Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Menuju Aldric
Perjalanan menuju Kerajaan Aldric memakan waktu hampir dua minggu, melewati padang rumput luas, pegunungan berkabut, dan beberapa kota persinggahan yang semakin sepi seiring mereka mendekati wilayah timur laut Benua Manusia. Kabar tentang kehancuran istana rupanya sudah menyebar jauh lebih luas dari yang Sasuke kira—setiap kota yang mereka lewati punya versi ceritanya sendiri, masing-masing semakin liar dan menakutkan dari yang sebelumnya.
Di sebuah kota kecil bernama Thornfield, tiga hari perjalanan dari Fenwick, mereka mendengar cerita tentang seluruh garnisun yang berubah menjadi patu batu. Di kota berikutnya, Ashvale, versi ceritanya berubah menjadi wabah kutukan yang menyebar lewat udara. Sasuke mendengarkan setiap versi dengan sabar, memilah mana yang mungkin fakta dan mana yang sekadar bumbu ketakutan yang berkembang biak dengan sendirinya di antara orang-orang yang tidak pernah benar-benar menyaksikan kejadiannya.
"Kenapa ceritanya beda-beda terus, Papa?" Elaina bertanya suatu hari, duduk di pangkuan Sasuke di atas kuda sewaan yang mereka gunakan untuk mempercepat perjalanan.
"Karena orang-orang suka menambahkan sesuatu setiap kali mereka menceritakan ulang," Sasuke menjelaskan. "Seperti permainan bisik berantai. Semakin jauh ceritanya menyebar, semakin banyak yang berubah."
"Elaina pernah main itu sama Mama!" serunya riang, sedikit melupakan suasana serius yang menyelimuti perjalanan mereka. "Tapi cuma berdua, jadi nggak terlalu berubah."
"Kalau begitu, mainkan denganku sekarang," Sasuke menawarkan, sedikit terkejut dengan idenya sendiri—bukan sesuatu yang biasa ia lakukan, namun entah kenapa terasa tepat untuk mengalihkan pikiran Elaina dari suasana berat di sekitar mereka.
Elaina langsung berbinar, membisikkan sebuah kalimat panjang di telinga Sasuke, yang kemudian ia harus bisikkan kembali pada Saviera yang berjalan di samping kuda mereka, dan permainan itu berlanjut bergantian selama beberapa jam, diselingi tawa Elaina setiap kali kalimat yang keluar di akhir jauh berbeda dari yang pertama diucapkannya—kadang berubah dari "burung biru terbang tinggi" menjadi "beruang biru makan nasi", membuat Elaina tertawa terpingkal-pingkal setiap kali.
Untuk sesaat, di tengah perjalanan menuju sesuatu yang gelap dan tidak diketahui, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan.
Namun kehangatan itu tidak bertahan selamanya. Semakin dekat mereka ke wilayah timur laut, semakin sering Elaina memperhatikan perubahan suasana hati kedua orang dewasa di sekitarnya—senyum yang semakin jarang muncul, obrolan yang semakin sering berbisik-bisik begitu mereka pikir Elaina sudah tertidur.
---
"Papa," ia bertanya suatu sore, ketika mereka beristirahat di tepi sungai kecil untuk mengisi ulang kantung air dan memberi kuda mereka waktu minum, "kita mau ke tempat yang seram, ya?"
Sasuke menoleh, sedikit terkejut dengan kepekaan anak itu. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Soalnya Mama sama Papa jadi jarang senyum kalau bicara soal itu," Elaina menjawab polos, mencelupkan jari kakinya ke air sungai yang jernih. "Terus juga, orang-orang di kota kemarin pada bisik-bisik terus kalau lihat kita, kayak takut."
Sasuke duduk di samping anak itu, mempertimbangkan seberapa jujur ia harus bersikap. "Ya," ia akhirnya mengakui. "Ada sesuatu yang aneh terjadi di kota yang akan kita tuju. Kami ingin mencari tahu apa itu."
"Sesuatu yang jahat?"
"Mungkin," Sasuke menjawab jujur. "Kami belum tahu pasti."
Elaina terdiam sejenak, kakinya masih menendang-nendang pelan permukaan air, memikirkan sesuatu dengan seriusnya sendiri sebagai anak kecil.
"Tapi Elaina nggak takut, kok," ia akhirnya berkata, mendongak menatap wajah Sasuke dengan mata bulat besarnya yang penuh keyakinan. "Ada Papa dan Mama. Papa kan kuat sekali, dan Mama juga kuat. Elaina yakin kalian pasti bisa jaga Elaina."
