Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Sebuah Kebohongan
“Rindi,” lirih Rian sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
“Dasar brengsek! Ada berapa banyak perempuan yang kamu pacari di belakangku, hah?!” Rindi sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Aku tidak pernah mengkhianatimu, sayang. Aku difitnah!”
“Berhenti berbohong! Kamu membunuhnya karena dia sedang mengandung anakmu! Dasar brengsek!”
Rindi memukuli tubuh Rian berkali-kali. Rian sampai memegangi kedua tangan Rindi untuk menghentikan pukulan wanita itu.
“Sabar, sayang. Tolong jangan seperti ini.”
“Jangan seperti ini? Lalu aku harus bagaimana? BAGAIMANA?!!” suara Rindi semakin meninggi. “Selama ini aku selalu memanjakanmu, mencukupi semua kebutuhanmu. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu mengkhianatiku. MENGKHIANATIKU!!”
“Itu semua bohong, sayang. Itu fitnah! Dia sengaja memfitnahku karena aku tidak pernah menanggapinya.”
“Dia hamil anakmu, brengsek! Karena itu kamu membunuhnya, karena tidak mau bertanggung jawab padanya!”
“Tidak, itu tidak benar, sayang.”
“Berhenti memanggilku sayang! Aku jijik padamu. Aku pikir kamu berbeda. Tapi ternyata kamu sama saja seperti mantan suamiku. Dasar brengsek! Bajingan! Laki-laki tidak tahu diuntung. Dasar mokondo sialan!”
“DIAM!”
Rindi langsung terdiam mendengar teriakan kencang Rian. Dihina seperti itu oleh Rindi, tak ayal membuat emosi Rian terpancing juga.
Sementara itu dari ruangan sebelah, Nino tampak menikmati drama yang disuguhkan pasangan itu. Asep yang baru masuk langsung mendekati sahabatnya.
“Apa yang terjadi?”
“Sedang ada drama di sana,” jawab Nino sambil tersenyum tipis.
Di ruang interogasi, ketegangan antara Rindi dan Rian terus berlanjut. Kali ini tidak ada lagi tatapan sayang di mata Rian untuk Rindi.
Pria itu sudah menunjukkan wajah asli yang sebenarnya. Selama ini dia sudah cukup muak melayani Rindi dan harus berpura-pura bersikap sebagai kekasih yang patuh.
“Memangnya siapa kamu tanpa uangmu, hah? Apa ada laki-laki yang mau dengan perempuan posesif sepertimu? Dasar wanita menyebalkan. Harusnya kamu berkaca. Kalau bukan aku, siapa laki-laki yang mau denganmu!”
“Dasar brengsek! Setelah kamu menikmati semua uangku, kamu mengatakan itu. Baik. Kalau begitu, kita akhiri saja hubungan ini. Aku tidak akan membayar pengacara untuk membelamu. Membusuklah kamu di penjara!”
Setelah mengatakan itu, Rindi segera keluar dari ruang interogasi. Wanita itu membanting pintu hingga menimbulkan bunyi keras.
Sepeninggal Rindi, Rian berteriak kencang. Bahkan pria itu membanting kursi di dekatnya. “Aaaaa!! Sialan! Sialan kamu Prisa!!”
Nino dan Asep meninggalkan ruangan begitu melihat Rindi keluar dari ruang interogasi. Nino kembali menemui Rindi.
“Apa Anda sudah selesai bicara dengan saudara Rian?” tanya Nino.
“Ya,” jawab Rindi pelan dengan napas yang masih memburu.
“Apa Pak Wendi sudah bisa masuk? Kami harus segera melakukan interogasi.”
Nino berpura-pura tidak mengetahui pertengkaran di ruang interogasi. Dia terus menatap Rindi yang tengah berusaha menenangkan hatinya yang masih diliputi emosi. “Pak Wendi,” panggil Rindi.
“Iya, Bu,” jawab Wendi cepat sambil menghampiri wanita itu.
“Ayo kita pulang.”
“Bagaimana dengan Mas Rian?”
“Biarkan saja. Bapak tidak perlu membelanya. Biarkan dia mempertanggung jawabkan perbuatannya.”
Setelah mengatakan itu, Rindi segera meninggalkan kantor tersebut. Wendi menatap Nino dan Asep sesaat sebelum beranjak menyusul Rindi.
Nino langsung kembali ke ruang interogasi. Begitu masuk, tampak Rian tengah duduk sambil menundukkan kepala. Nino mengambil kursi yang terjatuh di lantai lalu memosisikan kembali di hadapan Rian.
“Ibu Rindi tidak bersedia menyediakan pengacara untuk Anda. Apa Anda ingin menghubungi pengacara lain, atau menggunakan pengacara yang disediakan oleh negara?”
Tidak ada jawaban dari Rian. Pria itu tahu bahwa sekarang hidupnya sudah berada di ujung tanduk. Dia hanya tertunduk lemas tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Jika Anda bersikap kooperatif, mungkin hakim akan mengurangi hukuman Anda.”
Perlahan Rian mengangkat kepalanya. Semua sikap angkuh penuh perlawanan sudah tidak tampak di wajahnya.
