Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK-DETIK MENCEKAM DI GRAHA FAMILI DAN TANGISAN PERTAMA DI RUANG NICU
Sinar matahari sore bulan November memantul lembut di atas lantai marmer putih bersih rumah keluarga Al-Gibran di kawasan elit Graha Famili, Surabaya Barat. Suasana di ruang keluarga terasa hangat dan menenangkan.
Di atas sofa empuk berlapis kain beludru, Nayara Zayna Az-Zahra duduk bersandar dengan nyaman, mengenakan gamis rumahan panjang berwarna sage green yang senada dengan suasana teduh sore itu.
Usia kehamilannya kini telah menginjak tujuh bulan. Perutnya tampak semakin membuncah indah, menjadi pusat perhatian penuh cinta dari sang suami yang sejak tadi tak pernah bisa jauh darinya.
Beberapa langkah dari tempat duduk Nayara, Revan Al-Gibran tampak sibuk membereskan meja kerja portabelnya. Pria bertubuh tegap berjas kasual itu baru saja merampungkan rapat daring terakhirnya dengan dewan direksi perusahaan properti miliknya.
Begitu layar laptop ditutup rapat, Revan langsung berdiri, meregangkan otot-otot bahunya yang kaku, lalu melangkah menghampiri istrinya.
Di tangannya, sebuah mangkuk kecil berisi buah stroberi segar yang sudah dicuci bersih dan dipotong rapi tersaji indah.
"Sudah bacanya, Zawjati? Nanti matamu lelah kalau terlalu lama menatap lembar jurnal kedokteran itu," tegur Revan dengan suara baritonnya yang lembut dan penuh perhatian.
Ia langsung mendudukkan diri bersila di atas karpet bulu tepat di hadapan Nayara, lalu mengambil sebutir stroberi merah segar dan menyuapkannya langsung ke mulut istrinya.
Nayara tersenyum manis, menerima suapan dari suami siaganya itu dengan binar mata yang memancarkan rasa bahagia. "Sedikit lagi selesai kok, Mas. Rasanya aneh ya... tidak terasa usia kehamilanku sekarang sudah masuk bulan ketujuh. Sebentar lagi kita bakal resmi jadi orang tua beneran, bukan cuma jadi pengasuh bayangan lagi."
Revan tersenyum hangat hingga lesung pipinya terlihat samar. Ia meletakkan mangkuk buah di atas meja kecil di samping sofa, lalu merengkuh kedua lutut Nayara. Dengan gerakan penuh kelembutan, Revan mendekatkan wajahnya ke perut buncit sang istri, merapatkan bibirnya perlahan dan berbisik pelan menyapa buah hati mereka yang sedang aktif bergerak.
"Halo, jagoan kecil Ayah... Jangan bikin Bunda kecapekan ya di rumah. Cepatlah besar dan sehat, Ayah sudah tidak sabar men—”
Ucapan Revan mendadak terhenti. Kalimatnya menggantung di udara begitu saja.
Wajah Nayara yang tadinya berseri-seri dan tersenyum cerah seketika berubah pucat pasi. Kedua tangannya secara refleks mencengkeram erat pinggiran sofa berbahan empuk itu hingga buku-buku jarinya memutih.
Napasnya mendadak tersengal-sengal, memburu tak beraturan, sementara keningnya langsung dibanjiri butiran keringat dingin dalam hitungan detik.
"Ssshh... Mas..." rintih Nayara tertahan, menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba menusuk tajam dari bagian bawah perutnya.
Revan yang masih berlutut di hadapannya langsung terlonjak berdiri dengan panik. Wajah pria itu berubah pucat pasi, hilangnya warna di wajahnya terjadi seketika.
"Nay? Zawjati! Ada apa? Kenapa, sayang?" tanya Revan bertubi-tubi dengan suara yang bergetar hebat, panik setengah mati.
Ia menunduk, dan pandangannya langsung tertuju pada cairan hangat yang merembes keluar, membasahi rok gamis sage green yang dikenakan istrinya.
Ketakutan luar biasa langsung menghantam dada Revan seperti hantaman palu godam. Insting tajamnya sebagai mantan penguasa jalanan langsung menyadari satu kenyataan pahit: ini bukanlah kontraksi palsu biasa.
Usia kandungan baru menginjak tujuh bulan, dan tanda-tanda persalinan prematur mendadak terjadi secara spontan di tengah rumah mereka!
"Mas... perutku... sakit sekali... rasanya seperti mau melahirkan..." rintih Nayara di sela isak tangisnya yang mulai pecah. Ia mencengkeram kuat lengan suaminya, mencakar pelan jas kasual Revan saking tidak tahannya menahan rasa sakit.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, jiwa cekatan Revan mengambil alih kepanikannya. Ia tahu ia tidak boleh kehilangan kendali. Istri dan anak yang paling dicintainya berada di ambang batas bahaya yang nyata.
"Pegangan yang erat, Nay. Kita ke rumah sakit sekarang! Bertahanlah untuk aku!" seru Revan tegas dengan nada yang menyembunyikan ketakutan terdalamnya.