Kepercayaan sederhana itu, sekali lagi, menghantam sesuatu di dalam diri Sasuke lebih dalam dari yang ia duga—beban tanggung jawab yang terasa berat, namun juga sesuatu yang aneh menghangatkan, mengetahui ada seseorang yang mempercayainya sepenuhnya tanpa syarat.
"Kami akan menjagamu," Sasuke berkata, suaranya lebih tegas dari yang ia rencanakan. "Apa pun yang terjadi, kau tidak perlu khawatir soal apa pun."
Saviera, yang duduk tidak jauh dari mereka sambil membersihkan kuda-kuda mereka, tersenyum kecil mendengar percakapan itu, meski matanya sesaat bertemu dengan mata Sasuke—pesan tak terucap yang mereka berdua pahami: harapan bahwa janji itu benar-benar bisa mereka tepati.
---
Semakin dekat ke Aldric, semakin sedikit tanda-tanda kehidupan yang mereka temui. Ladang-ladang yang seharusnya subur di musim ini tampak ditinggalkan setengah dipanen, gerbang-gerbang desa tertutup rapat meski hari masih terang, dan sesekali mereka melewati gerobak-gerobak yang ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan, seolah pemiliknya pergi dengan tergesa-gesa tanpa sempat kembali.
"Ini tidak wajar," Saviera bergumam, matanya menyapu ladang kosong yang mereka lewati. "Bahkan untuk daerah yang ketakutan, ini terlalu sepi."
Sasuke mengangguk setuju, indranya yang tajam menangkap keheningan yang tidak alami—tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga malam yang biasanya mengiringi perjalanan mereka. Seolah kehidupan itu sendiri enggan mendekat ke wilayah ini.
Mereka akhirnya tiba di gerbang luar Kerajaan Aldric pada senja hari kesepuluh perjalanan mereka, disambut pemandangan yang jauh lebih suram dari yang mereka bayangkan.
Gerbang kota yang seharusnya dijaga ketat oleh prajurit kerajaan kini hanya berdiri terbuka lebar, tak terjaga sama sekali. Sasuke menuntun kuda mereka melewatinya perlahan, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.
Kota di luar tembok istana masih berdiri, namun nyaris kosong—toko-toko tertutup papan kayu yang dipaku asal-asalan, jalanan yang biasanya ramai kini hanya dilalui angin yang membawa debu dan lembaran-lembaran kertas yang berserakan, entah pengumuman atau surat yang ditinggalkan begitu saja. Sebuah gerobak buah tergeletak terbalik di tengah jalan utama, buah-buahnya sudah membusuk dan dikerumuni lalat, seolah pemiliknya melarikan diri di tengah aktivitas jual beli tanpa sempat menyelamatkan dagangannya.
Di kejauhan, menara-menara istana yang dulunya megah—Sasuke bisa membayangkan kemegahannya dari sisa-sisa ukiran emas yang masih menempel di beberapa bagian tembok kota—kini tampak gelap total, tanpa satu pun cahaya yang menyala meski malam sudah mulai turun. Bahkan burung-burung gagak yang biasanya berkerumun di sekitar bangunan tinggi tampak enggan mendekat, terbang jauh memutari menara-menara itu dari kejauhan.
"Rasanya seperti kota hantu," Saviera bergumam, suaranya nyaris berbisik, seolah takut suara yang lebih keras akan membangunkan sesuatu yang lebih baik dibiarkan tidur.
Segelintir penduduk yang masih bertahan bergerak cepat menyeberang jalan begitu melihat rombongan baru mendekat, menghindari kontak mata, terburu-buru masuk kembali ke dalam rumah mereka dan menutup pintu rapat-rapat. Seorang wanita paruh baya bahkan terlihat menarik tirai jendelanya dengan cepat begitu menyadari mereka lewat, seolah takut sekadar melihat orang asing bisa mendatangkan bahaya baru.
"Mereka takut," Elaina berbisik, menggenggam tangan Sasuke lebih erat, meski suaranya tidak menunjukkan ketakutan yang sama—hanya keprihatinan murni seorang anak kecil melihat orang lain menderita. "Kenapa nggak ada yang mau bantu mereka, Papa?"
"Tidak semua orang punya kekuatan untuk membantu," Sasuke menjawab pelan, menuntun kudanya melewati jalanan sunyi itu. "Kadang yang bisa dilakukan orang biasa hanyalah bersembunyi dan berharap bahaya itu berlalu."
"Untung Papa bukan orang biasa," Elaina berkata dengan nada penuh keyakinan yang aneh di tengah suasana suram itu, membuat Sasuke tanpa sadar tersenyum tipis meski hatinya berat memikirkan apa yang menanti mereka di depan.
