Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Club
Setelah selesai memoles wajahnya hingga terlihat sangat cantik dan mempesona, Celeste keluar kamar dan mencari Serena.Ia memberi tahu pelayan setianya itu, lalu dengan santai memberikan perintah kepada pengawal Devereux di lantai bawah.
"Tolong antarkan saya ke supermarket di simpang jalan distrik utama," ucap Celeste dengan nada tanpa dosa, memasang senyum paling manisnya.
Pengawal berjas hitam itu sempat mengerjap ragu. "Tapi, Nona... apakah Tuan Muda Caspian sudah memberikan izin? Beliau sedang tidak di tempat."
Celeste mengibaskan tangannya anggun. "Udah, tenang saja. Aku sudah minta izin kok sama Caspian lewat pesan," dustanya mulus—padahal ia bahkan tidak punya nomor ponsel sang penguasa kulkas itu. "Mau membantah perintah Nyonya rumah ini?"
Mendengar ancaman halus nan tegas itu, sang pengawal langsung menunduk patuh. "Baik, Nyonya. Mobil akan disiapkan."
Sebelum berangkat, Celeste sempat merekam sebuah pesan suara (voice note) dan mengirimkannya ke WhatsApp Cassandra:
[Cassa, Ingat. Jemput gue di supermarket dekat simpang jalan distrik utama. Jangan ngaret, awas aja!]
Tidak butuh waktu lama bagi mobil sedan hitam yang mengantar Celeste untuk tiba di area parkir supermarket yang terletak di simpang jalan distrik utama. Celeste turun dari mobil dengan anggun, berjalan santai sambil merapikan gaun membalut tubuh mungilnya.
Penampilannya malam itu benar-benar memukau—sangat kontras dengan latar belakang minimarket biasa.
Tak lama berselang, sebuah mobil SUV merah muda metalik berhenti mendadak dengan suara decitan ban yang cukup nyaring tepat di depan Celeste. Kaca jendela mobil itu terbuka, menampilkan sosok Cassandra dengan rambut tertata cetar membahana dan riasan wajah super glamorous tapi sangat menawan.
Begitu melihat Celeste berdiri di bawah lampu jalan dengan kecantikan yang mendefinisikan ulang kata 'sempurna', mata Cassandra langsung membelalak selebar-lebarnya. Ia buru-buru keluar dari mobil, mengabaikan pintu pengemudi yang belum sepenuhnya tertutup rapat.
"HEH, ANJIR?!" pekik Cassandra histeris, langsung menyergap Celeste dan memutar-mutar tubuh sahabatnya itu untuk mengamati dari atas sampai bawah.
Cassandra menangkup wajah Celeste, matanya berbinar-binar takjub bercampur kesal.
"Gila, punggung mulus begini dipamerin di pinggir jalan? Kalau suami lo yang misterius itu liat, bisa-bisa jalanan ini dibom detik ini juga! Lo tuh sadar nggak sih kalau lo sekarang bening banget?!" omel Cassandra panjang lebar, napasnya naik-turun karena gemas sekaligus iri melihat visual sahabatnya yang kelewat luar biasa malam itu.
Celeste hanya terkekeh renyah, merangkul lengan Cassandra manja.
"Udah, deh, nggak usah Lebay, Cassa sayang," goda Celeste sambil mengerjap-ngerjapkan matanya manis. "Makanya, kalau dandan jangan ngaret mulu, biar cantik jelita kayak gue. Udah buru masuk mobil deh, dompet lu udah siap kan buat traktir gue malam ini?"
Cassandra mendengus keras, mendelik tajam ke arah Celeste sambil memutar bola matanya. Meski begitu, ia tetap membukakan pintu mobil SUV-nya untuk sang sahabat.
"Iya, iya, ratu porotin harta orang! Tenang aja, kartu kredit gue masih aman sentosa buat nyekokin lo malam ini," gerutu Cassandra dengan nada bercanda, lalu ikut masuk ke dalam kursi pengemudi.