Dalam satu gerakan refleks yang kuat, Revan mengangkat tubuh Nayara dengan gaya bridal style keluar dari ruang keluarga menuju garasi rumah. Ia mendudukkan istrinya di kursi depan mobil SUV hitam kesayangannya dengan sangat hati-hati, memasangkan sabuk pengaman, lalu berlari memutar dan melompat ke balik kemudi.
Perjalanan dari kawasan perumahan elit Graha Famili menuju Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya terasa begitu mencekam dan panjang. Revan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan Surabaya Barat, namun ia tetap berusaha menjaga kestabilan mobil agar tidak menimbulkan guncangan hebat bagi istrinya.
Sesekali, manik mata Revan melirik tajam ke kursi samping. Nayara terus merintih kesakitan sambil menggigit bibirnya hingga berdarah, kedua tangannya mencengkeram dasbor mobil dengan kuat.
"Sabar, Nay... Sebentar lagi sampai. Kumohon bertahanlah demi aku..." bisik Revan penuh kecemasan, tangan kanannya memegang kemudi sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Nayara yang sudah basah oleh keringat dingin.
Begitu mobil SUV hitam itu melesat tajam masuk ke area drop-off IGD rumah sakit, suara ban yang bergesit di atas aspal langsung menarik perhatian petugas medis. Tanpa menunggu aba-aba, beberapa perawat yang sigap langsung mendorong brankar darurat mendekati sisi pintu mobil Revan.
"Dokter muda Nayara mengalami kontraksi prematur spontan! Ketubannya sudah pecah di usia kehamilan tujuh bulan!" seru Revan dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh kepanikan, membantu perawat memindahkan tubuh istrinya ke atas brankar dengan sangat hati-hati.
Suasana di IGD seketika berubah menjadi sangat sibuk. Nayara segera didorong dengan cepat menuju ruang bersalin darurat. dr. Maya,Sp.OG dokter spesialis kandungan senior yang selama ini memantau kehamilan Nayara langsung berlari menyusul masuk ke ruang tindakan setelah mendapat panggilan darurat darurat dari perawat jaga.
Revan yang hendak ikut melangkah masuk langsung ditahan oleh seorang perawat di ambang pintu sterilisasi.
"Maaf, Pak Revan, silakan menunggu di luar garis batas dulu. Tim medis harus segera melakukan tindakan pemeriksaan darurat," ujar perawat tersebut dengan nada profesional namun tegas.
"Tapi istri saya kesakitan di dalam! Saya harus ada di sisinya!" sanggah Revan, rahangnya mengeras menahan emosi dan ketakutan yang membuncah.
"Pak Revan, percayakan pada kami! Mohon tunggu di luar dan perbanyak doa," potong dr. Maya dari dalam ruangan dengan suara tegas namun menenangkan sebelum pintu besar ruang bersalin itu menutup.
Cklek. Pintu ruang bersalin tertutup rapat di hadapan Revan.
Pria bertubuh tegap itu berdiri mematung di lorong rumah sakit yang dingin. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, menghantam tulang rusuknya seolah ingin keluar.
Seluruh ketenangan dan wibawa direktur perusahaan yang biasa ia tunjukkan runtuh tak bersisa. Ia merosot pelan untuk duduk di kursi tunggu koridor, menangkupkan kedua tangan di wajahnya yang basah oleh keringat dingin.
Doa-doa terbaik, istigfar, dan permohonan ampun serta keselamatan tanpa henti meluncur dari bibirnya yang bergetar hebat, memohon kepada Sang Pencipta agar menyelamatkan belahan jiwanya dan buah hati mereka.
Di dalam ruang bersalin, situasinya jauh lebih menegangkan dan penuh keringat. dr. Maya memeriksa kondisi bukaan jalan lahir Nayara dengan sangat teliti, cepat, dan profesional.
"Pembukaan sudah lengkap, Nayara! Karena ini persalinan prematur di usia tujuh bulan, bayi harus segera dikeluarkan sekarang juga demi keselamatan kalian berdua. Tarik napas dalam-dalam, simpan tenaga, dan ikuti aba-aba saya," instruksi dr. Maya dengan wajah serius di balik masker medisnya.
Nayara mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, mengerahkan sisa-sisa tenaga dan ketegarannya di tengah gelombang rasa sakit yang luar biasa hebat. Bayangan wajah suaminya di luar pintu koridor menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang mendorongnya untuk terus bertahan melawan rasa sakit.
"Bismillah... ya Allah... berikan aku kekuatan..." isak Nayara lirih, lalu ia mulai mengejan sekuat tenaga mengikuti instruksi dorongan dari dokter dan bidan.
"Bagus, Nayara! Terus dorong! Jangan berhenti! Sedikit lagi kepala bayi sudah terlihat!" teriak bidan senior memberikan dukungan penuh semangat di sisi ranjang.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang mencekam di dalam ruangan tertutup itu. Detik demi detik terasa berjalan sangat lambat. Hingga akhirnya, suara yang dinanti-nantikan itu pun pecah memecah keheningan ruangan.