---
Mereka menemukan satu-satunya penginapan yang masih buka, sebuah bangunan kecil di pinggir kota bernama Griffin Compass, dijaga oleh seorang pria tua berjanggut lebat yang menyambut mereka dengan campuran kelegaan dan kewaspadaan.
"Petualang?" pria tua itu bertanya, matanya menyapu Kartu Guild peringkat rendah yang ditunjukkan Sasuke, sedikit heran. "Jarang ada yang berani datang ke sini sekarang, apalagi membawa anak kecil."
"Kami hanya ingin mencari informasi," Sasuke menjelaskan. "Tentang apa yang terjadi di istana."
Pria tua itu menghela napas panjang, menuangkan tiga cangkir teh hangat untuk mereka sebelum duduk di seberang meja, tangannya sedikit gemetar memegang teko. "Aku sudah tinggal di kota ini enam puluh tahun, Tuan Petualang. Belum pernah aku menyaksikan sesuatu yang seperti ini."
"Boleh aku tahu namamu?" Saviera bertanya lembut, mencoba mencairkan suasana.
"Aldous," pria tua itu menjawab, sedikit tersenyum mendengar pertanyaan sederhana itu di tengah suasana yang begitu berat. "Pemilik penginapan ini sejak ayahku mewariskannya padaku. Dulu tempat ini selalu penuh, terutama musim perayaan panen seperti sekarang."
"Dan sekarang?" Sasuke bertanya.
"Kalian bertiga adalah tamu pertamaku dalam sepuluh hari terakhir," Aldous menjawab, tawanya getir. "Sebagian besar penduduk sudah mengungsi. Yang tersisa hanya mereka yang terlalu tua, terlalu miskin, atau terlalu keras kepala untuk pergi—seperti aku, kurasa."
"Apa yang kau ketahui?" Saviera bertanya lagi, mendorong sedikit teh ke arah pria tua itu.
"Tiga minggu lalu," Aldous memulai, suaranya merendah meski tidak ada seorang pun di sekitar mereka, "istana mengadakan perayaan besar untuk menyambut delegasi dari kerajaan tetangga. Ratusan tamu, ratusan prajurit pengawal. Keesokan paginya... semuanya lenyap. Tidak ada mayat, tidak ada darah, tidak ada tanda perlawanan sama sekali. Hanya kekosongan."
"Tidak ada yang selamat?" Sasuke bertanya.
"Beberapa," Aldous menjawab. "Pelayan-pelayan dapur, penjaga gerbang luar yang kebetulan bertugas di luar tembok istana malam itu. Mereka semua bercerita hal yang sama—sesosok berjubah hitam yang muncul entah dari mana, berjalan tenang di antara kerumunan, dan mata merahnya yang menyala dalam gelap."
"Kau pernah bertemu langsung dengan salah satu yang selamat itu?" Sasuke bertanya, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Salah satu dari mereka," Aldous mengangguk, "seorang gadis muda, pelayan dapur bernama Wren. Dia menginap di sini selama tiga malam sebelum akhirnya memutuskan pergi ke kota lain bersama pamannya. Dia tidak bisa tidur nyenyak selama menginap—setiap malam terbangun berteriak."
"Apa dia bilang sesuatu yang spesifik?" Saviera bertanya. "Sesuatu yang lebih dari sekadar jubah hitam dan mata merah?"
Aldous mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Dia bilang... sosok itu tidak terburu-buru sama sekali. Bergerak seolah punya banyak waktu di dunia, seperti sedang berjalan-jalan santai, bukan melakukan pembantaian. Dan dia bilang, setiap kali sosok itu berhenti sejenak menatap seseorang sebelum mereka ambruk, seolah-olah dia sedang... menilai sesuatu. Mencari sesuatu."
"Mencari apa?" Sasuke bertanya, matanya menyipit.
"Itu yang tidak diketahui siapa pun, Tuan," Aldous menjawab, menggelengkan kepala. "Wren sendiri tidak tahu. Dia hanya tahu dia beruntung sosok itu tidak menganggapnya layak diperhatikan."
"Yang paling aneh," Aldous melanjutkan, suaranya nyaris berbisik sekarang, "adalah bahwa sosok itu tidak mengambil apa pun. Tidak ada perbendaharaan yang hilang, tidak ada barang berharga yang diambil. Seolah-olah dia datang bukan untuk merampok, atau bahkan untuk membunuh sebagai tujuan utama."
"Lalu untuk apa?" Saviera bertanya.
