Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Serigala Berbulu Domba
Pada detik sebelum tubuh Momo lepas dari tebing, ia melihat kebenaran.
Sen tidak mencoba menahannya.
Tangan pria itu ada di sana. Dekat. Cukup dekat untuk menggenggam lebih kuat, cukup dekat untuk menariknya kembali, cukup dekat untuk menyelamatkannya jika ia mau. Tetapi jari-jari itu justru membuka perlahan, seolah melepaskan sesuatu yang memang sejak awal hanya dipinjam.
Wajah Sen diterangi lampu sorot.
Tenang.
Datar.
Hampir puas.
Lalu Momo jatuh.
Angin menghantam tubuhnya. Ia tidak sempat berteriak lama. Udara dicabut dari paru-parunya. Tebing bergerak menjauh, langit berputar, dan laut hitam di bawah membesar dengan kecepatan mengerikan.
Di atas, Sen berdiri tanpa bergerak.
Untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya terbuka bukan dari ketakutan, melainkan dari pemahaman yang dingin.
Ia memang ingin aku jatuh.
Air menghantam punggung Momo.
Rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya. Laut menelan suara dan cahaya sekaligus. Dinginnya seperti ribuan pisau. Ia tenggelam, terseret ke bawah, tidak tahu mana atas mana bawah. Mulutnya terbuka, air asin masuk, membakar tenggorokan.
Di atas tebing, Sen menunduk.
Jika ada yang melihatnya, mereka mungkin akan mengira ia sedang shock. Seseorang baru saja jatuh di depannya. Seseorang yang ia sebut tunangan. Seseorang yang ia janjikan jalan pulang.
Namun dada Sen tidak berlari karena panik.
Ia menghitung.
Ketinggian sekitar lima belas meter. Air di bawah cukup dalam, tetapi benturan bisa membuat tubuh kehilangan kesadaran. Arus malam bergerak ke barat. Jika tubuh Momo terseret lima menit saja, pencarian akan lebih sulit. Jika Renard terlambat, cerita selesai.
Dan jika cerita selesai, perjodohan selesai.
Momo mati, Gunawan kehilangan satu kartu, keluarga Salim kehilangan beban, dan Renard...
Sen tersenyum sangat tipis.
Renard akan hancur.
Itu bagian terbaiknya.
Sejak awal, Sen tidak pernah datang untuk menyelamatkan Momo. Ia datang untuk menggunakan celah yang Renard ciptakan sendiri. Renard mengurung gadis itu, membuatnya putus asa, membuatnya mencari siapa pun yang membawa kata "keluar". Sen hanya perlu menjadi pintu yang terlihat terbuka.
Pintu tidak harus menuju rumah.
Pintu bisa menuju jurang.
"Maaf, Momo," gumam Sen, tetapi suaranya tidak membawa penyesalan. "Kau hanya berdiri di antara dua dendam."
Di bawah, Momo berjuang.
Tubuhnya tidak mau patuh. Lengan kanannya seperti mati. Dadanya sakit. Ia mencoba menendang, tetapi arus menarik gaun dan rambutnya. Cahaya lampu sorot pecah di permukaan jauh di atas, seperti dunia yang tidak bisa ia capai.
Ama.
Nama itu muncul di kepalanya.
Momo membuka mata di dalam air. Garam membuat matanya perih. Gelang Sakura di pergelangan tangannya memancarkan kilau samar, seperti bunga kecil yang tenggelam bersamanya.
Ia tidak ingin mati.
Bukan di tangan Gunawan. Bukan di pulau Renard. Bukan karena Sen tersenyum di atas tebing.
Ia menggerakkan kaki lagi. Tidak berhasil. Air masuk lebih banyak. Kesadarannya mulai memudar, pinggirannya hitam dan lembut. Anehnya, di saat terakhir itu, yang ia ingat bukan wajah Sen.
Ia ingat tangan Renard di dagunya.
Keras, memaksa, menyebalkan.
Tangan yang berkata ia miliknya.