“Di mana Anda mengenal Prisa?” Nino memulai interogasinya.
“Dia sering menontonku saat sedang live jualan di TokTok. Dia sering membeli barang yang kujual. Lalu dia mengirimkan DM ke akunku. Dari sanalah kami mulai berkenalan.”
“Sudah berapa lama Anda menjalin hubungan dengannya?”
“Sekitar dua tahun.”
“Dan selama itu Anda menyembunyikan hubungan kalian dari semua orang?”
“Ya.”
“Kenapa Anda membunuhnya?”
“Karena dia hamil. Dia menuntut pertanggungjawaban dariku. Tentu saja aku panik. Aku takut Rindi mengetahuinya.”
“Jadi kamu memutuskan membunuhnya?”
“Ya.”
“Katakan, apa yang Anda lakukan saat merencanakan pembunuhan. Siapa saja yang membantu Anda?”
Rian menarik napas panjang. Pria itu terdiam sejenak sebelum menceritakan semuanya.
Saat mendengar kehamilan Prisa, Rian awalnya berencana meminta Prisa menggugurkannya. Namun sebelum meminta itu, Prisa justru sudah mengatakan rencananya. Dia ingin melahirkan anak dalam kandungannya.
Rian beralasan sedang di luar kota dan berjanji akan membicarakan masalah ini setelah kembali.
Diam-diam dia mulai merencanakan pembunuhan. Dari salah seorang temannya yang seorang pecandu, dia mendapat informasi jika ada obat-obatan yang bisa membuat orang mengalami halusinasi.
Hanya lewat kata-kata, seseorang bisa membimbing target untuk melakukan apa yang dimintanya.
Rian pun membeli obat tersebut. Kemudian dia memanfaatkan Endah yang juga tergila-gila dengannya. Rian mengatakan akan memutuskan Prisa. Agar Prisa tidak histeris, dia pun beralasan memberikan obat penenang pada wanita itu.
Endah mempercayai begitu saja apa yang dikatakan Rian dan mau membantunya.
“Apa yang kamu katakan pada Prisa saat kamu meneleponnya.”
“Aku bilang, aku masih di luar kota. Tapi kalau kamu kangen aku, kamu bisa naik ke atap gedung. Aku akan berada di bawah. Kalau kamu meloncat, aku akan menangkapmu.”
Nino menarik napas panjang dengan berat. Hanya karena cinta, orang bisa melakukan hal bodoh. Yang satu menjadi korban pembunuhan, dan satu lagi harus menghabiskan hidupnya di penjara karena perbuatannya.
“Di mana kamu membeli obat itu? Apa obat itu dijual bebas?”
“Aku membelinya dari temanku. Dia bekerja di klub malam Butterfly.”
Nino bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Tak lama kemudian seorang petugas masuk dan membawa Rian keluar. Mulai hari ini, pria itu akan ditempatkan di tahanan Polda Jabar.
Nino dan Asep langsung melaporkan hasil interogasinya pada Miko. Pengakuan Rian ditambah pengakuan Endah, sudah cukup untuk menyeret Rian ke pengadilan atas tuduhan pembunuhan berencana.
“Aku akan berkoordinasi dengan unit narkoba. Kalian bisa datang bersama ke klub Butterfly. Kebetulan klub itu sedang diawasi unit narkoba.”
“Baiklah.”
Dalam waktu singkat, Miko sudah berkoordinasi dengan unit narkoba. Sekarang pria itu bersama Nino dan Asep sedang berdiskusi dengan unit narkoba. Mereka berencana menggerebek tempat itu malam ini.
***
Ahqam lebih dulu diutus Asep untuk datang ke klub Butterfly. Jin itu datang sendiri tanpa ditemani Eris karena kekasihnya sedang menjaga Prisa dan Nilan.
Matanya terus mengawasi pengunjung yang berada di klub itu. Ada yang berkumpul bersama teman-temannya, ada yang asyik menari di lantai dansa mengikuti hentakan irama musik, ada juga yang sedang bercumbu di sudut ruangan yang gelap.
Kemudian pandangan Ahqam tertuju pada seorang wanita muda yang mengenakan pakaian cukup terbuka. Dengan terburu-buru dia mencari tempat yang agak sepi untuk menjawab panggilan.
Tanpa sadar Ahqam mengikuti wanita muda itu. Dia berdiri di dekatnya. Mendengarkan percakapan wanita muda itu dengan seseorang di ujung telepon.
“Apa Bibi nggak bisa talangin dulu? Aku lagi kerja, Bi. Besok aku ganti uangnya.”
Wanita muda itu terdiam mendengarkan ucapan orang yang sedang berbicara dengannya.
“Terima kasih, Bi. Aku akan segera mengembalikan uangnya besok.”
Selesai melakukan panggilan, wanita muda itu kembali masuk ke dalam klub. Dia mendekati meja yang terdapat seorang pria paruh baya.
Pria itu menarik sang wanita hingga jatuh duduk di pangkuannya. Wanita muda itu hanya tertawa geli saat sang pria menciumi tengkuknya.
Tanpa wanita muda itu sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasinya tanpa berkedip.
***
Waduh siapa tuh yang mengawasi🧐
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/