Aldous menggelengkan kepala pelan. "Itulah yang tidak ada yang tahu, Nyonya. Dan itulah yang membuat semua orang di sini terlalu takut untuk sekadar bertanya."
"Apakah ada yang mencoba masuk ke istana sejak itu?" Sasuke bertanya. "Guild, tentara kerajaan tetangga, siapa pun?"
"Beberapa," Aldous menjawab. "Satu tim petualang peringkat Emas dari ibu kota kerajaan tetangga datang seminggu lalu, penuh percaya diri. Mereka masuk lewat gerbang utama istana saat siang hari." Ia berhenti sejenak, matanya menerawang. "Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali."
Hening menyelimuti ruangan itu sejenak, hanya suara teh yang mendesis pelan di cangkir mereka.
"Kalian yakin masih ingin memeriksanya?" Aldous bertanya akhirnya, menatap mereka bertiga bergantian, kekhawatiran tulus terlihat di matanya yang lelah. "Aku bukan siapa-siapa untuk melarang, tapi... kalian punya seorang anak kecil bersama kalian."
"Kami tidak berencana masuk terlalu jauh," Sasuke meyakinkan, meski nadanya tetap serius. "Hanya memeriksa dari luar. Elaina akan tetap aman di sini bersamamu, kalau kau bersedia menjaganya sebentar."
Aldous mengangguk pelan, meski keraguan masih tersisa di wajahnya. "Tentu saja. Aku akan menjaganya seperti cucuku sendiri. Tapi tolong, Tuan, Nyonya—berhati-hatilah. Kota ini sudah kehilangan cukup banyak orang baik."
---
Malam itu, setelah Elaina tertidur di kamar penginapan yang sederhana, Sasuke berdiri sendirian di jendela, menatap siluet gelap istana yang menjulang di kejauhan, tidak ada satu pun cahaya yang menyala di dalamnya.
Saviera bergabung dengannya beberapa saat kemudian, berdiri di sampingnya dalam diam.
"Kau ingin memeriksanya besok," ia berkata, bukan pertanyaan.
"Ya," Sasuke menjawab. "Tapi hanya memeriksa. Tidak mendekat lebih jauh dari yang diperlukan."
"Kau dengar apa yang dikatakan Aldous," Saviera berkata pelan, berdiri di sampingnya. "Seluruh tim petualang peringkat Emas tidak ada yang kembali. Kau yakin kita akan lebih beruntung?"
"Aku tidak berencana melawan apa pun," Sasuke menjawab. "Tim itu mungkin masuk dengan niat menghadapi sosok itu secara langsung. Kita hanya perlu melihat, mengamati dari jarak aman, lalu pergi sebelum sosok itu—jika dia memang masih di sana—menyadari kehadiran kita."
"Kau seyakin itu bisa dilakukan?"
"Tidak sepenuhnya," Sasuke mengakui jujur. "Tapi aku lebih suka mencoba dengan hati-hati daripada tidak mencoba sama sekali dan terus dihantui pertanyaan."
Saviera menatapnya lama, sesuatu yang campur aduk di matanya—kekhawatiran, tapi juga pengertian.
"Baiklah," ia akhirnya berkata. "Tapi kita pergi bersama, dan kita mundur begitu ada tanda bahaya sekecil apa pun. Tidak ada tindakan gegabah. Setuju?"
"Setuju," Sasuke menjawab, sedikit heran dengan caranya sendiri menerima syarat itu tanpa perdebatan—dulu, sisi Sasuke Uchiha dalam dirinya mungkin akan bertindak sendiri tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Sekarang, entah bagaimana, hal seperti itu terasa wajar untuk dilakukan bersama.
"Aku akan ikut," Saviera berkata tegas.
"Elaina—"
"Akan tetap di sini bersama Aldous," Saviera memotong, sudah mengantisipasi keberatannya. "Aku sudah memikirkannya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke tempat seperti itu, dan aku juga tidak akan membawa Elaina ke tempat berbahaya seperti itu. Dia akan lebih aman di sini."
Sasuke menatapnya lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan, menerima keputusan itu tanpa perdebatan lebih lanjut.
"Terima kasih," ia berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Karena tidak membiarkanku melakukan ini sendirian."
Saviera tersenyum kecil, menyenggol bahunya lembut. "Sudah kubilang, kan? Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian lagi. Aku tidak akan bosan mengatakannya sampai kau benar-benar percaya."
Di kejauhan, istana gelap itu berdiri diam, seolah menyimpan rahasia yang menunggu untuk ditemukan—atau mungkin, menunggu sesuatu yang lain sepenuhnya.
---
*Bersambung ke Bab 15: Istana yang Sunyi*