Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9_Jejak masa lalu
"Terima kasih... sungguh terima kasih, Pak." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa haru, sementara air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Sudah cukup menangis." balas Adrian tenang. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya mulai terlihat lebih lembut.
Rani segera mengusap air matanya.
"Maaf..." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa malu, sementara ia perlahan berdiri dengan bantuan pelayan.
"Pelan-pelan, Bu." ujar pelayan itu lembut. Senyumnya hangat, sementara tangannya menopang lengan Rani.
"Aku tidak apa-apa." jawab Rani pelan. Senyumnya tipis, meski tubuhnya masih sedikit gemetar.
Adrian menoleh kepada pelayan.
"Bibi Sari." panggilnya tenang. Wajahnya kembali serius.
"Ya, Tuan." jawab pelayan itu hormat. Wajahnya langsung berubah sigap.
"Siapkan kamar itu untuk dipakai selama yang diperlukan." perintah Adrian datar. Sorot matanya tetap tenang.
"Baik, Tuan." jawab Bibi Sari cepat. Senyumnya mengembang penuh rasa lega.
Rani kembali menundukkan kepala.
"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Bapak." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan.
Adrian menggeleng pelan.
"Kalau memang ingin membalas." ucapnya tenang. Rahangnya mengeras sedikit.
Rani langsung mengangkat wajah.
"Iya, Pak?" tanyanya penasaran. Alisnya sedikit berkerut.
"Sembuhlah." jawab Adrian singkat. Wajahnya tetap dingin.
Rani terdiam.
"Itu saja?" tanyanya pelan. Wajahnya terlihat bingung.
"Itu sudah cukup." balas Adrian. Nada suaranya tetap datar.
Bibi Sari tersenyum kecil melihat percakapan keduanya.
"Jarang sekali Tuan berbicara sepanjang ini." bisiknya pelan kepada Rani. Wajahnya tampak geli.
"Apa?" tanya Rani bingung. Matanya membelalak kecil.
Bibi Sari menutup mulutnya.
"Ehm... tidak apa-apa." ucapnya gugup.
senyumnya menjadi canggung.
Adrian melirik sekilas.
"Bibi." ucapnya singkat. Tatapannya tajam.
"Iya, Tuan." jawab Bibi Sari cepat. Bahunya langsung menegang.
"Jangan membuat tamu merasa tidak nyaman." ujar Adrian tenang.
"Maaf, Tuan." balas Bibi Sari sambil menundukkan kepala. Wajahnya memerah karena malu.
Suasana kembali hening.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.
Adrian mengalihkan pandangannya dari Rani.
"Aku harus bekerja." ucapnya tenang. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, sementara langkahnya perlahan meninggalkan kamar itu.
"Iya, Pak... sekali lagi terima kasih." balas Rani pelan. Wajahnya dipenuhi rasa hormat, sementara matanya mengikuti kepergian
Adrian hingga pintu tertutup.
Brak...
Pintu kamar menutup perlahan.
Suasana kembali sunyi.
Adrian berjalan menyusuri lorong panjang rumah megah itu. Langkahnya tenang dan teratur, tetapi pikirannya justru mulai dipenuhi berbagai kenangan yang sudah lama terkubur.
Setelah beberapa saat, ia membuka pintu ruang kerjanya.
Klik.
Ruangan itu tampak luas dan elegan. Rak-rak buku memenuhi dinding, sementara sebuah meja kayu besar berdiri tepat di dekat jendela yang menghadap taman belakang.
Adrian duduk di kursinya. Ia menyandarkan tubuh, lalu memejamkan mata sejenak.
Entah mengapa...Wajah wanita bernama Rani itu terus terbayang di kepalanya.
Tatapan mata yang lembut. Cara berbicaranya yang sopan. Senyumnya yang sederhana. Semuanya terasa begitu... akrab.
"Hmm..." gumam Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara alisnya berkerut tipis.
Perlahan ingatannya melayang jauh...
Kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat itu ia hanyalah seorang anak kampung yang hidup miskin bersama ibunya.
Pakaiannya lusuh. Sandalnya hampir putus. Bahkan untuk makan tiga kali sehari pun mereka sering kesulitan.
Di sekolah, hampir setiap hari Adrian menjadi bahan ejekan teman-temannya.
"Hahaha! Lihat bajunya! Sudah robek masih dipakai!" ejek seorang anak. Wajahnya dipenuhi kesombongan, sementara tawa kerasnya mengundang teman-teman lain ikut mengejek.
"Dasar anak miskin!" sahut anak lainnya. Wajahnya meremehkan, sementara ia sengaja mendorong tubuh Adrian hingga hampir terjatuh.
Adrian hanya menggenggam erat tas usangnya.
"Aku tidak mengganggu kalian." ucap Adrian kecil. Wajahnya berusaha tetap tegar, sementara kedua matanya mulai memerah menahan tangis.
"Bilang apa? Tidak dengar!" bentak anak itu sambil menarik kerah baju Adrian. Wajahnya penuh amarah, sementara kepalan tangannya mulai terangkat.
Namun sebelum pukulan itu mengenai wajah Adrian...
"Berhenti!"
Suara seorang anak perempuan terdengar lantang.
Semua anak langsung menoleh. Seorang gadis kecil berlari menghampiri Adrian.
"Kenapa kalian selalu mengganggunya?" bentaknya berani. Wajahnya dipenuhi kemarahan, sementara kedua tangannya mengepal di pinggang.
"Ini bukan urusanmu, Rani!" balas salah satu anak kesal. Wajahnya mencibir.
"Kalau kalian mau berkelahi, lawan aku saja!" ujar gadis kecil itu lantang. Tatapannya tajam tanpa sedikit pun rasa takut.
Anak-anak itu saling berpandangan.
"Cih... ayo pergi!" gerutu salah seorang dari mereka. Wajahnya kesal, sementara mereka akhirnya meninggalkan Adrian.
Setelah suasana sepi, gadis kecil itu segera
menghampiri Adrian.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir.
Adrian hanya mengangguk pelan.
"Terima kasih..." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi rasa haru.
Gadis kecil itu tersenyum cerah.
"Mulai sekarang, kalau ada yang mengganggumu, bilang saja padaku." ujarnya percaya diri. Wajahnya dipenuhi semangat.
Adrian masih mengingat senyum itu. Senyum yang selalu memberinya keberanian untuk datang ke sekolah setiap hari.
Sejak saat itu, mereka sering bermain bersama di tepi sungai, mencari ikan kecil, dan belajar di bawah pohon besar di ujung desa.
Namun...
Suatu hari Adrian harus pergi meninggalkan kampung demi mengikuti ibunya merantau ke kota.
Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan gadis kecil bernama Rani.
Adrian perlahan membuka matanya. Ia menatap kosong ke arah jendela.
"Lama sekali aku tidak mengingat semua itu..." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi kerinduan, sementara jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja.
Bayangan wajah Rani yang kini berada di kamar tamu kembali muncul di benaknya.
Semakin dipikirkan...Semakin banyak kemiripan yang ia rasakan.
Nama yang sama. Tatapan mata yang sama lembutnya. Bahkan senyum kecilnya terasa begitu familiar.
Adrian bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela.
Tatapannya menerawang jauh ke arah taman.
Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,
"Apakah dia teman masa kecilku dulu?"