Begitu mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai dipadati lampu-lampu neon malam, suasana langsung berubah asyik. Musik pop yang diputar dengan volume pas dari radio mobil menemani perjalanan mereka menuju klub malam paling eksklusif di pusat kota.
Celeste bersandar santai di kursi penumpang, menikmati angin malam yang berhembus pelan dari jendela mobil yang sedikit terbuka.
Pikiran tentang Caspian, dan pernikahan kontraknya dengan sang vilain itu menguap untuk sementara waktu. Malam ini, ia hanya ingin menikmati kebebasan pertamanya setelah lepas dari cengkeraman masa lalu.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di depan Club V, sebuah klub malam paling elit dan dijaga ketat di kota itu, tempat di mana para kaum elite, pewaris kaya, dan selebritas menghabiskan malam mereka.
Baru saja mobil Cassandra berhenti di area valet parking, seorang petugas valet berjas rapi langsung membukakan pintu untuk Celeste. Begitu kaki jenjangnya melangkah keluar, kilatan lampu neon dari papan nama klub memantul di kulit mulusnya, seketika menarik perhatian beberapa pasang mata dari orang-orang yang juga baru datang.
Cassandra berjalan menyusul di sebelah Celeste, merapikan gaunnya sendiri sambil melirik bangga ke arah sahabatnya.
"Nih ya, kalau lu diculik lagi abis dari sini, gue sumpahin yang culik lu dapet karma tujuh turunan," bisik Cassandra setengah bercanda saat mereka berjalan melewati penjagaan ketat di pintu masuk.
Celeste hanya tertawa renyah, melangkah masuk ke dalam area klub yang dipenuhi dentuman musik bass yang menghentak dan kelap-kelip lampu disko yang memukau. Aroma parfum mewah bercampur alkohol mahal langsung menyapa indra penciuman mereka.
"Udah, traktir gue cocktail paling mahal di sini, Cassa!" seru Celeste sedikit berteriak di antara dentuman musik, lalu melenggang mantap menuju area bar, siap memulai malam panjang mereka.
Karena hari masih menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, suasana di dalam Club V belum terlalu padat sesak oleh para pengunjung yang biasanya baru tumpah ruah menjelang tengah malam.
Suasana yang masih agak longgar itu justru dimanfaatkan oleh Cassandra untuk menarik tangan Celeste langsung menuju sebuah meja booth VIP privat di sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah lantai dansa.
Begitu mereka duduk di sofa beludru hitam yang empuk, seorang pelayan pria berjas rapi segera datang membawakan buku menu tebal berlapis kulit.
"Mau pesan apa, Nona-nona?" tawar pelayan itu dengan sopan.
Celeste membuka-buka lembar menu dengan mata berbinar, sementara
Cassandra langsung mendengus pelan sambil bersidekap dada, mengawasi sahabatnya penuh curiga.
"Pesan yang mahal sekalian, Cassa. Jangan malu-maluin status lo sebagai anak orang kaya," goda Celeste sambil menunjuk beberapa pilihan makanan pembuka dan hidangan utama yang terlihat menggiurkan. "Gue laper banget, serius. Tadi di mansion nggak sempat makan malam gara-gara... ehm, sibuk urusan lain."
Cassandra memicingkan mata tajam.
"Urusan lain apa nih? Jangan-jangan lo beneran lagi dimadu sama pangeran misterius itu?" tanyanya curiga, lalu mengibaskan tangan ke pelayan. "Udah, mas, bawain wagyu steak terbaik di sini dua porsi, piring-piring makanan ringan pendamping, sama sepaket fruit platter dulu. Biar lambung kita aman sebelum disiksa sama alkohol."
