerobos masuk ke dalam ruang tamu penthouse yang luar biasa mewah itu.
Di atas karpet berbulu tebal, Deni melihat dua orang wanita sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Wanita pertama memakai jas kerja berwarna hitam yang elegan, wajahnya sangat cantik bak dewi namun kini terlihat pucat pasi.
Wanita kedua memakai pakaian rapi dan kacamata yang sepertinya adalah asisten wanita pertama.
"Mereka sudah kehabisan oksigen, aku harus segera membawa mereka keluar dari ruangan beracun ini," gumam Deni.
Deni tidak berpikir panjang lagi, dia langsung membungkuk dan mengangkat tubuh kedua wanita itu sekaligus.
Tangan kirinya menggendong pinggang wanita berjas, sedangkan tangan kanannya memanggul asisten berkacamata.
Meskipun membawa dua orang dewasa, Deni berlari keluar kamar dengan kecepatan yang setara dengan angin.
Dia meletakkan kedua wanita itu di lantai lorong dekat lift yang udaranya masih bersih.
"Gawat, detak jantung mereka sangat lemah dan racunnya sudah mulai masuk ke aliran darah," analisa Deni setelah menyentuh urat nadi mereka.
Deni segera duduk bersila di belakang wanita berjas itu dan menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang wanita.
"Maaf nona, aku terpaksa menyentuh punggungmu untuk mengalirkan tenaga dalam penyembuh," ucap Deni pelan.
Deni mengalirkan Qi murni dari tubuhnya untuk mendorong gas beracun keluar dari paru-paru wanita itu.
Beberapa detik kemudian, wanita cantik berjas itu tiba-tiba tersedak dan memuntahkan cairan hitam.
"Uhuk... uhuk... haah... haah..."
Wanita itu membuka matanya dengan susah payah dan meraup udara segar sebanyak-banyaknya.
Deni melakukan hal yang sama pada asisten berkacamata hingga dia juga siuman dan terbatuk keras.
"K-kita masih hidup? Apa yang terjadi Siska?" tanya wanita cantik itu dengan suara serak sambil memegangi dadanya.
"S-saya tidak tahu Nona Clara, saya ingat kita sedang rapat lalu tiba-tiba kepala saya pusing dan gelap," jawab Siska sang asisten sambil menangis ketakutan.
Clara, sang CEO cantik yang terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis itu menoleh ke belakang.
Dia sangat terkejut melihat seorang pemuda berjaket oranye basah kuyup sedang berdiri menatap mereka.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di lantai pribadiku?" tanya Clara dengan nada curiga dan waspada.
Dia langsung berusaha berdiri untuk melindungi asistennya dari pria asing itu.
Deni tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Halo Nona, nama saya Deni dan saya adalah kurir Shopee Food yang mengantar pesanan bubur ayam anda," jawab Deni dengan nada santai.
"Tadi saya mencium bau gas beracun dari kamar anda, jadi saya terpaksa mendobrak pintu dan menarik kalian keluar."
Clara melebarkan matanya yang indah dan melihat ke arah kamarnya yang pintunya sudah hancur lebur.
Asap putih masih perlahan keluar dari dalam sana.
"Kamu... kamu mendobrak pintu baja seberat seratus kilogram itu sendirian?" tanya Clara tidak percaya.
"Ya, pintunya lumayan rapuh jadi mudah didobrak," jawab Deni beralasan asal-asalan.
Siska sang asisten memandang Deni dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
"Nona Clara, kurir ini baru saja menyelamatkan nyawa kita berdua dari pembunuhan berencana," ucap Siska bergetar.
Clara terdiam menatap mata Deni yang jernih dan tidak memiliki niat buruk sama sekali.
Sebagai seorang pebisnis yang sering bertemu banyak orang licik, Clara bisa melihat ketulusan di mata kurir rendahan ini.
"Terima kasih banyak Deni, kamu telah menyelamatkan nyawaku hari ini," ucap Clara dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku akan memberimu imbalan berapa pun yang kamu minta, sebutkan saja nominalnya."
Mendengar hal itu, mata Deni langsung berbinar penuh harapan.
Dia buru-buru menyodorkan kantong plastik berisi bubur ayam yang untungnya tidak tumpah sama sekali.
"Ini pesanan bubur ayam anda Nona, masih hangat kok," ucap Deni bersemangat.
"Untuk imbalannya, saya tidak butuh uang, saya hanya mohon tolong buka aplikasinya dan beri saya ulasan bintang lima beserta komentar yang bagus ya!"
Clara dan Siska seketika melongo mendengar permintaan Deni.
Mereka baru saja selamat dari percobaan pembunuhan yang tragis, tapi pria di depan mereka ini malah memikirkan ulasan aplikasi.
"Kamu... kamu hanya meminta ulasan bintang lima setelah menyelamatkan nyawa seorang CEO Grup Nirvana?" tanya Clara memastikan karena merasa sangat bingung.
"Tentu saja! Bagi saya, ulasan bintang lima dari anda jauh lebih berharga dari uang satu miliar sekalipun!" jawab Deni mantap.
Clara menatap Deni seolah sedang menatap makhluk asing dari planet lain.
"Baiklah, aku akan memberimu ulasan bintang lima sekarang juga," ucap Clara sambil mengambil ponselnya yang masih ada di sakunya.
[Ting! Ulasan Bintang Lima Diterima!]
[Sistem Raja Kurir: Selamat! Tuan mendapatkan 1 dari 1000 ulasan. Teruslah berjuang!]
Deni tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.
"Terima kasih banyak Nona Clara! Kalau begitu saya permisi dulu karena masih harus mencari orderan lain," pamit Deni sambil membalikkan badannya.
"Tunggu dulu!" panggil Clara dengan cepat menghentikan langkah Deni.
Deni menoleh ke belakang dengan bingung.
"Ada apa lagi Nona? Apakah buburnya kurang kecap?" tanya Deni polos.
Clara menatap mata Deni dengan tatapan tajam dan penuh perhitungan khas seorang CEO.
"Mulai besok pagi kamu tidak perlu mengambil orderan dari orang lain lagi," ucap Clara dengan nada memerintah yang tidak bisa dibantah.
"Hah? Kenapa begitu? Nanti saya dipecat oleh aplikasi kalau tidak bekerja," protes Deni.
Clara menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Karena mulai besok, aku mempekerjakanmu sebagai kurir pribadiku dengan gaji seratus juta per bulan."
Deni menelan ludahnya mendengar nominal gaji yang disebutkan oleh CEO cantik di depannya ini.
Cerita perjalanan kurir Deni di ibukota baru saja dimulai dengan cara yang sangat tidak terduga.