Uoek... uoek... uoek...!
Suara tangisan bayi yang terdengar mungil, tipis, namun penuh dengan semangat perjuangan hidup mendadak menggema di dalam ruang bersalin.
dr. Maya segera mengangkat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut dari tubuh ibunya. Karena lahir secara prematur di usia tujuh bulan kandungan, ukuran tubuh bayi itu terlihat jauh lebih kecil dari bayi cukup bulan pada umumnya, dan sistem pernapasannya tampak memerlukan bantuan medis khusus secepatnya.
"Alhamdulillah... Bayinya lahir, laki-laki!" seru dr. Maya cepat kepada seluruh tim medis di ruangan. "Kondisi pernapasan masih lemah karena prematur! Segera bawa ke ruang inkubator NICU untuk persiapan perawatan intensif!"
Nayara hanya sempat melihat sekilas bayinya yang mungil dan kemerahan sebelum dibawa pergi dengan cepat oleh perawat anak menuju ruang khusus. Setelah itu, kelelahan yang teramat sangat membuat kesadaran Nayara perlahan memudar, dan ia jatuh tertidur dalam kelelahan yang luar biasa.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang bersalin akhirnya terbuka lebar. dr. Maya keluar dari ruangan dengan melepas masker bedahnya, menemui Revan yang langsung bangkit berdiri menyambutnya dengan tatapan mata merah penuh kecemasan luar biasa.
"Dok! Bagaimana keadaan istri saya?! Dan anak saya?!" tanya Revan cepat, suaranya parau dan mencengkeram ujung jas putih dr. Maya dengan jemari yang gemetar.
dr. Maya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis menenangkan sang ayah muda. "Alhamdulillah, Nayara selamat, Pak Revan. Saat ini ia sedang beristirahat total di ruang pemulihan karena kelelahan hebat akibat persalinan darurat tadi. Mengenai bayi Anda..."
Dokter senior itu menjeda kalimatnya sejenak, membuat jantung Revan seolah berhenti berdetak.
"...karena lahir secara prematur di usia tujuh bulan, berat badan bayi di bawah rata-rata normal dan organ pernapasannya belum berkembang sempurna. Kami harus segera memasukkannya ke dalam ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk observasi ketat dan bantuan inkubator pernapasan."
Mendengar penjelasan medis tersebut, lutut Revan sempat lemas seketika, dan ia nyaris kehilangan keseimbangan jika tidak berpegangan pada dinding koridor rumah sakit. Namun, sebagai seorang kepala keluarga, ia segera menguasai diri, menarik napas dalam-dalam untuk menepis keputusasaannya.
"Boleh... boleh saya melihat anak saya dan istri saya sekarang, Dok?" tanya Revan dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Tentu saja boleh, Pak Revan. Tapi ingat, ikuti protokol sterilisasi yang ketat sebelum masuk ke area NICU dan ruang pemulihan," jawab dr. Maya ramah.
Beberapa menit kemudian, setelah mengenakan baju steril khusus, Revan diizinkan masuk ke ruang pemulihan tempat Nayara terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangannya. Begitu melihat suaminya melangkah masuk dengan mata berkaca-kaca dan senyuman yang dipaksakan tegar, air mata Nayara langsung tumpah membasahi bantal.
Revan langsung menghampiri sisi ranjang, menggenggam erat tangan dingin istrinya dan mencium kening Nayara penuh kasih sayang yang mendalam.
"Mas... anak kita... dia lahir prematur... dia dibawa ke ruangan lain..." tangis Nayara pelan, suaranya gemetar menahan rasa bersalah dan sedih.
Revan menggeleng tegas, menyeka lembut butiran air mata di pipi pucat istrinya dengan ibu jarinya. "Sstt... Jangan menangis, Nay. Jangan menyalahkan diri sendiri. Anak kita adalah pejuang hebat. Dia pasti kuat bertahan hidup di dalam inkubator sana. Kita doakan sama-sama ya, sayang... Allah pasti jaga anak kita."
Setelah menenangkan istrinya, Revan melangkah menuju ruang NICU. Di balik kaca steril yang dingin, ia berdiri terpaku menatap ke dalam ruangan tempat sebuah inkubator kecil bercahaya hangat berada.
Di dalamnya, sesosok bayi mungil berukuran sangat kecil dengan selang oksigen menempel di hidungnya tampak berjuang keras menarik napas demi napas kehidupan.
Malam itu, di samping ranjang pemulihan sang istri dan di depan kaca steril ruang NICU, Revan Al-Gibran menengadahkan kedua tangannya, bersumpah dalam lubuk hatinya yang paling dalam untuk menjadi pelindung yang jauh lebih kuat bagi keluarga kecilnya, menemani setiap detik perjuangan sang buah hati hingga kelak tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan membanggakan.
bawangnya kebanyakan thor