Tangan itu seharusnya ia benci.
Lalu sesuatu memecah air.
Gelombang kuat menghantam sisi tubuh Momo. Dalam gelap, sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Bukan dingin seperti Sen. Panas. Kuat. Hampir menyakitkan. Tangan lain meraih pergelangan Momo, tepat di atas Gelang Sakura, seolah pemilik tangan itu sudah hafal di mana ia harus menemukan denyut hidupnya.
Momo tidak punya tenaga untuk melihat.
Namun tubuhnya mengenali cengkeraman itu.
Bukan Sen.
Renard.
Kesadaran Momo tenggelam lebih dalam, tetapi kali ini bukan ke dasar laut.
Sen tetap berdiri di atas tebing setelah tubuh Momo hilang ke gelap.
Di bawah sana, air pecah. Suaranya kecil dibandingkan alarm, tetapi Sen mendengarnya seolah satu-satunya suara di dunia. Ia tidak bergerak. Tidak memanggil. Tidak turun. Angin membasahi wajahnya dengan garam dan kabut.
"Selesai," bisiknya.
Kalimat itu seharusnya membawa lega.
Tidak.
Yang datang justru ingatan tentang mata Momo saat menyadari genggamannya mengendur. Mata itu tidak memohon. Tidak seperti korban lain yang pernah dilihat Sen. Mata itu menuduh, tetapi juga memahami terlalu cepat.
Kau memilih.
Sen mengatupkan rahang.
Ya. Ia memilih.
Pertunangan keluarga adalah rantai. Gunawan memakai Momo untuk negosiasi. Renard memakai Momo untuk perang pribadi. Aula Dalam memakai Sen sejak ia kecil. Semua orang memiliki rantai masing-masing, dan Sen sudah terlalu lama belajar bahwa rantai orang lain bisa dipotong dengan mengorbankan tubuh yang paling lemah di ruangan.
Momo adalah tubuh itu.
Atau begitulah ia mencoba meyakinkan diri.
Radio di telinganya berderak. Suara salah satu orangnya muncul. "Target jatuh?"
Sen memejamkan mata. "Ya."
"Konfirmasi mati?"
Ia tidak menjawab.
Di bawah, lampu sorot menyapu air. Pengawal Renard berlari ke dermaga bawah. Kekacauan menyebar cepat. Sen tahu ia harus pergi. Jalur utara akan tertutup dalam dua menit. Jika tertangkap, Renard tidak akan membunuhnya dengan cepat.
Namun kakinya masih tidak bergerak.
Karena di tengah semua suara, ia mendengar sesuatu yang lain.
Suara Renard.
Bukan dari interkom.
Dari tebing sebelah.
Pria itu berlari seperti luka-lukanya tidak ada. Mantelnya terbuka, wajahnya pucat oleh amarah yang terlalu tajam untuk disebut panik. Dalam beberapa detik, Renard sudah mencapai ujung tebing bawah, tempat jalur batu menjorok ke laut.
"Momo!"
Sen belum pernah mendengar suara Renard pecah seperti itu.
Nama itu bukan perintah. Bukan klaim. Bukan milikku.
Nama itu ketakutan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Sen merasa sesuatu di dadanya meleset dari rencana.
Renard melompat.
Tidak menghitung arus. Tidak menunggu tali. Tidak memerintah orang lain. Ia langsung masuk ke air yang gelap, tubuhnya hilang di antara buih. Pengawal berteriak. Albert berlari membawa tali. Semua orang tampak terlambat dibandingkan satu pria yang seharusnya paling pandai menunggu momen tepat.
Sen menatap air.
Ia seharusnya puas. Renard akhirnya ceroboh. Renard akhirnya berdarah karena perempuan yang ia sebut miliknya. Ini celah yang Sen cari.
Tetapi yang ia lihat bukan celah.
Ia melihat tangan Momo terlepas.