Sambil menunggu pesanan mereka datang, kedua sahabat itu mengobrol santai di meja. Sembunyikan hiruk-pikuk musik latar, Cassandra mulai menginterogasi Celeste habis-habisan mengenai kehidupan barunya yang mendadak berubah drastis dalam kurun waktu kurang dari dua hari.
"Serius, Cele... lo nggak pengen cerita siapa suami baru lo itu? Nggak takut dia orang kayak si Lucian bajingan?" tanya Cassandra dengan nada serius, menatap sahabatnya lekat-lekat di bawah temaram lampu meja.
Celeste menyesap air mineral di depannya, lalu tersenyum miring penuh rahasia. Ia sengaja tidak langsung membongkar identitas Caspian—si penguasa dunia malam dan penguasa bawah yang paling ditakuti. Biarlah sahabatnya itu penasaran dulu. toh, sensasi mengejutkan itu akan jauh lebih seru jika terbongkar di waktu yang tepat. Padahal nanti dia yang bakal kaget.
"Tenang aja, Cassa. Kalau yang ini..." Celeste terkekeh pelan, bayangan seringai dan tatapan tajam Caspian melintas sekilas di benaknya. "...dia jauh dari ciri-ciri si Lucian. Malah, mungkin dia satu-satunya orang yang bisa bikin hidup gue ke depannya jauh dari kata bosan. Tapi keliatan galak anjir"
Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Aroma sedap dari wagyu steak yang masih mengepul panas langsung memenuhi meja, membuat Celeste tanpa aba-aba langsung mengambil garpu dan pisaunya dengan antusias, melupakan sejenak beban dunia dan menikmati malam kebebasan pertamanya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk menandaskan porsi wagyu steak yang lezat itu. Perut yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh, membuat energi Celeste kembali terisi secara maksimal untuk menghadapi malam panjang di hadapan mereka.
"Nah, sekarang baru kita mulai acara intinya," ucap Celeste riang sambil menyeka bibirnya dengan tisu, lalu melambaikan tangan memanggil pelayan bar.
"Mas, tolong bawain cocktail paling kuat dan best seller di sini dua pitcher, sama tequila shot satu baki!" serunya penuh semangat.
Cassandra yang duduk di sebelah Celeste langsung bertepuk tangan heboh, ikut terbawa suasana. "Nah, gitu dong! Baru namanya temen gue! Lupakan sejenak beban hidup dan suami galak lo itu, Cele!"
Sambil menunggu pesanan minuman keras mereka datang, suasana di dalam klub mulai mengalami perubahan drastis. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat, dan pengunjung yang memadati Club V semakin ramai.
Dentuman musik elektronik yang dimainkan oleh Resident DJ terdengar semakin menghentak, mengguncang lantai dansa yang kini mulai dipenuhi oleh lautan manusia.
Lampu-lampu laser warna-warni berputar liar membelah ruangan, menciptakan atmosfer gemerlap khas kehidupan malam kota metropolitan.
Tidak lama kemudian, pelayan datang membawa nampan berisi deretan gelas
tequila dan pitcher minuman berwarna biru terang dengan hiasan buah segar di pinggirnya.
Celeste langsung menuangkan tequila ke dalam gelas kecil, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke hadapan Cassandra dengan seringai menantang di bibirnya.
"Cheers untuk kebebasan kita, untuk masa lalu yang udah dibuang jauh-jauh, dan buat dompet Cassa yang malam ini bakal berkorban suci!" canda Celeste disusul tawa renyah.
"Sialan lo! Gue mah bebas, lo tuh udah dapat laki lagi" balas Cassandra tertawa lepas, ikut mendderaskan gelasnya.
"Kasian deh lo"
Tring!
Dua gelas kecil itu beradu nyaring di tengah bisingnya dentuman musik. Tanpa ragu, Celeste meneguk habis cairan itu dalam sekali tenggak, merasakan sensasi terbakar yang langsung menjalar di tenggorokannya, diikuti rasa ringan yang seketika melenyapkan sisa-sisa penat di kepalanya.
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