Di bawah air, Momo berhenti membedakan atas dan bawah. Paru-parunya terbakar. Gaunnya menariknya turun. Ia mencoba menendang, tetapi sakit di lutut membuat gerakannya patah. Gelap masuk ke mulut, hidung, telinga.
Lalu sesuatu menghantam air di dekatnya.
Tangan kuat meraih pinggangnya.
Momo, setengah sadar, mengenali genggaman itu sebelum mengenali wajahnya. Panas bahkan di dalam air. Kasar. Tidak bertanya izin. Tidak membiarkan pergi.
Renard menariknya ke atas.
Momo muncul dari air dengan batuk keras. Udara masuk seperti pecahan kaca. Ia tidak bisa melihat jelas, hanya merasakan dada pria itu di depannya, lengan di tubuhnya, suara yang mengulang namanya terlalu dekat dengan telinga.
"Buka mata."
Ia mencoba.
Tatapan amber itu kabur oleh air dan malam.
"Aku bilang buka mata, Momo."
Tubuhnya menyerah ke arah suara itu.
Albert sampai di tepi batu dengan tali, tetapi Renard sudah terlalu jauh di air.
"Tuan!" teriak Albert.
Renard tidak menjawab. Satu lengannya mengunci tubuh Momo di bawah dada, lengan lain memotong arus. Setiap gerakan terlihat brutal, tidak indah, bukan renang orang yang ingin menang lomba. Itu gerakan orang yang menolak membiarkan laut memiliki sesuatu yang sudah ia klaim dari dunia.
Momo setengah sadar. Ia merasakan dagu Renard menekan pelipisnya agar wajahnya tetap di atas air. Merasakan napasnya yang kasar. Merasakan detak jantung pria itu menghantam punggungnya seperti alarm kedua.
"Pegang aku," katanya.
Momo tidak bisa.
Tangannya lemas, jari-jarinya dingin. Renard mengumpat, lalu menggenggam pergelangan Momo dan memaksa tangannya melingkar di lehernya. Gerakan itu terlalu keras untuk disebut lembut, tetapi ketika tubuh Momo menempel ke tubuhnya, ia tahu pria itu gemetar.
Renard Wijaya gemetar.
Bukan karena dingin saja.
Tali akhirnya mencapai mereka. Albert dan pengawal menarik dari atas. Arus menolak. Batu menggores lengan Renard. Momo mendengar napasnya patah, tetapi ia tidak melepas. Bahkan ketika satu ombak besar menghantam dan hampir memisahkan mereka, cengkeramannya di pinggang Momo makin kuat.
"Jangan tutup mata," katanya di telinga Momo.
Momo ingin tertawa. Matanya bahkan tidak tahu cara terbuka.
"Momo."
Nama itu kembali. Kali ini bukan perintah yang besar, melainkan tali kecil yang dilempar ke gelap.
Ia mengikuti suara itu.
Sedikit.
Di atas tebing, Sen akhirnya mundur.
Ia tahu harus pergi. Tahu setiap detik yang ia habiskan memandangi Renard menyelamatkan Momo adalah detik yang bisa membunuhnya. Tetapi sebelum berbalik, ia melihat sesuatu yang tidak ingin ia simpan: cara Momo, bahkan setengah sadar, mencengkeram leher Renard ketika pria itu memaksanya bertahan.
Itu bukan cinta.
Sen tahu itu.
Namun itu juga bukan hanya benci.
Dan hal itu membuat rencananya lebih rumit.
Ia menghilang ke jalur utara dengan rahang mengeras, membawa kegagalan yang belum bisa ia namai.
Di bawah, Renard mencapai batu rendah bersama Momo. Albert menarik mereka naik, tetapi Renard tetap menahan tubuh Momo sendiri sampai ia benar-benar berada di atas permukaan aman. Baru setelah itu lututnya sempat goyah.
Tidak ada yang berani menyebutnya.
Momo batuk, matanya terbuka sedikit.
Renard menunduk.
"Aku di sini," katanya, seolah itu janji dan kutukan sekaligus.
Ke dalam dada seseorang yang menolak melepaskannya.